MENYUSURI LORONG WAKTU PERLINTASAN SEJARAH BERSAMA MEI HWA

Sumber gambar: Pixabay

 

Pertama kali membaca edisi perdana novel ini (Katastrofa Cinta) sekitar tiga tahun yang lalu, saya langsung dibuat terpesona oleh buaian plotnya yang apik, susunan diksinya yang tak biasa, dan kelihaian Afifah Afra dalam menggunakan lintas zaman 1930 – 1998 sebagai latar waktu novel ini. Berbagai peristiwa sejarah penting pun turut dihadirkan, mulai dari penjajahan Belanda, masa pendudukan Jepang, masa pemberontakan PKI dan tentu saja pergolakan reformasi tahun 1998, termasuk sweeping dan kekerasan yang ditujukan terhadap etnis Cina ketika itu.

Dan, saat mendengar novel ini akan direvisi dan cetak ulang, sebagai salah satu orang yang pernah dibuat terpesona oleh novel ini, tentu, saya termasuk yang menyambut berita ini dengan sukacita. Karena bagi saya, sebuah karya yang apik dan bermutu sudah sepantasnya memiliki nilai “keabadian” yang panjang, kalau perlu lebih panjang dari kurun waktu 7 tahun yang digunakan penulisnya untuk menyelesaikan novel ini.

Ketika Afifah meminta saya untuk menggoreskan testimoni ini, jujur aja, perasaan saya antara bingung campur excited, bingung karena saya belum pernah memberikan testimoni untuk novel-novel se”berat” ini, tapi juga excited karena berkesempatan menjejakkan komentar untuk novel yang dulu pernah saya baca hingga berkali-kali ini.

Meski rentang lintas waktu yang digunakan sangat panjang dan jalinan plotnya begitu padat, novel ini berhasil menyajikan rentetan peristiwa sejarah secara smooth dan apik tanpa harus berjejalan informasi-informasi yang terasa membosankan. Didukung pula oleh karakter penokohan yang kuat dan penuturan yang enerjik, membuat pergerakan novel ini terasa filmis dan visual. Bagi saya, ini adalah cara mengemas pelajaran sejarah dalam format yang mengasyikkan untuk dibaca. Apalagi, dengan semakin menurunnya jumlah novel-novel berlatar sejarah, kehadiran kembali novel ini turut membawa angin segar bagi penikmat karya-karya fiksi bermutu. Pesan-pesan religius pun turut dihadirkan, serta tak ketinggalan konflik etnis dan sosial yang terjadi pada masa itu.

Dari segi dialog, saya menemukan sedikit perubahan dari edisi pertamanya dulu. Pada edisi revisi ini, Afifah sudah mengurangi penggunaan metafor dan kalimat yang berbunga-bunga, sehingga dialog antar tokohnya berlangsung lebih natural.

Namun, sebagai sebuah fiksi, tentu saja ada beberapa kekhasan bercita rasa fiksi yang turut mewarnai novel ini. Termasuk di dalamnya serangkaian kebetulan dan pertemuan antar pelaku cerita yang rasanya hanya mungkin terjadi satu dalam seratus probabilitas. Tetapi saya tak ingin menyebutnya sebagai sebuah kekurangan, karena – meminjam istilah sahabat saya Shabrina WS – bahwa kesempurnaan sebuah karya (manusia) adalah pada sisi lebih dan kurang yang tertoreh di dalamnya.

Sepertinya, saya tak perlu berpanjang-panjang lagi mengurai testimoni. Saya ucapkan selamat menikmati lembar-lembar kisah ini, dan selamat menyusuri lorong waktu perlintasan sejarah yang dihadirkan dalam rangkaian kisah nan apik ini.

 

Salam,

Riawani Elyta


PROFIL BUKU


Judul         : Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman

Pengarang: Afifah Afra

Penerbit    : Indiva Media Kreasi

Terbit        : Januari, 2014

 

“Dia korban perkosaan,” bisikan lelaki berjas putih itu menyakitiku.
Korban perkosaan. Aku mengerang. Meradang. Seakan ingin memapas sosok-sosok beringas yang semalam itu menghempaskan aku kepada jurang kenistaan.
“Kasihan dia,” ujar lelaki itu lagi, samar-samar kutangkap, meski gumpalan salju itu menghalangi seluruh organ tubuhku untuk bekerja normal seperti sediakala.
“Kenapa?” tanya seorang wanita, juga berpakaian serbaputih.
“Rumahnya dibakar. Tokonya dijarah. Ayahnya stress, masuk rumah sakit jiwa. Dan ibunya bunuh diri, tak kuat menahan kesedihan.”
……………
Huru-hara 1998 tak sekadar telah menimbulkan perubahan besar di negeri ini. Sebongkah luka yang dalam pun menyeruak di hati para pelakunya. Mei Hwa, gadis keturunan Tiong Hoa adalah salah satunya. Dalam ketertatihan, Mei Hwa berusaha menemukan kembali kehidupannya. Beruntung, pada keterpurukannya, dia bertemu dengan Sekar Ayu, perempuan pelintas zaman yang juga telah terbanting-banting sekian lamanya akibat silih bergantinya penguasa, mulai dari Hindia Belanda, Jepang, hingga peristiwa G30S PKI. Sekar Ayu yang telah makan asam garam kehidupan, mencoba menyemaikan semangat pada hati Mei Hwa nan rapuh.
Dalam rencah badai kehidupan, berbagai kisah indah terlantun: persahabatan, ketulusan, pengorbanan dan juga cinta. Lewat novelnya ini, Afifah Afra kembali mengobrak-abrik emosi pembaca lewat novel bergenre fiksi sejarah yang sarat konflik, diksi menawan dan pesan yang sangat kuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *