judul gambar

Mereka Adalah Cahaya Kehidupan

  • by

Oleh: Supadilah

Engkau tidak bisa disebut gagal selama engkau terus mencoba engkau hanya gagal jika engkau berhenti (halaman 45).

Laeli Fadilah merupakan salah satu orang yang tidak pernah menjadikan profesi guru sebagai cita-citanya. Namun, sekarang dia telah menikmati menjadi seorang pendidik. Menikmati setiap bertemu dengan siswanya. Merasakan kenyamanan di dalam mengajar.

Laeli kecil bercita-cita menjadi seorang penulis. Sejak SMA suka membaca, kuliah dia mengambil jurusan sastra agar dapat memahami dasar ilmu dan menerapkannya.  Namun hingga tahun kedua dia belum bisa menghasilkan suatu karya pun. Keraguan muncul. Benarkah sastra merupakan pilihan terbaiknya? Tanpa satu karya di bangku kuliah membuatnya mempertanyakan keputusan awalnya dulu.  Lalu dia berniat untuk pindah kuliah. Dia mendaftar di dua kampus favorit. Dia lolos seleksi. Bahagialah dia. Akan kuliah di kampus yang menurutnya lebih baik.

Meskipun menyetujui dengan langkahnya kali ini, orang tuanya masih berat hati melepaskannya. Akhirnya dia kembali meneruskan kuliah di kampus lamanya. Meskipun tidak begitu aktif pada aktivitas kegiatan di kampus, hanya kuliah pulang, mengerjakan tugas, dia sempat mengikuti seminar atau workshop yang diadakan di kampus. Terutama kegiatan yang tidak berbayar.

Suatu waktu, dia mengikuti seminar dengan pembicaranya masih seumuran dengannya.  Namun prestasi dan pengalamannya sudah banyak. Dari sana dia kemudian tersadar untuk berdamai dengan diri sendiri. Dia tidak bisa terus-menerus menyalahkan orang lain atau juga menyalahkan keadaan. Sejak saat itu dia berubah. Mengubah pemikirannya dan aktivitasnya. Dengan berani dia pamit pada orang tua agar tidak lagi membiayai kuliah, uang jajan atau kebutuhan lainnya. Dia bertekad untuk mandiri.

Kala itu 2014. Dia memiliki tabungan Rp. 500 ribu yang harus digunakan untuk berbagai keperluan di kampus, transportasi, pulsa,  maupun keperluan pribadi lainnya. Bagaimana caranya untuk mencukupi semua keperluan itu? Dia berjualan pulsa, menjual roti, dan menjual kentang ulir goreng. Usahanya lancar bahkan sudah mulai mempekerjakan pegawai. Namun tidak berlangsung lama. Usahanya ditutup seiring dengan diberhentikannya pegawai. Karena pertimbangan kesibukan dan kelelahan maka orang tua tidak mengizinkan untuk berdagang. Lalu bagaimana caranya untuk mendapatkan pemasukan untuk membiayai kuliahnya?

Pilihannya adalah dia membuka bimbel. Ini menjadi pilihan yang tepat karena sejalur dengan jurusan kuliahnya. Ini juga bisa menjadi media latihan untuk berbicara di depan banyak orang. Memberikan pengalaman agar tidak grogi untuk presentasi saat seminar proposal nantinya.

Bagaimana dia membangun bimbel hingga sukses kuliah? Buku ini memberikan gambaran tentang sebuah lika-liku membuka usaha sambil kuliah.

Setelah lulus, gilirannya membantu menyekolahkan adik. Perjuangan adiknya tak kalah dramatis. Saat akan kuliah, adiknya telah mendaftar hingga sepuluh perguruan tinggi namun hasilnya nihil. Hal ini berakibat pada psikologisnya. Kehilangan semangat, murung, dan mulai menyalahkan dirinya sendiri. Lalu kepada adiknya dia menceritakan pengalaman pahit yang pernah dialaminya. Tidak hanya kegetiran saat kuliah tapi juga saat di sekolah dulu.

Usahanya membuahkan hasil. Perlahan adiknya bangkit termotivasi. Kembali mengikuti berbagai tes masuk perguruan tinggi ada. Ada lima universitas yang di cobanya lagi. Hingga akhirnya dia diterima di sebuah kampus ternama di Indonesia.

Dalam hidup ini ada banyak sosok yang menjadi cahaya kehidupan bagi oranglain. Laeli bisa jadi merupakan cahaya kehidupan bagi adiknya. Sementara, Laeli pun mendapatkan cahaya kehidupan dari sekitarnya. Sengaja atau tidak cahaya itu sampai padanya.

Seperti halnya Evita Nur Apriliana yang tengah terpuruk saat ditinggal ibunya. Meninggalnya sang ibu memberikan dampak kehilangan. Berhari-hari dia dilanda kesedihan kemudian muncul cahaya dalam kehidupannya. Siapakah cahaya itu? Dia adalah pak Jumain. Guru Pendidikan Agama Islam di sekolahnya.

Pada suatu kesempatan Pak Jumain menawarkan untuk mengikuti lomba menulis cerita islami. Awalnya dia ragu. Tapi gurunya berhasil meyakinkannya. Dia pun ikut lomba itu. Meskipun pada akhirnya Evita kalah namun ia banyak mendapatkan banyak ilmu dan hikmah.

Saat ada lomba lagi, dia kembali ikut. Kali ini dia berhasil menjadi penulis terbaik. Karyanya menjadi juara 1 di lomba tingkat kabupaten.

Saat kuliah dia mengambil jurusan keagamaan. Meskipun awalnya dia ragu.

“Kalau semuanya beralasan soal tanggung jawab Guru PAI itu berat, bisa jadi tidak ada guru PAI di negeri ini (halaman 71)

Suntikan semangat dari gurunya kemudian memantapkannya untuk kuliah sekaligus mondok di pesantren menjadi santriwati di Ma’had Al Jami’ah UIN Walisongo. Motivasi gurunya itu pulalah yang mendapatkan gelar sarjana.

Pengetahuan dunia dan akhirat di dapatnya. Banyak ilmu dan pesan yang didapat dari kyainya.

“Meskipun kita lemah, bodoh, miskin, dan tak punya kekuasaan kita harus tetap berperan dalam mengukir sejarah di NKRI, bukan hanya numpang tidur” (halaman 76).

Profesi guru PAI mulia. Karena selain membekali siswa dengan pengetahuan, juga memberikan kontribusi dengan mengubah nilai-nilai negatif yang terjadi di lingkungan. Ya, guru PAI kerap menjadi panutan di lingkungan sekitar dengan akhlaknya yang terjaga. Memang diyakininya bahwa menjadi guru itu berat karena harus menjadi role model bagi siswa.

Buku ini merupakan antologi dari 11 penulis yang merupakan insan literasi. Dengan berbagai latar belakang pendidikan, pekerjaan, dan pengalaman berbeda diramu dalam satu buku sehingga kita bisa mendapatkan rasa yang beragam. Kaya pengalaman berharga. Pengalaman merupakan guru terbaik. Pelajaran itu bisa didapat dari pengalaman diri maupun orang lain. Buku ini membuka cakrawala berpikir bahwa setiap orang yang terlihat  sukses pasti ada kepahitan dan perjuangan hidupnya.

Begitulah. Kehidupan seringkali tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Dalam lingkungan kita, berapa banyak orang yang pada akhirnya tak mampu mendapatkan apa yang diimpikannya? Berapa banyak orang yang pada akhirnya bekerja tidak sesuai dengan pengalaman pengetahuannya?

Dalam mencapai impian, banyak sekali  badai gelombang tantangan yang harus dihadapi. Manusia hanya harus berusaha untuk menghadapi berbagai tantangan dan dilengkapi dengan doa dan sabar. Selalu ada pasti hikmah yang bisa dipetik dari  kegagalan demi kegagalan. Kesabaran akan terasa sebagai sebuah usaha manis saat kita melihatnya dari puncak kesuksesan.

Bersabar bukan berarti diam saja tetapi terus bergerak sambil mengupayakan agar hasil bisa maksimal. Ada doa setelah berikhtiar menyerahkan hasilnya kepada sang pencipta.

Tri Nurhayati mengingat untuk jadi diri sendiri. Percayalah bahwa masing-masing orang memiliki waktu kesuksesan yang berbeda-beda (halaman 140).

Langkah bahagia adalah dengan mencintai diri kita sendiri dengan cara menjadi diri sendiri, mencintai passion, mencari inspirasi dari banyak sumber, selalu bersyukur, dan sering memberi yang terbaik. Kebahagiaan tidak harus selalu dalam bentuk uang dan materi. Namun bisa juga inspirasi hidup. Berbagi inspirasi semakin mudah. Lewat media sosial berbagai pengetahuan bisa diunggah. Bahkan kita bisa berbagi lewat senyuman. Karena senyuman bisa memutuskan atau permusuhan. Buku ini sarat pelajaran mencintai hidup.

Love Your Life, Love Yourself

Judul Buku       : Love Your Life

Penerbit          : Indiva Media Kreasi

Penulis             : Tri Nurhayati, Wika G. Wulandari, dkk.

Tebal               : 208 halaman

Cetakan           : 2020

ISBN                 : 978-602-495-283-9

 “Be yourself,” sebuah nasihat yang tak pernah basi diulang-ulang dari zaman bahuela hingga zaman milenial. Faktanya memang demikian. Banyak orang yang kesulitan menjadi diri mereka sendiri.

Jadilah dirimu sendiri. Tak peduli banyak orang mencibir pilihan jurusan kuliahmu hanya karena terlihat kurang prospektif. Cintailah dirimu sendiri, meskipun kamu seorang perempuan yang senang belepotan dengan oli misalnya. Kamu sendiri yang menjalani kehidupanmu. Kamu sendiri yang akan menjalani jatuh bangun perjuanganmu sebelum akhirnya mendapatkan apa yang kamu impikan dan perjuangkan. Sekali lagi, kamu sendiri yang menjadi tokoh utama dalam lakon hidupmu. Bukan tetanggamu, teman-temanmu, ataupun follower mediasosialmu. Jalani pilihan hidupmu dengan menjadi diri sendiri.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

judul gambar