CITA-CITA MENJADI PENGARANG

Image by Pixabay

Oleh: Thomas Utomo, S.Pd.

Wartawan dan pengarang adalah dua jenis pekerjaan yang sama-sama menggunakan kata-kata sebagai alat kerja. Bedanya, wartawan sudah diakui secara resmi di Indonesia, sebagai salah satu jenis profesi. Sementara, pengarang tidak atau belum mendapat pengakuan serupa, meski kehadiran dan kebermanfaatannya tidak dapat dinihilkan.

Jika dulu pengarang adalah ‘pekerjaan’ paruh waktu, sekadar sambilan, iseng-iseng, atau hobi, maka sekarang, tidak sedikit orang—termasuk kawula muda—yang menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian utama. Ada pengarang lagu (misal: Melly Goeslaw), pengarang skenario sinetron (contoh: Achi TM), pengarang skenario film (semacam: Salman Aristo), atau pengarang novel (seperti: Asma Nadia). Mereka adalah contoh pengarang penuh waktu yang memaksimalkan kreativitas dan produktivitasnya untuk menghasilkan karya tulis.

Berkenaan soal karang-mengarang, novel Jangan Menyerah Adiba adalah sebuah cerita yang memaparkan keinginan dan usaha kuat seorang anak perempuan untuk menjadi perajin kata-kata. Adiba, namanya. Setiap hari, dia tekun membaca dan giat menulis guna mewujudkan cita-citanya itu. Dia bahkan berlatih mengetik menggunakan laptop milik kakaknya (hal. 65-70). Namun, tidak ada yang mudah untuk mewujudkan harapan. Kendati, Adiba sudah berusaha keras, tetap saja ada kegagalan yang membuatnya patah arang hingga sebuah kejadian lain membuat semangatnya tumbuh lagi (hal. 130-132).

Akhirnya, tulisan yang baik ialah tulisan yang mampu mempengaruhi dan menggerakkan pembaca pada jalan kebaikan. Novel ini memiliki dua kekuatan itu. Tak heran, jika novel ini diganjar penghargaan Pustaka Terbaik II Anugerah Mitra Perpustakaan Nasional Tahun 2018 Kategori Karya Siswa SMA dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.


PROFIL BUKU


Judul                   :     Jangan Menyerah Adiba

Pengarang        :     Sherina Salsabila

Penerbit            :     Lintang

Cetakan             :     Pertama, Februari 2017

Tebal                  :     136 halaman

ISBN                   :     978-602-6334-16-9

 

 

“Aku kalah,”Adiba berkata pelan dan tanpa semangat kepada Ummi, yang menyapanya saat sampai di depan pintu rumah. “Adiba gagal,Ummi.Adiba enggak pantas jadi penulis.Adiba hanya berangan-angan. Adiba … hiks hiks,”Adiba sudah tidak dapat lagi menahan rasa sedih yang menggelayuti hatinya yang sudah ditahan-tahannya dari sekolah tadi.

Sejak kekalahan itu, Adiba menjadi sangat pendiam. Ummi, Abi, dan Kak Attar sudah berusaha membujuknya. Namun, kekecewaan itu membuatnya jadi sakit. Karena memikirkan terus menerus tentang lomba itu, Adiba jadi demam. Wah, Adiba sepertinya benar-benar putus asa, ya, teman? Apakah cita-cita Adiba jadi penulis akan pupus begitu saja? Hmm, apakah kalian penasaran dengan kelanjutan cerita novel terbaru karya Sherina Salsabila ini?Yuk, segera temukan jawabannya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *