ULIN NURVIANA: MARIORIAWA MEMBUAT SAYA BANYAK BELAJAR

Sumber Gambar: Pixabay

 

Sebelum saya bercerita panjang lebar, saya ingin berterima kasih tak terhingga pada Allah yang sudah memberi kesempatan untuk saya menulis dan untuk Penerbit Indiva yang telah menerbitkan novel Marioriawa. Terima kasih banyak.

MARIORIAWA, atau dulu sebelum novel ini terbit saya memberinya judul TREMOR. Saya menulis konsep novel ini sejak tahun 2014. Saat itu bertepatan dengan saya yang nyaris dibuat stres oleh setumpuk data penelitian. Skripsi yang tak segera usai, dosen pembimbing yang kabur-kaburan sampai hasil penelitian yang harus saya ulang tiga kali, padahal itu penelitian berkaitan dengan tegangan listrik lebih dari 1000 volt, Alhamdulillah masih hidup setelah keluar dari Laboratorium Optoelektronika (Eh, maaf jadi curhat).

Ya, di saat bosan dan nyaris sutris itulah saya menulis novel ini. Saya gila dengan berbagai hal yang berkaitan dunia medis, buku-buku kedokteran sampai film medis yang diam-diam saya tonton gratis saat jam kuliah berlangsung. Bahkan saya lebih hafal judul buku-buku kedokteran ketimbang buku-buku fisika. Saat itu saya iseng baca-baca situs-situs medis di rumahnya mbah Google, dan ketemulah Pencerah Nusantara atau Nusantara Sehat.

Pencerah Nusantara ini merupakan program pemerintah untuk menampung para lulusan tenaga medis dari berbagai jurusan untuk dihidupkan menjadi tim relawan yang akan ditempatkan di daerah-daerah terpencil. Merasa program ini begitu inspiratif, terlintaslah saya untuk menulis novel berkaitan tugas kerelawanan, yang akhirnya saya ubah menjadi Indonesia Sehat. Heheheh… biar kagak sama dengan punya pemerintah.

Tahun 2014 saya masih menulis berupa konsep, tersebab saya dikejar target agar segera lulus dari MIPA Fisika yang bagai kandang harimau itu, hehehe. Di awal tahun 2015 saat saya sudah usai sidang skripsi, saya ngebut menyelesaikan novel ini, yang masya Allah novel ini selesai kurang dari dua bulan. Bagi saya itu prestasi luar biasa. Novel ini sempat mendekam lama di leptop tersebab saya sibuk bekerja.

Menulis novel Marioriawa ini tak sesederhana saya menulis novel sebelumnya yang bergenre teen. Dalam proses kepenulisan Marioriawa, saya harus bolak-balik ke perpustakaan untuk meminjam buku-buku kedokteran, terutama terkait penyakit infeksi dan Zoonosis. Selain itu saya juga menonton drama-drama korea bertema medis seperti Time Slip Doktor Jin, Emergency Couple, Good Doctor, dan Blood. Semua drama itu saya tonton dalam satu bulan proses menulis. Jadi saya menulis sambil nonton drama dan membaca referensi. Yang lebih dramatis lagi saat itu saya benar-benar datang ke rumah sakit untuk sekadar duduk di ruang tunggu Poli, menyaksikan para tenaga medis yang hilir mudik. Saya sangat menyukai proses penggalian jiwa ini. Tersebab saya bukan lulusan kesehatan, untuk membuat tulisan bernyawa saya benar-benar harus terjun ke rumah sakit. Yah, meskipun hanya sekadar nonton, hehehhe

Alhamdulillah saya punya teman-teman dari Fakultas Kedokteran yang masih co-as maupun yang sudah berprofesi sebagai dokter. Ada dokter yang begitu baik hingga bersedia mengajak saya saat kunjungan pasien. Dengan bantuan Dokter Mega ini, saya bisa keliling rumah sakit secara bebas, bahkan masuk ruang Perinatologi dan UGD untuk melihat si dokter sibuk menangani pasien. Lalu terkait setiing saya sengaja mengambil Kabupaten Soppeng dengan Kecamatan Marioriawa.

Jadi teman-teman, Marioriawa ini diambil dari nama kecamatan di Soppeng sana. mengambil setting pun saya tak asal-asalan. Awalnya saya harus membaca detail Propinsi Sulawesi, hingga saya ambil Sulawesi Tengah dengan Kabupaten Soppeng sebagai fokus utama. Sejujurnya saya belum pernah terbang ke Soppeng, saya menggali informasi dan kondisi daerah hanya melalui situs internet, terutama situs resmi pemerintahan daerah Sulawesi Selatan. Saya baca grafik pertumbuhan kesehatan setiap kabupaten hingga dari sekian kabupaten saya memilih Soppeng, yang masuk dalam kategori rendah terkait pemenuhan kesehatan. Nah, dari Soppeng saya terbang ke Marioriawa, satu alasan kenapa saya memilih kecamatan ini, ya karena namanya menarik.

Lalu terkait tokoh. Kenapa saya memilih apoteker dan bukan dokter?

Begini ceritanya.

Saya punya teman baik seorang apoteker, saat itu ia bercerita ketika magang di Rumah Sakit Soetomo Surabaya, dia melihat bagaimana peran apoteker di rumah sakit sangat penting, tidak ada dokter tanpa apoteker, karena dokter meresepkan obat atas buatan tangan seorang apoteker. Selain itu tokoh utama seorang dokter sudah sangat umum, sehingga saya ambil tantangan baru dengan memilih seorang apoteker.

Karakter Yashinta sendiri sejujurnya jauh sekali dari karakter saya sebagai penulis. Saya yang melankolis dan cenderung di belakang berusaha menulis sosok penuh semangat. Dan teknik saya membuat cerita ini hidup adalah memberikan konflik-konflik yang menguras emosi. Karena kembali lagi ke awal, saya bukan tenaga medis dan tak pernah ke Soppeng, maka saya harus punya titik di mana novel ini tidak sebatas dongeng belaka, tapi justru di sinilah saya akhirnya belajar. Menulis Marioriawa membuat saya banyak belajar.

Dan kenapa novel ini ada bumbu percintaannya? Tidak lain karena biar pembaca tidak bosan saja sih. Dari Marioriawalah saya punya motivasi untuk menulis novel-novel lokal bertema medis berikutnya. Bismillah, doain ya teman-teman semoga Allah mudahkan.

Terima kasih

Semoga Marioriawa bisa menginspirasi dari hati

 

Salam

 

Ulin Nurviana


 

Penulis : Ulin Nurviana

ISBN     : 978-602-5701-10-8

Tebal    : 304 halaman

Ukuran  : 13 x 19

Harga    : Rp 68.000,-

Mayla melarikan diri dari tugasnya hanya karena mitos kelelawar yang menghantuinya. Kepergiannya membuat teman-teman satu tim kalang kabut. Tugas baru satu bulan berlangsung, tapi ia telah menghancurkan separuh kekuatan tim, terutama Ray sebagai ketua. Ia kehilangan segalanya tanpa Mayla.

Dalam kerapuhan itulah Yashinta datang menggantikan posisi Mayla. Ia mampu menjadi obor dan membangkitkan kembali semangat juang tim yang sempat rapuh, tetapi justru dirinya menjadi korban keegoisan sang ketua tim. Haruskah cinta mengorbankan pasien dan tim yang sudah mati-matian berjuang? Jika ada pasien di tempat ini yang harus kutolong, ia adalah kamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *