judul gambar

Afifah Afra: Butuh Keberanian untuk Mengakhiri Tetralogi De Winst

  • by
 

Dalam kelas-kelas menulis yang saya ampu, ada beberapa pertanyaan  yang  sering  dilontarkan  peserta.  Salah

satunya, “Apakah Mbak Afra pernah mengalami kebuntuan ide saat menulis?”

Tentu pernah. Bahkan sering. Novel yang tengah Anda baca ini pun, berkali-kali harus terhenti, karena saya mengalami stuck, juga writer block alias kemacetan ide. Di antara novel-novel saya yang lain, barangkali, ini adalah novel terlama yang saya tulis.

Karena itu, saya benar-benar sangat bersyukur. Alhamdulillah, segala puji hanya untuk-Mu, ya Allah … yang telah memberikan kekuatan, kesempatan, kemudahan, dan kemampuan mengurai benang kusut dalam otak saya yang kadang memicu frustasi tersendiri. Draft novel ini memang sering membuat saya agak sakit kepala. Saya sering berpikir, mencari sebab, mengapa novel ini tak kunjung selesai, padahal saya menuliskannya sejak tahun

2012.

Saya ingin ngeles, atau mencari-cari alasan pembenaran. Antara tahun 2012 hingga 2021, memang saya cukup banyak kesibukan. Aktivitas pekerjaan, organisasi, pendidikan, hingga urusan rumah tangga—di mana anak-anak mulai besar dan membutuhkan lebih banyak perhatian. Namun, bukankah sejak

dulu pun, saya sebenarnya cukup sibuk? Toh, saat itu, karya demi karya saya bisa terbit juga.

Jadi, soal apa? Apakah motivasi saya di dunia kepenulisan sempat drop? Atau, aslinya saya sebenarnya terjebak pada kemalasan, dan tak mau mengakui? Bisa jadi! Yang jelas, banyak sekali faktor yang mendistraksi, sehingga saya berkurang ketekunan dalam menyulam kata-kata.

Draft ini pun terbengkalai. Kadang dilirik, kadang diabaikan. Menyedihkan.

“Mbak, kapan buku keempat terbit?” “Nunggu buku keempat terbit, deh!”

“Woi, Mbak, jangan nulis novel atau buku lain dulu, selesaikan tetralogi yang keempat!”

“Iya, penasaran ini!”

Begitu kurang lebih ungkapan jujur para pembaca. Saya sering merasa sedih, karena belum juga mampu memberikan yang terbaik untuk mereka. Sepertinya, saya memang harus mengempos semangat saya. Harus!

Saya pun mendapatkan momen itu. Suatu saat, pada awal Agustus 2021, saya positif Covid-19. Dua minggu harus isolasi mandiri, terkurung dalam kamar. Saat itulah, meski dengan jemari agak gemetar, saya meraih laptop putih saya, dan mulai membenahi tulisan ini. Saya membaca kata demi kata dengan teliti. Saya tertegun, karena draft tulisan sebenarnya sudah mencapai sekitar 80 atau 90%. Saya hanya butuh “keberanian” untuk menyelesaikannya.

Saya pun mulai menyulam kata, merapikan bolong-bolong yang mengganggu. Memperbaiki logika-logika yang terasa kurang pas. Dan … saya hanya butuh sekitar 20 halaman untuk menyelesaikan novel ini. Selesai!

Novel ini, karena merupakan bagian terakhir dari sebuah

tetralogi, tentu masih berkaitan dengan novel-novel sebelumnya, De Winst, De Liefde, dan Da Conspiracao. Tokoh utama masih Rangga Puruhita, Sekar Prembayun, dan Everdine Kareen Spinoza. Ada juga satu sosok yang cukup dominan, khususnya di novel De Liefde, saya angkat di buku keempat ini. Siapa dia? Baca saja sendiri, biar penasaran!

Ada empat lokasi yang saya ambil sebagai setting utama novel ini. Pertama, Jerman. Ini adalah lokasi di mana Sekar Prembayun diculik oleh pasukan berlogo swastika yang sempat saya ceritakan di novel De Liefde. Lalu, Maldives, sebuah negara berisi gugusan atol di tengah Samudra Hindia, selatan India. Setelah berhasil melarikan diri dari pemberontakan kapal De Zeven Provincien, Everdine terkatung-katung, sehingga akhirnya justru berlabuh di Maldives.

Lokasi ketiga, pembaca sekalian bisa menebak: Boven Digoel. Ini adalah lokasi penjara terbuka di Papua, tempat pembuangan Rangga Puruhita setelah dipindah dari Ende, Flores. Di Boven Digoel, Rangga mendapatkan pengalaman luar biasa bersama kaum bumiputra yang masih tinggal di rimba belantara.

Lokasi keempat, Kei Eenlanden, alias Kepulauan Kei yang berlokasi di Maluku Tenggara. Di kepulauan ini, ada satu tokoh baru yang saya munculkan, sebagai sosok antagonis yang cukup banyak  memberikan  kesulitan  pada  tokoh-tokoh  utama  yang saya sebutkan di atas.

Setting berpindah-pindah, membutuhkan riset yang cukup mendalam. Ini membuat saya sedikit agak sulit menyelesaikan novel ini. Namun, ‘ala kulli haal, saya berhasil juga mencapai tahap finish. Alhamdulillah, alhamdulillah.

Novel ini saya persembahkan khusus untuk sahabat saya, Teteh Ifa Avianty almarhumah, seorang penulis produktif yang telah wafat beberapa waktu yang lalu. Beliau merupakan pembaca

setia tetralogi ini, bahkan sempat bercanda menyebutkan diri sebagai ‘fans garis keras Rangga Puruhita.’ Novel ketiga, Da Conspiracao, terbit juga atas bantuan beliau, yang menyempatkan diri untuk membaca dan memberikan saran-saran sangat berguna. Atas kehendak Allah Swt., beliau wafat sebelum buku keempat ini terbit. Semoga Allah mengampuni segala khilafmu, Teteh, dan menerima segala amal kebaikanmu.

Novel ini juga saya persembahkan untuk para pembaca setia, yang selalu menunggu-nunggu terbitnya buku-buku saya. Terima kasih, cintaku … tanpa kalian, apalah arti diri saya ini.

Terima kasih sebesar-besarnya saya tujukan kepada semua pihak yang terlibat dalam penerbitan buku ini. Editor, layouter, desainer, ilustrator, marketer, dan sederet panjang nama yang tak bisa saya sebutkan satu per satu.

Selamat membaca!

Salam, Afifah Afra

De Hoop Eiland: Pulau Harapan

Judul               : De Hoop Eiland (Pulau Harapan)

Penulis              : Afifah Afra

ISBN                : 978-623-253-081-2

Halaman         : 696

Dimesi             :14×20 cm

Kertas              : bookpaper

Harga              : 145.000

Sinopsis          :

De Hoop Eiland adalah Pulau Harapan. Di pulau ini ada pertemuan. Jiwa Sekar Prembayun yang sempat tertambat di sudut-sudut Belanda dan Jerman, berlabuh di pantainya nan indah menawan. Idealisme Rangga Puruhita yang dikoyak-koyak Rimba Papua, tertambat di sebentang hamparan. Pun kegalauan Everdine saat terlunta-lunta di kepulauan India Selatan, menemukan tautan di Pulau Harapan.

Novel ini menutup tetralogi De Winst yang ditulis Afifah Afra sejak 2008.

Profil Afifah Afra

Afifah Afra adalah nama pena dari Yeni Mulati. Lahir di Purbalingga, 18 Februari 1979. Saat ini menetap di Kota Solo, bersama suami, Ahmad Supriyanto dan ke-4 putra-putrinya, Anis, Rama, Ifan, dan Ihan. Yeni menyelesaikan pendidikannya sejak SD hingga SMA di Purbalingga, lalu kuliah S1 di Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Diponegoro. Melanjutkan S2 di jurusan Magister Manajemen Universitas Slamet Riyadi, Solo (lulus 2016). Juga kembali menempuh studi di Magister Sains Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (masuk tahun 2021).

Afifah Afra aktif menulis sejak SD. Saat ini sudah menghasilkan puluhan judul buku. Novel De Hoop Eiland (Pulau Harapan), adalah buku ke-67 yang dia tulis (tidak termasuk karya-karya antologi). Cerpen, artikel, serta puisi juga banyak dihasilkan dan terbit di berbagai media.

Informasi tentang Afra secara lengkap, bisa dibaca di www.afifahafra.com.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

judul gambar