RINAI

Rinai

Rinai Hujan was psychology college student involved herself into humanity mission to enter Gaza, Palestina the main target of Israel attack. Of course she was not only by herself, she joined an independent organization called HRHW (Humanity Relief for Humanitarian Welferare). Conflicts in Gaza had been the spotlight of the world that made HRHW sent volunteers there.

Rinai associated in medical volunteers helping the people with physical and psyche trauma. The mission was under the leading of her lecturer, Nora Efendi who also brought her senior in college, Amaretta. She was Nora’s student taking master program and much helping Nora in many researches. Also Rina’s other senior named Orion

Rinai appeared with all the conflicts in her life as well as the disputation and uncomprehending toward people surround her. She had such family that prioritized the men led her to confront with her brother so often involving her timidity at any changes she met Amaretta. Farzana, Rinai’s other team member in healing traumatic described her as a temporary skittish person, imaginative and spiritful, but sometimes submissive without any initiative and full of mood disaster. And all of that were admitted by Rina herself.

In Gaza, Rinai was inseparable from many troubles. She dreamt of a snake haunting her from her hometown to Gaza. Rinai knew that snake represented male reproductive organ in Freud’s psychoanalysis theory. She just felt intimidated by that snake dream coming into her many times.

There was a friction between Rinai and other team members and lots of things happened through her journey; boisterous bullets, Gaza children that appealed her attention, also her pounding heart to someone there. Adventuring abroad without a strong willed determination as tough as iron founded skyscraper just drained the teardrops, broke the heart in pieces rumbling with hollow discontent and furious rage.

Title                             : Rinai
Writer                          : Sinta Yudisia
Editor                          : Mastris Radymas
Published Year            : 2012 (First Copy)
Book Pages                 : 400 Pages


Rinai Hujan adalah seorang mahasiswi psikologi yang dengan alasan menjalankan misi kemanusiaan menembus satuan penjaga perbatasan hingga bisa memasuki wilayah Palestina yang menjadi sasaran utama penyerangan Israel: Gaza. Tentu saja Rinai tidak datang sendiri, dia bergabung dalam sebuah organisasi independent bernama HRHW (Humanity Relief for Humanitarian Welferare). Konflik di Gaza yang tengah mendapat sorotan dunia membuat HRHW mengirimkan relawan ke sana.

Rinai tergabung dalam relawan medis yang akan membantu mengatasi trauma terkait fisik dan psikis. Dia ada di bawah komando dosennya Nora Efendi yang juga membawa seorang kakak kelasnya Amaretta, mahasiswi Nora yang masih mengambil S2 dan sering membantu Nora di berbagai penelitian. Juga kakak kelas Rinai yang lain bernama Orion.

Rinai datang dengan segala konflik yang ada dalam kehidupannya, dengan segala pertanyaan dan ketidakmengertiannya pada orang-orang di sekitarnya. Kehidupan keluarganya yang selalu menomorsatukan laki-laki, kakak laki-lakinya yang kerap berkonflik dengannya, juga penciutan nyalinya jika berhadapan dengan Amaretta. Rinai seperti yang digambarkan Farzana, rekannya yang lain dalam tim healing traumatic adalah sosok yang kadang sangat penakut, kadang begitu penuh imajinasi dan semangat, kadang malah penurut tanpa inisiatif sama sekali dan masih dipenuhi mood disaster, seperti yang diakui Rinai sendiri.

Pada saat di Gaza pun Rinai tak lepas dari yang namanya masalah. Mimpi tentang ular yang terus menggentayangi dirinya dari tanah air hingga Gaza. Rinai mengetahui kalau dalam teori psikoanalisis yang digagas Freud menyatakan ular sama dengan alat reproduksi laki-laki. Rinai merasa terjajah dengan mimpi ular yang begitu sering mengunjunginya.

Di Gaza pula lah terjadi friksi Rinai dengan anggota setimnya dan beragam hal lain yang menyertai perjalanan Rinai, dari desingan peluru, anak-anak Gaza yang merebut perhatian Rinai hingga debar perasaan pada seseorang di sana. Berpetualang jauh ke negeri orang tanpa dibekali hati sekuat beton pondasi bangunan pencakar langit, hanya akan membuat air mata dan hati yang kecut terbentur-bentur rasa sesal bercampur kemarahan yang memampat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *