Resensi Novel Bapangku Bapunkku

 

Menghargai Kecerdasan Anak

 

Bapangku Bapunkku

Setiap manusia dilahirkan di dunia memiliki potensi. Kecerdasan setiap anak berbeda-beda sesuai anugerah Tuhan yang diberikan. Novel ini menceritakan bagaimana seorang ayah sangat menghargai keunikan keempat anaknya. Bapang adalah panggilan untuk ayah dalam bahasa Suku Semende di Sumatera Selatan (hlm. 13).

Nama asli Bapang adalah Paguh Nian. Dalam bahasa Semende, Paguh artinya pantang menyerah, tahan banting, punya kemauan keras, dan agak dekat dengan keras kepala (hlm. 16). Karakter ini ternyata menjiwai laku hidupnya. Ibarat menganut aliran Punk yang cenderung bebas, dia mengagungkan kebebasan berpikir, berekspresi, berkarya, dan berpendapat. Prinsip ini diterapkan kepada anak-anaknya. Kebebasan yang dianutnya tetap dalam koridor kebenaran dan norma.

Sejak lulus kuliah, Bapang yang keturunan ningrat dan kaya tak mau menjadi pegawai negeri. Dia lebih memilih berprofesi sebagai pedagang dan penulis. Lewat pekerjaan ini, dia menafkahi keluarga. Di rumahnya, lantai bawah merupakan warung makan dan warung suvenir untuk kesibukan istrinya yang berasal dari Jawa. Sedangkan lantai dua, selain empat kamar tidur, ada ruang perpustakaan sekaligus ruang keluarga dan ruang televisi. Koleksi buku ada 14 rak terdiri buku agama, sastra, motivasi, sains, kebudayaan, dan sejarah. Hanya sedikit buku tentang politik dan elektronika.

Anak-anaknya, yakni Alap, Tuah, Harnum, dan Anjam, dididik penuh disiplin dalam belajar dan membaca. Bapang mendampingi anaknya belajar dengan perasaan gembira tanpa tekanan. Anak-anak kalau tidak paham bisa bertanya langsung. Jika Bapang tak paham akan mencatat untuk ditanyakan kepada guru di sekolah. Jika anak-anak lelah boleh beristirahat dan saling bercanda. Terkait televisi, Bapang memperlakukan sangat ketat. Hanya tayangan edukatif yang boleh ditonton. Setelah selesai, antena dicabut. Televisi juga untuk menonton film edukatif yang diputar melalui DVD.

Pola pendidikan seorang ayah dalam novel ini terkesan moderat. Bapang sangat menghargai kecerdasan masing-masing anaknya. Tak ada tuntutan untuk juara kelas. Anak-anak boleh belajar sesuai dengan kesenangannya. Konflik terjadi ketika harus berhadapan dengan pihak sekolah yang cenderung menganggap murid bodoh jika nilainya tak bagus dalam semua pelajaran. Anjam, misalnya, yang sangat suka menggambar. Nilai rapornya saat kelas 1 SD serba buruk. Namun, karya lukisnya beberapa kali dimuat di surat kabar. Pialanya satu lemari karena sering memenangi lomba dari tingkat RT sampai provinsi. Meskipun belum genap 8 tahun, uang hadiah yang ditabungnya sudah mencapai 10 juta (hlm. 85-87).

Bapang marah kalau Anjam disebut bodoh oleh gurunya. Harnum yang kelas 5 SD memiliki kecerdasan linguistik dan kecerdasan antarpersonal. Nilainya rata-rata dalam pelajaran apapun, kecuali mengarang. Dia sangat pandai memimpin organisasi, ketua kelas, mayoret drumband, dan ketua paduan suara. Harnum juga memiliki bakat sastra. Sedangkan Tuah kelas 3 SD senang kalau bermain angka dan pelajaran matematika. Alap yang kelas 2 SMP memiliki kecerdasan visual, suka mengutak-atik baju, dan bercita-cita menjadi desainer pakaian.

Bagi Bapang, potensi semua anaknya harus dikembangkan. Dia bahkan mengkritisi pihak sekolah yang justru bisa memandulkan dan mematikan potensi setiap murid, sebab menyamakan kecerdasan setiap murid. Padahal, Tuhan melahirkan setiap manusia dengan keunikannya masing-masing. Paradigma tidak ada murid yang bodoh memberanikan dirinya mendirikan sekolah alternatif. Dia mendidik murid-murid yang dinilai tidak pintar.

Bapang berpikir sebagaimana teori kecerdasan majemuk (multiple intelligences) ala Howard Gardner yang meliputi kecerdasan bahasa, musik, logika-matematika, spasial, kinestetis tubuh, intrapersonal, interpersonal, naturalis, dan eksistensial. Tetapi, menurut Bapang, pelajaran spiritual, personal, interpersonal, dan finansial merupakan pelajaran yang wajib diberikan karena bekal menjalankan kehidupan (hlm. 209-210). Dengan pendidikan ini, kecuali Tuah yang jadi dosen matematika, anak-anak Bapang berhasil berwirausaha dengan potensinya sejak kecil.

Novel ini semacam kritik terhadap dunia pendidikan yang masih mengarahkan setiap murid dengan kecerdasan homogen. Pendidikan pada dasarnya untuk membangun karakter dan melejitkan setiap potensi anak didik, bukan mengerdilkannya.

 

 

*)Resensi Buku di Jateng Pos, Ahad, 20 Maret 2016
Oleh: Hendra Sugiantoro
*)Peresensi adalah pembaca dan pemerhati buku.

 

Judul Buku  : Bapangku Bapunkku

Penulis          : Pago Hardian

Penerbit        : Indiva, Solo

Cetakan         : I, 2015

Tebal              : 232 halaman

ISBN               : 978-602-1614-47-1

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *