BUKAN SEPASANG MALAIKAT: APA KABAR PERNIKAHAN KITA?

Apa kabar pernikahan kita?

Mari kita membayangkan bagaimana rasanya berjalan ke suatu tempat yang jauh tanpa berhenti untuk beristirahat. Tanpa membawa bekal, tanpa membuat rencana-rencana di mana saja kita akan singgah selama perjalanan kita, dan tanpa membawa peta perjalanan yang sesekali dapat kita tilik sebagai panduan. Ditambah lagi, kita tak dapat berkomunikasi dengan baik dan menyenangkan dengan teman seperjalanan. Pff … pasti kita merasa begitu jenuh, lelah, dan segala perasaan tidak nyaman lainnya. Akibatnya? Boleh jadi kita akan sampai meskipun dengan sisa tenaga dan kelelahan psikis yang luar biasa. Atau kita ‘mutung’ atau mogok di tengah jalan, kembali pulang. Kita malas melanjutkan perjalanan, kehilangan teman seperjalanan, dan kembali pulang dengan … sepi.

Begitu pula dengan pernikahan kita. Dia adalah perjalanan panjang dalam satu fase hidup seseorang. Dia berpotensi menjadi perjalanan yang menyenangkan, ditempuh dengan penuh gairah, penuh rencana-rencana sehingga setiap tapak langkahnya menjadi pemicu menuju tujuan akhir dari pernikahan itu sendiri. Setiap halangan dalam menempuhnya tetap dilakoni dengan penuh kerelaan. Sebab, kita dan ‘teman seperjalanan’ kita menempuhnya dengan penuh cita-cita dan keyakinan yang sama. Namun, pernikahan dapat pula menjadi seperti gambaran perjalanan di atas yang membuahkan kebosanan, kemandegan, hilangnya gairah, menurunnya potensi diri dan—yang lebih menyedihkan—pernikahan itu terhenti, gagal, rusak sebelum sampai pada tujuan akhirnya.

Kita dan pasangan kita adalah lakon dari perjalanan panjang bernama pernikahan yang telah kita sepakati untuk dijalani. Biduk yang telah kita tumpangi bersama itu akan berlabuh di samudra kehidupan yang penuh riak ombak maupun gelombang dan badai.

Pernikahan kita sepertinya perlu kita sapa kembali. Bagaikan biduk atau kapal tadi, pernikahan kita perlu dibersihkan, dicat kembali, diperiksa mesinnya, nahkoda dan seluruh awaknya harus mengevaluasi mana yang perlu diperbaiki, mengomunikasikan semua hal yang dapat menghambat lajunya. Dan yang paling penting, jangan sampai para awak dalam kapal itu melubangi kapal sehingga air masuk dan menenggelamkannya! Ah … sudahlah kita berandai-andai tentang perumpamaan-perumpamaan tentang pernikahan.

Saya hanya ingin mengajak berbagi, bernostalgia, atau bahkan mengevalusi pernikahan kita yang berusia muda. Jika menyemangati untuk menikah muda telah banyak menjadi fenomena dan banyak terbahas di banyak buku, saya sepertinya tak ingin banyak menambah hal-hal idealis dalam pernikahan usia muda, meskipun tentu boleh-boleh saja saya mengulasnya sedikit sebagai pengingat.

Banyak orang mengatakan pernikahan akan matang setelah lima tahun. Di usia itu, kata banyak orang, sebuah rumah tangga telah melewati ‘fase aman’ pertamanya. Pun begitu, ternyata tak semua orang mengamini pendapat tersebut. Karena semua sangat tergantung kesiapan dan pola komunikasi yang terbangun antarsuami istri. Ada pasangan yang dapat dengan cepat beradaptasi dan membangun komunikasi yang sehat. Sehinggga tak harus menanti hingga usia pernikahan yang kelima, mereka telah dapat beradaptasi. Demikian sebaliknya, betapa banyak pasangan yang hingga dua puluh lima tahun atau bahkan lebih usia pernikahannya, selalu merasa tidak ‘bahagia’ disebabkan karena kegagalan komunikasi atau timpangnya tuntutan hak dan kewajiban. Tentang ini, insya Allah saya ingin membaginya dalam salah satu bahasan di buku ini.

Pernikahan pun melahirkan relasi-relasi sosial yang unik. Sebagaimana keluarga adalah sebuah potret masyarakat terkecil, pernikahan menuntut keluwesan-keluwesan yang harus kita miliki dalam bergaul. Pernikahan melahirkan hak dan kewajiban tidak saja pada pasangan, namun juga pada keluarga besar, anak, tetangga, maupun masyarakat di sekitar kita. Pengalaman-pengalaman membina hubungan itulah yang ingin saya ceritakan di buku ini dan semoga memberi manfaat.

Memang, saya bukan ‘pakar konsultan pernikahan’. Saya pun tidak berani menjamin bahwa pernikahan saya ideal, lancar-lancar saja, tanpa konflik, tanpa gelombang. Ah … justru tidak unik jika standar ‘bahagia’ dalam pernikahan adalah bebas hambatan, tanpa marah, tanpa ada cemburu, atau tanpa ada konflik. Baiklah … semoga buku ini menjadi teman berbagi. Bagi saya, ini adalah sebuah catatan perjalanan yang masih sangat mungkin berubah-ubah, namun menjadi evaluasi kecil di setiap jenjang pernikahan selanjutnya. Sengaja saya tuliskan buku ini layaknya sebuah catatan harian agar lepas dari kesan menggurui dan benar-benar menjadikan Anda—pembaca—sebagai sahabat-sahabat saya berbagi inspirasi.

Alhamdulillah, buku ini mempunyai banyak kesan dalam penyelesaiannya: di saat kami telah berputra tiga, di usia pernikahan tujuh tahun, dan di usia saya yang memasuki 30 tahun. Semoga menjadi keberkahan. Terhatur syukur, terima kasih, dan cinta tak lekang untuk suami tercinta, Hatta Syamsuddin, Lc, yang telah memilih saya menjadi ibu dari anak-anaknya. Untuk benih peradaban yang Allah percayakan pada kami untuk bertumbuh dalam asuhan kami (Kuni Maura Ahna, Salma Haniyya, dan yang baru satu tahun menatap dunia, Farwah Awwab Hafidz). Kepada Almarhumah Ibu saya, Aisyah Abdullah Thufail, yang menginspirasi banyak hal kebaikan, ketegaran, dan semangat. Kepada Abah, M. Farzan Ali, yang dari beliau, saya melihat semangat, optimisme, tawakal, dan kebesaran jiwa seorang laki-laki, suami dan ayah. Kepada adik-adikku, Abudzar M. Iqbal (semoga bersegera menggenapkan separuh agama, menemukan partner hidup), M. Zamira dan suami tercintanya M. Mirza, dan si kecil Althaf. Terima kasih telah menjadi sahabat dan teman belajar yang saling menguatkan.

Terima kasih kepada keluarga Bapak M. Taufikul Kamal dan Ibu Husnil Hami atas cinta tulus dan dukungannya. Mas Falih-Mbak Nuke, Mas Isnan-Mbak Anis, Dek Abim-Dek Ipung, dan semua keponakan atas kasih sayang, saling nasihat, dan kekompakan.

Dan untuk semua murabbiyah, juga ustadz-ustadzah yang memberikan inspirasi. Untuk semua orang yang dari mereka, saya memetik pelajaran dan hikmah tentang banyak hal dalam mengarungi hidup dan rumah tangga. Semoga Allah mengalirkan kebaikan dan berkah.

Akhirnya, saya hanyalah manusia biasa, seorang yang masih memerlukan banyak nasihat, saran, dan kritikan. Tak ada gading yang tak retak. Semoga kita dapat saling berbagi pelajaran dan memperbaiki diri. Amiin. (Mbak Vida)


sepasang malaikat

 

JUDUL: BUKAN SEPASANG MALAIKAT
—-
Penulis: Vida Robi’ah Al-Adawiyah
Tebal: 256 halaman
—-
Sinopsis
Seperti yang kutulis, kita bukan sepasang malaikat. Jadi kita mengalami banyak peristiwa di sepanjang pernikahan kita. Siapa bilang bahagia itu tanpa air mata dan gulana? Bukankah pelangi terbit setelah mendung dan hujan? Aku sedang mencoba merangkum bahwa kita dapat mereguk hikmah dari nestapa. Dan bersama kita dapat menghalau mendung dari rumah kita, lalu kita lukis pelangi dengan warna cinta.
****
Kala suami dan istri disatukan dalam ikatan pernikahan, ikatan suci itu telah menghalalkan hubungan laki-laki dan perempuan. Pernikahan itu akan melahirkan relasi-relasi sosial yang unik, mulai dari hubungan Anda dengan pasangan, anak-anak, keluarga besar, hingga masyarakat sekitar Anda. Butuh keluwesan, strategi, kesabaran, dan yang terpenting adalah ilmu, untuk menaklukkan problematika tersebut.
Justru karena Anda dan pasangan Anda bukan malaikat, maka Anda akan sanggup melakukannya. Selamat membaca, merenung, dan mengambil manfaat dari buku luar biasa ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *