Resensi Reisha Si Pengusaha Cilik

Raisha si Pengusaha cilikBagaimana rasanya mendapatkan uang dari hasil usaha sendiri, tanpa meminta orang tua? Pasti menyenangkan sekali, ya. Uang itu dapat ditabung, disedekahkan, atau bisa dibelikan mainan yang kita suka.

Begitulah yang dirasakan Reisha. Awalnya, gadis berkerudung yang masih kelas satu SD ini meminta bantuan Mama untuk membuat puding cokelat. Mama tidak tahu kalau ternyata Reisha malah menjual puding itu ke teman-teman sekolahnya. Mama baru tahu Reisha berjualan setelah gadis cilik itu menunjukkan uang hasil penjualan puding (halaman 9).

Sejak saat itu, sepulang sekolah, siswa SD Masa Depan Bangsa ini membuat puding cokelat untuk dijual keesokan harinya. Setiap hari, Reisha membawa dua puluh gelas puding. Satu puding dalam gelas plastik kecil dijual seharga dua ribu rupiah. Dari satu gelas puding yang terjual, dia mendapatkan untung lima ratus rupiah (halaman 18). Setiap keuntungan yang dia dapat kemudian ditabung. Gadis kecil itu membayangkan, nanti setelah tabungannya banyak, dia akan menggunakannya untuk backpacking keliling dunia, seperti yang dilakukan papanya yang bekerja sebagai pelaut.

Ternyata tidak semua anak menyukai kegiatan usaha Reisha. Agil, seorang teman sekelasnya, malah sebal sekaligus iri melihat dagangan gadis bergigi ompong laris terjual. Anak laki-laki itu mengatakan pada teman-teman lain kalau puding cokelat Reisha bisa membuat sakit perut. Dia juga mengancam para siswa yang membeli dagangan Reisha (halaman 24).

Di kemudian hari, Agil ikut-ikutan berdagang. Dia menjual mainan pesawat gabus dan tembakan gelembung sabun otomatis (halaman 33, 88). Tapi, baik Reisha maupun Agil sama-sama menyembunyikan dagangannya kalau ada guru. Keduanya tahu kalau peraturan sekolah menyebutkan para siswa dilarang berjualan.

Resensi Reisha si pengusaha cilik thomas utomoSuatu hari, Reisha dan Agil mendapat surat panggilan untuk orang tua dari kepala sekolah (halaman 93). Reisha bertanya mengapa orang tuanya dipanggil? Namun guru tidak mau menjelaskan alasannya.

Dia kemudian jadi ingat. Ada orang tua kakak kelasnya yang dipanggil kepala sekolah karena kakak kelasnya itu kedapatan membawa mainan. Ada juga kakak kelas yang orang tuanya dipanggil ke kantor karena dia setiap hari datang terlambat. Intinya, anak-anak yang orang tuanya dipanggil kepala sekolah adalah anak-anak yang bermasalah! Reisha jadi ketakutan. Esok harinya, Reisha tidak lagi membawa puding ke sekolah. Begitu juga Agil. Dia tidak membawa mainan untuk dijual.

Setelah orang tua Reisha dan Agil datang ke ruang kepala sekolah, tidak lama kemudian, kedua siswa itu juga ikut dipanggil. Keduanya jadi semakin ketakutan.

Apa yang akan terjadi kemudian? Bagaimana nasib Reisha dan Agil? Apakah keduanya bisa tetap berjualan? Atau mereka justru dihukum karena melanggar peraturan sekolah? Lalu bagaimana kelanjutan hubungan Reisha dan Agil? Apakah Agil akan tetap tidak menyukai gadis berkerudung itu?

Baca cerita selengkapnya di buku ini. Selain itu, dalam buku ini juga ada kisah persahabatan Reisha dengan Sopja —kucing kecil berekor panjang yang ditemukan gadis itu tanpa sengaja. Plus cerita Reisha dengan nenek pemulung yang menunjukkan harta karun penyambung hidup.

Untuk informasi tambahan, buku ini mendapatkan penghargaan dari Ikatan Penerbit Indonesia sebagai Buku Fiksi Anak Terbaik Tingkat Nasional Tahun 2015.

 

*Resensi buku Reisha si Pengusaha Cilik di majalah Kreasi: Media Kreativitas Siswa, Guru, dan Orang Tua Edisi 1 Tahun 2016

 

 

Judul         :  Reisha Si Pengusaha Cilik

Pengarang :  Marisa Agustina

Penerbit     :  Lintang

Cetakan     :  Pertama

ISBN         :  978-602-1614-03-7

Penyusun   : Thomas Utomo, S.Pd.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *