QnA BARENG S GEGGE MAPPANGEWA SANG PENULIS SAYAT-SAYAT SUNYI

S Gegge Mappangewa is back! Setelah sukses dengan Sajak Rindu dan Sabda Luka, penulis asal Makassar ini  kembali dengan novel yang akan bikin kalian tersedu. Seperti yang telah di-share di medsos, novel Daeng Gegge yang teranyar berjudul Sayat-Sayat Sunyi. Kami juga udah rilis tampilan kovernya.

Seperti yang bisa kalian lihat kover Sayat-Sayat Sunyi bertema heartbreak dengan gambar lambaru, layang-layang tradisional, yang putus dan tersangkut di dahan pohon kering. Tampilan yang meneriakkan kesan sendu dan sepi, sesuai dengan judulnya, Sayat-Sayat Sunyi.

Nah, kemaren-kemaren saya juga udah kepo soal novel ini ke penulisnya langsung. And, ini dia QnA saya bareng Daeng S. Gegge Mappangewa.


 

Apa permainan tradisional yang dimainkan dan disukai Daeng Gegge saat kecil?

Dulu saya sering bermain petak umpet. Kalau dalam bahasa Bugis, mallebba’. Permainan ini selalu ada saat ada hajatan keluarga. Sangat seru dimainkan di malam hari. Di antara kesibukan mempersiapkan hajatan, di kolong rumah panggung Bugis, kami mencari tempat persembunyian yang paling susah ditemukan. Jika perlu memanjat pohon di malam hari demi bersembunyi.

 

Adakah permainan tradisional yang Daeng rekomendasikan untuk dicoba oleh anak-anak masa kini? Kenapa permainan itu?

Permainan lambaru. Permainan layang-layang itu biasa. Yang tak biasa bahkan sudah punah, membuat layang-layang itu mengeluarkan suara dengung. Selain dengungnya, ukuran lambaru yang besar membuatnya punya nilai khas.

 

Ceritakan tentang Lambaru. Like, apa itu lambaru? Dan adakah pengalaman pribadi main lambaru? Lalu kenapa akhirnya lambaru muncul dalam Sayat-sayat Sunyi?

Lambaru adalah layang-layang dengung. Masa kecil saya sangat senang mendengar bunyi lambaru di malam hari. Meski sangat suka, bahkan pernah melihat tetangga buat lambaru, saya malah tak pernah bermain lambaru. Layang-layang biasa pun tak pernah.  Orang tua saya melarang bermain layang-layang ataupun lambaru karena menganggapnya buang-buang waktu saja.

Lambaru muncul dalam SSS, semata ingin memperkenalkan permainan khas Bugis yang tak pernah lagi saya dengar dengungnya setiap pulang kampung.

 

Kenapa pilih nama Tungke’ sebagai tokoh utama? Sepertinya Tungke’ terasa asing dan tidak umum.

Tungke’ dalam bahasa Bugis berarti tunggal. Jika ada yang bernama Tungke’, berarti dia anak satu-satu.

Saya memilih nama Tungke’, selain khas Bugisnya, juga senada dengan kata ‘sunyi’. Sejak awal nulis SSS, sudah memilih nama ini karena dari awal sudah membayangkan bahwa Tungke’ akan sendiri. Dalam perjalanan cerita pun, saya tetap kekeh bahwa Tungke’ itu berarti tunggal, sendiri, sebatang kara, sunyi.

Untuk latar Bolalimappulo, itu benar-benar pernah ada di kampung saya tahun 80-an, sebuah daerah transmigrasi yanh ditinggal para warganya.

 

Apa yang ingin Daeng sampaikan lewat novel Sayat-sayat Sunyi?

Bahwa tak ada lebih derita daripada kesendirian. Bahwa selalu ada alasan untuk tetap tersenyum, sederita apa pun.

 

Pilih satu qoute dari Sayat-Sayat Sunyi untuk pembaca

Cinta itu buta. Buta harta jika yang di depannya adalah gadis cantik. Buta fisik jika yang di depannya adalah gadis kaya.

 


Novel Sayat-Sayat Sunyi sedang OTW terbit. Buat kalian yang mau booking, sok ikuti program Pre Order-nya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *