judul gambar

Peduli Kesehatan Mental pada Sesama Remaja

  • by

Oleh: Abdul Warits*

Kepedulian pada sesama barangkali jarang ditemukan dalam diri remaja di zaman ini. Mayoritas para remaja apatis terhadap problematika lingkungannya. Oleh karena itu, sikap peduli memang harus dipupuk dan disemai sejak dini agar kebiasaan dan cara berpikirnya responsif terhadap segala macam bentuk persoalan kehidupan. Itulah yang dilakukan Hana beserta teman kelasnya dalam mencari jejak masalah hidup Raka dalam novel remaja ini.

Raka sebagai tokoh di dalam buku ini digambarkan sebagai lelaki misterius, introver, pendiam,  dan memiliki sikap yang dingin. Sementara, Hana, teman kelasnya, adalah Gadis yang menjadi ketua kelas di kelas bahasa. Ia menyadari bahwa sebagai seorang ketua kelas harus bertanggung jawab. Bahkan dirinya bersama dengan teman kelasnya memiliki sikap peduli dalam memecahkan persoalan-persoalan rumit yang dihadapi oleh Raka. “Sebagai ketua kelas sudah seharusnya saya membuat dia masuk sekolah lagi” (hal. 14).

Raka sebenaranya adalah orang yang pintar meski seringkali pendiam dan dingin. Ia tipikal lelaki yang sangat peduli terhadap lingkunganya. Buktinya, ketika ia berjalan di pantai dan menemukan sampah berserakan maka ia pun memungutnya. Kalau alam rusak dan mengamuk giliran tidak terima jika disalahkan. Maunya terus menyalahkan dan selalu benar. Memang tipikal manusia sekarang. Meski tidak bisa dipungkiri, dia pun kadang sering melanggar aturan alam setidaknya bagi Raka menjadi orang yang sadar itu lebih penting. (hal. 23).

Dalam memecahkan permasalahan yang dialami oleh Raka, Hana dan teman-teman kelasnya yang lain mencoba untuk membaca seluk beluk kehidupan Raka. Tidak tanggung-tanggung, ia membentuk tim penelusuran jejak Raka dengan nama “Tim Peka”.  Penelusurannya ia dapatkan dari bi Asih, pembantu rumah tangga Raka, buku catatan jurnal Raka yang ditemukan di kamarnya dan Salsa sebagai salah satu mantan pacarnya Raka.

Mula-mula Hana menyangka jika permasalahan hidup yang dialami oleh Raka terdapat di keluarga Raka. Karena menurut penuturan Bi Asih, sejak orang tuanya bercerai, Raka mulai seringkali bolos masuk ke sekolah. Raka seringkali mendapat penyiksaan ayahnya karena membela ibunya. Tetapi, anggapan Hana dengan “Tim Peka”itu sangat sulit menebak karakter Raka. Meski Hana berserta timnya tidak pernah bosan untuk mencari Raka yang sangat menyebalkan.

Di pertengahan cerita, Hana akhirnya menemukan Raka di Makam Orion, sahabat Raka yang meninggal dunia  saat menyelamatkan Raka dalam sebuah kecelakaan. Karena peristiwa tersebut, Raka merasa bersalah kepada sahabatnya yang sudah meninggal itu dan jalan-jalan ke luar kota serta bolos sekolah menjadi solusi bagi diri Raka.

Akan tetapi, Hana yang sudah paham dan mengetahui seluk beluk hidup Raka akhirnya menegur sikapnya yang terlalu egois dan tidak bisa menerima kenyataan hidup karena Raka ditimpa dua permasalahan krusial. Pertama, keluarganya broken home. Kedua, ditinggal Orion yang pernah berjasa dalam hidupnya. “Tempat yang semua orang bilang nyaman, tempat untuk berpulang, nyatanya tidak lebih dari sebuah kawah yang akan meledak sewaktu-waktu.” (hal. 206). Itulah yang diucapkan Raka kepada Hana. Walaupun, pada awalnya Raka tetap keras kepala dan tidak menghargai jerih payah Hana bersama timnya mencari dirinya agar kembali masuk sekolah lagi. Bahkan, Hana sampai menangis karena nasihat yang disampaikannya kepada Raka dihiraukan begitu saja. Meski pada akhir cerita Raka kembali ke kelasnya setelah berdebat alot dengan Hana di makam Orion.

Selain sikap kepedulian, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kisah novel remaja di buku ini diantaranya solidaritas dan soliditas sesama teman dan sahabat. Kisah tersebut bisa dilihat dari inisiatif Hana dalam membentuk tim penelusuan jejak Raka. Sedangkan, sikap yang perlu dihindari adalah egoisme, menghadapi kenyataan hidup yang pahit tidak boleh ditanggung sendirian, menghindari keluarga yang broken home, memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan, dan berusaha memberikan yang terbaik kepada siapapun yang berjasa dalam hidup kita.

Pesan tersirat novel remaja ini adalah bahwa mental remaja perlu diasah dalam menghadapi permasalahan. Karena di masa remaja inilah, penyakit mental menjadi sesuatu yang seringkali membuat masa depan hidup remaja  menjadi kelam seperti yang dialami oleh Raka di dalam novel ini. Maka, pentingnya peran orang tua, teman dan organisasi saat masih remaja menjadi wadah dalam menjembatani dan memecahkan masalah kehidupan secara bersama-sama. Pesan ini dapat kita petik dari sikap Hana yang membentuk kerja sama tim dalam penelusuran Jejak Raka.

Novel remaja ini telah mewakili suara kegelisahan nasib kaum remaja yang keluarganya broken home sehingga perlu pendampingan ekstra dalam kehidupannya karena tidak bisa dipungkiri jika pendidikan pertama kali memang harus dimulai dari lingkungan keluarga. Alur novel remaja ini mendebarkan, terutama rangkaian kata di buku catatan harian Raka yang sangat mengesankan. Selebihnya, novel remaja ini menjadi inpirasi penting tentang kepedulian terhadap mereka yang lemah mentalnya, orang-orang—yang seharusnya—bukan malah dijauhi oleh kita tetapi membutuhkan rangkulan kasih sayang demi masa depan hidupnya. Wallahu a’lam.    

*Guru Bahasa Indonesia di Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatus Shibyan Jadung Dungkek Sumenep.

Mencari Jejak Caraka    

Judul                : Mencari Jejak Caraka        

Penulis             : I’ir Hikma

Penerbit          : Indiva Media Kreasi  

Cetakan           : November, 2020

Tebal               : 216 halaman

ISBN                 : 978-623-253-015-7 

Pada hari ketiga Study Campus, Caraka—atau biasa dipanggil Raka, laki-laki paling pendiam di kelas Bahasa—tiba-tiba menghilang. Padahal jadwal yang padat, belum lagi simulasi membuat semua orang kelimpungan. Mengetahui ada yang tidak beres, Sensei (wali kelas Bahasa) memutuskan untuk membuat Tim Peka (Pencari Raka) untuk membawa Raka kembali sebelum ujian simulasi berlangsung.

Tim Raka adalah anak-anak kompeten di kelas bahasa yang dipilih Sensei langsung untuk membantu Hana sang ketua kelas mencari Raka. Alden, Farel, Nata, Indira, Hasna, dan Sia mulai mencari jejak Raka. Mereka yakin bolosnya Raka ada hubungannya saat menghilangnya Raka di Jogja.

Apakah Hana dan kawan-kawan berhasil membawa Raka kembali sebelum ujian simulasi dilaksanakan? Simak kisahnya dalam novel remaja apik ini.

 

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

judul gambar