PESAN BAHAGIA DALAM KISAH LUCU

Sumber Gambar: Pixabay

 

Oleh: Supadilah

 

Setiap kisah punya hikmah, bahkan jika itu merupakan kisah lucu. Buku ini kaya dengan kisah lucu, namun bukan hanya sekadar lelucon belaka. Ada banyak pesan yang diselipkan dalam kisah-kisah itu. Seperti awal kisah, lewat Karena Cinta Dunia Menjadi Milik Mereka Saja, Boim Lebom menyoroti pergaulan bebas remaja saat ini. Pacaran yang semakin meningkat di kalangan remaja yang semakin berani dan terang-terangan berpacaran di depan umum. Mereka bahkan tidak sungkan saling memanggil mamah dan papah. Zaman sekarang, kata emak, kalo lagi bermesraan pengen diketahui banyak orang, lagi berantem juga pengin diketahui orang banyak (hlm 18).  Lewat kecemasan sosok gue dan Emak terhadap si bungsu Bambang, kita diingatkan tentang kepedulian dan perhatian terhadap pergaulan remaja. Akun sosial Bambang berubah menjadi Bambang Ludgwina. Tentu ini menjadi kecurigaan, jangan-jangan Bambang telah juga terjerumus pada pergaulan bebas. Terhadap ancaman pacaran, tokoh gue dengan bijak bicara baik-baik untuk mengorek dan mengedukasi tentang pacaran.

Kritik sosial dapat kita baca dalam Bejorak ala Amaq Amat. Dulunya Amaq dan nelayan lainnya bebas melaut mencari ikan di perairan Lombok itu. Lantaran pembangunan kawasan yang menghadirkan hotel-hotel dan lainnya, kini tidak bebas lagi mencari nafkah. Amaq pun memutar otak. Didapatlah ide menyulap perahu supaya bisa menjadi transportasi wisata. Mereka pun dapat pelanggan. Turis yang sedang berkunjung ke Lombok meminta diantarkan ke beberapa tempat. Pelayanan Amaq dibantu anak-anaknya sangat bagus. Membuat sang turis terkesan. Di akhir, sang turis memberikan amplop sebagai bayaran. Namun setelah dibuka, amplop itu berisi dolar. Tentu saja tidak bisa dipakai, harus ditukar dulu. Tidak lain anggapan Amaq yang yakin bahwa dolar akan lebih banyak daripada rupiah.

Pembaca bisa saja selintas membaca dan tertawa dari kisah itu. Sesungguhnya kisah lucu itu menyimpan pesan yang mendalam. Tentang rusaknya tatanan lingkungan yang kian tergerus oleh kapitalis. Alam yang indah sekarang dirusak oleh bangunan-bangunan yang katanya untuk pembangunan dan kemajuan ekonomi. Kondisi ini jamak terjadi. Hampir di setiap jengkal tanah air. Nelayan dan mungkin kita, seakan tak berdaya pada pemilik modal. Nah, cerpen lucu ini bagi saya sebentuk ‘perlawanan’ yang mungkin hanya dipandang sebelah mata, namun setidaknya telah memberikan ketegasan sikap di pihak mana.

Tidak kalah serunya dengan cerita Jika Emak Ingin Naik Roller Coaster. Asep bingung karena Emaknya yang sudah berumur minta naik roller coaster. Kan bahaya. Namun emak kekeuh. Asep minta pertimbangan dua kakaknya. Joko dan Dadang berusaha membujuk emak, supaya mengurungkan keinginannya. Namun emak bergeming. Di suatu hari, emak menghilang. Maka ketiga anaknya mencari di tempat yang mereka yakini emak ke sana. Benar saja. Emak mereka temui di wahana bermain roller coaster Trans Studio Bandung. Namun dengan pemandangan yang membuat mereka tersenyuh. Betapa mereka harusnya mengerti dan memahami perasaan emaknya. Lalu mereka mendekati emak. Tidak dinyana, emak masih menanyakan tawaran dari anak-anaknya. Tidak mau rugi. Hehe..

Novela ini memberikan siraman sejuk dengan menghadirkan keindahan kisah lucunya. Kelucuannya benar-benar menghibur. Dijamin dibuat senyum-senyum atau tertawa, bahkan jika itu di dalam kereta yang banyak orang. Banyak cerita ringan tapi sarat pesan. Kisah-kisahnya benar-benar menjadi obat stress. Bagi kita yang punya banyak hal yang pikirkan, kiranya novela ini sangat tepat untuk dimiliki.

Sebagai hiburan, novela ini cukup membuat kita melupakan sejenak tentang kehidupan yang kadang sumpek. Pahlawan Tanpa Tanda Tangan menghadirkan kisah pemilihan pahlawan di kampung Doyan Singkong. Ada dua warga yang diusulkan karena memenuhi kriteria. Engkong Mansur dan Pak Jayus. Engkong Mansur sosok pemakmur masjid, tapi beliau tidak bisa baca tulis, juga tidak mengerti tanda tangan.  Pak Jayus merupakan penguasa getuk yang punya belasan gerobak keliling. Lalu, siapakah yang menang? Keduanya menang. Namun jika harus memilih, panitia memilih Engkong yang berhak menang. Pak Jayus tidak sakit hati. Justru pada pengumuman itu, Pak Jayus yang memberikan sambutan. Sambutan kemenangan. Tentu tidak lupa, dia berpromosi getuk. Hidup memang sederhana. Setiap kisah bisa dibuat bahagia. Jangan dibikin rumit. Termasuk tentang kalah atau menang pada sebuah pemilihan.

 


PAHLAWAN TANPA TANDA TANGAN


Judul                : Pahlawan Tanpa Tanda Tangan

Penulis             : Boim Lebon, Zaenal Radar T., dkk.

Penerbit           : Penerbit Indiva Media Kreasi

Cetakan           : 2019

Halaman          : 160 hlm

ISBN                : 978-602-570-1474

 

Ini kumpulan cerpen saya bersama anggota FLP. Ada cerita yang kental dengan nuansa kota Sumedang dan Bandungnya, ada yang berbau Madura, ada yang mengangkat harumnya Jakarta, serta semerbaknya Medan dan Lombok.

Membaca buku ini semakin kaya wawasan. Nggak cuma sekadar tersenyum, tapi juga bisa meresapi betapa kayanya bumi Indonesia ini dan betapa banyak ide menarik yang bisa diangkat dari sekitar tempat yang ada di sekitar kita.
Karena membaca cerita lucu bisa jadi sarana untuk menghilangkan stres setelah capek sekolah atau kerja atau menjalani rutinitas harian; pada akhirnya membaca cerita lucu itu menghadirkan hiburan sekaligus perenungan!
Barangkali itu saja sinopsisnya, nggak usah terlalu lucu, karena yang lucu adalah adalah cerita-cerita di dalam buku ini. Selamat menikmati.

BOIM LEBON
(produserSitcom OB OK di RCTI, pengajar, penulis cerita komedi anak dan remaja, penasihat FLP Pusat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *