judul gambar

Merindukan Sosok Ayah

  • by

Oleh: Mia Karneza

Bercerita tentang ayah tidak akan ada habisnya. Ayah akan berjuang demi pendidikan anaknya. Apapun akan ia lakukan demi pendidikan anak kesayangannya. Ayah menginginkan pendidikan anaknya lebih tinggi dari dirinya. Ibunya Rudi bercerita tentang Ayahnya Rudi yang hanya tamatan SMP seperti yang tertulis di halaman 43, “…buruh perternakan yang hanya berijazah SMP.” Ya, Ayah Rudi hanya tamatan SMP yang dulu bekerja di perternakan milik orang tua dari Ibunya Rudi. Di situlah awal bertemuan ayah dan ibunya. Meski Ayahnya Rudi hanya tamatan SMP tapi ia mempunyai disiplin yang kuat untuk anaknya, Rudi.

Ayah, tidak ingin anaknya lupa waktu dalam bermain. Jika pulang ke rumah lewat dari adzan magrib—dari kesepakatan antara ayah dan Rudi—yang telah ditentukan, Ayah akan menasehati Rudi anak satu-satunya yang sudah duduk dibangku sekolah menengah atas. Seperti yang tertulis di halaman 18-19, “Jika saya terlambat tiba di rumah karena bermain bola, saya sangat tahu jika ayah berpura-pura tak tahu. Saya juga sadar kalau ayah tahu bahwa jika sudah terlambat begitu, pastilah salat Magribku harus di rumah padahal aturan ayah yang kedua tentang senja adalah saya harus salat Mahgrib di masjid. Saat salat Magrib di kamar, saya sering mendengar ada yang membuka pintu dan saya yakin kalau itu adalah ayah yang ingin memastikan kalau saya sudah salat apa belum.”

Rindu itu muncul pada dirinya Rudi, bermula perternakan milik ayah mati karena virus flu burung. Seminggu kemudian sejak kejadian itu ibunya Rudi berpulang pada sang pencipta. Sosok ayah yang dimiliki Rudi sekarang sangat berbeda. Dulu, ayahnya suka bercerita dan menasehati ketika Rudi pulang kerumah lewat dari adzan Magrib. Namun, sejak kejadian memilukan itu sikap ayahnya Rudi berubah drastis. “Sekali lagi kamu katakan istriku sudah tiada,  saya gak akan segan-segan membunuhmu.” seperti ucapan Ayah Rudi pada halaman 58. Kalimat itu membuat siapa saja yang mendengar akan melukai orang lain. Tidak hanya itu bisa melukai fisik siapa saja yang menurutnya mengganggu kehidupannya.

Rudi hanya bisa menatap ayahnya  dari kejahuan yang sudah berubah drastis menurutnya. Ia seperti tidak mengenal lagi Rudi, anaknya. Rudi rindu ayahnya yang dulu. Ia rela dimarahin jika dirinya pulang tidak tepat waktu.  Rudi rindu dan ingin memeluk ayahnya namun tidak bisa.

Buku Ayah Aku Rindu karya S. Gengge Mappangewa berhasil membuat saya mengeluarkan air mata. Seketika membuat saya rindu ayah. Karena saya berada di pulau Jawa sementara Ayah ada di pulau Sumatera.

Ada kalimat yang membuat saya suka di buku ini pada halaman 87. “Sesal tidak pernah datang tepat waktu. Sesal selalu menunggu semua tak bisa terulang kembali, lalu datang mengetuk pintu untuk memberi kabar bahwa semua tidak ada artinya lagi.” Saya sependapat dengan kalimat ini, sebelum terlambat dan penyeselan tiba kepada kita alangkah baiknya mendengar nasehat dan bahagiankan Ayah kita. Karena kita tidak pernah tahu penyesalan datang kapan dan pada siapa saja. Saya rindu sosok ayah.

Ayah Aku Rindu

Judul               : Ayah, Aku Rindu

Penulis             : S. Gegge Mappangewa

ISBN               : 978-602-495-290-7

Samar-samar kudengar suara ayah. Ya, suara ayah. Suara yang telah lama kurindukan itu terdengar dari ruang tamu. Ada sebuah rasa yang menyusup ke dalam dadaku. Rasa bahagia yang melonjak-lonjak.

Doa itu …?

Doa yang selama ini kupanjatkan dengan menyebut nama ayah di dalamnya, ternyata begitu cepatnya dikabulkan. Padahal saya pernah pesimis, toh ayah sendiri yang pernah bilang bahwa tidak semua doa langsung dikabulkan. Butuh penantian. Butuh kesabaran.

Luka, duka, derita, tak menunggu orang dewasa dulu untuk  kemudian ditimpanya. Semua kepahitan itulah yang akan menempa kedewasaan.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

judul gambar