Di Balik Cerita Syukurilah Hidup Rayakanlah Cinta

Syukurilah Hidup Rayakanlah Cinta

Buku ini merekam banyak cerita. Pertama, tentang buku perdana saya.

Begini, pada 2006, saya datang pertama kali ke Bandung. Selain baju-baju, saya juga membawa dua buah buku. Salah satunya berjudul How To Be a Smart Writer karya Afifah Afra yang saya beli saat perpisahan di SMA –buku itu sekarang hilang entah ke mana. Di Bandung –juga Jatinangor buku itu selalu saya bawa di dalam tas. Kepada setiap orang, saya mengenalkan diri sebagai penulis. Saya juga tidak tahu dorongan semacam apa yang membuat saya berbuat demikian. Mungkin karena sewaktu SMA di Pandeglang, saya sudah sering menjadi juara lomba menulis cerita.

Sialnya, tak lama setelah pengakuan pertama sebagai penulis saya deklarasikan, panitia acara kemahasiswaan dari Fakultas Pertanian Unpad mengundang saya untuk menjadi pembicara –rupanya pengakuan saya menyebar ke mana-mana. Tepatnya acara seminar kepenulisan. Celaka! Mana saya belum punya buku satu pun lagi! Artikel muat di media massa juga, boro-boro!

Kebetulan, acara di mana saya diundang diundur waktunya ke tiga bulan yang akan datang. Itu kesempatan buat saya. Namun, itu tidak saya lakukan. Selama dua bulan itu, saya bekerja keras menulis. Saya wawancarai banyak orang .Siapa saja. Saya memaksa mereka untuk bercerita tentang kisah-kisah yang menginspirasi mereka. Saya sama sekali tidak memedulikan darimana kisah yang mereka ceritakan itu berasal. Saya pun berhasil mengumpulkan cerita dari lisan orang-orang yang saya temui. Saya kemudian meramunya, menulis ulang dengan sudut penceritaan yang berbeda.

Saya nebeng ngetik dari satu komputer ke komputer milik teman kuliah. Sembilan belas hari lamanya. Alhamdulillah, satu naskah setebal delapan puluhan halaman spasi satu koma lima berhasil saya selesaikan. Dengan editing seadanya, naskah itu pun saya kirim ke penerbit. Kurang lebih sepuluh hari kemudian, handphone saya berdering. Sebuah suara perempuan mengenalkan diri dan mengabarkan bahwa naskah yang saya kirimkan sudah diputuskan untuk diterbitkan. Judulnya Beginilah Seharusnya Hidup. Penerbitnya Indiva Media Kreasi. Dan yang menghubungi saya pada medio 2007 itu adalah Afifah Afra.

Kedua, tentu buku ini sendiri.

Buku ini adalah hasil perasan dari dua buku saya yang pernah diterbitkan Indiva Media Kreasi, yakni Beginilah Seharusnya Hidup (2007) dan Beginilah Seharusnya Cinta (2010). Tentu dengan bahasa dan sudut penceritaan yang lebih dewasa. Dalam pengantar buku BSC, saya sempat berwacana akan membuat serial ketiga. Wacana tersebut akhirnya terwujud enam tahun kemudian. Itupun setelah Mbak Afifah Afra sudah tak mengenal saya lagi. Dulu, Mbak Afra mengenal saya sebagai Fatih Beeman. Ketika saya menjadi Fatih Zam, rupanya Mbak Afra tidak tahu sama sekali. Hehehe.

Ada banyak orang yang telah berperan besar dalam hidup saya, setelah kedua orangtua tentunya. Di lembaran ini, saya ingin menyebut nama mereka.

Pertama, tentu saja Mbak Afifah Afra yang sudah memberi kepercayaan kepada saya. Dua kali malah. Setulus hati, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih. Kedua, Mas Tasaro GK yang sudah memberi saya banyak pelajaran dan pengalaman. Ketiga, Irma Zakiyah, istri saya tercinta. Dialah yang telah menyalakan kembali semangat saya untuk menulis, setelah selama dua tahun vakum karena terkonsentrasi studi master.

Akhirnya, tiada gading yang tak retak. Naskah ini masih banyak kekurangan, sama dengan penulisnya. Anda pun barangkali akan merasa bahwa kisah-kisah dalam buku ini pernah Anda baca atau dengar. Sejatinya, kisah-kisah dalam buku ini memang milik bersama. Kita bisa memperolehnya darimana saja. Saya hanya mengubah sudut pandangnya, mengukur panjang-pendek ceritanya, dan memberikan suspensi agar hikmahnya semakin terasa.

Sekali lagi, terima kasih. Selamat membaca!


Fatih Zam

fatih zam

Fatih Zam (Atih Ardiansyah) lahir di Pandeglang, 12 Juni 1987. Dia merampungkan studi pendidikan dasar dan menengah di Pandeglang. Kemudian studi jenjang S1 di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran (2011) dan S2 di Prodi Ilmu Komunikasi (konsentrasi Ilmu Komunikasi Politik) di Universitas Islam Bandung (2016).

Saat ini dia adalah dosen Ilmu Komunikasi di FISIP Universitas Mathla’ul Anwar, Banten. Selain mengajar, dia dan istrinya aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis literasi dengan mendirikan TBM INDUNG di Pulosari, Pandeglang Banten.

Jika ingin mengenal lebih dekat, silakan follow Twitter: @silihatih atau kirim pesan ke email: fatihzam@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *