Yuk, Jadikan Anak Kita Si Predator Buku

Afifah AfraOleh Afifah Afra (@afifahafra79)

Hari itu, Anis (9) dan Rama (7), kedua anak saya, girang luar biasa. Sederhana saja sebenarnya. Hari itu, saya ajak mereka main ke salah satu toko buku diskon di kota kami. Begitu turun dari kendaraan, mereka langsung berlari menuju rak buku kesayangan mereka masing-masing. Mereka terlihat bingung memilih buku, karena saya hanya mengizinkan mereka memilih masing-masing 2 buku, sementara pilihannya begitu banyak. Namun, sekitar seperempat jam kemudian, mereka telah menemukan pilihannya.
Beberapa saat kemudian, setelah kami pulang, rumah pun menjadi senyap, karena masing-masing telah tenggelam dalam bacaan masing-masing. TV mungil 14 inchi yang belum diganti sejak saya beli 10 tahun yang lalu pun kehilangan peminat. Ia teronggok bisu, dengan layar yang mati.
Banyak rekan saya yang sering bertanya mengapa anak-anak itu begitu menggemari baca—bahkan kini mereka pun mulai menulis, karena membaca dan menulis memang semacam saudara kembar. Masalahnya, anak kecil saat ini memang lebih senang berjam-jam menghabiskan waktu di depan televisi, atau main game sepuasnya. Apa resep yang saya terapkan untuk anak saya?
Apa jawaban saya? Sabar … ya?

Rendahnya Minat Baca Rakyat Indonesia
Jangankan anak-anak, bahkan orang dewasa di Indonesia pun hampir-hampir bisa dikatakan tak memiliki minat baca, ataupun jika ada, sangatlah rendah. Menurut Suwandi S. Subrata, Direktur Eksekutif Kompas Gramedia, tahun 2011 tercatat produksi buku di Indonesia sekitar 20.000 judul buku. Jika jumlah penduduk Indonesia adalah 240 juta jiwa, maka setiap 1 judul buku akan dibaca oleh 80.000 jiwa. Sebuah angka yang sangat memprihatinkan.
Demikian juga, di Indonesia, pada tahun 1950-1997 kewajiban membaca buku untuk siswa adalah nol buku atau sama sekali tak ada kewajiban untuk menamatkan satu judul buku pun. Dan kondisi ini masih berlangsung hingga sekarang. Itulah mengapa, dalam hal membaca, berdasarkan penelitian dari PISA, Indonesia berada di peringkat ke-57 dari 65 negara . Keadaan ini sangat berbeda jauh dengan negara-negara lain. Thailand misalnya, hingga tamat dari SMA seorang siswa harus tamat membaca buku hingga 5 Judul (1986-1991). Sementara di Malaysia 6 judul buku (1976-1980), Singapura 6 judul buku (1982-1983), Jepang 15 judul buku (1969-1972). Negara-negara maju seperti Jerman, Perancis, Belanda, pun mewajibkan siswa SMA harus menamatkan hingga 22-32 judul Buku (1966-1975).
Inilah salah satu sebab, mengapa Indeks Pembangunan Manusia Indonesia terpuruk begitu rendah. Menurut Human Development Report (HDR) yang diterbitkan oleh United Nations Development Programme (UNDP), Perkembangan Pembangunan Manusia Indonesia mengalami kemrosotan secara drastis, yaitu berada di peringkat 124 dari 187 negara. Padahal HDR 2010 menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke 108.

Mengapa Minat Baca Kita Rendah
Setidaknya ada beberapa hal yang kira-kira menjadi penyebab, mengapa bangsa kita ini dalam budasa literer tertinggal jauh dari bangsa-bangsa lain.
1. Tradisi Lisan (Oral) yang Sangat Kuat
Bangsa Indonesia memang memiliki tradisi lisan yang sangat kuat. Sebenarnya, itu jamak adanya. Menurut para pakar komunikasi, setiap bangsa memang mengalami 3 tahap dalam masalah metode transmisi, yaitu lisan (oral), tulisan (literate) dan elektronik. Sayangnya, di Indonesia, karena sekian lama dijajah oleh Belanda, sehingga tingkat buta huruf sangat tinggi, nyaris tak mengalami tradisi tulisan. Baru pada awal 1990-an, setelah kalangan etik berkuasa di Belanda, lantas digulirkan politik etis, kaum pribumi mulai menikmati sekolah, itu pun dalam jumlah terbatas. Koran-koran dan buku yang ditujukan untuk pribumi mulai diterbitkan. Akan tetapi, belum sempat budaya tulis terbentuk, Indonesia telah dijajak oleh budaya elektronik dengan munculnya radio dan televisi, yang pada hakikatnya adalah budaya lisan tahap kedua. Bisa dikatakan, bangsa Indonesia adalah bangsa yang tak mengenal tradisi tulis.
2. Kurangnya Perhatian Pemerintah dalam Masalah Baca-Tulis
Seperti yang telah disebut di atas, kewajiban siswa kita untuk membaca buku (selain pelajaran) adalah nol buku. Di luar itu, kebijakan pemerintah di dunia perbukuan juga masih kurang mengena. Pengadaan buku saat ini banyak yang merupakan proyek yang sering kali sarat muatan korupsi. Siswa sering didrop buku-buku dari pusat, yang seringkali kualitasnya diragukan. Sementara, para penulis juga banyak yang enggan menjadi penulis profesional, karena hidup sebagai penulis di Indonesia memang kurang menjanjikan.
3. Kurikulum Pendidikan di Sekolah yang Sangat Padat
Saya sering merasa heran dengan betapa ‘sibuknya’ anak-anak sekolah zaman ini. Bahkan anak SD pun diharuskan menempuh kurikulum yang begitu padat. Orientasi pendidikan yang lebih mementingkan hasil akhir berupa nilai UN, membuat orangtua memilih menyuruh anak untuk les ini les itu, agar berhasil mendapatkan prestasi gemilang. Waktu untuk membaca pun sepertinya terabaikan.
4. Kurangnya Dukungan dari Orang Tua dan Lingkungan
Terkait dengan poin di atas, banyak orang tua yang tak merasa bahwa minat baca itu penting. Maka, banyak kejadian ketika si anak mulai tertarik membaca buku (non pelajaran), si ortu bahkan khawatir dan bahkan menyita bacaannya. Kejadian seperti itu juga terjadi di beberapa pondok pesantren yang melarang buku sastra masuk ke pondok. Konon alasan mereka, banyak santri yang justru lebih senang membaca buku sastra daripada membaca buku pelajaran.

Manfaat Membaca
Permasalahannya, memang banyak orang menganggap bahwa membaca itu buang-buang waktu belaka. Apalagi jika yang dibaca adalah buku fiksi, semacam novel atau cerpen. Anggapan ini tentu salah besar.
Padahal, ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun adalah “Iqro!” Bacalah!
Apa saja manfaat membaca? Berikut ini kami nukilkan beberapa faedah membaca menurut Dr. Aid Al Qarni dalam buku “La Tahzan”:

  • Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
  • Ketika sibuk membaca, sesorang terhalang masuk dalam kebodohan.
  • Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang2 malas dan tidak mau bekerja.
  • Dengan sering membaca, seseorang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.
  • Membaca membatu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
  • Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.
  • Dengan sering membaca, seseorang dapat mengambil manfaat dari pengalama orang lain, seperti mencontoh kearifan orang bijaksanan dan kecerdasan para sarjana.
  • Dengan sering membaca, seseorang dapat mengembangkan kemampuannya baik untuk mendapat dan merespon ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari disiplin ilmu dan aplikasi didalam hidup.
  • Keyakinan seseorangakan bertambah ketika dia membaca buku-buku yang bermanfaat, terutama buku-buku yang ditulis oleh penulis-penulis muslim yag saleh. Buku itu adalah penyampai ceramah terbaik dan ia mempunyai pengaruh kuat untuk menuntun seseorang menuju kebaikan dan menjauhkan dari kejahatan.
  • Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia.
  • Dengan sering membaca, seseorang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai model kalimat, lebihlanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “diantara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat).

Trik Meningkatkan Minat Baca Anak-Anak Kita?
Mungkin setiap orangtua memiliki trik yang berbeda-beda untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca pada anak-anaknya. Inilah beberapa trik yang saya pakai, yang alhamdulillah mulai memperlihatkan hasil, sebagaimana saya ceritakan di prolog di atas.
1. Bangun Tradisi Membaca yang Kuat
Suami saya bukan orang yang gila membaca, meskipun beliau juga termasuk orang yang memiliki cukup minat baca. Ini berbeda dengan saya yang sangat keranjingan membaca. Dulu, saat lajang, buku setebal tigaratusan halaman, bisa saya baca hanya dalam waktu semalam atau dua malam. Sekarang, tentu menurun. Tetapi saya tetap seorang pelahap buku yang ‘rakus’.
Mengapa saya begitu? Karena saya memang dilahirkan dari keluarga yang suka membaca. Ayah, ibu, saudara-saudara saya, semua senang membaca. Anak-anak akan meniru dari apa yang dilihat dari lingkungannya. Demikian juga anak-anak saya. Mereka meniru apa yang saya lakukan.
2. Ajari Anak Membaca Sejak Dini
Mengajari anak membaca, adalah prioritas saya. Maka, selain mencoba mengajarinya sendiri, saya dan suami juga mencari sekolah yang terkenal tekun dalam mendampingi anak-anak didiknya belajar membaca. Alhamdulillah, Anis dan Rama telah lancar membaca sejak usia 5 tahun. Sekarang, di saat anak-anak di kampungnya masih kesulitan membaca, Anis bahkan sudah sanggup menyelesaikan buku setebal 100-an halaman hanya dalam beberapa jam.

3. Jadikan Buku Sebagai Sebuah ‘Keajaiban’ Baginya
Saya memang tidak main-main untuk menjadikan anak keranjingan membaca. Saya rela mengeluarkan anggaran ekstra untuk itu. Misalnya, minimal sebulan sekali, saya ajak anak-anak ke toko buku, dan saya biarkan mereka memilih sendiri buku yang mereka inginkan—tentunya dengan pengawasan. Kemudian, saya juga mengapresiasi jika mereka telah menyelesaikan buku bacaannya mereka, minimal dengan pujian. Kadang juga membelikan snack kesukaan mereka, atau melebihkan uang jajan dari biasanya.
4. Aturan Main yang Ketat Untuk Nonton Televisi
Televisi adalah musuh utama anak, dalam apapun! Termasuk juga dalam mengembangkan minat baca. Oleh karenanya, saya dan suami bersepakat dengan pemberlakuan aturan yang tegas. Kami tidak menegasikan televisi sama sekali. Tetapi memberikan batasan. Misalnya, nonton TV hanya boleh di hari sabtu dan minggu.

 Tentang Penulis

Afifah Afra adalah nama pena dari Yeni Mulati Ahmad, Sekjen BPP FLP sekaligus juga CEO PT Indiva Media Kreasi. Silakan follow akun twitternya untuk interaksi lebih aktif >> @afifahafra79

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *