BERATNYA MENGEMBAN AMANAH DAN PELAJARAN TENTANG MAJAS

Sumber Gambar: Pixabay

 

Oleh: Thomas Utomo

Amanah Terindah merupakan novel yang pernah diganjar Juara II Sayembara Menulis Naskah Buku Pengayaan Puskurbuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2013.

Secara garis besar, novel yang terdiri dari sepuluh bab ini menguraikan cerita tentang amanah yang harus diemban Ahmad, remaja berusia empat belas tahun dari Desa Fior, Distrik Kokas, Kabupaten Fak-Fak, Provinsi Papua Barat. Amanah yang dimaksud ialah menjaga Al Quran terjemah inventaris Musala Al Hikmah. Tanggung jawab itu diberikan oleh Ustadz Ali, guru mengaji sekaligus imam Musala Al Hikam sesaat sebelum meninggalkan Fak-Fak menuju Kaimana untuk membantu persiapan saudaranya yang hendak naik haji.

Semula, Ahmad mengira menjaga Al Quran terjemah milik satu-satunya Musala Al Hikmah itu mudah. Namun, nyatanya tidak demikian yang terjadi. Dua kali Al Quran itu hilang. Kali pertama, dapat kembali, kendati dalam kondisi kertas kusut bekas basah dan tepian hangus terbakar. Kali berikutnya, raib bersama uang infak musala yang jumlahnya tak seberapa.

Kehilangan yang kedua kalinya, membuat Ahmad perlu menempuh jarak jauh, bahkan hingga ke Makassar di seberang lautan guna mendapatkan Al Quran pengganti. Perlu diketahui, walaupun penduduk di lingkungan tinggal Ahmad mayoritas memeluk agama Islam, namun tidak banyak yang memiliki Al Quran. Apalagi Al Quran yang disertai terjemahan bahasa Indonesia.

Dalam perjalanan itulah, Ahmad mengalami berbagai rintangan yang membuatnya terpaksa jatuh-bangun. Semuanya dilalui dengan tabah dan sikap pantang menyerah.

Di samping cerita yang menarik, ada hal lain dari novel ini yang layak dicermati, yakni banyaknya majas atau gaya bahasa bermakna kiasan yang digunakan dalam tuturan kisah. Misalnya majas personifikasi atau gaya bahasa yang membandingkan benda-benda tak bernyawa seolah-olah memiliki sifat dan sikap seperti manusia,

Kegelapan sepertinya sudah menyelimuti bumi.” (halaman 52).

Lilin yang menerangi kegelapan mereka ikut mengedip kecil seolah takut dengan kemarahan Ahmad.” (halaman 55).

Apinya bergoyang menari dalam dinginnya udara malam.” (halaman 57).

Tetesan hujan sekarang menghantam sekujur badan Ahmad.” (halaman 58).

Kemudian majas hiperbola atau gaya bahasa yang mengandung pernyataan berlebih-lebihan dengan maksud memperhebat kesan dan pengaruhnya,

“Makin mendidih rasanya dada Ahmad mendengar seruan yang tak enak.” (halaman 33).

Teriakan keras Ahmad membuat semua yang hadir mengerut.” (halaman 34).

Terbakar pula dadanya mendengar hardik yang cukup keras dari bocah lelaki di depannya.” (halaman 56).

“Ahmad tak dapat berucap apapun, gemuruh jantungnya meledak-ledak.” (halaman 61).

Ada juga majas perumpamaan atau gaya bahasa membandingkan dua hal yang hakikatnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama,

“Lelaki bertubuh tinggi besar bercambang lebat dan berwajah sekeras karang.” (halaman 15-16).

“Diucapkannya salam dengan gelisah dan cuaca mendung di wajahnya.” (halaman 43).

“Umar menjelaskan dengan wajah kecut.” (halaman 55).

Kilat masih menjadi lampu.” (halaman 58).

Ditemukan pula cukup banyak kalimat yang menggunakan pengulangan bunyi akhir. Contohnya,

“Ahmad meremas rambutnya sendiri. Kekhawatiran kembali melanda hidupnya kini. Mukanya sudah pucat pasi. Jantungnya berdebar-debar tiada henti.” (halaman 47).

“Bibirnya membiru, hanya seduhan madu, dan teh hangat yang singgah di situ.” (halaman 63).

Novel yang baik tidak cuma memberikan hiburan, tetapi juga dapat mengujarkan pelajaran bermakna tanpa menggurui. Dan Amanah Terindah memiliki dua hal ini.

 

*Thomas Utomo adalah guru SDN 1 Karangbanjar, Purbalingga, Jawa Tengah. Menulis novel Petualangan ke Tiga Negara  yang diterbitkan Indiva Media Kreasi. Dapat dihubungi lewat 085802460851 atau utomothomas@gmail.com.


Judul               : Amanah Terindah

Penulis             : Redhite Kurniawan

ISBN               : 978-602-6334-99-2

Harga               : Rp 39.000.-

 

Novel ini merupakan pemenang naskah buku pengayaan Puskurbuk Kemendikbud 2013. Novel anak sarat hikmah ini menceritakan tentang Ahmad. Ahmad adalah seorang anak berumur empat belas tahun dari Desa Fior di Distrik Kokas, Kabupaten Fak-fak, Papua Barat. Satu di antara desa dengan komunitas muslim yang ada di Papua. Ia dan lima anak lainnya adalah murid mengaji di mushola al-Hikmah, dengan guru mengajinya yang bernama Ustadz Ali.

Suatu ketika, Ustadz Ali pergi ke Kaimana untuk mengantar saudaranya yang akan berhaji. Ahmad disuruh ustadz untuk menggantikan dirinya sementara mengajar mengaji teman-temannya. Serta diamanahi untuk menjaga Al-Qur’an terjemahan yang sangat berharga bagi Ustadz Ali.

Pada suatu hari, Al-Quran terjemahan itu hilang. Ahmad pusing tujuh keliling dibuatnya. Apakah Ahmad berhasil menemukan kembali Al-Quran tersebut? Segera temukan jawabannya dalam buku ini, ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *