Romantika Pernikahan Dua Budaya

Pernikahan merupakan ikatan suci yang menyatukan dua insan yang berbeda. Karenanya, pernikahan bukan hal yang sederhana. Jika kedua pihak tidak mau bersikap saling memahami, maka pernikahan akan kandas di tengah jalan. Mutakhir, banyak kasus perceraian yang terjadi dan dipublikasikan. Padahal, bukankah perceraian akan membawa luka? Luka pada pasangan, luka pada jiwa anak, dan luka pada keluarga asal. Novel yang kaya akan humor karya Pago Hardian ini berhasil mencerminkan kisah rumah tangga dan segala romantika kehidupannya dengan sangat indah. Selain terhibur, pembaca pun akan menyerap pelajaran penting sebagai bekal mempertahankan romantisme pernikahan hingga usia senja.

Tidak dapat dibayangkan, seorang pemuda yang keras dan tegas asal Sumetera jatuh cinta pada remaja putrid dari Kota Yogyakarta. Sekilas dan senyatanya, keduanya sangat kontras ibarat bumi dengan langit. Bapang (sebutan ayah dalam bahasa Semende, Sumetera) merupakan sosok yang keras, tegas, dan galak. Sedangkan, Bunda (istri Bapang) merupakan sosok yang lembut, berhati sensitif, dan santun. Ketegasan Bapang membuat anak-anak terkontrol dalam segala hal. Sebaliknya, Bunda tipe ibu yang agak longgar. Suatu ketika, protes kecil dari Bapang pun meluncur.

“Bunda ini bagaimana? Dulu sewaktu kita baru menikah, kita sudah sepakat tidak membiasakan anak-anak nonton televisi. Karena hasil penelitian menyebutkan anak-anak yang biasa menonton televisi  hanya mampu menguasai sepertiga kosakata dibanding anak-anak yang membaca cerita,” protes Bapang. Bunda hanya tersenyum (halaman 19). Begitulah, Bunda merespons Bapang dengan tindakan yang halus. Sebagai wanita Jawa, ia mencoba bersabar dan tetap menunjukkan air wajah yang tenang dan ceria.

Berbagai perbedaan pendapat sering mewarnai romantika pernikahan Bapang dengan Bunda. Di antaranya, Bapang pernah bersikeras tidak menyekolahkan anak-anak ke sekolah formal. Menurutnya, sekolah formal hanya akan mencetak manusia dengan mental buruh, pekerja, dan pengekor. Padahal, Bapang ingin anak-anaknya menjadi sosok pelopor. Mendengar pendapat suaminya, Bunda hanya melongo tandan heran. Tak lama kemudian, ia pun mencoba memahami pendapat suaminya.

Meski Bunda selalu mencoba mengalah dan membujuk sang suami pelan-pelan untuk mengubah pendapat kerasnya, ada kalanya Bunda merasa kesabarannya hampir habis. Dan, hal ini menjadi klimaks romantikan kehidupan. Bahkan, Bapang dan Bunda terancam hendak bercerai. Mendengar hal ini, keempat anaknya pun menangis. Mereka tidak ingin kehilangan Bapang atau Bunda. Bagi mereka, kehilangan salah satu dari kedua orang tua sama halnya dengan kehilangan kehidupan.

Pagi itu, Hari Senin. Harusnya anak-anak bersiap-siap ke sekolah. Tetapi, Bapang melarang keempat anaknya untuk pergi ke sekolah. Seragam sekolah anak-anak dimasukkan ke dalam karung untuk dibakar. Melihat hal itu, air mata Bunda tak tertahankan. Ia meradang. Baginya, Bapang terlalu bersikap egois. Bapang tidak menganggap Bunda sebagai mitra dalam mendidik anak dan mengambil keputusan tentang pendidikan anak-anak. Bunda pun melawan Bapang dengan garang. Hingga, keduanya tergoda memutuskan untuk berpisah. Tetapi, melihat sikap kalap Bapang, Bunda menyesal. Ia menyesali sikapnya yang tak terkontrol. Bagaimanapun, ia harus menghormati sikap suaminya.

Kini, Bunda sibuk berpikir bagaimana cara meminta maaf kepada Bapang dan membujuknya agar tidak bercerai (halaman 188). Maka, dengan dibantu Uwak Bagus dan istrinya, Bunda dan Bapang kembali bersama. Bapang yang terlebih dahulu meminta maaf kepada istrinya. Bapang menangis mengingat perjuangan istri melahirkan keempat buah hatinya. Rupanya, peristiwa itu membuka alam kesadaran Bapang untuk lebih bijaksana bersikap kepada istri. Ia tidak ingin kehilangan istri yang begitu sabar hanya karena nafsu diri dan egoisme semata.

Bapang dan Bunda saling berhadapan dengan tatapan penyesalan di bola mata masing-masing, lalu saling berpegangan tangan. Ketika keduanya bergantian mengucapkan kata maaf, keduanya menangis dan berpelukan lama sekali (halaman 194-195). Dan mereka berdua tertawa renyah, mencairkan segala emosi yang setengah hari tadi mengganjal. Selanjutnya, Bunda menyandarkan kepalanya dengan manja ke pundak Bapang. Dengan sebelah tangannya, Bapang membelai kepala Bunda (halaman 198).

Novel ini mengandung pelajaran kehidupan yang sangat bijak. Dikemas dengan gaya tutur yang renyah, jenaka, dan romantis, pembaca akan diajak berwisata pada alam batin yang indah. Pelajaran bermakna dalam novel ini ialah pernikahan tetap dapat dipertahankan meski dua insan berasal dari budaya yang berbeda dan dua kepribadian yang bertolak belakang. Kabar baiknya, pernikahan dua budaya akan dapat melahirkan rasa saling melengkapi, kebahagiaan, dan kepuasan pernikahan dalam taraf optimal.

*telah dimuat di Kabar Madura pada 28 Maret 2016

Bapangku-BapunkkuJudul Buku      : Bapangku Bapunkku

Penulis             : Pago Hardian

Penerbit           :Indiva

Cetakan           : I, 2015

Tebal               : 232 Halaman

ISBN               : 978-602-1614-4-7-1

*Peresensi : Nurul Lathiffah, Alumnus Psikologi UIN Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *