DARI KELUARGA, MENCETAK ANAK BERKARAKTER

Sumber Gambar: Pixabay

 

Oleh: Supadilah

Banyak sejarah mengabarkan bahwa pencapaian gemilang seseorang sebagian besarnya dilakukan dari pondasi keluarga yang solid. Sebaliknya keluarga yang tercerai-berai,  menghasilkan anggota keluarga yang lemah, tanpa karakter dan tidak memiliki visi misi dalam kehidupan. Membentuk keluarga bukanlah hal yang mudah. Setiap orang harus mengilmuinya. Buku ini mengajak kita untuk mempersiapkan keluarga agar terbentuk keluarga yang diidamkan. Menjadi panduan bagi siapapun untuk mewujudkan keluarga yang kokoh.

Setiap keluarga harus menganggap pembentukan akhlak sebagai pondasi utama di atas karakter-karakter lainnya. Seorang anak yang telah terbentuk karakter di rumah, dia akan lebih tahan terhadap berbagai pengaruh kuat dari lingkungan.

Buku ini memberikan pandangan tentang pentingnya usaha menciptakan dan menjaga keluarga yang kuat dengan berbagai karakternya. Pembahasan meliputi tugas bunda, ayah, dan tentang keluarga.

Terhadap perkembangan teknologi yang acapkali membawa pengaruh buruk, penulia mengatakan pentingnya koordinasi setiap anggota keluarga. Bila memutuskan untuk meniadakan internet, televisi, facebook,  atau handphone canggih, berikan pula alasan yang dapat diterima sesuai usia perkembangan (halaman 26). Tentu akan lebih baik jika larangan atau pembatasan disertai pemahaman agar setiap yang dilakukan dilandaskan dengan kesadaran.

Bersabarlah dalam menjelaskan. Sediakan waktu diskusi. Jangan lupa membimbing anak melakukan hal berharga ini. Rumah merupakan tempat membentuk karakter, termasuk menjaga kebersihan. Menjaga kebersihan bukan berarti memangkas aktivitas anak: anak yang masih kecil tak boleh menjatuhkan remah-remah, tak boleh menjatuhkan air susu atau lainnya. Hal yang terpenting adalah memberi tahu anak untuk bertanggung jawab menjaga membersihkan saat beraktivitas.

Bunda merupakan muara pengetahuan yang memberikan anak tentang kehidupan.Bunda yang memiliki segudang aktivitas dapat berbagi peran dengan anggota rumah lainnya agar beban bukan hanya di pundak bunda seorang. Kadang para Ayah memang sulit membangun kedekatan emosi dengan anak karena keterbatasan waktu Ayah di rumah. Namun Ayah dapat menyisihkan waktu beberapa saat menemani anak melakukan aktivitas kegiatan ini nya menjadi saat-saat istimewa bagi ayah dan anak. (halaman 57).

Buku ini juga memberikan penyadaran kepada kita bahwa seringkali orang tua tidak adil.

Ketika anaknya nakal apa yang dilakukan orang tua? Mungkin curhat ke wali kelas, guru BK atau mencari bantuan ke psikolog. Lantas apa yang dilakukan anak ketika orang tua nakal? Apakah anak berhak membawa orang tuanya ke psikolog atau konseling?

Maka ketika anak bermasalah janganlah menyalahkan sana sini, menyalahkan guru yang tidak becus mendidik, atau menyalahkan sekolah yang tidak bisa mengadaptasi kurikulum atau teman-teman yang membawa pengaruh buruk. Yang terbaik adalah introspeksi. Jangan-jangan kita sedang jauh dari tuhan, jauh dari ibadah karena itu dampak negatif itulah yang akan memberikan kepada kita. Dampak mendekatkan diri pada tuhan adalah hadirnya ketenangan. Perlu disadari juga bahwa anak nakal merupakan periode yang harus dilalui. Dengan kesadaran dan kerja sama maka akan memberikan pelajaran yang berharga.


SKETSA CINTA BUNDA


 

Judul               : Sketsa Cinta Bunda

Penulis             : Sinta Yudisia

Penerbit           : Indiva

Cetakan           : 2014

Tebal               : 120 halaman

ISBN               : 978-602-161-421-1

 

Menjadi seorang ibu adalah anugerah. Allah telah menunjuk kita untuk menjadi pendamping lahir dan tumbuhnya insan-insan pilihan yang akan mengemban tugas besar sebagai pengelola alam semesta. Pada seorang bunda yang bijaksana, generasi emas tercetak dan memberi sumbangan besar bagi kejayaan sebuah peradaban.

Tetapi, tentu tak mudah menjadi seorang ibu yang baik. Sinta Yudisia, seorang penulis yang sekaligus belajar psikologi, ibu dari 4 putera, mencoba membagi pengalamannya selama mendampingi putera- puterinya bertumbuh di alam yang penuh dinamika. Bagi Sinta, menjadi ibu adalah sebuah proses belajar tanpa mengenal batas waktu.

Karena itu, pada setiap detik waktu yang terlewat, selalu saja ada momen yang menarik untuk direnungkan dan dibagi. Hal itulah yang membuat buku ini sungguh penting untuk dibaca baik oleh para ibu, maupun calon ibu, bahkan juga para pendamping kaum ibu. Selamat membaca!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *