DIBIKIN KETAWA AJA!

Sumber gambar: Pixabay

Oleh: Boim Lebon*

Jadi awalnya dalam Musyawarah Nasional Forum Lingkar Pena, di Bandung, pada 3-5 November 2017 lalu, digelar pula beberapa workshop peserta munas nondelegasi, diantaranya workshop menulis cerita humor bersama saya.

Panitia menghubungi saya meminta saya mengisi workshop menulis cerita berbau humor tersebut dan karena saya emang suka humor, belum ditelepon saya udah setuju, apalagi begitu ditelpon, saya langsung ngangkat jempol tanda oke! Hehe.

“Ya, siaplah!” jawab saya dari bumi Tangerang menjawab sang panitia yang menelepon dari bumi Parahiyangan!

Panitia ngasih judul workshopnya konyol banget, Workshop: Dibikin Ketawa Aja! Bersama Boim Lebon. 

Setelah ditelepon panitia, saya kemudian mikir, gimana biar peserta workshop tambah semangat, hm, gimana kalau cerita hasil dari workshop dibukukan aja? Pastilah para peserta tambah semangat kan?

Lalu saya menghubungi Mbak Afifa Afra yang menggawangi Penerbit Indiva dikota Solo. Alhamdulillah Mbak Afifah setuju. Maka segera info hasil workshop menulis cerpen humor akan dibukukan saya sampaikan kepada calon peserta, dan luar biasa, mereka betul-betul jadi tambah semangat! Yang tadinya belum daftar jadi daftar, bahkan yang sudah daftar, saking semangatnya jadi daftar dua kali!  Hihi.

Akhirnya tersaing sekitar 40-an peserta.Mereka itu adalah anggota FLP (Forum Lingkar Pena) nondelegasi MUNAS yang berasal dari FLP Sumatera Utara, FLP Riau, FLP Sumatera Selatan, FLP Jambi, FLP Lampung, FLP Jakarta Raya, FLP Jawa Barat, FLP Jawa Tengah, FLP Jawa Timur, FLP Bali, dan juga peserta dari luar anggota FLP yang memang ingin ikut workshop bersama saya!

Alhamdulillah, akhirnya wokshopnya mulai juga!” ujar mereka nyaris serempak begitu saya tiba di kelas.

Langsung sambutan mereka saya sapa balik, “Apakah kalian sudah siap bikin cerita horor, eh, humooor?”

“Siaaap!”

Dalam pembukaan, saya langsung pancing perkenalan dengan sebuah cerita humor yang berasal dari pengalaman pribadi, tentu saja pengalaman lucu yang kalau diceritakan  mengundang tawa. Para peserta ketawa senang mendengar cerita pengalaman-pengalaman pribadi saya. Ini membuktikan bahwa pengalaman yang saya ceritakan ini lucu dan mengandung unsur humor!

Selanjutnya saya minta mereka juga menyiapkan sebuah kisah humor yang berasal dari pengalaman mereka.

“Ayo, sekarang gantian kalian cerita pengalaman kalian yang lucu!” pinta saya.

Para peserta tampak kasak-kusuk, sepertinya mulai kewalahan.

Eh, pengalaman yang mana, ya?” tanya seorang pesert

“Pengalaman seperti apa yang bisa mengandung unsur humor?” tanya peserta yang lain.

Bahkan mereka menajadi ragu-ragu, “Jangan-jangan cerita pengalaman saya nggak lucu.”

Saya langsung memotivasi mereka agar berani bercerita. Jangan takut nggak lucu. Jangan ragu-ragu. Cerita aja dulu. Nanti kalau nggak lucu, saya kasih tahu gimana caranya biar lucu.

Mereka tetap berpikir keras, sampai akhirnya semua peserta menyadari bahwa  menyampaikan sesuatu yang lucu itu perlu pengorbanan. Hehe.

Iya, pengorbanan pertama, adalah mengingat-ingat pengalaman-pengalaman lucu yang mereka miliki itu,pengorbanan berikutnya adalah berani memastikanapakah  pengalaman itu lucu atau tidak?

Hehe, bingung kan?

Jadi gini, sebuah pengalaman itu bisa dianggap lucu atau bahkan sebaliknya, asalkan sudah dibuktikan dengan cara menceritakannya di depan banyak orang.

Jadi ceritain dulu. Kalau orang yang mendengarnyatersenyum atau tertawa bisa  dipastikan bahwa cerita pengalaman itu lucu! Kalau pendengarnya diam aja atau bahkan tertidur, berarti pengalaman itu tidak lucu. Nah, mudah kan?

Jadi, kita harus terbiasa menganalisis sebuah peristiwa yang pernah kita alami sebagai sesuatu yang mengandung unsur humor atau tidak?

Jadi kalau kita menemukan peristiwa lucu, ceritakanlah apa adanya. Misalnya di jalan melihat ada orang yang bersin tapi nggak jadi bersin, melihat ada orang yang jalannya meleng terus kesandung,  melihat emak-emak naik motor salah ngasih lampu sen, melihat sekeluarga mudik naik motor, anaknya naik di tas kardus, terus kardusnya naik di atas istrinya, melihat ekspresi anak kecil yang makan tahu isi cabe rawit dan langsung kepedasan serta megap-megap, menyaksikan adegan pernikahan, tapi calon suaminya nervous, dan banyak lagi kejadian-kejadian lucu yang pernah kita lihat dan kita alami. Catat dan ingat, lalu ceritakan kembali ke siapa aja.

Di sini peserta mulai paham. Mereka lalu mengingat-ingat kejadian lucu yang penah mereka alami. Namun, sebelum mereka ceitakan di depan kelas, saya meminta mereka menuliskannya terlebih dahulu.

Saya bilang biasakanlah apabila melihat kejadian lucu catat dan tuliskan lalu sampaikan secara lisan. Keduanya sama-sama penting, karena keduanya bisa melatih  kemampuan menulis  dan kemampuan berbicara.

Kemudian saya lanjutkan dengancerita tentang pengalaman masa kecil, pengalaman remaja, pengalaman ketika jadi model, pengalaman naksir cewek tapi ditolak melulu, dan pengalaman lain-lainnya.

Ternyata proses perkenalan bisa menghasilkan ide-ide humor menarik, maka langsung saja saya kasih tugas tambahan yaitu membuat naskah singkat perkenalan diri dengan cara kreatif.

Masing-masing menyiapkan di secarik kertas untuk memperkenalkan diri.  Akhirnya muncul istilah Mataram alias Madura Tanah Garam… dari seorang peserta asal Madura yang ikutan workshop itu, yang tentu saja membuat seisi kelas jadi tersenyum.

Simpulanya, dari ke40an peserta yang ikut itu,  mulai tercium  aroma lucunya. Ya, mereka mulai berani menyampaikan sesuatu yang lucu di depan kelas. Mereka juga mulai berani mencatat memori-memori lucu yang pernah mereka alami.

Menulis cerita humor dibutuhkan sense of humor, rasa lucu terhadap sesuatu. Nah rasa lucu ini bisa dilatih.

Selanjutnya saya membekali para peserta dengan tambahan resep menulis karakter … karena menulis cerita humor bisa terbangun dari sebuah karakter yang unik dan konyol.

Kalau saya nemu  karakter unik, maka otomotis akan melahirkan ide dari karakter itu untuk saya kembangkan menjadi sebuah cerita. Misalnya saja ketemu dengan orang galak yang kalo ngomong panjang banget kayak kereta api, langsung deh kebayang orang ini akan saya jadikan apa,  ketemu siapa serta harus bagaimana?

Begitu juga kalo ketemu orang yang hobi makeup, dikit-dikit rapiin makeup-nya, langsung kebayang juga untuk saya buatin ceritanya. Apalagi kalo kemudian karakter-karakter unik tadi digabung atau dikombinasikan, wah, pasti jadi cerita seru dan lucu

Itulah resep yang saya bagikan kepada para peserta workshop.

Intinya di dalam proses pembuatan cerita humor, bisa digabung antara sense of humor yang ada dalam diri pribadi, dengan feeling-feeling lucu, dan memori terhadap sesuatu yang lucu, dicampur lagi dengan karakter-karakter yang kita temukan, insya Allah akan menghasilkan cerita humor yang bagus!

Kemudian tak kalah menariknya lagi adalah, mengenai setting. Terkadang kelucuan itu terjadi juga lantaran setting tempat atau lokasi cerita itu terjadi. Misalnya saja, di tanah Sunda, di tanah Sumatera, di Tanah Madura, karena di setiap daerah punya gaya bicara dan sifat yagn berbeda-beda, jadi itu bisa dimanfaatkan dan menambah unsur humor dari cerita yang kita tulis. Makanya kumpulan cerita humor ini, selain lucu juga memiliki kekhasan lantaran setting lokasinya yang beragam.

Ada cerita yang kental dengan nuansa kota Sumedang dan Bandungnya, ada yang berbau Madura, ada yang mengangkat harumnya Jakarta, dan semerbaknya Medan dan Lombok.

Membaca buku ini semakin kaya wawasan. Nggak cuma sekadar tersenyum, tapi juga bisa meresapi betapa kayanya bumi Indonesia ini dan betapa banyak ide menarik yang bisa diangkat dari sekitar tempat yang ada di sekitar kita.

Karena membaca cerita lucu bisa jadi sarana untuk menghilangkan stres setelah capek sekolah atau kerja atau menjalani rutinitas harian; pada akhirnya membaca cerita lucu  itu menghadirkan hiburan sekaligus perenungan!

Barangkali itu saja kata pengantarnya, nggak usah terlalu lucu, karena yang lucu adalah adalah cerita-cerita di dalam buku ini. Selamat menikmati.

*Produser Sitcom OB OK di RCTI,  pengajar, penulis cerita komedi anak dan remaja, penasihat FLP Pusat.


PROFIL BUKU


Judul               : Pahlawan Tanpa Tanda Tangan

Penulis             : Boim Lebon, cs

ISBN               : 978-602-5701-47-4

Harga             : Rp 45.000,-

 

Ini kumpulan cerpen saya bersama anggota FLP. Ada cerita yang kental dengan nuansa kota Sumedang dan Bandungnya, ada yang berbau Madura, ada yang mengangkat harumnya Jakarta, serta semerbaknya Medan dan Lombok.

Membaca buku ini semakin kaya wawasan. Nggak cuma sekadar tersenyum, tapi juga bisa meresapi betapa kayanya bumi Indonesia ini dan betapa banyak ide menarik yang bisa diangkat dari sekitar tempat yang ada di sekitar kita.

Karena membaca cerita lucu bisa jadi sarana untuk menghilangkan stres setelah capek sekolah atau kerja atau menjalani rutinitas harian; pada akhirnya membaca cerita lucu  itu menghadirkan hiburan sekaligus perenungan!

Barangkali itu saja sinopsisnya, nggak usah terlalu lucu, karena yang lucu adalah adalah cerita-cerita di dalam buku ini. Selamat menikmati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *