SAYAP-SAYAP RAHMAH: SEPIRING HIDANGAN PEMBUKA

 

 

In family life, love is the oil that eases friction,

the cement that binds closer together,

and the music that brings harmony.

 

Di dalam kehidupan keluarga,

Cinta adalah minyak pelumas yang meredam gesekan

Semen yang merekatkan kebersamaan yang erat

Dan musik yang membawa pada keharmonisan

[Eva Burrows]

 

Hari itu udara cukup gerah. Matahari bersinar terang, memancarkan hawa panas yang diserap oleh dedaunan jati yang mulai meranggas. Suara dedaunan kering yang melapisi tanah kering bergerisik tersapu angin. Jilbab-jilbab kami sudah mulai basah oleh keringat. Sebentar lagi, bau asam akan mengacaukan harumnya melati yang bertebaran di pelaminan. Untungnya, kesiur angin dari hamparan hutan jati yang berada di belakang rumah sederhana itu cukup menebarkan kesejukan.

Bahang siang tak lagi terasa garang. Terlebih ketika sajian mulai terhidang, berupa suguhan lezat khas sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Aih, itu belum apa-apa. Ada yang lebih segar dibanding itu semua. Yaitu hidangan ruhiyah dari seorang mubaligh sederhana dengan kosum khas: berkain sarung, koko putih, dan peci hitam. Suaranya yang bening terdengar jelas ke seluruh penjuru halaman luas yang dipasangi tenda dan dipenuhi barisan kursi-kursi. Ratusan tamu walimah yang selalu ribut saat hidangan keluar, pelan-pelan mulai fokus menyimak wejangan Sang Mubaligh. Saya rekamkan sebagian wejangan itu kepada Anda, pembaca yang budiman….

“Saudara-saudaraku sekalian, Bapak-Ibu, para tetamu, terkhusus mempelai berdua. Saya ingin mengatakan kepada sampeyan, bahwa di dalam sebuah rumah tangga, mawaddah itu bisa hilang seiring berjalannya waktu. Sampeyan semakin tua, ompong, peot, dengan sendirinya sampeyan mulai tidak terlalu tertarik dengan yang namanya mawaddah. Namun, meski mawaddah itu hilang, rahmah ndak boleh hilang. Sampai kapan pun! Jika rahmah sampai hilang dari keluarga sampeyan, alamat keluarga sampeyan sudah tidak lagi memiliki perekat, udar, copot … berserakan seperti kapas yang terlepas dari kain kasur yang sobek….”

Saya tersentak sejenak, lalu memaku pandang pada sosok Sang Mubaligh yang terlihat begitu bersahaja itu. Beliau bukan mubaligh lulusan Timur Tengah, atau da’i kondang yang sering ceramah di radio atau televisi. Beliau hanya pengasuh di sebuah pondok pesantren sederhana di kampung tersebut. Jika Anda mencari namanya di Google atau Youtube, tak akan ketemu. Akan tetapi, konten ceramah beliau memukau.

Saya mencatat kalimat beliau dan menggaris bawahi. Meski mawaddah itu hilang, rahmah ndak boleh hilang. Sampai kapan pun! Hm … seorang kenalan pernah mengkritik saya sebagai orang yang terlalu senang “menggarisbawahi”, namun saya akan bergeming dari kritikan tersebut dan tetap menggarisbawahi hal-hal yang memang penting dalam hidup saya. Jika perlu berkali-kali.

Apa sebenarnya mawaddah, dan apa itu rahmah? Untuk penjelasan lebih detilnya, ada baiknya Anda membaca buku-buku Sayap-Sayap Sakinah dan Sayap-Sayap Mawaddah yang telah lebih dahulu terbit (dan alhamdulillah, sambutan khalayak sangat positif). Tetapi tentu kami tidak pelit untuk mengulasnya sedikit, demi kian kohesifnya sejilid buku yang ada di hadapan Anda ini.

 

Damainya Bersandar Padamu

Tujuan dari sebuah pernikahan adalah membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, lazim disingkat SAMARA, dan sering diidentikkan dengan keluarga bahagia. SAMARA merupakan keberkahan dari sebuah keluarga, yang berawal dari doa tulus orang-orang yang menghadiri proses akad nikah dan walimatul ‘ursy mereka.

Zaman sebelum Islam, orang-orang selalu memberi selamat kepada sepasang mempelai dengan perkataan “birafa’ wal banin” (semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak). Namun, perkataan itu kemudian dikoreksi. Dikisahkan dari Al-Hasan, bahwa ketika ‘Aqil bin Abi Thalib menikah dengan seorang wanita dari Jasyam, para tamu yang hadir mengucapkan selamat dengan ucapan birafa’ wal banin. ‘Aqil bin Abi Thalib melarang mereka seraya berkata, “Janganlah kalian ucapkan demikian! Karena Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam melarang ucapan demikian”. Para tamu bertanya, “Lalu apa yang harus kami ucapkan, wahai Abu Zaid?” ‘Aqil menjawab, “Ucapkanlah: barakallahu lakum wa baraka ‘alaiykum” (mudah-mudahan Allah memberi kalian keberkahan dan melimpahkan atas kalian keberkahan). Demikianlah ucapan yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. [H.R. Ibnu Abi Syaibah, Darimi 2:134, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad 3:451, dan lain-lain].[1]

Sangat menarik jika kita menelisik alasan mengapa Rasulullah mengubah ucapan selamat itu menjadi sebuah doa yang memohon agar Allah melimpahkan keberkahan kepada mempelai. Berkah jauh lebih luas maknanya ketimbang sekadar rezeki dan anak. Menurut Imam Ghazali, barakah artinya ziyadatul khair, alias bertambahnya atau bertumbuhnya kebaikan. Mungkin ada pasangan suami istri yang tak dikaruniai putra-putri, atau tidak diberikan kelimpahan rezeki, tetapi mereka tetap bahagia, karena pernikahannya barakah. Sementara, jika tak mampu mengelola dengan baik, harta dan anak bahkan bisa menjadi fitnah buat kita.

Cermatilah ayat-ayat berikut ini.

“… Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah di antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak.” (Q.S. Al Hadid: 20)

“…Sesungguhnya hartamu dan dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Q.S. At Taghabun:14-15)

Ujud dari keberkahan sebuah pernikahan adalah perasaan sakinah-mawaddah-wa rahmah, yang akhirnya berakhir pada keridhaan-Nya. Bentuk dari kesuksesan pernikahan itu ternyata sebuah perasaan, letaknya di jiwa, bukan di raga. Karena itu, tidak salah jika orang bijak mengatakan, surga itu letaknya di hati, bukan di megahnya rumah, mewahnya tunggangan, atau lezatnya hidangan. Bahkan juga bukan pada anak-anak yang menawan. Tetapi, terletak pada bertumbuhnya kebaikan. Rumah, tunggangan, hidangan, dan anak-anak bisa jadi merupakan bagian dari limpahan yang nikmat, tetapi tidak selalu. Kadang, jika tak mampu mengelola dengan indah, mereka justru bisa menjadi fitnah yang meruntuhkan bangunan agama yang kita dirikan susah-payah.

Sebagaimana kita tahu, sakinah diambil dari dari Surat Ar-Rum ayat 21 “litaskunu ilaiha”, yang artinya “merasa cenderung kepadanya”. Menurut Mubarok (2006, 148), litaskunu ilaiha itu berarti bahwa Allah SWT menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa cenderung atau tenteram terhadap yang lain. Dalam bahasa Arab, kata sakinah berarti tenang, terhormat, aman, penuh kasih sayang, mantap (stabil/tidak goyah) dan perasaan nyaman karena adanya pembelaan (dari pasangan).

Tenang, berarti tidak ada riak-riak, tidak “berisik”, tidak kacau, teratur. Terhormat, berarti karena menikah kita terjaga kesuciannya, tidak terhina, mulia. Penuh kasih sayang berarti hari-hari kita dipenuhi kelembutan. Mantap, berarti tidak galau, bimbang, atau cemas. Nyaman karena ada pembelaan, berarti kita merasakan bahwa ada seseorang yang siap menjadi “bemper” kita, dalam artian melindungi dan mengayomi. Itulah sakinah.

Jika kita duduk di sebuah sofa yang kokoh dan empuk, kita akan merasa nyaman duduk bersandar di sana, bahkan mungkin bisa ketiduran dengan pulas. Itulah gambaran perasaan sakinah, ketika kita merasa bisa bersandar dengan tenang. Tetapi, jika sofa yang kita duduki itu ringkih, banyak kutu busuk, busanya terburai, dan rangkanya nyaris ambruk, tentu kita akan was-was, limbung dan bahkan terjatuh. Itulah gambaran perasaan tidak sakinah.

Ath-Thobari, mendefinisikan frasa litaskunu ilaiha alias makna sakinah dengan beberapa pengertian yang sangat indah.

Pertama, litasta’iffu biha, menjaga kesucian diri dengannya. Artinya, dengan kehadiran si dia, kita akan terjaga dari perbuatan zina. Kita perlu mengapresiasi semangat para jomblo, khususnya kaum lelaki muda yang menikah karena ingin menjaga kesucian. Jadi, mengapa mencerca orang yang memutuskan untuk menikah dini? Mereka ingin menjaga pandangan, pendengaran, hati, tangan, kaki dan seluruh anggota badan, khususnya kemaluan. Setelah menikah, mereka memiliki saluran yang sah, halal, bahkan hubungan seks pun jika ikhlas dan caranya sesuai sunah, akan bernilai ibadah.

Kedua, lita’tafu ma’aha, membangun ikatan batin dengannya. Kehadiran pasangan akan membuat kita memiliki seseorang yang terikat secara batin. Kita sayang, cinta, merindukan, iba, kasihan dan selalu mendoakannya. Mengharapkan kebaikannya. Sedih jika dia sedih, gembira jika dia gembira, merasakan apa yang dia rasakan, susah-senang saling mengimbas dan menimbulkan perasaan seiring sejalan, senasib sepenanggungan.

Ketiga, litamilu ilaiha”; senantiasa cenderung dalam hati dan akal kepadanya. Di dalam pernikahan, akan ada interaksi-interaksi dari taraf yang biasa-biasa saja hingga yang sangat privasi. Suami dan istri tak memiliki hijab, alias begitu dekat. Tentu hal tersebut akan menimbulkan kedekatan hati dan pemikiran. Ada semacam “chemistry” yang terbangun, yang membuat kita merasa enjoy saat berbincang-bincang, diskusi, merencanakan sesuatu, bekerjasama, saling mengevaluasi dalam rangka menggapai suatu tujuan yang disepakati bersama. Pasangan kita, adalah sahabat sejati kita, rekan kerja sekaligus partner dalam bekerjasama.

Keempat, “litathmainnu biha”; supaya kalian merasa tenteram dengannya. Ya, karena perasaan dekat, sejiwa, sehati…. kita akan merasa tentram dan damai berdekatan dengannya. Kita juga merasa saling percaya meski ketika berjauhan dengannya. Percaya bahwa pasangan akan menjaga harta dan kehormatan keluarga, serta selalu setia dan ingat pada janji yang telah dibuatnya.

Keluarga sakinah adalah kondisi yang sangat ideal dalam kehidupan keluarga. Sakinah, menurut para ulama adalah hadiah dari Allah SWT atas dua orang hamba yang menikah karena ingin mendapatkan ridha-Nya, ingin menggenapkan separuh agama alias menyempurnakan status sebagai hamba Allah. Hal tersebut didasarkan pada firman Allah:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya (litaskunu ilaiha), dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta (mawaddah) dan kasih-sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. Ar Ruum: 21)

Pada ayat tersebut, listakunu ilaiha (sakinah) disebutkan terlebih dahulu sebelum mawaddah dan rahmah. Sehingga seperti yang telah kita bahas sebelumnya, rasa sakinah itu menurut para ulama adalah “modal” yang Allah berikan kepada sepasang suami istri. Lantas, modal itu akan dikelola sehingga menghasilkan mawaddah dan rahmah. Artinya, mawaddah wa rahmah hanya akan tumbuh jika ada perasaan sakinah. Sedangkan sakinah itu sangat berbanding lurus dengan keimanan kita, sehingga atas keimanan tersebut, Allah SWT menghadiahkan perasaan itu kepada kita. Selain dalam perkara rumah tangga, rasa sakinah juga diturunkan kepada orang-orang beriman dalam perkara lain.

“Kemudian Allah menurunkan ketenangan (sakinah) kepada rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman.” (Q.S. At Taubah: 26)

Atau juga di dalam firman-Nya yang artinya, “Di waktu dia berkata kepada temannya, ‘Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita’. Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya.” (At Taubah: 40)

Pada ayat tersebut, perasaan sakinah ternyata sangat erat kaitannya dengan ma’iyyatullah (kebersamaan dengan Allah SWT). Inilah yang membedakan konsep cinta dalam Islam dengan konsep cinta mana pun. Mawaddah dan rahmah tumbuh pada sebuah “ladang persemaian” yang sangat subur bernama perasaan sakinah, yang merupakan anugerah atas perasaan ma’iyyatullah. Jadi, jangan khawatir bagi sepasang suami istri yang menikah tanpa didahului pacaran, karena jika kita benar-benar menjadikan pernikahan ini sebagai upaya penggenapan separuh dien, atas dasar keimanan dan semata ingin mendapatkan berkah dari Allah SWT, maka kedamaian akan hadir, rasa cenderung kepada pasangan yang Anda pilih saat proses ta’aruf dan akhirnya sah pada akad nikah akan menjadi pemicu tumbuhnya rasa mawaddah dan rahmah. Selanjutnya, jika pernikahan terus diupayakan menyatu dengan keimanan, perasaan sakinah, mawaddah, dan rahmah akan terus memayungi, menjadi keluarga kita benar-benar menjadi keluarga yang penuh barakah, dan kemudian reuni di surga-Nya kelak.

Sakinah-mawaddah-wa rahmah, bisa jadi merupakan perwujudan dari apa yang disebut oleh Ryff (1989) sebagai psychological well-being, yaitu kondisi di mana seseorang mengalami kematangan secara psikologis. Dia merasa terbebas dari permasalahan dan tekanan, mampu menerima diri sendiri maupun kehidupannya di masa lalu (self-acceptance), senantiasa sadar diri untuk melakukan proses pengembangan diri (personal growth), memiliki keyakinan bahwa hidupnya bermakna dan memiliki tujuan (purpose in life), berusaha meningkatakan kualitas hubungan positif dengan orang lain (positive relationship with others), memiliki kapasitas untuk mengatur kehidupannya dan lingkungannya secara efektif (environmental mastery), serta kemandirian untuk menentukan tindakan sendiri (autonomy). Pernikahan yang sukses memang bukan pernikahan yang menyatukan dua orang yang sempurna, tetapi dua orang yang berusaha untuk senantiasa membenahi diri sampai kemudian mencapai kondisi psychological well-being tersebut.

Cinta Bergelora vs Cinta yang Buncahkan Iba

Dalam buku Sayap-Sayap Sakinah, kami menukil pendapat Imam Abu Al-Hasan Al-Mawardy, yang menjelaskan makna mawaddah wa rahmah sebagaimana tercantum dalam surat Ar Rum: 21 tersebut di atas.

Pendapat pertama menyebutkan, bahwa arti mawaddah adalah al-mahabbah (cinta), sedangkan arti rahmah adalah asy-syafaqah (rasa kasihan).

Pendapat kedua, mawaddah adalah al-jimâ’ (hubungan seks badan) dan rahmah adalah al-Walad (anak). Dengan adanya mawaddah, maka akan ada jimak, yang kemudian akan menyebabkan terlahirnya seorang anak, yang menjadi rahmah buat kedua orang tuanya.

Pendapat ketiga, mawaddah adalah mencintai orang dewasa (pasangan) dan rahmah adalah sikap welas asih terhadap anak-anak.

Pendapat keempat, mawaddah wa rahmah adalah satu paket, yakni berkasih sayang di antara pasangan suami-isteri.

Berdasarkan pendapat tersebut, menurut hemat kami, mawaddah, adalah perasaan cinta yang lazim terjadi antara dua orang dewasa yang berlainan jenis, yang lebih berorientasi pada kebersamaan fisik. Dalam bahasa psikologis, sejenis passionate love, atau romantic love, cinta yang penuh gelora romantisme dan menuntut hubungan yang lebih dalam antara seorang lelaki dan perempuan. Mawaddah merupakan cinta yang sifatnya fisik, dirangsang oleh pancaindra, cinta penuh gelora alias membara, dipenuhi luapan birahi, sehingga harus diekspresikan dalam bentuk hubungan seksual.

Dalam sebuah rumah tangga, mawaddah tentu diperlukan, karena dari perasaan ini, sepasang suami istri melakukan kesenangan-kesenangan yang merupakan efek dari tugas reproduksi dan regenerasi. Akan tetapi, hubungan seks bukan sekadar pemenuhan kebutuhan biologis. Banyak penelitian menunjukkan bahwa hubungan seks yang teratur dan menyenangkan pada pasangan yang menikah secara sah, akan membuat menjadi lebih sehat sekaligus awet muda. Sebab, seks itu seperti olah raga yang mampu membakar sekitar 200 kalori, atau berlari sekitar 2 kilometer, demikian disebutkan oleh Domeena Reenshaw, MD, dalam bukunya, Seven Weeks to Better Sex[2]. Permasalahan ini akan kita bahas lebih lanjut di beberapa bab di buku ini yakni bahasan kaitan mawaddah dengan munculnya sifat rahmah.

Setiap pasangan yang menikah, biasanya memiliki harapan untuk bisa mengekspresikan kebutuhan seksualnya. Maka, kegagalan dalam mengejawantahkan peran ini, bisa berakibat fatal, yakni kehancuran ikatan pernikahan. Setiati (2006), membuat kuisoner secara tertutup terhadap 100 responsden di DKI Jakarta, ternyata penyebab perceraian yang tertinggi, yakni 58% disebabkan karena ketidakpuasan pasangan suami istri dalam masalah hubungan seksual. Davis (2004), menyebutkan bahwa komunikasi seksual sangat penting dilakukan oleh sepasang suami istri, agar kedua belah pihak sama-sama merasakan kenikmatan, yang merupakan salah satu sebab penting terbinanya keharmonisan dalam rumah tangga.

Sayangnya, banyak pasangan kita merasa tabu membicarakan permasalahan seks, meskipun terhadap pasangannya. Membicarakan seks itu tabu, saru, bahkan dianggap “kurang beradab.” Maka, hubungan seks sering kali menjadi sebuah rutinitas yang sekadar “mengugurkan kewajiban” belaka, atau bahkan menjadi sekadar syarat agar sepasang suami istri bisa memiliki anak. Maka, bisa terbayangkan oleh kita, betapa “garingnya” hubungan sepasang suami-istri yang memiliki keyakinan seperti itu. Mirip dengan bangsa Mongol kuno yang menganggap seks itu sebagai sesuatu yang memalukan. Sedemikian tak beradabnya seks, baik perempuan maupun lelaki abai dengan “keindahan” fisik mereka. Alih-alih berhias, bersih-bersih atau memakai wewangian, mereka bahkan melakukannya di tempat yang gelap agar tak bisa saling melihat satu sama lain.

Adapun rahmah, adalah cinta yang lebih universal, berupa rasa kasih sayang, akrab, iba, simpati, welas asih, sehingga menurut Al Mawardy di atas, rahmah diartikan sebagai rasa cinta kepada anak-anak. Kita akan mendefinisikan makna rahmah secara lebih mendalam buku ini.

Sebagaimana disebutkan oleh sang mubaligh di atas, memang benar sekali bahwa rahmah merupakan tulang punggung keutuhan sebuah keluarga. Porsi rahmah, setiap hari harus terus bertumbuh, sehingga pada saat sepasang suami istri menginjak usia senja, rasa rahmah lebih banyak mendominasi, sebab secara alamiah, rasa mawaddah pasti akan berkurang dengan sendirinya, bahkan mungkin hilang pada suatu saat nanti.

Perasaan rahmah juga tak sekadar terjadi antara sepasang suami dengan istri atau sebaliknya, tetapi harus terjadi antara orang tua dengan anak-anaknya, anggota keluarga yang lain, bahkan juga dengan lingkungan sekitar, seperti tetangga. Bagaimana agar nuansa penuh rahmah senantiasa menghias rumah tangga kita? Mari terus baca buku sederhana yang berada di depan Anda ini. (Afifah Afra & Riawani Elyta).

 

 

[1] https://almanhaj.or.id/173-konsep-islam-tentang-perkawinan.html

[2] http://tabloidnova.com/Keluarga/Pasangan/Seks-Memang-Membuat-Awet-Muda


Pre Order SAYAP-SAYAP RAHMAH 

 

IMG-20170907-WA0011

 

Rahmah adalah cinta universal. Cinta berbingkai rahmah melampaui batas-batas fisik. Rahmah hadir dalam kehidupan rumah tangga dalam bentuk kasih sayang, kepedulian, keakraban, rasa iba, simpati, welas asih. Indah dan nikmatnya rahmah tidak hanya melingkupi hubungan sepasang suami istri, namun juga buah hati, keluarga besar, hingga lingkungan sekitar.

Apa saja yang harus kita lakukan agar nuansa penuh rahmah senantiasa menghias rumah tangga kita? Mari terus baca buku di tangan Anda ini. Buku ini akan mendefinisikan rahmah secara mendalam, mengupasnya, dan meresapi maknanya bersama.

Buku ini dapat dibaca bukan hanya oleh mereka yang bersiap untuk menikah, namun juga Anda yang telah melewati derasnya arus dan pasang surut rumah tangga. Hidupkan kembali nyala kasih, sayang, dan cinta bersama SAYAP-SAYAP RAHMAH.

===========

Rp 50.000
Plus free Buku CINTAI AKU MESKI KU TAK SEMPURNA untuk 100 pre order pertama!!
===========
Sampai 1 Oktober 2017
===========
Order ke 081904715588 (PRITA)

===========

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *