TIBU, DITULIS SETELAH KEHILANGAN UNTUK TETAP MENGENANG

 

Halo, Kawan. Kalian sudah nunggu novel anak indiva terbaru? Ini dia yang kamu nanti. Tibu, Kucing Kesayangan Syifa, sebuah novel anak yang lahir dari kolaborasi seorang bunda dan putrinya. Wih, manis banget ya… yuk kepoin proses penulisan novel ini.

 

Proses Kreatif Tibu, Binatang Kesayangan Syifa

Sebelum berkisah tentang proses kreatif penulisan novel TIBU, Binatang Kesayangan Syifa, izinkan saya menyampaikan kalau saya pecinta kucing sejak kecil. Saya suka sekali tidur bersama kucing, memeluknya, mengelus bulunya, mengajaknya bicara dan mendengar dengkur halusnya. Pecinta kucing pasti memahami saya. Seingat saya, ada 50 lebih kucing dalam kepemilikan saya sejak kecil sampai lulus SMA. Setiap kucing yang saya pelihara selalu saya beri nama. Tentunya dalam proses ‘mencintai’ kucing itu, tidak semua orang sepenuhnya berpihak pada saya. Termasuk bapak dan ibu.

 

 

Prinsip utama saya dalam memelihara kucing adalah tidak mengurungnya di kandang. Supaya bila kami sedang bepergian, mereka bisa mencari makan sendiri. Makanya, kucing dalam pemeliharaan saya adalah kucing lokal/kampung. Sewaktu booming orang-orang memelihara kucing persia atau anggora, sangat kepingin memelihara karena bulunya tampak begitu tebal dan hangat. Tapi, karena harus dikandang, saya memilih tidak memeliharanya.

 

Sejak menikah dan punya empat orang anak, saya tidak lagi memelihara kucing. Karena satu hal. Suami tidak menyukai kucing. Bayangkan, 15 tahun! Saya hanya boleh memandang kucing dari balik jendela, bahkan bila ada kucing yang mampir ke rumah, tidak boleh diberi makan, khawatir nanti akan kerasan.

 

Hingga kemudian, datanglah seekor kucing yang bulukan, jelek, dan telinganya putus separuh. Inilah awal kisah Tibu bermula.

 

Ditulis Setelah Tidak Bertemu Lagi (Amalia-ibu)

 

Awal ide penulisan TIBU, Binatang Kesayangan Syifa muncul ketika ada sebuah pengumuman penerimaan naskah duet ibu-anak dari salah satu penerbit mayor. Saya sudah lupa tahun berapa. Waktu itu, Nayla-anak ketiga saya-masih duduk di bangku SD dan belum tertarik untuk menulis. Dia hanya suka kucing seperti saya. Setiap hari, Tibu selalu datang ke rumah ketika jam makan, selalu sabar menunggu untuk dikasih jatah makan. Kalaupun tidak diberi makan, dia tetap sabar menunggu dengan tiduran di atas keset. Dan dia pergi dari rumah, ketika kita semua pergi berangkat kerja dan sekolah. Kadang, sepulang sekolah dia sudah menunggu di keset depan rumah. Tibu sudah lanjut usia. Kalau saya perkirakan, usia Tibu sekitar 12 tahun yang bila dikonversi ke usia manusia sekitar 65 tahun. Bisa jadi lebih. Kalau mengeong kadang tidak keluar suara, mungkin saking tuanya. Berjalan pun layaknya manusia sepuh. Dan matanya tidak awas lagi. Bila ada tikus lewat di depannya, kadang dia tidak bereaksi. Kulit berbulunya sudah menggelambir, layaknya kulit manusia yang sudah mengeriput. Bulunya pun kusam, meski dia sering menjilatinya. Belum lagi bekas luka di sana-sini yang menyebabkan bulunya tidak tumbuh lagi.

 

AMALIA DEWI FATIMAH Lahir di Kota Probolinggo, Jawa Timur. Aktivitas sehari-sehari selain sebagai ibu dari Haya Nayla Zhafirah dan 3 saudara lainnya, juga bekerja di sebuah Yayasan pendidikan. Aktivitas menulis hanya bisa dilakukan di tengah malam dan di hari libur. Karya kali ini dikerjakan berdua dengan putri ke-3-nya dan sebagiannya berdasarkan pengalaman pribadi. Beberapa karya lain yang pernah terbit adalah : Fathiya Anak Sholehah (Kumcer, Indiva, 2015), Gerbang Trinil (Duet, Moka Media),

Suami “terpaksa” membiarkan Tibu keluar masuk rumah, karena anak-anak sangat sayang pada Tibu, terutama Nayla. Meski secara fisik, Tibu sama sekali tidak menarik, bahkan bisa dikatakan jelek. Tibu rela dipeluk, digendong ke sana kemari. Meski tidak dikasih makan, hehe.

 

Kembali ke Ide tulisan yang mangkrak. Judul awalnya adalah Syifa dan Binatang Kesayangan. Ide yang tak kunjung dieksekusi, dan mendiami laptop bertahun-tahun. Hingga suatu ketika kami harus pindah rumah. Tidak mungkin kami membawa Tibu ke rumah yang baru, karena Tibu adalah kucing milik banyak orang. Sering kami dapati, Tibu yang sedang tidur di teras, tahu-tahu diambil seorang anak kecil, digendong, dibawa pulang dan dipanggil-panggil dengan nama yang berbeda. Tidak hanya satu atau dua anak. Bila kami membawa Tibu pindah, akan banyak anak yang patah hati. Lagipula, suami sama sekali tidak mengijinkan kami pindah membawa kucing! Sudah banyak kisah Tibu dan ayah Nayla (yang nantinya menjadi bahan kisah TIBU, Binatang Kesayangan Syifa) yang membuat beliau kesal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Hihihi….

 

Maka, kami pun berpisah dengan Tibu. Kadang kami melewati rumah sebelumnya, berharap menemukan Tibu. Tapi dia tak pernah  kelihatan. Info dari mantan tetangga, dua–tiga bulan setelah kepindahan kami, Tibu tak nampak lagi bertandang ke bekas rumah kami.

 

Saya beranggapan Tibu sudah tak berumur lagi. Tapi, tidak bagi Nayla. Dia yakin Tibu masih hidup. Maka untuk mengenang Tibu, ide tulisan itu pun akhirnya dieksekusi. Nayla begitu bersemangat di awal saat kami bersama-sama membuat outline—kerangka cerita, menyepakati POV—point of view atau sudut pandang tokoh, dan membuat jadwal menulis dengan laptop bergantian. Setiap bab ditulis secara berurutan dan bergantian. POV ibu dan POV anak.

 

Tidak hanya Nayla, saya pun bersemangat menulis kisah Tibu ini. Di samping kerinduan pada Tibu, keinginan menulis Nayla membuat saya serasa mendapat suntikan luar biasa. Semula saya juga menulis dan menghasilkan beberapa buku yang sudah terbit. Tapi sempat mandeg bertahun-tahun sejak bapak tercinta saya almarhum, dan beberapa masalah rumah tangga mendera, hingga terasa begitu sulit untuk menulis. Rupanya, inilah masa saya mendampingi Nayla untuk belajar sebuah lifeskill, dan saya bersyukur menjadi pendampingnya. Melihat Nayla yang begitu bersemangat karena Tibu, ikatan aksi-reaksi ini semakin menguat, dan memicu saya untuk menulis dan menulis lagi.

 

Tibu

Terkadang Nayla mandeg karena kelelahan mengikuti ritme menulis saya, saya pun memberikan waktu jeda. Tapi tidak terlalu lama, karena nanti dia akan membeku. Nyaris setiap hari selalu saya pamerkan bahwa saya sudah menyelesaikan tulisan ini dan itu, dan tulisan itu saya selesaikan dengan menyela-nyela waktu. Saya yakin, dia pun pasti bisa. Dia pun termotivasi untuk melanjutkan menulis. Tidak jarang, umpan beli novel terjemahan kesukaannya menjadi iming-iming bila dia sudah menyelesaikan satu bab. Sepertinya, saya terkesan terlalu menekan, tapi tidak kok. Seperti main layang-layang. Kadang perlu ditarik, kadang perlu diulur. Agar layang-layang tetap berada di langit. Kalau layang-layang sudah turun ke bumi, butuh kerja keras untuk menaikkannya lagi ke langit. Dan komunitas FLP Kota Probolinggo yang dia ikuti, menjadi salah satu komunitas yang membuat dia nyaman dengan dunia tulis menulisnya.

 

Orang yang paling kepo dengan naskah Tibu adalah Syifa, adik bungsu Nayla. Tentu saja karena dia dan beberapa temannya kami jadikan tokoh di novel ini. Sengaja kami mengambil tokoh Syifa dan teman-temannya, supaya bisa mengetahui reaksinya nanti setelah novel ini berada di tangan mereka. Saya yakin, mudah bagi mereka mengambil hikmah dari novel yang dibaca bila mereka merasa menjadi tokoh penting di dalamnya. Katanya, novel atau cerita anak bisa memperpendek 1000 langkah guru menjadi beberapa langkah saja dalam pembentukan karakter anak. Jadi saya berharap besar Tibu, Binatang Kesayangan Syifa menjadi rujukan orang tua dan guru dalam pendidikan karakter anak terutama dalam hal menyayangi binatang.

 

Alhamdulillah, proses menulis berlangsung selama 3 bulan, dengan kecepatan variatif. Kadang selama satu pekan kami sama sekali tidak menulis, kadang kami bisa menulis estafet dalam satu hari. Saya menikmati proses ini, karena duet ibu-anak seperti ini adalah duet langka. Banyak hal bisa saya contohkan pada Nayla selama proses ini, berharap bisa menjadi warisan lifeskill untuk masa depannya.

 

Saat email Surat Kesepakatan Penerbitan dari Indiva saya tunjukkan pada Nayla, Masya Allah dia menangis berderai-derai dan memelukku sangat erat. Benar kan nduk, usaha tak pernah mengkhinati hasil. Kerja keras kita berdua, menjadi nikmat di akhir. Terima kasih Indiva sudah berkenan menerbitkan naskah kami!

 

Mengenang dengan Tulisan (Nayla-anak)

 

Waktu kecil, sebenarnya aku takut sama kucing. Tiap hari, karena masih anak-anak, aku sering main di belakang rumah dengan adik kecilku. Di situ, selalu saja ada kucing yang duduk atau tidur. Kucing itu menarik perhatianku. Kadang-kadang dia bertingkah lucu, aku jadi ingin menggendongnya. Lalu, Syifa adikku yang belum sekolah itu mencoba mengelus bulunya, terus diangkat, kucingnya malah marah. Syifa nangis. Tokoh Syifa ini juga menjadi inspirasi dalam Novel Tibu, Binatang Kesayangan Syifa.

 

HAYA NAYLA ZHAFIRAH Aku lahir di Kota Probolinggo, Jawa Timur. Aku dilahirkan oleh ibuku tersayang, Amalia Dewi Fatimah. Saat ini aku sedang bersekolah di SMPIT Permata kelas VIII. Sebenarnya, aku tidak sempat menulis, tapi ibu selalu memotivasi aku untuk terus menulis. Jadi, aku sempat-sempatkan menulis deh. Ternyata menulis itu bisa kulakukan kapan saja. Di sekolah ketika waktu luang aku selalu menyempatkan menulis setidaknya 1 lembar penuh di sebuah buku. Jadi, menulis itu membuatku senang.

Suatu ketika, sepulang dari pasar bersama ibuku, nampak kucing itu tertidur lemas di atas tumpukan sepatu. Kucing itu tidak seperti biasanya, kata Ibu badannya hangat. Kucingnya itu sakit. Akhirnya, karena kami kasihan, tiap pagi dikasih makan nasi campur ikan. Walaupun ayah sudah bilang jangan dikasih makan, aku bakal ngerengek kalau gak boleh memberi makan Tibu, kucing itu.

 

Karena Tibu sudah dekat dengan keluargaku, ayah makin gak suka. Pagi-pagi sudah ada di depan pintu nungguin makan. Siang-siang tidur di kasur, atau kalo nggak nyuri ikan di atas meja makan. Dan kalau Tibu sudah berbuat buruk, pasti aku yang dimarahi. Dan yang paling membuat ayah marah, Tibu tidur di atas tudung saji!

 

Pernah merasa ingin marah ke Tibu karena sering buat masalah. Karena itu, aku gak mau lagi kasih makan dia dan gak mau lagi memeluk dan memangku Tibu. Tapi Ibuku bilang, jangan pernah salahkan Tibu. Semuanya juga salahku karena jarang kasih makan Tibu, akhirnya Tibu mencuri.

 

Aku menghabiskan banyak waktu bersamanya. Aneh memang. Karena sering main kucing, jadi jarang belajar dan nilai ujian jelek. Sempet dimarahi. Ini waktu SD ya. Setelah pindah rumah, aku dan Syifa merasa sedih. Karena harus berpisah bersama Tibu untuk selamanya. Pulang sekolah, si Syifa maksa-maksa pingin lewat rumah yang dulu, intinya karena pingin nyari Tibu. Ayah sama Ibu bilang, Tibu pasti udah mati. Tapi aku yakin, kalau Tibu masih ada dan hidup. Seolah kita ini bisa tersambung dalam perasaan. Tibu selalu membuatku rindu.

 

Tentunya aku sangat senang ketika Ibu mulai mengajak untuk menulis berdua kisah Tibu. Awal-awal memang semangat. Pernah satu malam nggak tidur buat menyelesaikan 1 bab. Target dari ibu adalah satu hari satu malam satu bab. Biar cepat selesai. Tapi karena kondisi yang sering capek pulang sekolah, akhirnya agak molor. Dan sehari cuma bisa jadi satu atau dua halaman.

 

Hampir beberapa hari, yang melanjutkan cerita cuma Ibu. Dan aku juga gak pingin kalah dengan ibu, sebenarnya. Akhirnya, Ibu kasih  semangat biar aku mulai nulis lagi. Kata ibu, kita akan bisa terus mengingat dan mengenang Tibu dengan tulisan. Semangat itu karena Tibu juga. Lega rasanya ketika naskah sudah selesai dengan editing tiap malam harus dibaca lagi dan dibaca lagi. Sebelum dikirim ke penerbit, Ibu menyimpan naskah beberapa waktu. Setelah itu, dibaca lagi dan diedit lagi. Baru setelah itu dikirim ke Indiva. Sampai tenggat waktu 3 bulan, ternyata belum ada kabar. Waktu itu aku udah pesimis kalau cerita Tibu gak bakalan menarik buat dibaca. Sedih.

 

Beberapa hari setelah itu, kebetulan aku ikut lomba kepenulisan di sekolah. Semangat lagi, tapi ternyata kalah. Pulang sekolah pingin nangis rasanya, tapi aku berusaha menahan. Rupanya ibu kasihan padaku, lalu Ibu bilang waktu itu mau kasih aku hadiah. Aku heran, karena yang disuguhkan malah laptop. Ibu nyuruh aku baca dokumen. Awal-awalnya masih nggak ngerti, ternyata itu Surat Kesepakatan Penerbitan dari Indiva!

 

Akhirnya aku menangis juga, menangisnya karena terharu.  Naskah novel Tibu akhirnya bisa dibaca banyak orang. Tibu itu sesuatu buatku. Dulu ketika dia sering datang ke rumah, pasti karena dia yakin akan disayang sama majikannya. Jadi, jangan lupakan aku ya Pus!


 

Judul                     : Tibu, Kucing Kesayangan Syifa

Penulis                 : Amalia Dewi Fatimah, Haya Nayla Zhafirah

Harga                  : Rp 39.000,-

Halaman              : 144

Ukuran                 : 14 x 20 cm

ISBN                      : 978-602-495-088-0

 

Punya kucing sebagai binatang kesayangan itu sangat menyenangkan! Apalagi kalau kamu punya kucing yang lucu, sehat, bersih, dan tidak bau. Pasti banyak orang yang suka dan ikut menyayanginya. Tapi kenapa ya dengan Syifa? Ia  malah menjadikan kucing dekil, kotor, dan cacat bernama Tibu sebagai binatang kesayangannya. Padahal, Ayah paling tidak suka bila ada binatang di rumah.

 

Tibu kucing yang berbulu kusam, kaki belakangnya ada yang pincang, telinganya putus sebelah, serta salah satu matanya kotor dan tidak bisa melek. Pokoknya sama sekali bukan kucing yang lucu. Ayah sama sekali tidak menyukainya! Tapi, Syifa bersikeras untuk memeliharanya.

 

Bukankah semua binatang adalah ciptaan Allah SWT, meskipun dia cacat? Jadi kalau kita sayang Allah, kita juga harus sayang sama ciptaan Allah. Nah, Teman-teman, ikuti kisah persahabatan Tibu dan Syifa dalam novel karya kolaborasi ibu-anak ini.

4 thoughts on “TIBU, DITULIS SETELAH KEHILANGAN UNTUK TETAP MENGENANG

  1. Nia says:

    Terkadang manusia banyak belajar dari makhluk lain. Belajar sabar, belajar mencintai, belajar empati… Bagi pecinta kucing, Tibu memang layak disayang dan dirawat…

    Gak sabar mau baca bukunya… duet ibu dan anak ini emang luar biasa

    1. Betul banget. Ditunggu ya Kak…

  2. purwandi darsiyan says:

    Pasti mengharukan kisah novel ini. Membaca proses kreatifnya aja udah bikin baper. Insya Allah, saya akan membelinya. Bukan karena kami suka membaca. Tapi, kami bertiga (saya, Naufal, dan Dinda) sangat menyayangi kucing. Istri saya udah wafat 17 bulan lalu, kanker payudara.
    Dulu, saya paling phobia sama kucing. Tapi, setelah kedua anak kami memelihara kucing, lama-lama saya jatuh hati juga pada hewan lucu ini. Bahkan saya yang paling perhatian soal makan dan minum untuk MOLLY dan UNYIL, kedua kucing kampung piaraan kami itu.

    1. Iya Kak. Mimin juga mewek baca novel dan proses kreatifnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *