Wajah Pendidikan Indonesia dalam Novel

 

Bapangku-BapunkkuNovel karya Pago Hardian yang sarat dengan humor ini mampu mengantarkan pembaca untuk hanyut dalam kisah inspiratif sebuah keluarga. Di dalamnya, terdapat kisah antik yang memantikkan perenungan mendalam tentang pendidikan Indonesia yang masih belum fair menghargai potensi anak. Lebih jauh lagi, pembaca juga akan diajak untuk menyambangi luka kurikulum pendidikan Indonesia. Luka itulah yang mesti disembuhkan agar bangsa ini tidak bermental pengekor, buruh, dan pekerja. Dan, Bapang menjadi tokoh utama yang begitu jeli mengamati luka kurikulum pendidikan sekaligus menjadi pelopor penyembuhnya melalui sekolah alternatif yang didirikan bersama istri dan keempat anaknya.

Bapang merupakan panggilan ayah dalam bahasa Semende, sebuah suku di Sumetera. Uniknya, Bapang tidak mau dipanggil dengan sebutan ayah atau bapak. Selain itu, ia juga menganut aliran punk, sebuah aliran yang mengagung-agungkan kebebasan. Pemikiran dan tindakan Bapang sangat nyentrik dan unik. Meski ia tidak berpenampilan seperti anak-anak muda punk, Bapang memiliki sikap yang tegas, menyukai kebebasan, dan sering memiliki pendapat yang berbeda dengan yang lainnya. Dengan berani dan tegas berdasar pertimbangan cerdas, Bapang pernah protes pada Kepala Sekolah, protes pada guru kelas anaknya, dan protes pada sistem pendidikan.

Sejak Bapang menganut kecerdasan jamak, Alap dan ketiga adiknya tidak pernah lagi dituntut untuk menjadi juara kelas. Itu artinya, Alap dan ketiga adiknya tidak lagi “dipaksa” untuk giat belajar. Gara-gara itu pula, Alap dan adik-adiknya boleh belajar sesuai dengan kesenangan masing-masing. Dulu, ketika belum menganut paham kecerdasan jamak, cita-cita Alap sebagai desainer pakaian sama sekali tidak mendapat restu dari Bapang atau Bunda (halaman 82). Ketidakbolehan itu berawal dari alasan bahwa sebagai anak laki-laki, Alap kurang pantas menjadi desainer. Terlebih, banyak desainer lelaki di televisi yang berubah orientasi seksual, menjadi gay atau waria.

Alap dan ketiga adiknya pun semakin bersemangat menekuni hobi dan mengembangkan bakatnya. Alap mengasah kelihaian dalam merancang busana, Harnum yang memiliki kecerdasan linguistik antar personal memilih mendalami sastra, Tuah yang memiliki kecerdasan numerik makin giat belajar matematika, dan Anjam sang juara menggambar menekuni bidang seni visual. Lambat laun, Alap dan ketiga adiknya menuai prestasi menggembirakan. Alap menjuarai lomba desain, Harnum produktif menulis cerpen dan puisi di majalah, Anjam sering menang dalam lomba menggambar, dan Tuah memiliki nilai matematika yang selalu tinggi di kelasnya. Tak dinyana, setelah keberhasilan dahsyat inilah, malapetaka mulai datang.

Harnum sangat lemah dalam bidang eksakta. Terlebih, Anjam tidak naik kelas. Semua nilai rapornya berwarna merah kecuali pelajaran seni. Anjam memang belum bisa membaca dan menulis. Dan, yang membuat Anjam menangis hingga enggan kembali bersekolah adalah Bu Nur dan teman-temannya yang menjulukinya sebagai anak bodoh. Perkara ini membuat Bapang naik darah. Kemarahan Bapang tidak desebabkan karena ketidaknaikan Anjam, namun karena gurunya memberi label bodoh pada anak didiknya (halaman 90). Kemarahan Bapang sebenarnya sangat beralasan. Berbeda dengan Bapang yang protes kepada guru putrinya, Bunda justru menangis dan menyesali sikapnya yang belum mendatangkan guru privat untuk Anjam.

Tidak seperti orang-orang yang bermental tempe, Bapang memperjuangkan hak Anjam untuk mendapat perlakuan yang ramah. Seluruh siswa seharusnya mendapat perlakuan yang ramah. Bahkan, ketika Bapang diminta kepala sekolah untuk meminta maaf kepada Bu Nur atas protesnya, ia justru menolak. Bapang bersikeras bahwa bukan dirinya yang bersalah, melainkan Bu Nur yang memperlakukan siswa  secara tidak layak.

Sistem pendidikan dan kurikulum pendidikan formal di negara ini hanya akan membentuk generasi muda bermental buruh, karyawan, pengekor, dan bukan pelopor. Sistem pendidikan tidak hanya dipengaruhi oleh kepentingan pemerintah saja, namun juga negara-negara penjajah (halaman 166). Setelah melalui perdebatan sengit bahkan Anjam hendak keluar dari sekolah, kelegaan pun hadir. Kepala Sekolah berjanji mengubah rapor dan mengapresiasi kepandaian Anjam dalam bidang seni. Kenyataannya, prestasi Anjam menjadi kebanggaan sekolah, bahkan menjadi nilai unggul dari sekolah.

Pada bagian akhir, novel ini menyajikan kisah perjuangan Bapang dan keluarganya untuk merintis dan membesarkan sekolah alternatif yang tidak terjebak pada kurikulum formal. Dan, kisah perjuangan ini merupakan salah satu strategi menyembuhkan luka pendidikan di negeri ini.

 

Judul Buku      : Bapangku Bapunkku

Penulis             : Pago Hardian

Penerbit           :Indiva

Cetakan           : I, 2015

Tebal               : 232 Halaman

ISBN               : 978-602-1614-4-7-1

 

*Peresensi: Nurul Lathiffah, Penikmat Sastra tinggal di Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *