Rangkum Makna “Kartini & Muslimah dalam Rahim Sejarah”

Kartini

Sebagai personal, kita boleh saja setuju atau tidak setuju. Akan tetapi bangsa ini telah memilih Kartini sebagai satu “simbol” dari perempuan Indonesia. Kartini telah menjadi memori kolektif dan merasuki alam subconscious anak bangsa sebagai pahlawan perempuan yang akan muncul ke permukaan pertama kali jika sebuah pertanyaan diluncurkan, “ Siapa pahlawan perempuan Indonesia?”

Rahayu Amatullah dalam kesempatan Seminar dan Bedah Buku “Kartini & Muslimah dalam Rahim Sejarah” yang diselenggarakan Salimah Solo 23 April lalu membedah rangkum makna seorang Kartini bagi bangsa dan muslimah khususnya.


1. KETERPURUKAN BANGSA  MENJADI KEPRIHATINAN  KARTINI

 

  • DISKRIMINASI RASIALIS PEMERINTAH HINDIA BELANDA (hlm. 70-72)

Surat tanggal 17 Agustus 1902 kepada EC. Abendanon

“Sebagai anak pegawai kami telah mengalami dengan sedih beberapa peristiwa yang membuat kami gemetar karena marah. Pada kesempatan-kesempatan semacam itu kami diam seribu bahasa; tidak dapat berbicara atau bertanya; rasa marah dan kasihan menyumbat mulut kami. Seorang kenalan kami mengerti tentang hal ini lalu katanya, “Kita harus berbuat demikian; bilamana tidak, bagaimana mungkin kita yang hanya berpuluhan ini saja, dapat memelihara ketertiban dan keamanan atas rakyat yang jumlahnya ribuan? Mereka itu tentulah sudah sejak dulu-dulu mengusir kita dari tanah ini, membuang kita ke dalam laut, bila tidak ada rasa takut itu kepada kita”.

  • PELESTARIAN KEMISKINAN (hlm. 74-75)

Apa sebab orang Jawa menjadi begitu miskin?” Dan pemotong rumput, yang penghasilannya tiap hari 10 atau 12 sen dipungut pajak pencaharian. Untuk tiap ekor kambing atau domba yang disembelih, harus dibayar 20 sen. Demikianlah penjual sate yang tiap hari menyembelih dua ekor kambing, membayar pajak tiap tahun 144 gulden. Dan berapakah penghasilannya? Hanya cukup untuk hidup…”.

(Rembang, 10 Agustus 1904. Surat kepada Ny. Abendanon – Mandri)

 

2. PERJUANGAN KARTINI

  • KEHORMATAN MARTABAT BANGSA (hal. 69)

 “Banyakkah kekuasaan Ayahmu?”, tanyamu kepada saya. Apa arti kekuasaan itu sebenarnya? Pengaruh besar memang ada pada Ayah, tapi kekuasaan hanya ada pada yang menjajah…” suratnya kepada Stella tanggal 12 Januari 1900.

“Alangkah kecilnya gaji di negeri Belanda dibandingkan dengan gaji di Hindia. Dan ‘orang-orang’ di sini selalu mengeluh tentang gaji yang sedikit. Di Hindia orang sudah berhak pensiun setelah dinas 20 tahun dan bahkan pendeta-pendeta setelah 10 tahun. Hindia memang surga bagi pegawai bukan? Sungguhpun demikian sejumlah orang Belanda mengumpat-umpat Hindia sebagai “negeri kera yang berengsek”. Saya dapat menjadi marah sekali kalau mendengar orang mengatakan “Hindia berengsek”. Orang terlalu sering lupa, bahwa “negeri kera yang berengsek” itu telah mengisi beberapa saku kosong dengan emas, kalau mereka pulang ke tanah air setelah tinggal di sini beberapa tahun”. (6 November 1899)

  • PENDIDIKAN BANGSA (hal. 77)

Tampak dalam suratnya kepada Stella tanggal 12 januari 1900

“Kata Ayah dalam notanya: Pemerintah tidak mungkin dapat menyediakan nasi di piring bagi setiap orang Jawa untuk dimakannya, tetapi apa yang dapat dilakukan Pemerintah adalah memberikan kepadanya daya upaya agar ia mencapai tempat di mana makanan itu terdapat. Daya upaya ini ialah: Pengajaran. Pemberian pengajaran yang baik kepada anak negeri samalah halnya seolah-olah Pemerintah memberi suluh ke tangannya, agar selanjutnya ia menemukan sendiri jalan yang benar yang menuju ke tempat di mana nasi itu terdapat”.

 

Materi selengkapnya dapat diunduh di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *