Tak Kunjung Mekar ke Pelaminan

Oleh: Teguh Wibowo

 

15240058_1177723345649341_1094884549_n“Cinta dalam Semangkuk Sop Kaki Kambing” adalah novel percintaan. Baru membaca judulnya saja, langsung terbayang makan dengan cita rasa yang lezat. Bukan fiktif semata, resep rahasia membuat kuliner ini ada di dalamnya.

Bicara soal cinta memang tiada bosannya. Silih berganti menghiasi kehidupan sehari-hari. Kerumitan nasib masing-masing tokohnya yang terbelit dalam cinta segitiga antara Steph, Awy, dan Gandhi.

Stephanie atau Steph, si Putri Ketimun. Seorang gadis blesteran Sunda-Jerman. Dia kutu buku, librarian. Mengaku terlalu biasa. Terlalu sederhana untuk dicintai. “Hanya mengerti pun tak apa. Barangkali jika membalasnya adalah impian di siang bolong, sebuah pengertian pun cukup bagiku. Bukankah sejak kecil Ibu mengajariku untuk tak banyak menuntut pada hidup ini?” (hal 9).

Alawy alias Awy, si Pangeran Naga. Pemuda Betawi asli. Lulusan S2 di Nanyang. Gandhi, si jejaka nerdy. Memilih berwirausaha sesuai dengan hobinya, yaitu memasak. Dia membuka resto dengan menu utama sop kaki kambing dan es ketimun yang kemudian digandrungi oleh Steph dan Awy. Di resto ini juga Gandhi bertemu Steph. Awy ingin menjodohkan Steph dengan Gandhi. Tetapi, Awy sendiri tidak rela karena Steph berubah lebih cantik dari pada yang dikenalnya dulu.

Steph mengalami 23 kisah cinta yang hancur berantakan berujung penolakan. Betapa nelangsa hidupnya akibat cinta tak berbalas. Gadis ini agak sial dalam urusan asmara. Cowok-cowok agak malas berdekatan dengan cewek pintar dan lucu sejenis dia. Biasanya cewek pintar itu pendiam, tapi dia cukup ramai. Juga tidak memosisikan sama sekali bahwa dia pintar. Kelemahannya, dia suka bicara ceplas-ceplos. Suka seenaknya mengomentari isi kepala orang lain. Bikin cowok-cowok ilfil.

Orangtua Steph ingin mencarikan jodoh buatnya. Tetapi, dia bersikeras tetap pada pendiriannya meski usia sudah matang. Harapan ibu Steph di tengah sakit stroke, “Karena kita tidak tahu umur kita sampai di mana. Maka boleh kan jika kita mau menginginkan kebahagiaan bagi orang-orang tercinta kita sebelum umur kita selesai?” Kemudian nasihat ayahnya, “Kalau kamu berpikir bahagia, maka kamu kemungkinan memang tidak akan bahagia” (hal 63).

“Steph, benar bahwa pernikahan tidak boleh terjadi dengan keterpaksaan, namun benar juga bahwa cinta bisa diupayakan. Benar bahwa perbedaan lingkungan bisa jadi duri kelak dalam pernikahan, namun bukankah kita juga punya semacam kemampuan beradaptasi” (hal 89).

Perbedaan latar keluarga antara Steph dan Awy menjadi penghambat. Orangtua Awy tidak terima jika Awy sampai melenceng dari tradisi keluarga dalam hal jodoh. Kita akan dapati benang merahnya pada bagian “Side Story”.

Dalam novel ini, penulis menggunakan bahasa percakapan anak muda zaman kekinian. Dialek khas Jakarta atau Betawi, ‘gue’ dan ‘lu’. Namun, terlalu sering melancarkan dialog nyinyir dan dialog pem-bully-an. Kabar baiknya, novel ini hadir lebih bernas daripada novel romantis yang klise. Seru, lucu, dan kadang mengharukan akan kisah melankolisnya. Sarat akan nasihat, motivasi, dan ajaran cinta yang tidak membabi buta. Tetapi, kedewasaan para tokohnya yang diimbangi berbakti kepada kedua orangtuanya. (*)

kover-ifa-avianty-depanJudul Buku          : Cinta dalam Semangkuk Sop Kaki Kambing

Penulis                 : Ifa Avianty

Penerbit               : Indiva Media Kreasi

Cetakan               : I, Oktober 2016

Tebal                    : 176 halaman

ISBN                   : 978-602-6334-03-9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *