TIDAK SEMUA IBU TIRI ITU JAHAT

Sumber gambar: Pixabay

 

Oleh: Untung Wahyudi

Di beberapa film atau sinetron seringkali sosok ibu tiri digambarkan sebagai seorang yang jahat, culas, bengis dan sifat buruk lainnya. Hal ini membuat penonton—terutama anak-anak—terpengaruh bahwa, semua ibu tiri itu bengis dan tidak sayang kepada anaknya. Ibu tiri hanya sayang kepada ayah si anak. Ibu tiri hanya akan berpura-pura perhatian kepada anaknya ketika ayah sedang ada di rumah.

Melalui novel Aku Sayang Bunda, Nurhayati Pujiastuti mencoba menghapus persepsi semua orang tentang sosok ibu tiri. Lewat tokoh Nayla, penulis ingin menyampaikan kisah-kisah inspiratif dan sisi lain tentang sosok ibu tiri.

Nayla hidup bersama kedua orangtua dan seorang adiknya. Nayla sangat bahagia karena Bunda sangat perhatian. Nayla sering dibelikan baju-baju baru dan mainan baru. Makanya, dia sangat terkejut ketika Wati, sepupunya, mengatakan kalau Bunda Aida yang selama ini hidup bersama Nayla bukan ibu sungguhan. Bunda Aida hanya ibu tiri. Tapi, Nayla tidak percaya. Nayla tetap yakin bahwa Bunda Aida adalah ibu sungguhannya, bukan ibu tiri seperti dikatakan Wati.

Tapi, Wati tetap saja ngotot mengatakan kalau bundanya Nayla hanya ibu tiri. Dia hanya ibu sungguhannya Zahra, adik Nayla. Nayla pun sering merenung dan berpikir, apa benar yang dikatakan Wati? Penasaran, Nayla langsung bertanya pada Bunda Aida. Tapi, Bunda tidak langsung menjawab. Bunda tidak akan menjelaskan jika tidak ada Ayah di rumah (halaman 22).

Nayla berusaha bersabar sampai Ayah pulang dari kantor. Ayah Nayla pun menjelaskan bahwa, Bunda memang bukan ibu sungguhannya Nayla. Tapi, Ayah juga bilang kalau Nayla juga punya ibu sungguhan. Ibu tinggal di rumah Nenek. Ayah berjanji akan mengajak Nayla mengunjungi dan mengenalkan pada ibu sungguhannya.

Setelah mendapat izin dari kantor, Ayah pun berangkat ke rumah Nenek bersama Nayla. Di dalam bus yang membawa ke rumah Nenek, Nayla hanya bisa melamun. Seperti apa sebenarnya ibu yang telah melahirkannya? Apakah dia baik dan sayang seperti Bunda Aida?

Sampai di rumah Nenek, Nayla dibuat tekejut. Di sana dia bertemu dengan seorang perempuan yang tinggal di kamar khusus. Penampilan perempuan itu seperti orang yang tidak waras. Pakaiannya tidak rapi dan rambutnya awut-awutan. Melihat keterkejutan Nayla, akhirnya Ayah menjelaskan bahwa, ibunya hanya sakit. Kalau ibu rajin minum obat, pasti ibu akan sembuh. Makanya, Ayah mengajak Nayla agar membantu ibu untuk sembuh. Terutama membujuk Nenek agar mau membawa ibu diajak berobat. Karena selama ini Nenek lah yang melarang Ayah ketika hendak membawa ibu ke rumah sakit untuk berobat. Kata Nenek, penyakit ibu tidak akan bisa disembuhkan. Penyakit ibu adalah penyakit kutukan (halaman 46).

Nayla sangat bingung. Selama ada di rumah Nenek, Nayla berusaha untuk mendekati ibu Juwita. Meskipun ibu Juwita sering teriak-teriak setiap kali Nayla membawakan makanan buat ibu. Tapi, Nayla ingat pesan Ayah. Menghadapi ibu harus sabar. Nayla hanya berpikir, bagaimana caranya agar ibu bisa sembuh seperti sedia kala.

Rencana Nayla membawa ibu ke rumah sakit diketahui oleh Nenek. Nenek marah dan mengurung Nayla di kamarnya karena ibu kabur dari rumah. Nenek tidak akan mengeluarkan Nayla dari kamarnya kalau ibu tidak pulang. Nayla sangat takut. Sementara Ayah tidak ada di rumah Nenek. Ayah pulang lebih dulu karena harus menyelesaikan pekerjaannya di kantor (halaman 52).

Tapi, di luar sepengetahuan Nayla dan Nenek, ibu Juwita kabur dan diamankan oleh seorang dokter yang juga sahabat dekat Ayah Nayla. Dokter Yani namanya. Dokter Yani menelepon Ayah dan mengabarkan bahwa ibu Juwita sudah aman di rumahnya. Ayah percaya pada dokter Yani. Ayah hanya berharap, dokter itu berusaha memulihkan ingatan dan kesadaran ibu Juwita (halaman 64).

Novel ini sarat dengan perjuangan dan pengorbanan. Bagaimana seorang anak belia berusaha membantu menyadarkan ibunya dari penyakit yang diderita sebelum Nayla lahir. Melalui novel ini, penulis juga mengajak pembaca memahami hakikat ibu tiri. Bahwa tidak semua ibu tiri itu jahat. Ibu tiri juga manusia yang memiliki perasaan dan kasih sayang sebagaimana sosok ibu pada umumnya.

Novel yang merupakan buku anak terbaik kategori fiksi anak pada Islamic Book Fair 2012 ini secara tidak langsung mengajak pembaca agar tidak terpengaruh tayangan-tayangan dangkal dalam sinetron atau film yang seolah-olah menjelek-jelekkan sosok ibu tiri.

Dengan bahasa yang sederhana dan pemaparan yang mudah dicerna oleh pembaca anak-anak, buku ini juga berusaha menyentuh hati dan mengajak pembaca dewasa untuk lebih waspada dengan tayangan-tayangan televisi saat ini. Tayangan-tayangan yang kurang edukatif dan berusaha merusak pola pikir anak-anak. [*]

 


 

Judul               : Aku Sayang Bunda

Penulis             : Nurhayati Pujiastuti

Penerbit           : Lintang-Indiva, Solo

Cetakan           : 2019 (edisi baru)

Tebal               : 96 Halaman

Peresensi         : Untung Wahyudi, penggiat literasi di Sumenep

 

“Eh kamu tidak tahu, ya?” Wati tiduran di atas tempat tidur Nayla. “Kalau ibu tiri itu hi . .. galak sekali. Suka mukul, suka marah-marah.”
“Memangnya siapa yang punya ibu tiri?” Nayla ikut tiduran di samping Wati.
Wati memandangi Nayla. “Jadinya kamu tidak tahu, ya?”
Nayla menggeleng.
“Ayah kamu itu ayah betulan. Tapi Tante Aida itu bukan bunda betulan.”
Nayla masih juga tidak mengerti.
“Bunda betulan itu bunda …,” Wati menggaruk kepalanya.
“Bundaku Bunda betulan kok …,” bantah Nayla.
“Bukan,” Wati menggeleng. “Kamu punya Bunda betulan. Aku tahu kok…eh…,” Wati kali ini menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Tentu saja Nayla terkejut dan sedih dengan cerita dari Wati, sepupunya, kalau Nayla punya bunda yang lain selain Bunda yang ada di rumahnya. Kata Wati lagi, Bunda Aida itu bukan bunda betulan Nayla.
Nayla jadi tidak mengerti. Lalu siapa bunda betulan Nayla?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *