Resensi 3 Anak Badung

3 Anak Badung

Novel “3 anak badung” merupakan novel yang bertemakan humor, akan tetapi banyak hikmah yang bisa diambil dari kisah “3 anak badung” ini. Anak yang ditelantarkan oleh ibu kandung mereka. Sang ibu tidak bisa membiyai hidup ke 3 anaknya, yang masing-masing diberi nama Mola yang memiliki karakteristik pelupa berat dan telmi (telat mikir), Rama  anak yang cerdas dan bijak dibanding dengan kakak dan adiknya, dan Reh yang hobi sekali dengan tidur ini, karena sulitnya perekonomian di keluarga mereka. Di tambah suami yang tidak pernah pulang sampai 3 kali lebaran. Sehingga terpaksa sang ibu bekerja banting tulang untuk biaya kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, suatu hari sang ibu yang mempunyai nama lengkap Bunga Cinta Lebay dan biasa di panggil Mpok Bung (karena dia tinggal di daerah Jakarta, sehingga di panggil Mpok) oleh tetangga-tetangganya ini, sudah tidak sanggup untuk membiayai kehidupan dari 3 anaknya tersebut. Ia kesal dengan sikap suaminya yang tidak punya tanggung jawab, setelah mempunyai 3 anak. Walaupun sebenarnya, Mpok Bung masih sangat mencintai suaminya, dan berharap suaminya kembali kerumah mereka.

Suatu hari Mpok Bung sudah bertekad bulat untuk membuang ke 3 anaknya. Akhirnya Mpok Bung membawa mereka ke stasiun kereta api, karena Mpok Bung berniat untuk membuang mereka ke Yogyakarta. Walaupun sebenarnya sang ibu, Mpok Bung tidak tega melihat ke 3 anaknya yang masih sangat kecil-kecil ini, ia buang ke tempat yang sangat jauh. Rama, anak ke dua dari 3 bersaudara tersebut sempat bertanya kepada ibunya, mengapa ia mengajak mereka ke stasiun, karena jarang-jarang mereka diajak jalan-jalan oleh ibu nya  ke stasiun. Sang ibu hanya menjawab untuk mencari sang ayah, yang sebenarnya tidak tahu keberadaannya dimana sampai saat ini. Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya kereta api jurusan Yogyakarta pun tiba. Mpok Bung mangantarkan ke 3 anaknya masuk ke dalam kereta tersebut. Dengan perlahan-lahan, Mpok Bung pergi meninggalkan mereka di dalam kereta api jurusan Yogyakarta. Sempat Mpok Bung menyesal dengan perbuatannya itu. Tetapi, Mpok Bung yakin, bahwa suatu saat nanti dia akan bertemu dengan ke 3 anak lelakinya kembali, tapi entah kapan pertemuan itu akan terjadi. Didalam kereta, 3 bersaudara tersebut mengamen, supaya tidak dicurigai oleh petugas, karena sebenarnya mereka tidak membeli tiket untuk menaiki kereta api tersebut. Dan mereka juga tidak tahu bahwa, sang ibu telah pergi meninggalkan mereka di kereta api itu, dan niat jahat sang ibu yang sebenarnya membuang mereka karena sakit hati nya kepada sang ayah dan kurangnya eknomi untuk membiayai kehidupan mereka sehari-hari.

Sepuluh tahun berlalu mereka hidup sebagai anak jalanan, 3 bersaudara Mola, Rama dan Reh hidup luntang-lantung di kota rantauan. Tetapi mereka tetap semangat untuk mencari ibu kandung mereka. Di Kota gudeg ini, ke 3 anak tersebut diasuh oleh Mas Kelik yang asli orang Yogya. Dari awal mereka sampai di kota ini, hanya Mas Kelik lah yang mau menolong mereka. Mulai dari fasilitas untuk tinggal, makan dan mandi. Akan tetapi mereka juga punya kesadaran diri, bahwa mereka tidak boleh bergantung dan tidak boleh menyusahkan orang lain. Maka dari itu, mereka bekerja sebagai pengamen. Penghasilan dari mengamen lumayan cukup banyak, bermodalkan suara yang bagus dan perawakan mereka yang sebenarnya tidak pantas menjadi anak jalanan, banyak sekali yang tertarik kepada mereka karena mereka ganteng-ganteng. Setelah penghasilan mereka mencukupi, mereka niat untuk kembali ke jakarta mencari sang ibu kandung yang sudah membuang mereka ber 3. Walaupun ibu kandung mereka seperti itu, tapi mereka sebenarnya merindukan kasih sayang seorang ibu, terutama Rama, anak yang cerdas dan lebih bijak dibanding dengan kakak dan adiknya. Lalu berpisahlah mereka dengan Mas Kelik dan istrinya. Lalu, dengan tekad yang bulat, pergilah mereka ke Jakarta untuk menemui sang ibu.

Ketika tiba di Jakarta, 3 kakak beradik tersebut sempat bingung, karena mereka sudah lama sekali tidak tinggal di kota kelahirannya ini. Bingung harus mau cari kemana, hanya bermodalkan poto 2×3 sang ibu dan nama tempat tinggalnya dahulu. Menanyakan kepada orang-orang disekitar, tetapi mereka belum saja mengenali sosok sang ibu dari poto yang telah di photo copy oleh mereka. Sempat mereka berpisah, Rama dengan Mola tetap bersama sedangkan Reh tidak bersama dengan kakak-kakanya. Karena, sesampainya mereka di Jakarta, Reh sempat mengeluh kepada kakaknya kalau dia ingin menyempatkan untuk tidur terlebih dahulu sebelum mencari sang ibu. Rama tidak sabar ingin segera mencari sang ibu, sehingga Reh di tinggal sendiri. Dan akhirnya mereka berpisah. Akhirrnya Rama dan Mola pergi menyusuri Jakarta. Setelah beberapa lama mereka berniat untuk istirahat sejenak. Pada saat istirahat mereka bertemu dengan seseorang yang sebelumnya pernah mereka temui, Bang Shofwan. Akhirnya mereka bercerita kepada Bang Shofwan niatan mereka ke Jakarta tersebut. Dan dengan baik hatinya, Bang Shofwan mengizinkan mereka untuk tinggal beberapa hari di ruangan yang ada di masjid.

Reh yang masih tertidur pulas, tidak sengaja ditemukan oleh 2 orang penjahat yang terkenal di sekitar daerah tersebut sekaligus pengedar shabu-shabu. Akhirnya, Reh di bawa oleh ke 2 orang penjahat itu. Reh yang sensitive ketika tempat tidurnya tidak nyaman, ia langsung terbangun dari tidurnya. Dan terkejutlah Reh, melihat sosok 2 orang yang sama sekali tidak ia kenal. Akan tetapi strategi 2 orang penjahat tersebut sangat halus. Membuat Reh menjadi betah dengan mereka ber 2, dengan memberikan semua fasilitas yang dibutuhkan oleh Reh. Alhasil, Reh yang masih polos, tidak sedikit mencurigai niatan busuk ke 2 orang penjahat itu. Lalu, Reh di ajak jalan-jalan. Dan diajakalah Reh oleh salah satu penjahat tersebut untuk makan di sebuah restoran di Jakarta. Ketika Reh sedang makan dengan penjahat tersebut, tidak di sangka-sangka Reh bertemu dengan kedua kakaknya yang sedang mengamen di restoran itu. Setelah beberapa hari Mola dan Rama mencari Reh, akhirnya mereka dipertemukan di sebuah restoran. Rama sudah curiga dan mencium sebuah kejanggalan dari si penjahat tersebut. Dan akhirnya Reh pun kabur bersama kakak-kakanya, setelah sebelumnya Reh sempat adu mulut dengan penjahat itu karena, Reh ingin kembali dengan kaka-kakaknya, tetapi penjahat tersebut tidak mengizinkan sebelum Reh ikut dengannya untuk mengantarkan barang ke sebuah hotel mewah di Jakarta.

Lalu mereka kembali ke tempat Bang Shofwan, dan meminta masukan apa yang seharusnya mereka lakukan untuk menghindar dari penjahat-penjahat itu. Pada saat mereka tiba di tempat Bang Shofwan, mereka diintai oleh salah satu dari anak buah penjahat tersebut. Alhasil ketahuanlah keberadaan mereka. Tapi mereka tidak bisa dibodohi. Akhirnya, dengan saran dari Bang Shofwan, mereka langsung pergi meninggalkan daerah itu. Dan kembali mencari sang ibu kandung, yang sudah menjadi tujuan utama dari ke 3 anak tersebut. Walaupun sebenarnya yang ingin sekali bertemu dengan sang ibu adalah Rama, sedangkan Mola yang yang masih ga yakin, kalo ibunya ingin bertemu dan kangen dengan mereka. Dan Reh yang tergolong cuek, jika ia bertemu dengan ibunya it’s ok, tapi kalaupun tidak, ya ga apa-apa.

Para penjahat masih mencari ke 3 anak tersebut. Karena salah satu dari mereka mengetahui tempat persembunyian 3 anak badung yang berada di masjid tempat bang Shofwan, akhirnya para penjahat itu pun langsung mendatangi ke masjid bang Shofwan. Tetapi sayang, ke 3 anak badung itu sudah pergi meninggalkan masjid itu. Tidak dapat ke 3 anak, bang Shofwan pun menjadi tahanan mereka. Bang shofwan langsung menghubungi mereka lewat sms. Akhirnya, penjahat-penjahat itu membuat perjanjian dengan ke 3 anak itu untuk bertemu. Para penjahat membebaskan bang Shofwan, sedangkan ke 3 anak itu menyerahkan barang yang ada di saku Reh. Barang yang ada di Reh yaitu shabu-shabu. Akhirnya, pertemuan itu berlangsung, bang Shofwan pun dibebaskan dan barang yang ada di Reh, di kembalikan ke para penjahat itu. Tetapi sebenarnya, barang yang di kasihkan ke para penjahat tersebut sudah di ganti oleh ke 3 anak badung dan di ganti dengan tanah.

Persitiwa selanjutnya ialah melanjutkan pencarian ibu kandung dari 3 kakak beradik ini. Mereka sampai di kampung tempat tinggal mereka dulu bersama ibu kandung yang telah membuang mereka. Sesampainya di sana, mereka melihat keramaian dikarenakan terjadi kebakaran sekitar kampung yang membumi hanguskan beberapa rumah warga. Setelah di selidiki ternyata salah satu dari rumah yang terbakar itu ialah rumah dari Bunga Cinta Lebay atau Mpok Bung, ibu kandung dari ke 3 kakak beradik tersebut. Kabar yang terdengar, mpok Bung di bawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan mengenai terjadinya penyebab kebakaran, karena salah satu warga melihat awal mula terjadinya kebakaran berasal sari rumah mpok Bung. Setelah di periksa, ternyata mpok Bung tidak bersalah. Ke 3 anak badung menunggu sang ibu di luar kantor polisi. Setelah mpok Bung selesai ddi interogasi oleh polisi, mpok Bung keluar dari gedung dan melihat ke 3 anak badung sedang menunggu sang ibu yang selesai di interogasi oleh polisi. Mereka pun akhirnya berpelukan. Mpok Bung jadi teringat kisah masa lalunya, yang telah membuang ke 3 anak lelakinya. Ia menyesal apa yang telah ia perbuat dahulu. Tapi mpok Bung sangat optimis yakin pasti akan bertemu kembali dengan ke 3 anak lelakinya. Dan dengan izin Sang Maha Kuasa, mpok Bung dan ke 3 anak lelakinya di pertemukan kembali. Ya itulah kekuatan cinta dan kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya. Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan kantor polisi, dan selanjutnya mereka mengarungi hidup bersama-sama.

Keunggulan isi buku :

Novel ini termasuk novel yang humor tetapi di selingi juga dengan kisah yang bisa memotivasi. Selain itu, dari setiap karakteristik para tokoh yang unik. Para tokoh memiliki ciri khas tersendiri. Sehingga tidak monoton.

Kelemahannya isi buku :

Akhir cerita yang kurang greget.

Manfaat isi buku :

Novel ini dapat menghilangkan stres bagi para pembaca, selain itu cerita dari novel ini mengajarkan kepada masyarakat bahwa jangan sampai kita membenci orang tua kita, terutama seorang ibu. Walaupun kisah sang ibu yang digambarkan di novel ini, telah membuang ke 3 anak lelakinya, sang ibu mempunyai alasan mengapa ia membuang ke 3 anak lelakinya. Akan tetapi sang ibu berjanji suatu saat nanti ia akan berjumpa lagi dengan ke 3 anaknya. Kekuatan cinta yang kuat antara seorang ibu dengan anak-anaknya. Cintailah ke 2 orang tua kita, apapun kondisinya.

Judul buku      : 3 ANAK BADUNG

Penulis               : Boim Lebon

ISBN                     : 978 – 602 – 8277 – 82 – 2

Penerbit            : INDIVA Media Kreasi

Tebal                  : 192 halaman

Ukuran              : 19 cm

Harga buku     : Rp 25.000

 

Resensi oleh Raissa Musa 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *