Romansa Para Pencari Tuhan, Ketulusan Mencintai dan Memaafkan

Novel bertema berat namun tersaji dengan rasa yang ringan. Itulah sekilas pandangan saya terhadap novel My Avilla yang ditulis oleh mbak Ifa Avianty ini. Novel yang mengangkat tema pencarian Tuhan, pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang ketuhanan yang sering kali menjadi bahan diskusi dalam kajian perbandingan agama.

Kisah diawali dengan kepulangan Trudy kembali ke tanah airnya setelah beberapa waktu menetap di ibukota Norwegia. Kepulangan saat pemakaman Omanya disambut tatapan dingin mama dan papa, tapi tetap ada tatapan kasih sayang kakak perempuannya, Margriet yang seolah tak pernah berubah semenjak dulu. Trudy yang datang dengan sejuta penyesalan disambut Margriet dengan bermiliyar kemaafan.

Trudy juga bertemu dengan Fajar, laki-laki yang selalu terlihat pemalu dan penggugup. Laki-laki yang masih bisa menghadirkan desir dalam hatinya.

Kisah melaju flashback ke masa bertahun sebelumnya…
Trudy dan Margriet adalah kakak adik yang berbeda karakter. Margriet cenderung serius, penyayang dan lembut hatinya, sementara Trudy ceria, senang bergaul dan dalam pikirannya selalu ingin berkompetisi, terutama dengan kakaknya sendiri.

Sementara Fajar adalah teman sekolah Trudy. Seseorang yang sedang galau dalam menetapkan keyakinan, disebabkan tumbuh dalam keluarga yang berbeda agama. Papanya muslim, sementara mama katholik. Fajar serius memikirkan tentang Tuhan, sehingga ia mempunyai ketertarikan kepada Margriet, kakaknya Trudy yang terlihat sangat mendalami agamanya, Margriet berjilbab rapat dan sangat mematuhi ajaran agama yang dianutnya, sementara Trudy terlihat dangkal dan lebih menyukai hiruk pikuk keramaian duniawi.

Fajar merasa menemukan teman berbagi yang tepat tentang kegalauannya. Margriet yang cerdas itu menjadi teman diskusi yang menyenangkan, hingga romansa cinta menyapa mereka tak peduli bahwa Fajar berusia empat tahun lebih muda daripada Margriet, parahnya lagi Fajar adalah gebetan yang sangat diidamkan oleh Trudy. Dan tentu saja Trudy merasa kecewa, karena ia mengira bahwa sudah menjadi pemenang hati Fajar di hadapan teman-teman sekolahnya. Siapa menyangka bahwa seringnya Fajar main ke rumah Trudy lebih karena mengagumi dan memuja kakaknya, Margriet, kompetitor kehidupan yang paling ingin dikalahkannya di area keluarga, namun tak pernah bisa. Upaya Fajar mengungkapkan cinta kepada Margriet malah menjadikan benang kusut diantara mereka, sehingga mereka memutuskan untuk saling menjauh dan melupakan.

Romansa anak muda itu diceritakan dengan lincah sekali. Bagaimana interaksi antar mereka seolah terasa nyata, dan tak membosankan untuk dibaca. Bahasa segar yang dipakai penulisnya menjadikan selipan humor yang natural tanpa kesan dibuat-buat.

Selepas SMA Fajar melanjutkan pendidikannya ke Roma, di Pontificial Gregorian University, demi menikmati pencarian akan Tuhan dalam wajah kota yang menyatu dengan kota suci salah satu agam di dunia, Vatican Citty. Ia masih saja bimbang diantara dua pilihan, katholik atau islam? Di KTP dia menuliskan nama Islam sebagai agamanya, dalam keseharian dia juga menjalankan ibadah sebagaimana orang islam, namun dalam relung nuraninya Fajar masih merasakan getar-getar indah saat melihat nyanyian kidung gereja, pemujaan Tuhan yang terasa romantis dan indah. Tak jarang ia menyandingkan AlQur’an dan Bible untuk dipelajari dan direnungkan secara mendalam dalam waktu bersamaan.

Sementara itu dalam kehidupan Margriet, hadir seseorang bernama Phill, seorang dosen bule temannya mengajar di sebuah Universitas negeri. Bule yang atheis dan norak yang ternyata juga sedang merenungkan kemungkinan adanya Tuhan dan mencoba untuk percaya.

Keseluruhan kisah di dalam novel ini diceritakan secara selang-seling dengan POV orang pertama pada masing-masing tokoh. Banyak tokoh dan semuanya penting untuk mengetahui seluruh kisah. Margriet, Trudy, Fajar dan Phill yang paling banyak mengambil porsi cerita, selebihnya seperti Luna dan Iggy, meskipun seperti figuran yang sebentar lewat namun tetap menjadi bagian penting dalam cerita.

Saya menikmati membaca novel ini, tak terasa banyak renungan yang merasuk dalam kepala saya, tentang Tuhan dalam agama saya. Sebagaimana dalam tulisan surat Margriet kepada Fajar, sebuah pertanyaan… “Kenapa kita dilahirkan dalam keluarga muslim? Kenapa nggak diciptakan terlahir dalam keluarga atheis, hindu atau budha?, mungkin nggak Dia bermaksud menguji kita? apakah kamu taklid, bingung, masa bodoh, makin mantap atau malah ingin pindah?“

Seyogyanya menjadi muslim haruslah mendalami agamanya, berusaha juga mengetahui jawaban keingintahuan yang mungkin diutarakan orang-orang selain islam. Bukan sebagai bahan untuk berdebat, menjatuhkan dan menghina keyakinan agama lain namun lebih untuk memantapkan hati dan lebih dekat kepada Allah SWT tanpa setitik pun keraguan lagi. Itulah pesan yang saya tangkap dari keseluruhan isi novel ini.

Buku ini bagus, saya merating 3 bintang untuk buku ini, karena saya juga menemukan beberapa hal yang menurut saya sebuah kekurangan. Hmmm.. maaf jika mungkin yang saya sebutkan mungkin agak klise, hanya soal selera. Hmm..

Pertama, yang membuat saya agak banyak mengerut kening adalah bertaburan bahasa inggris tanpa ada terjemahnya. Karena saya nggak mungkin baca buku sambil bawa kamus atau buka Google translate, maka kadang saya skip dan mengira-ngira saja maksud kata-kata inggris itu apa? 😀 sehingga saya sangsi kalau bilang ini adalah kekurangan buku secara teori kelayakan, sebab ya wajar banget dalam berbagai dialog menyertakan bahasa inggris. Lumrah sekali karena tokoh yang sedang diceritakan (Trudy dan Margriet) adalah orang-orang kaya, berpendidikan modern, dan silsilah keluarganya masih ada keturunan belanda. Jadi kekurangan bukan kesalahan penulis, salahnya yang baca nggak jago bahasa inggris. He,

Kemudian yang kedua adalah sebuah kesan yang sering saya rasakan seperti saat membaca beberapa novel lain. Kesan seolah penulis buru-buru ingin sampai ke ending dalam menulisnya. Terlihat dalam penulisan babnya, pada prolognya per bab (Maksud saya bab penceritaan per-tokoh) ada 3-4 halaman tertulis mengalir, detail dan terasa ‘hidup’. Namun menjelang ending ada yang cuma 1 halaman saja. Padahal sedang berada pada adegan penting disimak seperti saat perjodohan Margriet dan Fajar, pertengkaran Margret dan Fajar karena tuduhan membandingkan dengan Phill, terasa kurang ngalir dan ‘hidup’ sebagaimana dalam prolognya. Entahlah mungkin ini perasaan saya saja sih sebagai pembaca yang terlalu cerewet dan penasaran minta semua bagian dikisahkan, ahaha..

Bagaimana kelanjutan hubungan antara Fajar, Trudy dan Margriet pada akhirnya? ya tentu saja hanya bisa diketahui dengan membaca keseluruhan bukunya.

Akhirul kalam, buku ini saya rekomendasikan buat para muslim yang mencintai agamanya. Beneran loh, membaca ini tak se’berat’ kesan tema yang dijadikan inti ceritanya.

Judul Buku : My Avilla
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit : Indiva
Genre : Novel Islami
Terbit : Cetakan Pertama Februari 2012
Jumlah Halaman : 184 Halaman.
Harga : 26.000
Ukuran : 14 x 20 cm
ISBN : 978-602-8277-49-5

Peresensi: Binta Almamba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *