REUNI, MIMPI, DAN JANJI MASA KECIL

PM (1)Demi impian yang ditunggunya selama 29 tahun, Doni bertekad untuk pulang ke kampung halaman. Ia membawa serta istri dan kedua anaknya. Meninggalkan Jakarta. Melepaskan pekerjaan sebagai wartawan yang membesarkan namanya. Ia ingin kembali ke Menes, tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Di sana pula, ia tumbuh dan berkembang bersama ketujuh sahabatnya dalam Pasukan Semut. Mereka adalah Doni, Nurdin, wahyu, Yusuf, Nani, Fitri, Irma, dan Iroh.

Petualangan pasukan Semut begitu berkesan. Mereka adalah anak-anak kampung yang bahagia. Menggantungkan impian setinggi langit, hingga sebuah tragedi menimpa Doni. Doni yang malang jatuh dari pohon. Tangan kirinya patah dan harus diamputasi. Selama beberapa minggu ia harus dirawat di rumah sakit. Di bangsal anak, Doni menemukan teman-teman baru yang senasib sepenanggungan dengannya. Ada Yayat yang kakinya buntung, Ujer yang tangannya buntung sampai ketiak, dan Herman yang tak punya jari. Mereka bersahabat dan menamakan kelompoknya, Pasukan Matahari.

Dan sehari sebelum kepulangan Ujer ke rumahnya, Pasukan Semut dan Pasukan Matahari berkumpul mengelilingi sumur tua. Mereka menyerukan mimpi masing-masing, juga berjanji akan bertemu 29 tahun lagi. Sepanjang usia’perpisahan’ itu, Doni menempa diri untuk belajar bermain badminton dan menulis hingga mengantarkannya menjadi penulis produktif. Pun masing-masing anak berjuang mewujudkan impiannya masing-masing.

29 tahun kemudian, mereka benar-benar menepati janjinya untuk mendaki anak gunung Krakatau, bersama dengan keluarga. Reuni yang diperjuangkan Doni meski ia harus rela kehilangan pekerjaannya. Juga membuktikan pada istrinya bahwa persahabatan sejati itu ada. Semua sahabat Doni telah menggapai mimpi-mimpinya walaupun ada seseorang di antara mereka yang terpuruk. Namun, dengan kesetiakawanan yang mereka pupuk sejak kecil, mereka bahu-membahu menumbuhkan optimisme Nani akan takdir yang menimpanya.

PM (2)

Kami semua melihat ke arah timur. Pulau-pulau terbentang di antara hamparan laut biru. Langit memerah. Fajar pun muncul menyinari kami, memberi kehangatan. Puncak anak gunung Krakatau jadi saksi bisu perjuangan kami. Bagaimana kami bisa bersatu lagi dan mewujudkan sebelas mimpi kami di waktu kecil.(Hal.367)

Novel ini mempunyai kekuatan tersendiri. Setting Banten begitu detil dengan warna budaya lokal yang kental, seolah pembaca diajak berpetualang menyusuri tiap sudutnya.

Dengan bahasa yang lugas, penulis berhasil menyentuh sisi kemanusiaan, mengasah kepekaan hati, dan menajamkan empati terhadap sesama. Kisah sederhana tentang persahabatan yang tak lekang oleh zaman, dituturkan dengan apik. Memberi suntikan motivasi dahsyat dan optimisme yang meluap, bahwa kekurangan tidak lantas membuat seseorang terpuruk. Justru itu adalah cambuk untuk menggali potensi yang tersembunyi. Sebab tak ada kesempurnaan di kolong langit ini. Kekuatan kata, mimpi, doa dan usaha selalu berkorelasi positif deengan pencapaian luar biasa dalam kehidupan ini.

Setitik kekurangan pada novel ini hanya terletak pada karakter fisik dan watak masing-masing tokoh yang kurang tereksplorasi sehingga kurang menghadirkan imajinasi yang utuh terhadap tokoh-tokohnya.

Meski begitu, novel ini adalah bacaan wajib bagi pembaca yang haus akan pencerahan, motivasi, inspirasi, dan hikmah. Selamat membaca!

*dimuat di Buletin Pustaka

 

Judul     : Pasukan Matahari

Penulis : Gol A Gong

Penerbit : Indiva Media Kreasi

Tahun Terbit: September, 2014

Jumlah Halaman: 367 halaman

 

Biodata resensor

Arinda Shafa, ibu rumah tangga. Telah menulis 4 buku solo dan 87 antologi. Bergiat di komunitas Penulis Ambarawa. Email: arindashafa@yahoo.com

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *