Proses Kreatif Novel Sajak Rindu (Lontara Cinta dari Sindereng)

 

Semangat dan inspirasi adalah hal yang menular. Medianya bermacam-macam. Salah satunya adalah lewat novel. Di pengujung tahun 2016 ini, Penerbit Indiva kembali menghadirkan bacaan yang akan menyuntikkan semangat dan inspirasi pada kalian. Apa itu? Dialah Sajak Rindu: Lontara Cinta dari Sidenreng, ditulis oleh novelis prestatif, S. Gegge Mappangewa.

Prestatif? Begitulah. Mas Gegge punya sederet penghargaan tingkat nasional. Apa saja prestasi beliau? Check it out!!

Juara I Lomba Penulisan Cerita Rakyat Kemendikbud 2015, Peraih Penghargaan Sastra Acarya 2015 (Penghargaan Sastra Untuk Pendidik dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa),  Juara I Lomba Menulis Esai Kategori Guru Tingkat Provinsi Sulselbar 2015 dan menjadi wakil provinsi untuk ikut Gerakan Indonesia Membaca Menulis di Jakarta,  Juara I Kompetisi Tulis Nusantara Kemenparekraf 2014 kategori nonfiksi, Peraih IBF (Islamic Book Fair) Award 2013 dengan novel Lontara Rindu sebagai Buku Islam Terbaik Kategori Fiksi Dewasa, Juara I  Lomba Menulis Novel Republika 2011, Juara Harapan Lomba Menulis Cerpen Anak oleh Guru Majalah Bobo 2011, Juara I Lomba Menulis Cerita Pendek Islami Tingkat Nasional Majalah (LMCPI) Annida 2008, Juara III Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional Aneka Yess! 2002, dan Pemenang Harapan Lomba Menulis Cerita Pendek Remaja Tingkat Nasional Rohto 2008.

Woa … banyaaaknya ….

Nah, kali ini Mas Gegge akan bercerita tentang proses kreatif dari novel Sajak Rindu dari Sidenreng.sajak-rindu

Novel ini adalah hadiah dari kesabaranku merawat mimpi untuk menjadi penulis. Memang bukan novel pertamaku, tapi di novel ini aku mendatangi kembali semua latar yang ada dalam novel ini. Kupotret kembali semua sesenti demi sesenti, lalu mendeskripsikannya senyata mungkin.

Novel ini pernah terbit dengan judul Lontara Rindu pada tahun 2013. Dua penghargaan tingkat nasional kuraih, dan menjadi hadiah untukku yang mampu merawat kenangan. Beberapa penggalan kisah di novel ini kuambil dari bagian masa laluku. Ketika ayah sakit dan saya yang masih SD menggantikan beliau menggembalai kerbau. Dan ternyata saya salah menggembalai, karena yang kujaga milik orang lain yang kebetulan jumlahnya sama dengan kerbau ayah.

Tentang danau kering yang berubah menjadi kebun, tentang sekolah di Pakka salo, dan segala kenangan yang pernah hadir di masa lalu. Kenangan masa kecil hingga remaja di kampung dan pengalaman mengajar di kota besar. Semua kupadukan dalam kisah yang mengangkat Bugis sebagai latar budayanya. Agak mudah bagiku untuk memotret budaya Bugis karena saya lahir di tengah-tengahnya. Bukan hanya menuliskan hal yang paling kuketahui, tapi juga menyajikan hal yang belum banyak diketahui pembaca tentang Bugis, kenangan, cinta, luka, dan rindu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *