Saatnya Menjadi Seorang “Trouble Solver”

I will Survive

Kehidupan seseorang tak bisa lepas dari masalah. Setiap impian dan harapan yang tidak tersampaian atau kenyataan yang tak kita harapkan akan menjadi masalah yang sering membuat kita gundah, sedih, dan bahkan stress. Melalui buku ini, kita diajak untuk memahami masalah sebagai suatu hal biasa. Artinya, kita tak perlu dibuat terlalu sedih, bahkan stres hanya karena masalah yang kita hadapi.

Bahkan, di buku ini, kita diajak untuk bersahabat dengan masalah. Bersahabat dengan masalah bukan berarti selalu membuat masalah. Bersahabat di sini dalam arti kita harus terbiasa mengatasi setiap masalah yang menghampiri kita tanpa perlu merasa khawatir dan takut. Sebab, kita harus yakin bahwa masalah yang kita hadapi tidak mungkin melebihi batas kemampuan kita. Hal ini sudah ditegaskan Allah Swt dalam surat Al Baqarah ayat 186, yang menyebutkan bahwa Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya.

Di samping keyakinan bahwa kita bisa mengatasi setiap masalah kita sendiri, kita juga butuh strategi agar penanganan masalah bisa tepat sasaran dan efektif. Secara teoritis, di buku ini dijelaskan bahwa salah satu strategi yang biasanya digunakan adalah strategi coping. Strategi coping adalah berbagai macam upaya yang dilakukan, baik melibatkan mental dan perilaku, yang bertujuan menguasai, mengurangi, menoleransi, atau meminimalisasikan suatu keadaan yang penuh tekanan (yang disebabkan suatu masalah).

Lazarus dan Folkman, sebagaimana dikutip dalam buku ini, melakukan penggolongan strategi coping menjadi dua, yaitu problem-solving focused coping dan emotion-focused coping. Problem-solving focused coping artinya seorang individu aktif mencari penyelesaian dari masalah yang dihadapinya, dengan tujuan menghilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stres. Jadi, orientasinya untuk menyelesaikan masalah. Biasanya, cara yang digunakan adalah dengan metode STOP; Source, Trial and Error, Other, dan Pray and Patient (hlm 71).

Sementara itu, strategi emotion-focused coping merupakan upaya untuk menyelesaikan sebuah permasalahan dan untuk menghilangkan atau mengubah stresor. Strategi ini lebih fokus kepada upaya meredam emosi yang diakibatkan stresor, tanpa mengubah situasi yang menjadi penyebab sumber stres. Ada dua pendekatan yang biasa dilakukan dalam hal ini, yakni behavioral dan kognitif. Pendekatan behavioral berupaya mengalihkan perhatian dari permasalahan dengan melakukan aktivitas lain. Misalnya berolahraga, nonton film, baca komik, dll.

Sementara pendekatan kognitif membuat individu berfikir, kemudian merenungi situasi yang menekannya. Kemudian, ia melakukan perbandingan dengan individu lain yang mengalami situasi yang lebih buruk, lalu mengambil hikmahnya. Jadi, strategi ini digunakan ketika individu percaya bahwa ia dapat melakukan sedikit perubahan untuk mengubah kondisi yang tengah menekan (hlm 82). Misalnya, tentang keterbatasan fisik yang dimiliki seseorang sejak lahir. Untuk kasus ini, yang dibutuhkan adalah bagaimana bisa menekan emosi, melihat hal lain atau sisi positifnya, mencari makna dan keuntungan dari pengalaman tersebut.

Buku ini juga menguraikan ciri-ciri atau mentalitas yang harus ada pada seorang pemecah masalah, atau trouble solver. Diantaranya, berani mengambil langkah sekaligus menganggung risiko. Artinya, seorang pemecah masalah adalah orang yang terbiasa memiliki keberanian untuk mengambil langkah dan menanggung segala risikonya. Ia tak boleh terus-menerus berada di zona nyamannya. Sebab, zona nyaman membuat seseorang sulit berkembang. Dan kita tahu, salah satu indikasi seseorang yang sulit berkembang adalah tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah baru.

Hal lain yang juga penting yang harus ada pada seorang trouble solver adalah sikap bijak dan bertanggung jawab. Dijelaskan bahwa orang yang bijak dan bertanggung jawab akan selalu bisa diandalkan, berpotensi besar untuk menjadi pemimpin, dan tentu saja menjadi pemecah masalah yang handal, baik masalah pribadi, orang lain, ataupun kelompok (hlm 107). Sebab, kita tahu, orang yang bijak dan bertanggungjawab berarti orang yang sudah bisa berfikir secara matang dan mampu mengambil dan menghadapi segala risiko dari setiap perbuatannya.

Membaca buku karya duet dari dua penulis ini, membuat kita menyadari bahwa masalah ada bukan untuk ditakuti, namun untuk diakrabi dengan sikap dan strategi yang tepat dan efektif. Dari sana, kita akan belajar banyak dari masalah yang datang kepada kita. Pada gilirannya, masalah akan kita lihat sebagai hal yang biasa dan bahkan, bisa membentuk kita menjadi pribadi yang lebih dewasa dan berani mengambil risiko-risiko baru yang ada di depan kita.

I-will-SurviveJudul               : I Will Survive

Penulis             : Riawani Elyta dan Oci Y.M.

Penerbit           : Indiva Media Kreasi

Cetakan           : 1, Februari 2016

Tebal               : 128 halaman

ISBN               : 978-602-1614-70-9

 

            *Peresensi: Al Mahfud, penikmat buku, bermukim di Pati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *