Remaja, Yuk ‘Jual’ Dirimu

Lilik KurniawanBy @PipiKaira

Judulnya sangaaaaar *&*(6%^$3)!!
Hahaha, harus lari ke polsek terdekat, nih!
Hm, sabar Amigos, sungguh bukan sebuah provokasi untuk berbuat aneh-aneh apalagi menyerempet dosa. Haram!
Jelas-jelas Allah telah melarang berbuat zina, apalagi ‘menjual diri’ demi kesenangan dunia. Amit-amit! Jangan ditiru! Don’t try at home and at anywhere!!!
“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)

So, apa maksudnya judul chapter di atas?

Amigos, memiliki kepribadian baik dan karakter yang unik belum cukup menjamin masa depan kita menjadi bling bling dan menjadikan kita manusia ‘hebat’ atau super sukses.
Ada sebuah question of life yang perlu kita pertanyakan jauh dalam diri kita, “Sudahkah kita punya ‘visi’ hidup?”

Vision is the art of seeing the invisible
— Jonathan Swift

Visi adalah seni melihat sesuatu yang tak terlihat.
Haiyah, kita tidak sedang berselancar di dunia gaib, loh! As I told di chapter pembuka, masa depan itu bukan untuk ditunggu dan kita bilang dengan lantang, “Halo, sampai jumpa di sana!” Oh, no!
Tetapi masa depan harus kita ciptakan dengan sungguh-sungguh mulai dari sekarang!
Bagaimana caranya?

Gampang. Temukan VISI dan MISI hidupmu!

Secara gampangnya, visi hidup adalah what we want to be someday atau mau jadi apa kita kelak dan misi hidup adalah what we want to do atau apa yang kita lakukan untuk meraih apa yang kita inginkan.
Nah, hidup tanpa visi seperti buku tanpa judul, visi tanpa misi seperti buku tanpa daftar isi.

Coba sekarang kita melongok ke cermin kemudian berkaca, look deeply! Kita mempunyai value, kita ini berharga, loh! Read this!
Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya, selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai 40 tahun dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berikan aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim. (QS. Al-Ahqaaf: 15)

Hm, ayat ini benar-benar mendobrak rasa sayang kita kepada ayah dan bunda, kan?
So, jangan merendahkan diri kita sendiri dengan berujar, “Aku tidak bisa atau gagal menciptakan visi dan misi hidupku, hiks.”
Setiap orang pasti bisa meng-create visi masing-masing, karena kita punya value.

Flash back ke belakang, dah! Dari kita lahir, belajar merangkak, bisa duduk, berdiri, jalan, diberikan pendidikan sekolah, kursus tambahan, dan di luar kebutuhan sehari-hari, coba kita hitung berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua kita? Blaaaaaar!!! Siapa yang bisa menghitungnya coba?

Value kita tinggi, kan? Mahal amat kita. Nah, setelah kita pede tetapkan visi, yuk kita berkenalan dengan ilmu baru, namanya BRANDING.

Hm, apaan ini?

Menurut Mas Irvan Permana dalam bukunya yang ‘mengenyang dan menyenangkan’ berjudul Brand is Like a Donut, brand adalah sebuah nama, simbol, desain, ataupun kombinasi dari semuanya yang dipakai untuk mengidentifikasi sesuatu (produk, tempat, orang, perusahaan, negara, organisasi, dan sebagainya).

Misalnya, kita lagi belanja di warung beli sampo untuk keramas. Setelah putar-putar mata memandang dari puluhan merek sampo yang tersedia di warung, pasti kita membeli merek yang sudah kita percaya bisa merontokkan ketombe yang menggunung di rambut dong. Mana sudah setinggi piramida Mesir, lagi. *Qeqeqe*
Kita bilang sama si empu warung, “Ibu, saya beli sampo merek X.”
Kemudian uang go pek kita keluarkan dari kantong. Hm, diperhatikan tuh sampo. Warna bungkusnya hitam. Ada gambar artis ibukota lagi pamer indahnya kemilau rambut tanpa ketombe sebagai brand ambassador. Cantik, pisan. Eh, ternyata uang lima ratus bisa dapat sampo 2 biji tapi disambung jadi satu. Wah, tambah semangat ngerontokin ketombe membandel. Tambah suka kita, tambah jatuh cinta dengan merek sampo itu. Pokoknya gag mau lepas! Bobok juga dikelonin. Qiqi.
Nah, kalau proses sampo merek X menjadikan diri kita tertarik untuk membeli karena merek tersebut sudah ‘hidup’ dalam pikiran dan hati kita itulah yang dinamakan dengan Branding.

Kenapa kita repot-repot belajar tentang branding?

Hm, kita harus belajar branding karena kita bukan bakal jualan sampo tauk! *keramas tujuh kali dalam semalam*

Tetapi, sebuah fakta yang harus kita sadari bahwa kita adalah sebuah brand yang hidup. Kita sudah mendapatkan sebuah brand yang diberikan oleh ayah dan bunda sedari lahir yakni our name. Betul, nama kita.
Dengan berbagai kelebihan dan kekurangan sebenarnya kita adalah sebuah brand yang hidup beraset miliaran rupiah.
Jadi mulai sekarang kita tidak usah ragu berpikir, “Mau jadi apa saya? Apa tujuan saya? Bagaimana saya melakukannya?”
Ini adalah moment terpenting untuk menentukan langkah kita ke depan. Right?

Om Mario Teguh juga bilang, “Merk yang paling baik dan paling mahal yang dapat Anda tempelkan pada diri Anda adalah NAMA PRIBADI ANDA.”

Nah, loh!

Saatnya kita membangun yang dinamakan:
Brand vision
Setelah kita membuat visi hidup dan diikrarkan maka brand vision akan mempimpin kita ke arah mana kita akan melangkah.
Also, brand competency
Nah, tugas selanjutnya adalah mencari apa yang terbaik dan bisa membuat kita bersaing dengan sesama untuk menunjukkan bahwa kita mempunyai kompetensi atau kecakapan dan berkomitmen terhadap visi kita.

Pusing Kalau Visi Kita Berubah Di Tengah Jalan?
Hm, ini mah sering kita jumpai, ya!
Si Dahlan tetangga sebelah, banyak orang meragukan kemampuan ayah dan ibunya bisa menyekolahkan hingga perguruan tinggi, eh, sekarang bisa jadi orang nomor satu memimpin sebuah perusahaan multinasional.
Karena Dahlan kecil mempunyai brand vision dan brand competency yang jelas dan terarah dari kecil.
Beda dengan si Acong, anak orang kaya sedesa. Dia menjadi pribadi gagal. Preman kampung kelas wahid tapi punya macam-macam phobia:
ablutophobia, takut untuk mencuci atau mandi,
achluophobia, takut akan kegelapan,
aichmophobia, takut akan jarum atau benda runcing,
alektorophobia, takut akan ayam,
caligynephobia, takut wanita cantik,
coimetrophobia, takut akan kuburan, bahkan
coulrophobia, takut pada badut … xaxaxaxa
Sekarang mau pilih mana? Bernasib sama dengan si Dahlan atau Acong?

Amigos, banyak hal yang kita impikan tidak sesuai dengan harapan. Tetapi Allah SWT tetap memberikan sebuah semangat dan kesejukan lewat ayat yang begitu indah,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengbah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-K. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)
Asbabun nuzul Surah Al-Baqarah ayat 186 atau sebab turunnya ayat karena ada seorang Arab bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, apakah Tuhan kita dekat sehingga kita membisik-bisik atau Tuhan kita jauh sehingga kita memanggil.” Lalu Rasulullah saw. diam, maka turunlah ayat di atas.

Jadi, meskipun visi kita berubah di tengah jalan. Kita tidak perlu worried. Hidup adalah sebuah proses panjang yang harus kita lalui dan tugas kita adalah mengambil hikmah dari sebuah peristiwa.

Seorang remaja ibarat burung yang sedang bertumbuh, dia perlu tersandung untuk dapat berjalan dan dia perlu jatuh untuk dapat terbang tinggi.
Yang terpenting bukan hanya seberapa kuat kita bisa bangkit kembali, tetapi seberapa cerdas kita bangkit dan tak pernah terjatuh lagi.

So, mari meredefinisi ulang apa visi dan kompetensi kita.
Tugas selanjutnya adalah mendefinisikan brand positioning, brand differentiation, dan brand expression kita.
Brand positioning adalah sebuah peran atau posisi yang akan kita mainkan.
Brand differentiation adalah kelebihan dari diri kita sebagai penunjuk bahwa kita berbeda dengan orang yang lain.
Brand expression adalah bagaimana cara kita menampilkan diri kita.
Cukup rumit? Tentu tidak.
Lakukan dari hati, tidak dibuat-buat, be your self, lakukan secara natural.
Dan sekarang, jualah diri Anda!
Bagian mana yang kita jual? Hehe.
Tentu brand promise, sebuah janji yang harus diperlihatkan dan tepati kepada teman, sahabat, keluarga, sesiapun orang, dan terutama orang tua bahwa kita layak menjadi yang TERBAIK untuk SEMUA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *