judul gambar

Ibu yang Tak Terbeli

  • by

Oleh: Thomas Utomo

Dalam banyak kebudayaan, ibu adalah sosok yang sakral, bahkan cenderung keramat. Masyarakat Jawa, misalnya, menganggap ibu sebagai malathi, sikap dan kata-katanya bertuah. Karena itu, melukai apalagi mendurhakainya bakal mendatangkan malapetaka. Sedangkan dalam keyakinan Islam, sosok ibu lebih dahsyat lagi. Keridaan ibu—dalam perkara makruf—adalah juga keridaan Tuhan.

Bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas menganut patriarkhat murni, kesempurnaan seorang perempuan adalah menjadi ibu. Jabarannya: dia menikah, mengandung, melahirkan, lalu punya anak yang diasuh dan dibesarkan sendiri. Pengertian “perempuan sempurna” ini akan lebih panjang lagi jika diuraikan menurut wacana utama masyarakat kita. Sebagai contoh, “perempuan sempurna harus” melahirkan secara normal, dll. dsb. dst.

Lalu bagaimana dengan perempuan yang hingga berkalang tanah tidak juga menikah—bukan karena tidak ingin, melainkan tidak mendapatkan pasangan? Bagaimana pula dengan perempuan yang telah menikah tapi tidak memiliki keturunan, kendati terus menggenjot ikhtiar?

Gema pertanyaan inilah yang diajukan Riawani Elyta—Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat Kepulauan Riau—lewat novel Membeli Ibu. Novel yang diganjar Juara I Kompetisi Menulis Indiva 2020 Kategori Novel Remaja ini menyodorkan cerita dua perempuan muda: Athifa—dipanggil Ifa—dan Fairuz—atau Fai. Ifa adalah pengidap disleksia dengan latar belakang broken home. Dia ditinggalkan Ibu yang bekerja sebagai pekerja domestik di Negeri Petro Dollar, dicampakkan Ayah, kemudian dititipkan bibi ke panti asuhan. Beragam labeling disematkan kepada Ifa: bodoh, pemalas, suka merepotkan—dia sering kesasar karena selalu disorientasi arah, dan biang masalah—di antaranya pernah berurusan dengan polisi setelah terjebak menjadi pekerja di bawah umur di pujasera. Tidak ada yang menyukai Ifa, apalagi dia punya kebiasaan aneh: suka menyendiri guna mendaras surat-surat lusuh dan hobi membawa celengan dengan alasan: uang di dalamnya untuk membeli Ibu!

Fai sendiri lulusan SMA. Keinginannya untuk kuliah psikologi di tanah rantau, kandas karena, “Segumpal miom terdeteksi telah bersemayam di rahimku sejak SMA. Lalu tumbuh dengan cepat dan berkembang biak. Hingga saat berhasil dikeluarkan di meja operasi minggu lalu, jumlahnya ternyata telah berkembang menjadi empat gumpalan. Dan sang miom tidak keluar sendirian. Milikku yang paling berharga pun harus aku relakan. Rahimku.” (hlm. 16). Fai dipaksa berdamai dengan mimpi-mimpinya: kuliah di universitas terdekat, membatasi aktivitas fisik, termasuk menerima kenyataan ditinggal pemuda yang ditaksirnya karena ketahuan tidak bisa menjadi “perempuan sempurna”.

Ifa dan Fai bertemu dalam satu “petualangan” kesasar si remaja disleksia ke taman bacaan masyarakat (TBM) yang dikelola Fai. Interaksi keduanya menguakkan pesan rahasia yang tersimpul di balik surat-surat lusuh Ifa, termasuk keinginannya membeli Ibu yang rupanya tersangkut “kasus kriminal” di Arab Saudi. Lewat ketunaan Ifa, Fai menemukan kembali harapannya untuk mendampingi anak-anak bermasalah, meski tanpa dasar pendidikan psikologi formal.

Walau berakhir tragis karena, “Upaya negosiasi dan diplomasi sampai hari-hari terakhir, ternyata tak jua berhasil menggoyahkan keputusan Pemerintah Arab Saudi untuk mengeksekusi Ibu di bawah tebasan pedang tajam.” (hlm. 234-235), Ifa justru menemukan “kelahirannya yang baru”. Dia memperoleh keluarga baru yang peduli, suportif, dan gigih menolongnya mengikis ragam ketunaan akibat disleksia yang diidapnya. Dia juga menghayati pengalaman tumbuh menjadi perempuan berdaya, lantaran didampingi Ibu yang menjelma sosok baru: spirit yang terus menyala lewat surat-surat usang peninggalannya. Sedangkan Fai, meski tidak dapat menjadi “perempuan sempurna” berdasarkan standar yang ditetapkan masyarakat, dia justru bermetamorfosis menjadi perempuan sempurna sekaligus ibu kemanusiaan bagi proyek-proyek yang dijalankan lewat TBM dan pendampingan anak-anak bermasalah.

Inilah alternatif sudut pandang mengenai sosok ibu yang coba disodorkan Riawani Elyta. Mengutip Helvy Tiana Rosa dalam Juragan Haji (2014: 15-16),

“Seorang perempuan dihargai karena banyak hal yang membuatnya hadir secara berarti dalam sebuah pentas bernama kehidupan. Ketiadaan seorang anak tak lantas membuatmu menjadi tak berarti.”

Secara bahasa dan substansi—meminjam perkataan Putu Wijaya—sebagai bacaan remaja, Membeli Ibu adalah jenis bacaan yang bertanggung jawab. Dia tidak terjebak dalam penggunaan bahasa prokem yang destruktif terhadap keindahan dan muatan bahasa baku—sekaligus tidak membelit pembaca dengan pilihan kata rumit. Juga tidak menyuguhkan cerita picisan yang itu-itu melulu, cenderung hedonis, sekadar bersenang-senang guna mengisi waktu luang,dan eskapisme semata.

Membeli Ibu

Judul             :    Membeli Ibu

Pengarang     :    Riawani Elyta

Penerbit        :    Indiva Media Kreasi

Cetakan        :    Pertama, Maret 2021

Tebal             :    240 halaman

ISBN            :    978-623-253-033-1

Aku memberanikan diri memajukan tubuhku. Meletakkan jari-jariku pada kepala dan ekor celengan ayam.

“Uang di … sini, banyak tidak … Bu?” tanyaku terpatah-patah.

“Emm, lumayan kayaknya.” Perempuan itu mengalihkan pandangan pada celengan ayamku. “Gimana kalau Alifa hitung dulu di rumah, setelah itu baru ke sini lagi sama Mama atau Papa?”

“Lumayan itu … artinya … banyak?”

Perempuan itu menatapku bingung. “Ya. Kira-kira begitu. Memangnya, Alifa menabung untuk apa?”

“Untuk … membeli … Ibu.”

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

judul gambar