Asyiknya Mengenal Suku Pedalaman Indonesia Lewat Novel

Indonesia dikenal sebagai negara dengan beragam pulau dan budaya. Keberagaman budaya tak menjadikan Indonesia ‘susah’ mengatur rakyatnya. Justru, keberagaman menjadi alat pemersatu. Keberagaman yang jika dipelajari akan menimbulkan semangat nasionalisme yang tinggi. Jika ada percik-percik perpecahan, itu hanya segelintir saja. Sebagian besar lain, atau hampir semua tak menginginkan perpecahan di negeri ini.

Indonesia terdiri atas beragam budaya. Baik suku, bahasa, rumah adat, pakaian, senjata, lagu, dan yang lainnya. Rasa saling menghormati dan memiliki menjadikan budaya lestari dengan sendirinya. Jika membahas tentang suku, maka yang muncul adalah Suku Jawa, Bugis, Dayak, atau Batak. Itu adalah suku-suku yang sering muncul dan disebut. Padahal Indonesia mempunyai lebih dari 300 suku, banyak di antaranya adalah suku terasing. Salah satunya adalah Suku Anak Dalam.

Suku Dalam hidup dan menetap di rimba Sumatra. Di antaranya di Jambi, Riau, dan Kepulauan Riau. Suku Anak Dalam dulu hidup secara berpindah-pindah. Dari satu hutan ke hutan lain. Hal ini disebabkan, dulu mereka menggantungkan hidupnya dengan cara berburu. Namun, sekarang mereka telah menetap di satu tempat. Mereka mulai bercocok tanam. Jika dulu mereka enggan keluar dari rimba dan mengenal dunia luar. Maka kini mereka sudah mulai membuka diri. Mereka mulai keluar dari rimba dan mengenal masyarakat ‘modern’ yang tentunya berbeda dengan kebiasaan mereka.

Di Indonesia, tak banyak buku fiksi yang membahas soal suku pedalaman. Kemunculan novel anak Pesan Rahasia dari Hutan Rimba menjadi salah satu ‘kemajuan’ yang mengangkat tema seputar peradaban. Suku terasing bisa disebut sisa peradaban masa lalu yang masih bertahan walau sudah melewati banyak waktu. Dalam novel anak ini disebutkan bahwa sang tokoh utama, Zen, sedang berlibur di rumah pamannya di Jambi. Rumah Paman Zen berada di tepi rimba. Rasa ingin bertualang Zen seakan bangkit. Pada dasarnya Zen adalah anak yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Jadilah dia dan dua temannya bertualang atau lebih tepatnya tersesat di rimba raya. Sebelum masuk ke rimba, berkali-kali Zein mendapati warga suku Anak Dalam keluar rimba. Mereka keluar rimba dalam rangka mencari makanan.

Bukti bahwa Suku Anak Dalam sudah mulai mengenal dunia luar dan mau bersinggungan dengan masyarakat ‘modern’ dibahas dalam novel:

“Dia mau menjual madu rupanya, Ruli,” kata Ahmad kepada Ruli.

“Iya,” jawab Ruli pendek. Lalu bergegas meniti anak tangga untuk turun ke bawah.

Rupanya botol yang dibawa anak laki-laki itu berisi madu. Botol itu seukuran botol air mineral ukuran kecil. (halaman 22)

Selain menjual madu, ternyata Suku Anak Dalam ada pula yang mencari makan dengan berkeliling di kampung penduduk dengan membawa bakul di punggung.

Ahmad memasukkan talas ke dalam bakul-bakul yang tetap tergendong di punggung perempuan rimba. Semua mendapatkan bagian yang sama. Benar, bakul-bakul mereka masih kosong. Talas dari Ahmad merupakan bahan makanan pertama yang mereka dapatkan hari ini. Mereka melanjutkan langkah menuju arah perkampungan.

(halaman 35)

Tak hanya membahas tentang cara Suku Anak Dalam memperoleh makanan. Kecerdasan penulis makin terlihat di bab akhir. Bagaimana penulis mampu ‘menyindir’ pemerintah pusat yang dalam novel ini disebut ‘Rajo Pusat’. Seperti yang telah kita ketahui, setiap tahun rimba di Sumatra dan Kalimantan selalu masuk di pemberitaan dengan kebakaran dasyatnya. Inilah yang menjadikan kekhawatiran Suku Anak Dalam. Suku Anak Dalam meminta bantuan Zen untuk menyampaikan pesan agar Rajo Pusat mau memperhatikan habitat mereka, yakni rimba raya. Rimba, tempat tinggal mereka semakin lama semakin gundul. Jika penebangan dan (pem)bakar(an) hutan terus berlangsung, lalu akan ke mana mereka tinggal?

“Rajo,” Pumboni berkata. Dia sudah berada di sebelah Zen lagi. “Tolong sampaikan kepada Rajo Pusat di Jakarta. Mohon selamatkan rimbo kami. Kalau rimbo kami punah, ke mana kami nak mencari makan?” lanjutnya. (halaman 115)

Secara keseluruhan, novel ini sangat layak diapreasiasi. Pengangkatan suku pedalaman sudah menjadi poin plus tersendiri. Ditambah lagi dengan pengetahuan-pengetahuan seputar kehidupan Suku Anak Dalam. Kekurangan seperti typo pun menjadi terampuni. Anak Indonesia ataupun yang sudah dewasa sangat direkomendasikan membaca buku ini. (Awe)

 

Pesan Rahasia dr hutan rimbaJudul                           : Pesan Rahasia dari Hutan Rimba

Penulis                         : Wahyu Noor S.

Penerbit                       : Lintang Indiva

ISBN                           : 978-602-6334-12-1

Jumlah halaman           : 128

Ukuran buku               : 14 cm x 20 cm

Harga                          : Rp 30.000,00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *