INTIP 3 BAB PERTAMA NOVEL “FIGHTING SON SENG NIM!”

Well yeah, bukan rilisan baru memang. Tapi novel ini never get old. Yah, memang beraroma K-novel, akan tetapi Fighting Son Seng Nim bukan tipikal cheesy chick. Novel ini manis dan memiliki value yang akan mendorong pembaca merenung dan larut dalam manisnya persahabatan, bittersweet-nya kisah cinta yang kandas di tengah jalan, pertemuan dengan cinta sejati, dan pejuangan dalam menemukan jati diri.

Nah, sekarang silakan sediakan secangkir teh dan putar musik favoritmu untuk menemani membaca 3 bab pertama karya apik dari Nuraisah H ini.


SATU


Ini benar-benar hari yang hectic. Jalanan macet gara-gara ada mikrolet yang mogok di Mampang Prapatan. Terpaksa tadi aku naik ojek ke sekolah tempatku mengajar. Itu pun masih terlambat juga karena harus berjalan sekitar 100 meter ke pangkalan ojek. Di pintu sekolah, tepat di bawah plang Little Lolita yang berwarna pink, Kepala Sekolah yang kami panggil dengan panggilan Won Jang Nim[1] menyambutku dengan senyumnya yang penuh arti. Kuartikan itu sebagai, “Hebat ya, jam segini baru datang!”

Aku segera masuk ke ruang guru sebelum ditanya macam-macam. Sembilan teman guru lainnya menatapku dengan tatapan yang tidak jauh beda dengan tatapan Kepala Sekolah.

“Good morning!” sapaku dengan ceria, pura-pura tidak menyadari sinar mata mereka. Kumasukkan tas ke dalam laci mejaku. Segera kuperiksa post it yang kutempel di tembok depan mejaku untuk melihat material apa yang kuperlukan untuk pelajaran hari ini.

“Kamu udah tahu pembagian jatah kelas?” Esty, guru Indonesia yang juga sahabatku,  menghampiriku sambil berpura-pura memotong kertas karton asturo merah dengan pemotong kertas di meja sebelahku. Memang harus pakai taktik kalau tidak ingin ditegur guru-guru lain karena pagi-pagi sudah ngobrol.

“Pembagian kelas untuk tahun depan? Udah diumumkan ya?” tanyaku penuh semangat.

Dia mengangguk, “Kamu dan Anna dipindahkan ke sekolah baru di Tangerang.”

“Apa?!” spontan kuletakkan worksheet dan flashcards yang tadi sudah kurapikan dalam tray dan siap kubawa ke kelas. “No way! Siapa yang bilang?” aku ingin berteriak tapi kucoba menahan suaraku.

Won Jang Nim. Siapa lagi!”

Unbelievable! Kubawa media mengajarku ke kelas dengan kesal. Lagi-lagi guru-guru lain menatapku dengan tatapan yang sama. Aku baru sadar kalau tatapan mereka tadi bukan tatapan protes karena aku terlambat. Toh aku memang bukan tukang telat. Jadi, aneh saja kalau seandainya mereka langsung menatapku dengan sorot aneh hanya karena aku terlambat satu kali.

Tatapan mereka itu … tatapan prihatin karena aku akan “dilempar” ke Tangerang. Duh, masa seorang English Head Teacher ditempatkan di kampung-kampung sih! Ini tidak adil!

Cheon Kwi Young, guru partnerku menyusul masuk ke kelas dan menghampiriku. Dia tersenyum menghibur.

“I know you feel sad.”

“Aku nggak mau ke sana, Ssem[2]. Aku nggak pernah tahu Tangerang sebelumnya. Aku belum pernah ke sana. Nanti di mana aku akan tinggal? Anyway, Tangerang sangat jauh dari Jakarta. For God sake, mengapa harus aku sih!” aku mencak-mencak.

Bukannya menaruh simpati, dia malah tertawa terkikik dengan tingkahku, “Won Jang Nim bilang seorang guru senior harus ditempatkan di sekolah baru. Kamu ini guru senior, sudah tahu sistem pengajaran di Little Lolita. Kamu diperlukan di sana sebagai icon sekolah.”

Icon? Aku bukan icon. Aku nggak mau jadi icon.” Aku menggerutu.

“Kamu nggak akan sendirian. Anna juga akan pergi bersamamu, kan?”

“Dan mengapa harus bersama Anna? She’s not even senior.”

“Ya, aku tahu sebenarnya kamu mau Esty yang dikirim denganmu. Tapi tidak perlu dua guru senior untuk satu sekolah, Teacher Fatima. Esty sendiri akan dikirim ke cabang baru di Kelapa Gading.”

Oh, hebat! Kini aku dipisahkan dengan sahabatku. Kami berdua sama-sama “disingkirkan” dari sekolah pusat.

Anna muncul di pintu kelas, “Kak, dipanggil Won Jang Nim ke ruangannya.”

Lihatlah, Anna yang masih fresh graduate itu masih saja memanggilku kakak di lingkungan sekolah. Memangnya ini sekolah keluarga? Panggil aku miss-lah atau teacher seperti cara orang-orang Korea memanggil guru English!

Aku beranjak, berjalan di belakang Anna. Tanpa bicara, dia berbelok ke kelasnya di kelas bayi yang dinamai Daramjui[3]. Aku turun ke ruangan Won Jang Nim. Aku jadi sedikit khawatir Anna mendengar pembicaraanku dengan Cheon Kwi Young tadi. Tapi itu kan benar. Anna masih tiga bulan di Little Lolita. Kami bahkan tidak akrab. Masa iya harus ditempatkan bareng di satu sekolah baru!

Menyebalkan!

Oh ya, aku memang sudah empat tahun bergabung di Little Lolita ini. Makanya aku disebut guru senior. Aku bersama Won Jang Nim bahkan bersama-sama mengurus surat-surat perizinan pendirian sekolah ini empat tahun yang lalu.

Aku juga sudah hafal mati sistem yang berlaku di sekolah ini, peraturan-peraturan untuk guru dan siswa, silabus, materi pengajaran, dan lain sebagainya … termasuk watak anak-anak dan guru-guru Korea. Jangan dikira ini hal yang mudah. Berpartner dengan guru Korea tidak se-fun yang dibayangkan banyak orang. Mereka tidak selalu menyenangkan seperti yang terlihat di drama-drama Korea yang sedang menjamur di seluruh dunia. Sudah puluhan guru Indonesia datang dan pergi karena tidak betah dengan partner guru Korea-nya.

Sama juga seperti aku di awal-awal tahun ketika baru bergabung. Aku sangat ingin keluar karena guru partnerku terlalu perfeksionis dan tidak mau kompromi dengan perbedaan ide. Hampir semua guru Korea memiliki watak seperti itu dan itu sangatlah menyebalkan. Guru partner biasanya menginginkan guru Indonesia punya ide sebrilian mereka. Padahal ini bisa dibilang mustahil. Guru-guru Korea semua tamatan Childhood Education di universitas-universitas terbaik di Korea seperti Ehwa Women School dan semacamnya. Sementara guru-guru Indonesia hampir tidak ada yang tamat dari sekolah keguruan. Won Jang Nim menerima guru Indonesia tamatan mana pun selama mereka bisa berbahasa Inggris dengan baik. Misalnya Esty, dia tamatan sekolah peternakan Universitas Makasar. Anna hanya jurusan Musik Gereja. Dan aku, jurusan Sastra Inggris yang sebenarnya lebih cocok menjadi penulis kolom di media berbahasa Inggris.

Kembali pada penempatanku di Tangerang. Ini sangat di luar dugaan. Aku tahu, sebenarnya Won Jang Nim sangat “menjagaku” agar tetap betah di sekolahnya. Dia sudah menganggapku aset. Empat tahun yang lalu, aku adalah guru Indonesia pertama yang diwawancarainya dan langsung memikat hatinya karena katanya bahasa Inggrisku oke. Aku langsung diterima setelah melihat TOEFL score-ku yang mencapai angka 589. Setelah itu, kami banyak melewati hari-hari bersama, mengurus segala macam perizinan pendirian Yayasan Lolita Kecil yang nantinya akan membawahi sekolah Little Lolita. Aku bahkan bersedia namaku dipakai di Akta Pendirian Yayasan sebagai Komisaris Yayasan, karena konon di Indonesia, Warga Negara Asing belum boleh menjadi Direktur dan Komisaris Yayasan. Sedangkan yang jadi Direktur fiktif yayasan adalah Rektor Anna waktu kuliah dulu. Anna bahkan diterima mengajar tanpa wawancara di Little Lolita karena dia adalah rekomendasi Rektornya dan Won Jang Nim sangat berutang budi pada sang Rektor. Sebagai catatan, selain rektor, beliau yang bernama Pak Bachtiar, adalah juga seorang pendeta.

Won Jang Nim sangat berterima kasih dengan segala kerelaanku dan sejak itu dia memperlakukanku dengan sangat spesial. Aku tidak tahu ceritanya kini … mengapa dia tega memindahkanku ke Tangerang? Apakah aku sudah tidak spesial lagi?

Won Jang Nim langsung menyambut saat aku mengetuk pintu ruangannya. Dia menggandeng tanganku lalu menuntunku duduk di kursi berbahan mahoni hitam yang kokoh dan mengilap dekat meja kerjanya.

Maybe you already heard about placement of teachers. For next year. Right, Teacher?” dia pasti sudah latihan mengucapkan kalimat barusan. Karena biasanya, Won Jang Nim berbicara dengan bahasa Inggris yang kacau.

Aku tersenyum kecut, tidak menjawab.

“Kamu tahu kan, saya baru membangun dua sekolah lagi, di Tangerang dan di Kelapa Gading. Saya sudah merekrut beberapa guru Bahasa Inggris.”

Ya … ya … seperti aku tidak tahu saja. Hellooo! Memangnya siapa yang menyortir tumpukan aplikasi yang datang ke Little Lolita? Kan aku?

“Saya sudah mendapatkan dua guru baru untuk cabang Kelapa Gading. Sekolah itu perlu tiga guru English. Jadi … Esty Teacher akan bergabung ke sana.”

Dia menghela nafas dan senyumnya tidak sedikit pun luntur. Aku tidak tahu bagaimana dia melakukan itu, maksudku berbicara sambil terus tersenyum lebar. Cheon Kwi Young bilang, Won Jang Nim pernah belajar Sekolah Kepribadian dan Sekolah Meyakinkan-Lawan-Bicara atau semacamnya. Setelah belajar di sana, Won Jang Nim jadi punya kemampuan membuat orang yang diajaknya bicara untuk selalu setuju dengan pendapatnya atau permintaannya. Aku sedikit aware, jangan-jangan dia akan menggunakan ilmu berbicaranya itu agar aku setuju untuk ditempatkan di Tangerang.

Dia menjelaskan tentang sekolah Tangerang seperti yang sudah dikatakan Cheon Kwi Young padaku tadi di kelas. Dia menambahkan kalau sekolah Tangerang ini akan jadi sekolah Andalannya. Oh, yang benar saja! Pasti dia mengatakan hal yang sama tentang sekolah di Kelapa Gading pada Esty. Ya tentu saja agar aku maupun Esty tidak keberatan dipindahkan.

“Bangunannya lebih besar dari Little Lolita Kebayoran Baru ini, dan letaknya sangat strategis.” Katanya sambil mengeluarkan file dokumen bertuliskan TANGERANG SCHOOL.

“Look!” dia menjunjukan denah lokasi sekolah. “Sekolah itu sangat dekat dengan Lippo Karawaci. Mungkin hanya lima menit naik angkutan umum. Kalau malas naik angkutan, kamu bisa naik bus sekolah.” Dia tertawa kecil.

Oh, please! Seolah aku peduli apa itu Lippo Karawaci.

“Pemandangan di kawasan ini masih hijau. Ini lapangan golf, ini Universitas… saya lupa namanya. Tapi itu universitas yang besar dan terkenal di Indonesia.”

UI maksudnya? Atau Trisakti? Yang benar saja UI dan Trisakti pindah ke Tangerang. See, dia membual untuk melancarkan tujuannya!

“Di sini banyak perumahan elit dan apartemen.” Jari telunjuknya yang lentik dan dipoles cat kuku warna peach menunjuk satu lokasi di denah. “Anak-anak Little Lolita mungkin akan berasal dari sana. Lingkungannya sangat bersih, teratur, sejuk, hijau, dan modern.”

She must be kidding me. Modern? Masa dia tidak pernah dengar kalau Tangerang itu kota pabrik karena pabrik segala macam produk ada di sana.

“Dan … kamu suka berenang kan, Teacher Fatima?”

Aku mengangguk pelan, hampir merasa akan goyah seandainya dia mengatakan ada kolam renang di halaman belakang sekolah. Ya, tentu saja aku suka berenang meski sebenarnya aku belum bisa berenang. Tepatnya, aku suka menceburkan diri ke dalam kolam renang sambil terus berpegangan pada sisi kolam.

You will like this! katanya dengan bersemangat, “Persis di sebelah kanan Little Lolita ada club olah raga. Kolam renangnya olimpic size, sangat besar dan bersih. Kalau mau berenang gratis, bilang saja kamu guru di Little Lolita.”

Oke, semua kedengaran sangat hebat. Tapi dia lupa satu hal, aku harus bersusah-susah mencari tempat tinggal di kota yang belum pernah kuinjak sebelumnya.

“Oh ya, saya hampir lupa.” Dia memintaku melihat denah sekolah itu kembali seolah itu sangat menarik untuk dipelajari. Aku mulai bosan.

“Bangunan berbentuk L ini adalah bangunan sekolah. Ada dua tingkat. Di halamannya akan dibuat taman bermain dan rumah pohon. Nah, bangunan di sebelah sekolah ini akan jadi tempat tinggal guru-guru.” Dia tersenyum seraya melirikku, seakan meminta tanggapanku.

Dibukanya lembar denah berikutnya.

“Ini denah ruangannya. Guru-guru akan tinggal di lantai atas karena lantai bawah untuk ruang les piano. Mini Grand Piano yang saya pesan dari Seoul akan dikirim minggu depan dan di taruh di masing-masing ruangan di lantai bawah ini. Oh ya, ada 6 kamar di lantai atas, dua kamar mandi, satu dapur, ini ruang makan dan ruang nonton tivi. Jendela yang besar menghadap perumahan dan lapangan hijau. Saat makan, kalian bisa menikmati alam. Kalau kamu lihat langsung, pasti lebih bagus dari penjelasan saya.” Katanya sambil tersenyum lebar.

“Sabtu ini saya akan ke sana untuk memantau pembangunan. Mungkin tinggal memasang paving di halamannya. Kamu bisa ikut dengan saya.”

Sabtu? No, thanks! Angga, pacarku, ulang tahun hari Sabtu. Aku lebih memilih menghabiskan hari itu bersamanya ketimbang berdua bersama Won Jang Nim di BMW merahnya.

***

Hari Sabtu…

Sudah pukul sembilan malam dan aku sudah bosan setengah mati menunggu Angga. Kuperhatikan mataku yang memerah. Oh, man! Aku kelihatan sangat mengerikan, seperti tokoh-tokoh di film kolosal yang matanya bisa mengeluarkan sinar magis. Tetapi ini mata merah karena mengantuk dan aku tidak ingin merayakan ulang tahun kekasihku dengan mata seperti ini. Cepat-cepat kupanaskan air di teko listrik. Kuseduh kopi cappuccino di mug bergambar kalajengking, zodiakku. Aku bukan penggemar kopi tapi aku menyimpan beberapa sachet di lemariku, just in case aku sangat membutuhkannya. Seperti saat ini, saat mataku tidak bisa diajak kompromi.

Uh, seharusnya airnya kucampur dengan air dingin supaya bisa kuminum langsung. Kini aku harus menunggu hingga airnya agak dingin. Mataku terasa makin berat hingga aku akhirnya ketiduran.

Telepon genggamku berdering, dari Angga.

“Dek, aku nggak bisa datang.”

“Ha?! Kenapa?”

“Nggak bisa kuceritakan sekarang. Sori ya, Dek. Ketemunya besok aja. Besok nggak ke mana-mana kan?”

“Kamu tahu nggak sih aku udah nungguin dari sore?” suaraku meninggi. Dia membuat tandukku hampir mencuat.

“Ya, sori. Besoklah aku cerita.”

“Besok aku ada acara sama temenku.” Jawabku dengan nada ketus.

“Kok gitu sih, Dek?”

“Kok gitu gimana? Emangnya aku nggak bisa punya urusan lain selain urusan pacar?”

“Ya udah. Kalo gitu minggu depannya.”

“Minggu depannya aku udah pindah ke Tangerang!”

“Pindah ke mana?”

“Ah, capek deh!” kututup telepon dengan kesal.

Oh, damn! Cappuccino-ku mulai dikerubuti puluhan semut! Aku membubarkan semut-semut itu dengan meniupnya. Cheese cake yang sedari tadi menunggu untuk kami santap berdua akhirnya kusantap sendiri.

Hampir tengah malam, pintu kamarku diketuk. Pasti Fani, anak kamar sebelah minta menerjemahkan pesan untuk dikirim pada pacarnya yang orang Australia. Dia anak malam, jam tidurnya saat semua orang sedang bangun dan baru tidur setelah semua orang terlelap.

Aku malas-malasan membuka pintu. Di sana, Angga berdiri dengan membawa bungkusan plastik dari restoran Pizza. Raut mukanya menunjukkan penyesalan yang besar. Aku tidak bergeming dari pintu.

“Boleh aku masuk, Dek?” tanyanya sambil tersenyum manis.

“Aku udah mau tidur. Udah malam. Besok aja.” Aku tidak mau membalas senyumnya.

“Tapi kamu bilang besok mau pergi sama temanmu. Serius nggak sih?”

“Ya … kalau gitu bulan depan. Itu pun kalau aku tidak males ke Jakarta. Tangerang kan jauh.”

Dia menghela nafas berat, sepertinya tidak ngeh dengan kalimat-kalimatku tentang Tangerang.

“Sori banget, Dek. Tadi Bang Nixon datang dari Medan. Boleh aku masuk, nggak enak nih dilihat anak kos lain.”

Aku mengalah. Kubiarkan dia masuk. Diletakkannya bungkusan yang dibawanya di lantai. Kami berdua duduk di lantai.

“Aku bawa lasagna kesukaanmu nih!”

“Udah kenyang, bawa pulang aja!” aku jual mahal meski aroma lasagna menusuk-nusuk hidungku. Semoga saja air liurku tidak sampai menetes.

“Hei, tolong berhenti bersikap kayak gitu, Dek. Kayak anak kecil aja. Aku kan udah minta maaf.”

“Trus, dengan kata maaf semuanya selesai begitu saja, gitu? Kamu tahu nggak sih aku udah siap-siap dari jam lima sore. Aku bela-belain jalan ke Toko Harvest untuk beli cheese cake-mu.”

“Eh, mana cheese cake-nya?” Candanya.

“Udah kumakan sendiri! Masih bisa ya nanya cheese cake! I don’t understand you! Nggak apa-apa kalau kamu nggak bisa datang. Tapi bilang dong dari awal. Bukan di jam saat aku udah jamuran nunggu! Kalau kamu bilang dari jam lima tadi, aku bisa melakukan hal lain. Pergi dengan temanku kek, survei tempat tinggal baruku di Tangerang kek, apa kek! Yang pasti nggak nongkrong di kamar nungguin orang yang ternyata datang jam dua belas malam!”

Fani melongok dari pintu kamarku, “Lagi ada tamu ya? Tolong translate dong, Fat. Sori ya, Mas. Pinjem Fatima sebentar.” Dia masuk dan mengulurkan handphone-nya padaku. Kubaca teks di layarnya. Di barisan terakhir dia mengetik, “Lo lagi berantem, Fat? Suara lo kedengaran sampe ke kamar Sandra.”

Ha? Kamar Sandra kan paling ujung. Yang benar saja suaraku sampai ke sana! Segera kuketik teks bahasa Inggris yang diminta Fani dan kukembalikan handphone-nya.

Thanks ya. Peace, Mas.” Fani berlalu dari depan kamarku.

“Bang Nixon berencana menikah bulan depan.” Angga mulai bercerita, “Berarti rencana nikah kita harus diundur, Dek. Nggak mungkin dong kita nikah sebulan setelah acara Bang Nixon.”

“Beneran dia datang cuma mau ngasih tahu tentang rencana nikahnya?” tanyaku curiga. Jangan-jangan dia juga ingin mencari tahu sejauh mana Angga masih berhubungan denganku. Dan jangan-jangan, rencana nikahnya itu hanya alasan agar aku dan Angga menunda rencana kami untuk menikah. Atau lebih tepatnya menunda rencana Angga untuk pindah agama.

Hubunganku dengan Angga sangat pelik. Paling tidak saat ini, saat kami menyadari bahwa orang tidak selamanya pacaran. Ada saatnya harus memikirkan jenjang yang lebih serius yakni pernikahan. Kami pacaran sudah enam tahun dan kami telah memikirkan masalah pernikahan sejak dua tahun terakhir. Namun justru di sana letak permasalahannya. Kami beda keyakinan. Angga beragama Kristen.

Angga mengalah untuk pindah agama. Katanya dia akan langsung memeluk agama Islam begitu orang tuanya setuju. Dia telah membicarakan ini dengan orang tuanya melalui telepon dan bahkan face-to-face. Hingga saat ini orang tuanya masih saja tidak setuju. Aku pernah meminta agar hubungan ini diakhiri karena sepertinya orang tuanya memang sangat jelas mengatakan ketidaksetujuan mereka. Tapi Angga menyakinkanku, katanya orang tuanya akan luluh kalau dia terus menerus memberi pengertian tentang niat baik kami untuk menikah.

Akhirnya aku setuju melanjutkan hubungan hingga saatnya kami mendapat restu untuk menikah. Meski di hatiku yang terdalam, aku merasa ini tidak akan berhasil. Esty juga berpendapat sama. Berulang kali dia minta aku agar berpikir logis.

“Seandainya nanti Angga jadi pindah agama, apakah kamu akan bahagia karena pindahnya bukan dari hatinya tetapi hanya karena dia mau nikah sama kamu?” kata Esty waktu itu.

Apakah aku bisa menjamin Angga merasa kepindahannya worthy dibandingkan dengan dia kehilangan keluarganya? Karena worst case-nya mungkin Angga akan dikeluarkan dari keanggotaan keluarga.

Esty benar. Tetapi bukankah untuk membiarkan Angga tetap berusaha adalah juga benar?

***

[1] Kepala sekolah

 

[2] panggilan singkat untuk sebutan “guru”

 

[3] tupai


DUA 


Won Jang Nim menyewa truk untuk membawa barang-barangku dari rumah kos menuju hunian baru di Tangerang. Memang bukan cuma membawa barangku saja, karena masih ada seabrek peralatan yang khusus didatangkan dari Seoul untuk cabang sekolah baru. Won Jang Nim adalah seorang yang sangat perfeksionis. Meski di Indonesia banyak furnitur yang berkualitas tinggi, dia lebih memilih membeli furnitur dari negaranya. Katanya, orang tua murid akan lebih mengapresiasi jika sekolah tempat anak mereka belajar dilengkapi dengan furnitur negeri mereka sendiri. Wiih!

Perjalanan seakan sangat jauh, kebanyakan melewati jalan tol sehingga aku tidur sepanjang jalan. Ini benar-benar seperti perjalanan ke luar kota. Yah, memang Tangerang sudah terhitung luar kota kan…. Rasanya masih sebal membayangkan aku ditransfer dari Sekolah Pusat ke daerah yang belum pernah kudatangi sebelumnya.

Sampai di tujuan, Won Jang Nim berbicara sejenak dengan seorang pria yang tampaknya mandor tukang. Lalu dia segera mengajakku ke bangunan yang bakal jadi tempat tinggal guru. Sementara barang-barangku diangkut, aku ditunjuki ruangan yang nantinya akan jadi kamarku di lantai dua. Sangat kecil dan masih kosong melompong. Itu bahkan lebih kecil dari kamar kosku. Uh!

“Saya tahu ini agak kecil.” Won Jang Nim segera berkomentar begitu melihat ekspresiku saat memasuki kamar. “Rencana bangunan yang saya minta sebenarnya tidak seperti ini. Awalnya saya ingin tiga kamar ini jadi dua saja sehingga ukurannya bisa lebih besar. Tapi kontraktornya salah paham.”

Aku masih tidak berkomentar. Kepalaku disibukkan gambaran di mana aku nantinya akan meletakkan barang-barangku di kamar sekecil itu. Di mana untuk tempat tidur, untuk lemari dan meja komputer. Untuk tempat tidur saja sepertinya sudah memenuhi kamar. Itu benar-benar tidak layak disebut kamar. Lebih cocok disebut ruangan 2 x 2,5 meter yang dilengkapi AC.

“Ini kamar Anna, jadi kamar di antara kamar Anna dan kamarmu akan jadi kamar kalian berdua. Kalian bisa menaruh barang-barang, lemari, sepatu di sana. Di kamar mungkin untuk tidur saja.” Won Jang Nim tersenyum kikuk.

Aku keluar dan melihat kamar-kamar lainnya yang juga masih kosong. Ukurannya tidak jauh beda. Satu-satunya kamar yang sedikit lebih besar katanya untuk guru Korea yang nantinya akan memimpin setiap rapat pagi, namun bukan berarti dia adalah seorang wakil kepala sekolah. Ukuran kamarnya sama dengan kamar kosku dulu. Mungkin sekitar 2,5 x 3  meter persegi.

Tahun ajaran baru akan mulai minggu depan. Guru-guru yang dari Korea akan datang tiga hari lagi, Anna juga akan datang ke Tangerang pada hari itu. Mungkin mereka akan datang bersamaan. Entahlah, itu tidak begitu masalah buatku. Saat ini, yang lebih menyita perhatianku hanya ukuran kamar baruku yang teramat sempit.

“Toko furnitur akan mengantar tempat tidur dan lemari kalian besok.” Won Jang Nim menambahkan sebelum dia meninggalkanku berdiam sejenak di ruangan yang tidak ubahnya seperti kotak, ruangan yang nantinya akan jadi kamarku.

Siang itu aku kembali ke Jakarta bersama Won Jang Nim. Dia mengantarku hingga ke rumah kosku. Ingin rasanya aku meng-sms Anna dan mengatakan perihal ukuran kamar di rumah baru kami. Tetapi nomor Anna pun aku tidak tahu. Sudah tiga bulan kami jadi guru di sekolah yang sama, setiap hari berkumpul di ruangan guru –meski jarang sekali berbincang– tapi nomor handphone-nya saja aku tidak punya. See, aku benar-benar tidak akrab dengannya. Seharusnya aku ditempatkan dengan Esty! Ke kota sejauh mana pun, asalkan dengan Esty aku mau!

 

***

Kamar mungilku yang bercat kuning gading telah rapi. Semua buku kumasukkan ke lemari di kamar sebelah. Won Jang Nim benar, kamar ini  hanya memuat tempat tidur, lemari pakaian kecil, dan meja komputer. Lantainya sangat dingin, maka kualasi dengan karpet puzzle yang empuk. Pengennya sih tiduran di atasnya sambil menelepon Esty atau Angga. Baru kusadari kalau lantai beralas puzzle itu tidak muat untuk tidur telentang, hanya muat untuk duduk dengan kaki selonjor. Bisa dibayangkan kecilnya kamarku kan? Ya, akhirnya memang aku tiduran di tempat tidur. Won Jang Nim membeli spring bed ukuran single untuk masing-masing kamar. Bantalnya tidak terlalu empuk. Besok-besok aku harus membeli bantal baru. Bagiku bantal yang tidak empuk berarti tidur yang tidak nyenyak. Dan tidur tidak nyenyak berarti bad day!

Sore hari saat semua barangku telah tertata dengan rapi, aku menyempatkan diri menelepon Esty. Aku ingin tahu  apakah dia bernasib sama sepertiku. Ternyata….

“Kami tinggal di apartemen, Fat.” Katanya tak bersemangat.

“Wow! Kamu juga tinggal di apartemen? Kirain cuma guru Korea.”

“Apa yang istimewa dari apartemen? Ini cuma apartemen kecil dengan dua kamar tidur. Dapurnya kecil. Kamar mandinya mini. Meja makan ada di ruang TV. Menjemur kain di balkon yang kecil. Dua guru Korea di satu kamar dan tiga guru Indonesia di satu kamar. Satu guru Indonesia lagi rumahnya tidak jauh dari sekolah. Jadi, dia nggak tinggal di sini. Ah, lebih enak kamu, Fat! Kata guru partner-ku, sekolah di Tangerang berada di kawasan hijau. Zaman sekarang, kawasan seperti itu yang diidam-idamkan orang.”

Aku terbahak. Dia belum tahu saja ukuran kamarku. Meskipun tidak berbagi dengan yang lain, tapi kan ukurannya seperti kamar satu dibagi tiga! Sama jeleknya.

Saat masih asyik berbincang dengan Esty di telepon, Anna datang. Suaranya bergema di ruang yang masih kosong melompong saat menyapaku. Ternyata tanpa kuberitahu, dia sudah tahu letak kamarnya. Won Jang Nim pasti telah memberitahunya juga. Seorang lelaki yang mengaku abangnya mengangkut dua travel bag besar hingga ke depan pintu kamar Anna. Setelah memasukkan barang-barangnya ke dalam kamarnya, Anna mengurung diri hingga malam. Sesekali kami bertemu saat aku hendak ke kamar mandi dan dia hendak mengambil air minum dari galon minum di dapur. Kami hanya berbasa-basi sebentar lalu masuk ke kamar masing-masing. Saking kakunya situasi, aku bahkan lupa mengatakan kalau kamar di tengah itu akan jadi kamar kami berdua. Yah, sebaiknya kuberi tahu sekarang saja.

Kuketuk pintu kamar Anna. Dibukanya daun pintu sedikit.

“Maaf nih, Kak. Nggak bisa dibuka. Barang gua numpuk. Entah mau ditaruh di mana.” Bibirnya manyun.

“Taruh di kamar sebelah aja. Won Jang Nim bilang kamar itu untuk kita share berdua. Khusus untuk barang-barang mungkin.”

“Oh ya?” dia terlihat excited. “Baguslah. Pusing gua mau dike manain barang sebanyak ini. Won Jang Nim nggak bilang kalo kamarnya kecil gini!”

“Perlu dibantu?” tanyaku berbasa-basi.

“Nggak usah deh, Kak. Lagi berantakan banget, gua juga masih milah-milah.”

Aku berlalu dan kembali ke kamarku. Kurasa itu adalah awal yang baik untuk mencairkan suasana di antara kami. Jauh di dalam hatiku, aku masih berharap Won Jang Nim akan berubah pikiran untuk menggantikan Anna dengan Esty. Tapi jelas itu mustahil. Esty juga termasuk guru senior. Dia diterima di Little Lolita sebulan setelah aku. Seperti kata Cheon Kwi Young, hanya boleh ada satu guru senior di satu sekolah.

Suka tidak suka, aku akan mencoba memaksakan diri berakrab-akrab dengan Anna. Toh, paling tidak satu tahun ke depan (hingga saatnya reshuffle guru lagi), kami akan tinggal serumah. Sungguh tidak lucu kalau aku menjaga jarak dengan teman serumah yang akan kutemui setiap hari. Mungkin saja dia sama baiknya dengan Esty. Ah, tidak mungkin. Esty adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Tidak mungkin Anna atau siapa pun menyamainya.

Usai shalat Isya, kuputar kaset Michael Jackson di tape-ku dan kunyalakan AC. Aku sudah bersiap tidur dengan tape menyala saat kudengar suara ramai dari luar kamar. Ada apa? Kudorong selimut tebalku lalu bergegas membuka pintu.

“Hi, Fatima Teacher! Belum tidur?” Won Jang Nim ternyata ada di luar kamar bersama dua gadis Korea. Mereka terlihat sangat anggun dan dewasa. Yang satu memakai celana pipa warna biru tua dan atasan putih yang bagian depannya berlipit-lipit. Dia terlihat sangat klasik apalagi dengan rambut gelombangnya yang digerai. Yang satunya lagi, yang rambutnya sebahu, memakai baju yang teramat longgar, dilengkapi rompi rajut longgar berwarna coklat susu. Kurasa mereka seumuran dengan Won Jang Nim.

“Kenalkan, ini Lee Mi Yeon dan ini Hong Ui Young. Mereka adalah Korean teacher yang akan mengajar di Little Lolita Tangerang.” Won Jang Nim menggandeng tanganku agar mendekat pada mereka, “Fatima Teacheri nen yong o son seng nimi eyo. Nomu charessoyo. Hangguk do arayo. [1]

“Gereyo?[2] kata mereka berdua hampir bersamaan.

Won Jang Nim terlalu berlebihan. Bagiku, bisa bahasa Korea setelah empat tahun mengajar di sekolah Korea bukanlah suatu prestasi. Biar kuberi tahu, bagi siapa saja yang ingin belajar bahasa Korea, tidak perlu mengeluarkan uang jutaan untuk kursus. Melamar saja jadi guru di TK Korea. Selain bisa bahasa Korea, Anda juga dapat gaji tiap bulan.

Karena itulah yang terjadi padaku. Aku tidak tahu bahasa Korea sama sekali ketika pertama kali mengajar di Little Lolita. Tapi setiap hari, aku mendengar anak-anak mengucapkan kalimat yang berulang. Mereka memiliki kebutuhan dan keinginan yang hampir sama setiap harinya; Ingin ke toilet, ingin membaca buku, ingin menggambar dengan menggunakan pensil warna. Anak-anak juga masih belajar kosa kata dan cara mengucapkan kalimat dengan benar. Saat mereka belajar, akupun belajar. Dan … tada!!! Dalam empat tahun, aku sudah bisa berbicara seperti orang Korea asli!

“Hi! I’m Fatima. Senang bertemu denganmu.” Kuulurkan tangan sambil kurapikan rambutku seadanya dengan “sisir jari”. Mereka serempak membungkukkan badan.

“Annyeong haseyo, Son seng nim![3] sapa Lee Mi Yeon.

“Nice to meet you!” Hong Ui Young ikut menyalamiku.

Won Jang Nim tertawa lepas. Mungkin merasa geli karena Hong Ui Young mencoba beramah-tamah dengan menggunakan bahasa Inggris berlogat Korea. Padahal sebenarnya sama “seramnya” dengan dia.

“Mengapa malam sekali nyampenya?” aku berbasa-basi.

“Pesawat delay sampai empat jam karena cuaca buruk. Fatima Teacher, Lee Mi Yeon dan Hong Ui Young akan tinggal di sini bersamamu dan Anna. Oh ya, Anna sudah tidur ya?”

“Ya. Dia tidur lebih awal. Mungkin tadi kelelahan menyusun barang-barangnya.”

“Kalau begitu, you have a rest, also. Besok kalian bisa ngobrol lebih banyak lagi.”

“Okay, till tomorrow!” aku tersenyum pada keduanya lalu kembali ke kamarku.

Hm … tinggal bersama dengan dua orang Korea. Aku tidak tahu apakah itu ide yang baik atau.… Aku tidak bermasalah tinggal dengan orang beda kewarganegaraan. Tapi bagaimana dengan guru-guru Korea itu? Apakah mereka akan betah tinggal di rumah dengan kamar-kamar kecil seperti ini bersama dua orang Indonesia? Setahuku, selama ini guru-guru Korea yang mengajar di Little Lolita Jakarta tinggal di apartemen yang sama dengan Won Jang Nim di Simprug Indah. Dan mereka lebih nyaman jika tinggal dengan sesama orang Korea.

Di cabang Kelapa Gading, semua gurunya bahkan tinggal di apartemen. Segala fasilitas free untuk mereka. Cheon Kwi Young pernah bilang bahwa tinggal di apartemen plus fasilitas gratis adalah salah satu isi perjanjian kontrak bagi guru Korea saat diterima di Little Lolita. Yah, tinggal di apartemen mungkin adalah standar mereka. Wah, bisa-bisa Lee Mi Yeon dan Hong Ui Young protes dengan ketidakadilan itu. Kita lihat saja nantilah.

Dan … seharusnya aku melihat reaksi mereka tadi saat ditunjuki kamar masing-masing!

Esok harinya, aku keluar dari kamar lebih awal dari yang lainnya. Aku biasa sarapan jam 7 pagi. Lewat sedikit saja bunyi perutku sudah tidak keruan. Aku sibuk memeriksa teko di lemari dapur, mau memanaskan air. Ternyata nihil.

“Cari apa, Mbak?” seorang gadis remaja tiba-tiba muncul di belakangku. Kulitnya agak coklat dan rambutnya dikuncir tinggi

“Oh! Ng… aku perlu teko. Mau masak air panas.” Aku masih agak kaget dengan kehadiran perempuan itu.

“Ada air panas di dapur sekolah kok, Mbak. Saya ambilkan ya?” dia berbicara dengan logat Jawa yang medok.

“Oke … oh, ng … kamu tinggal di sini juga? Guru juga?”

“Oalah, Mbak? Emangnya saya punya tampang guru?” gadis itu tersenyum lebar, “Saya di sini untuk bantu-bantu masak, nyuci, dan bersih-bersih. Di gedung guru sekaligus di gedung sekolahan. Tadi pagi saya baru dijemput nyonya dari rumah saudara saya.”

O … mulutku membulat. So, kami juga punya pembantu. That would be good!

“Boleh tahu namamu?”

“Ijah, Mbak.”

“Oh, Ijah. Kalau begitu minta tolong ambilkan air panas, ya. Saya mau nyeduh susu. Mungkin guru-guru yang lain juga mau nyeduh minuman masing-masing.”

***

Pukul delapan tepat semua guru telah berkumpul di ruang guru. Buat sementara ini hanya ada kami berempat; Anna, Hong Ui Young, Lee Mi Yeon, dan aku. Won Jang Nim berencana membuka empat kelas, satu guru bahasa Inggris untuk satu kelas dan satu guru Korea untuk dua kelas. Artinya, nantinya akan ada tambahan dua orang guru bahasa Inggris lagi.

Hari ini kami hanya akan membagi-bagi bahan ajar ke tiap kelas berdasarkan level anak-anak dan merapikan ruang guru. Rak-rak masih kosong dan semua material masih berada di kardus yang terikat ketat. Kami terlihat santai namun bersemangat. Sebelum mulai bekerja Hong Ui Young mengajak rapat sejenak.

“Monjo[4]… I am sorry, I cannot speak English very well. Mungkin aku akan mencampur-campur bahasa Inggris dengan bahasa Korea. Lagi pula Won Jang Nim bilang, Anna Teacher dan Fatima Teacher mengerti bahasa Korea. Itu malah lebih baik. Ha ha ha!” matanya yang sipit makin mengecil saat terbahak.

Kami ikut tertawa serempak, bukan karena yang dikatakannya, tetapi karena cara tertawanya yang lucu. Dan selanjutnya, rapat itu memang jadi penuh tawa. Sebaliknya, Lee Mi Yeon sangat sedikit bersuara. Dia tampak sangat pemikir dan penuh perhitungan sebelum bersuara. Aku sendiri juga bukan tipe yang suka banyak bicara. Tetapi sepanjang rapat, Hong Ui Young banyak bertanya tentang peraturan-peraturan di Little Lolita sehingga aku harus menjawab dengan panjang lebar.

Won Jang Nim mempercayakan kita, guru-guru di sini, untuk sepenuhnya menata sekolah ini. Semau kita.” Kata Hong Ui Young sambil mencoret-coret lembar agendanya yang terbuka. Dia menuliskan huruf ri-el[5] dalam aksara Korea berkali-kali hingga huruf itu terlihat sangat hitam dan tebal.

“Aku bisa saja menerapkan sistem penataan seperti di sekolah tempatku mengajar dulu. Tapi alangkah baiknya kalau nanti hasil kerjaan kita tidak terlalu jauh melenceng dengan originalitas sekolah Little Lolita. Ya kan?” katanya. “Dan yang paling tahu itu adalah Fatima Teacher. Jadi, mohon bantuannya ya.”

Seusai rapat, kami bekerja sambil saling bertanya. Seolah kami sangat ingin tahu tentang masing-masing. Anna duduk dekat Lee Mi Yeon dan mereka bercerita tentang piano atau semacamnya. Anna bisa bermain piano. Tentu saja, karena dia tamat dari jurusan Musik Gereja. Dan Lee Mi Yeon sendiri sangat menekuni piano. Bukan hanya sekadar bisa bermain piano seperti semua guru Korea, tetapi dia benar-benar pernah belajar khusus piano. Pantas saja dia pendiam. Kata orang sih, pemusik biasanya pendiam. Aku tidak tahu di mana letak relativitas keduanya. Tapi memang terbukti, beberapa orang pencinta musik instrumental yang kukenal lebih pendiam.

Lee Mi Yeon memakai you-can-see jingga berleher rendah hingga belahan dadanya kelihatan. Kurasa Anna agak kaget saat tadi melihat Lee Mi Yeon keluar dari kamarnya dengan pakaian seperti itu, sehingga dia terkikik spontan. Mungkin di asramanya dulu, sehari-harinya semua mahasiswa jurusan Musik Gereja memakai kemeja dan rok panjang. Untung saja yang ditertawakan tidak begitu menyadari kalau Anna menertawakannya.

Satu hal yang membuatku sangat kaget, ternyata Lee Mi Yeon masih lebih muda tiga tahun dariku dan Hong Ui Young hanya dua bulan lebih tua dariku. Mengapa perawakan mereka terlihat sangat “boros”? Lee Mi Yeon bahkan kelihatan lebih tua dari Hong Ui Young. Apakah karena kebiasaan diamnya itu juga?

***

Di awal-awal tinggal bersama, kami selalu sarapan dan makan malam bersama. Kadang kami duduk di meja makan dengan TV menyala. Kami bercerita tentang segalanya. TV besar itu bekas Won Jang Nim. Kata Cheon Kwi Young, Won Jang Nim sudah membeli TV baru ukuran home theater untuk ditempatkan di apartemennya, sehingga yang lama diberikan pada kami. Meski besar, sebenarnya tak satu pun channel bisa ditonton karena tidak ada antena.

Hong Ui Young selalu lebih banyak bercerita. Dia bercerita mulai dari pengalaman mengajarnya di Korea hingga rencananya untuk menjalani operasi payudara saat telah menikah nanti. Dia tidak ragu mengatakan apa pun meski harus mencampur-campur bahasanya. Berbeda dengan Lee Mi Yeon yang berbicara dengan hati-hati. Dia selalu memegang kamus elektronik berwana biru mudanya dan akan mengetik setiap kalimat yang akan dikatakannya lebih dahulu sebelum bicara. Atau ketika aku bertanya, dia akan lebih dahulu mencari arti pertanyaanku di kamusnya itu sebelum menjawabnya.

Terus terang, pada kesan pertama, aku lebih senang berbincang dengan Hong Ui Young. Sepertinya dia mampu memberi imbas kegembiraan pada lawan bicara. Dia terlihat sangat alami dan unik, sangat apa adanya dan ceria. Untuk penampilan, dia hampir seperti Anna yang tidak terlalu suka dandan . Yang penting mandi bersih, penampilan tidak terlalu penting. Dia bahkan lebih parah dari Anna karena “tega” memakai celana pantalon ke sekolah. Berbeda dengan Lee Mi Yeon yang selalu rapi dan tidak pernah absen melukis matanya dengan eye liner. Katanya kalau tidak diberi eye liner, matanya terlihat sangat sipit, seperti garis saja.

Seminggu tinggal bersama, hampir tiap malam Hong Ui Young memasak ramyon[6] dan mengajak kami makan bersama di kamarnya, yang memang lebih besar dari kamar lainnya. Dia tampak sangat ingin mencoba segera bisa akrab dengan teman-teman serumahnya. Aku salut dengan idenya briliannya, karena itu juga mengakrabkan aku dengan Anna, yang tadinya kuanggap mustahil.

Lee Mi Yeon biasanya paling susah diajak kumpul malam-malam. Selain karena sepertinya dia tidak terlalu doyan makan, dia menolak karena undangan Hong Ui Young selalu hampir tengah malam. Aku yang sudah terbuai mimpi pun dibangunkan juga demi undangan “paksaan” ini. Untuk menghilangkan kantuk setelah makan ramyon yang pedas, biasanya Hong Ui Young akan mengajak bermain game atau tebak-tebakan. Pokoknya dia selalu punya cara untuk membuat suasana jadi ramai. Dia memang cocok jadi guru TK.

Tidak terkecuali malam ini saat aku baru saja mematikan komputer, Hong Ui Young mengetuk pintuku. Kubuka dan kudapati dia tersenyum lebar, senyum yang sudah kuhafal artinya. Ya, artinya, “Ayo makan ramyon! Don’t say NO!

Please, aku udah mau tidur banget!” kataku lemas.

“Ayolah, Fatima! Malam ini saja!”

You must be kidding me. Kemaren juga kamu bilang begitu.”

“Ini penting. Bukan mau makan.”

So? Main uno?”

“No! Let’s talk in my room.” Ditariknya tanganku dengan paksa.

Aku masuk ke dalam kamarnya, ternyata Anna dan Lee Mi Yeon sudah ada di sana, duduk di tempat tidur Hong Ui Young dan bersender lemas ke dinding. Mereka terbahak saat melihat Hong Ui Young yang berhasil menyeretku.

We are victim, Kak! Bersabarlah!” kata Anna bercanda.

Aku naik ke atas tempat tidur, bergabung dengan “korban” lainnya. Hong Ui Young mengambil buku kecil dan pensil dari lemarinya lalu melompat ke atas tempat tidur hingga kami bergoyang-goyang.

“Ayo bikin nama Korea untuk Fatima dan Anna dan nama Inggris untukku dan Lee Mi Yeon.” Katanya bersemangat.

“Oh no!” aku langsung beranjak. Aku tidak mau nama Korea. Kok kayaknya tidak pantas. Wajahku nggak ada garis Korea-nya sama sekali, bisa-bisa orang terpingkal-pingkal saat tahu aku punya nama Korea.

Anna sih tidak apa-apa. Dia kan berdarah Nias. Kulitnya putih dan matanya agak sipit. Dia juga tidak keberatan dengan ide gila Hong Ui Young. Mereka segera sibuk memilih-milih nama. Anna bilang dia ingin punya nama seperti nama artis Korea.

“Andoe! Celebrity ireum hajimalja.[7]2 Lee Mi Yeon spontan protes.

“Right!” Hong Ui Young menyeletuk, “Nama Korea nggak dibuat sembarangan lho. Harus punya arti. Misalnya, apa yang paling kamu suka. Atau apa mimpi dan harapanmu.”

“Atau bagaimana kamu menggambarkan dirimu.” Lee Mi Yeon menambahkan.

“Oke, coba aku!” kataku mulai tertarik.

“Ya, bagaimana kamu mendeskripsikan dirimu?” Hong Ui Young tersenyum senang.

Hmm … something bright, clear, smart, pure, angel-like.”

Semua tertawa, kecuali aku. Aku tidak melihat ada yang salah dengan ucapanku.

“Itu terlalu sempurna!” Hong Ui Young melempar bantal ke arahku namun meleset karena aku mengelak. “Kamu bikin saja namamu Miss G-O-D!”

Anna dan Lee Mi Yeon semakin terbahak.

See, aku benci acara bikin nama ini!

Sorry! Sorry! Sekarang serius. Kita bikin namamu, ya!” Hong Ui Young masih tampak menahan tawa.

Aku cemberut.

“Kalau terang, jernih, dan lain sebagainya seperti yang kamu bilang mungkin … seperti kaca. Bagaimana kalau Yoo Ri?”

“Ya!” Lee Mi Yeon langsung setuju “Yoo Ri! Ttak maja![8]

“Trus marganya apa?” tanya Anna.

“Kayaknya Song bagus deh.”

Great! Sekarang aku punya nama Korea, SONG YOO RI!

***

 

[1] Fatima Teacher adalah guru bahasa Inggris. Sangat hebat. Bahasa Korea juga bisa.

[2] Begitu ya?

[3] Salam, Teacher

[4] pertama-tama

[5] salah satu aksara Korea yang berbunyi R dan L

[6] mi instan

 

[7] nggak boleh. Sebaiknya jangan pake nama selebriti

[8] pas sekali


TIGA 


Hari ini Little Lolita cabang Tangerang resmi dibuka. Kedua guru Bahasa Inggris yang baru sudah bergabung dan bersama mulai menata kelas masing-masing sejak tiga hari yang lalu. Mereka adalah Miss Indah dan Miss Elisa. Mereka memilih namanya diberi embel-embel miss ketimbang teacher karena di sekolah tempat mereka mengajar sebelumnya, guru bahasa Inggris memang dipanggil miss. Mungkin memang hanya di sekolah Korea, guru bahasa Inggrisnya dipanggil teacher.

By the way,  Won Jang Nim telah mengabarkan partner tiap guru dan kelas yang akan di-handle. Hong Ui Young akan memegang kelas Parang (Blue) bersamaku. Kelas yang nantinya berisi murid berusia 6 tahun. Dia juga akan bertanggung jawab pada kelas Nuran (Yellow) bersama Anna. Kelas Nuran adalah kelas untuk anak usia 3 tahun. Lee Mi Yeon bersama Miss Elisa memegang kelas Balgang (Red)  yang berisi murid usia 5 tahun dan bersama Miss Indah di kelas Curug (Green) yang berisi anak usia 4 tahun.

Normalnya, dalam satu kelas berisi satu guru Korea dan satu guru bahasa Inggris. Namun Won Jang Nim menugaskan satu guru Korea untuk dua kelas. Ini juga terjadi di cabang Kelapa Gading. Alasannya karena murid di cabang Tangerang dan Kelapa Gading belum begitu banyak. Namun kata Cheon Kwi Young, itu alasan yang dibuat-buat. Sebenarnya kebijakan ini untuk penghematan. Bukan rahasia kalau gaji guru Korea sangat tinggi. Hampir sepuluh kali lipat gaji guru lokal. Untuk orang yang sangat perhitungan seperti Won Jang Nim, ini adalah beban terlebih jika murid-murid di cabang Tangerang ini tidak sebanyak di Kebayoran Baru.

Oke, kalau hitung-hitungan biaya, memang keputusan itu cukup bisa diterima. Tapi apakah Won Jang Nim “pura-pura” tidak tahu bahwa satu guru di dua kelas bisa membuat guru tersebut tidak fokus? Tidak peduli jika jumlah murid hanya sedikit. Sekolah taman kanak-kanak berbeda dengan sekolah SMP bahan SMA yang gurunya bisa pindah-pindah mengajar sesuai bidang studi. Mengajar di TK berarti jadi orang tua kedua bagi murid-murid. Kita harus memahami betul karakter murid dan memperlakukan mereka seperti anak sendiri. Dan menurut pengalamanku, ini bukan hal yang mudah.

Satu guru Korea untuk dua kelas?! Entah apa nanti tanggapan para orang tua saat hal ini disampaikan di acara Opening Ceremony. Ya, acaranya hari ini. Beberapa orang tua bahkan sudah datang bersama anak mereka. Kami segera menggiring mereka ke Gym Room. Kemarin ruangan ini telah kami tata sedemikian rupa untuk tempat diadakannya acara pembukaan sekolah. Poster besar bertuliskan Selamat Datang dalam tulisan Korea serta beberapa hiasan bunga kertas ditempel di tembok Gym Room.

Acaranya seharusnya sudah mulai 15 menit lalu, namun kami berenam, guru-guru Little Lolita dan Won Jang Nim, masih berdiri di pintu utama untuk menyambut orang tua murid yang masih berdatangan.

“Lima menit lagi kita masuk.” Won Jang Nim menginstruksikan dan itu tiba-tiba membuatku jadi gugup. Ini penyakitku paling aneh. Acara apa pun yang melibatkan orang tua murid sering membuatku gugup berlebihan. Padahal dengan pengalaman selama empat tahun berhadapan dengan orang tua murid, seharusnya kegugupan ini bisa kuminimalisasi.

Kamu terlihat hebat, Teacher Fatima!” Won Jang Nim memberi semangat. Dia pasti bisa melihat perubahan raut wajahku. “Berbicaralah yang banyak. Jangan khawatir salah. Hampir tidak ada orang tua murid yang bisa berbahasa Inggris.” Tambahnya sambil tersenyum ‘licik’.

Won Jang Nim memang ingin membuat cabang Tangerang ini sedikit berbeda dengan Little Lolita Kebayoran Baru dan Kelapa Gading. Dia ingin cabang ini lebih kental English-nya ketimbang Korea-nya. Kata Won Jang Nim, adalah suatu kebanggaan bagi orang-orang Korea jika anak-anak mereka diajari guru yang fasih berbahasa Inggris, meski di sisi lain mereka tetap tidak mau benar-benar menghilangkan pengetahuan Korea. Makanya, Won Jang Nim sangat optimis jika sekolah cabang Tangerang ini jadi favorit orang-orang senegaranya.

Sebelum bersama-sama masuk ke Gym Room, aku menyempatkan diri ke ruang guru untuk buru-buru menghabiskan Cappuccino-ku. Aku benar-benar gugup sehingga lupa bahwa minum dengan buru-buru bisa membuatku cegukan. Aku hanya berharap semoga kali ini tidak.

Di Gym room, guru-guru duduk berderet di kursi yang sudah ditata di hadapan para orang tua murid. Dan saat Won Jang Nim mulai berbicara untuk membuka acara, aku tiba-tiba cegukan. Ups! Semua mata menatap ke arahku. Aku menunduk malu sekali. Kudengar seorang anak berbicara pada mamanya bahwa aku cegukan seperti bayi. Semua tertawa, meski tanpa bermaksud mengejek tapi itu cukup membuat wajahku memerah.

“Fatima Teacher i nen nomu kiwopchiyo.[1]Won Jang Nim malah menambahkan. Kurasa Won Jang Nim senang dengan intermeso ini untuk mencairkan suasana.

Dia lalu membuka acara dengan mempromosikan program-program sekolahnya. Dia juga menceritakan kesuksesan Little Lolita yang sudah digagasnya di Korea dan Kebayoran Baru. Setelah sekitar 10 menit, dia memperkenalkan kami, para guru. Dia mempersilahkan kami memperkenalkan diri sambil berbicara sepatah dua patah kata. Dimulai oleh Hong Ui Young yang tampak sangat ceria namun serius. Kemudian dilanjutkan oleh Lee Mi Yeon yang sangat tenang dan mahal senyum. Thank God, tepat sebelum giliranku cegukanku berhenti. Seperti kata Won Jang Nim, aku bercerita panjang lebar tentang bagaimana pengajaran Bahasa Inggris yang efektif yang telah kami terapkan di Little Lolita Kebayoran Baru. Dan metode tersebut juga akan kami pakai di cabang Tangerang. Para orang tua tampak mendengarkan dengan saksama meski aku tahu mereka tidak begitu menangkap pembicaraanku. It’s okay. Itu malah membuatku lebih percaya diri. Ini adalah penyakit anehku yang berikutnya, merasa percaya diri dipanggung saat orang lain kebingungan dengan apa yang sedang kubicarakan.

Setelah aku, sambutan dilanjutkan oleh Anna, Miss Indah, dan Miss Elisa. Pada saat giliran Miss Indah, orang tua sudah semakin bad mood karena ketidaktahuan mereka pada pesan yang disampaikan dan karena anak-anak yang mulai riuh. Para orang tua malah lebih sibuk mendiamkan anak mereka ketimbang mendengarkan. Untunglah sambutan ditutup kembali oleh Won Jang Nim yang setengah bersorak mengajak anak-anak mengikuti guru masing-masing menuju kelas. Ini namanya perkenalan di kelas, agar guru dan murid saling mengenal secara personal. Para orang tua akan tinggal sejenak untuk berbincang dengan Won Jang Nim sebelum nantinya juga bergabung di kelas.

Muridku hanya tiga orang. Dua anak perempun dan satu laki-laki. Aku membariskan mereka agar mereka berjalan mengikutiku menuju kelas sambil bernyanyi The Wheels on the Bus. Hong Ui Young hanya mondar-mandir menertibkan semua anak-anak yang sepertinya sangat sulit diatur. Tidak apa-apa, hari pertama di sekolah anak-anak memang selalu begitu. Hanya perlu tidak lebih dari seminggu hingga mereka jadi sangat patuh pada guru, meski pada instruksi sederhana. Sugguh, ini adalah kelebihan anak-anak Korea, mereka sangat disiplin dan mudah diatur. Aku sudah mendengar cerita pengalaman teman-temanku yang mengajar di TK lokal atau TK Internasional namun juga berisi anak-anak lokal. Menurut mereka, anak-anak di sana cenderung manja dan sulit diarahkan.

Di kelasku, anak-anak duduk di karpet biru yang di tepi kiri dan kanannya ada tulisan Little Lolita dan aku duduk di kursi kecil berwarna biru di hadapan mereka. Setelah membuka kelas dengan lagu Good Morning, aku meminta mereka memperkenalkan diri di depan kelas. Dimulai dari seorang anak berkuncir dua yang sedari tadi tersenyum lebar.

“Hi, my name is Jun Do Won.” Katanya sambil melambai-lambaikan tangan. “I am seven years old.” Lanjutnya. Dia terlihat sangat percaya diri. Aku suka anak yang tidak malu-malu sepertinya. Aku pastikan dia juga pasti anak yang cerdas.

Oh ya, orang Korea memiliki perhitungan umur yang berbeda dengan orang di negara manapun termasuk di Indonesia. Biasanya mereka memperkenalkan usianya satu tahun lebih tua dari usia sebenarnya. Karena menurut mereka, ketika seorang anak lahir, anak tersebut sudah terhitung satu tahun. Jadi, Jun Do Won tentu saja masih enam tahun.

“Na nen Moon Hee Jin ya.[2] Anak di sebelah Jun Do Won lanjut memperkenalkan diri.

“I … Lee Seung Hun.” Giliran anak lelaki yang lucu itu memperkenalkan diri sambil tersenyum lebar.

Well, good everybody! Saya adalah guru Bahasa Inggris kalian.” Kataku, tentu saja dalam bahasa Inggris. “Nama saya Fatima az Zahra.”

Ketiga anak yang duduk di hadapanku saling melihat sambil mengulang namaku dengan susah payah.

“Son seng nim ireum i nomu isange![3] kata Moon Hee Jin yang disambut tawa setuju kedua temannya.

“Bukan aneh. Itu hanya karena nama orang Indonesia berbeda dengan nama orang Korea.” Aku mengoreksi.

“Iya, Teacher. Nama kakka-ku juga aneh. Namanya Superiati.” Kata Jun Do Won.

“Nama kakka-ku juga aneh, Neneng.” Lee Sung Hun menambahkan.

“Tapi kalian tahu tidak?” aku mendekat sehingga kini kami semua duduk di karpet. “Saya juga punya nama Korea….”

“Really, Teacher?” Jun Do Won membelalak.

“Ya, nama Korea saya Song Yoo Ri.”

“Wow! Seperti nama teman mamaku.” Teriak Lee Sung Hun. Tapi nama keluarganya bukan Song melainkan Keum. Jadi namanya, Keum Yoo Ri.”

Anyway, tapi kalian jangan memanggil saya dengan nama itu. Panggil saja Teacher Fatima.”

“Okay, Teacher Fatima!” sorak anak-anak hampir bersamaan.

Aku lalu membawa mereka tur kelas. Mulai dari Reading Corner, Science Corner, Block Building Corner, rak peralatan Matematika, rak peralatan game, Loker tempat menyimpan tas, botol minum, dan sepatu mereka, serta meja bundar khusus untuk menggambar, menulis, dan makan.

“Aku suka Science Center! Ada magnify glass dan batuan mineral yang bagus-bagus.” Kata Lee Seung Hun.

“Kalau aku suka Reading Center.” Kata Jun Do Won.

“Wah, tampaknya kamu gemar membaca ya, Jun Do Won?” tanyaku.

“Iya, Teacher. Di rumahku aku punya perpustakaan dan bukuku banyak sekali.”

“Itu bagus. Nanti kalian juga bisa membawa buku kalian ke sekolah untuk dilihat teman-teman. Tentu saja sesuai tema yang sedang kita pelajari.” Kataku.

Setelah puas melihat-lihat kelas, anak-anak kubawa ke lantai bawah. Di lantai bawah, kami berpapasan dengan Anna yang juga sedang menggandeng dua orang muridnya berkeliling. Mereka masih kecil-kecil dan masih diiringi pengasuh masing-masing. Yah, untuk hari pertama tidak apa-apalah, anak kecil kan lebih sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Daripada Anna kerepotan dengan tangis mereka, pengasuh diizinkan mendampingi.

Aku membawa murid-muridku tur ke Cooking Room, Creative Art Room, Math Room, Language Room, perpustakaan, Gym Room, dan ke rumah pohon di halaman sekolah. Kami kemudian kembali ke kelas dan anak-anak kubiarkan bermain dengan apa pun yang mereka suka.

Sepuluh menit kemudian, para orang tua masuk ke kelas. Anak-anak segera kuminta merapikan mainan yang sedang mereka mainkan.

“Okay, rug time everyone!” kataku.

Kini anak-anak duduk di karpet bersama orang tua masing-masing. Hong Ui Young juga ikut duduk bersamaku di kursi kecil di depan kelas. Hong Ui Young menyapa anak-anak dan orang tua mereka dalam bahasa Korea. Sebagai perkenalan, dia membacakan sebuah buku cerita. Anak-anak tampak sangat menikmatinya. Tiba-tiba pintu diketuk dan dibuka dari luar.

“Oh, maaf semuanya. Kami terlambat.” Seorang ibu yang sudah agak tua masuk bersama seorang anak perempuan.

“Tidak apa-apa, omoni[4]. Silakan masuk.” Hong Ui Young menyambut ceria dan membungkukkan badannya. Mereka pun segera duduk di sebelah Moon Hee Jin dan mamanya.

“Hai Lee Soh Rim!” Jun Do Won spontan menyapa anak yang baru masuk itu.

“Oh, kalian saling mengenal ya?” tanya Hong Ui Young berbasa-basi.

“Iya.” Jawab Jun Do Won dengan ceria, “Aku juga tahu kalau Lee Soh Rim tidak punya mama.”

“Omo! Jun Do Won a![5] mamanya segera menegur. Perlahan-Lahan wajahnya memerah.

Kwenchanayo[6] namanya juga anak-anak.” Kata ibu anak yang dipanggil Lee Soh Rim tadi. “Oh ya, kami belum memperkenalkan diri ya?” ibu tadi segera berdiri kembali sambil menarik tangan Lee Soh Rim ke depan.

“Ayo Lee Soh Rim, bicaralah!” bujuknya karena Lee Soh Rim itu tampak sangat malu-malu sampai-sampai harus menyembunyikan wajahnya di rok mamanya.

“Baiklah. Maaf kalau saya yang memperkenalkan, ya. Ini Lee Soh Rim. Dan saya neneknya Lee Soh Rim. Semoga kita bisa jadi teman baik di kelas….” si nenek melirik plang nama kelas di pintu “Oh iya, di Kelas Blue ini. Panggawo[7]!

Oo, ternyata itu neneknya. Dia belum begitu tua. Masih terlihat pantas memiliki anak TK. Kami semua tertawa melihat tingkah sang nenek. Dia benar-benar nenek yang ceria. Hong Ui Young lalu melanjutkan membaca buku cerita dan berbincang-bincang dengan anak-anak baik langsung pada anak maupun pada orang tuanya. Dibanding aku, Hong Ui Young lebih banyak bercengkerama dengan murid serta orang tua mereka. Aku juga melihat bahwa mereka pun lebih nyaman berbicara dalam bahasa Korea. Hanya Jun Do Won yang sangat cari perhatian terhadapku. Kuakui, bahasa Inggrisnya memang bagus. Bahkan lebih bagus dari mamanya sendiri.

Akhirnya acara perkenalan berakhir, ditutup dengan menyanyikan lagu Annyeong Annyeong. Lagu wajib mengakhiri kelas yang tampaknya semua anak Korea sudah tahu. Kalau di Indonesia, ya seperti lagu Sayonara Sampai Berjumpa Pulang itu deh.

Annyeong annyeong son seng nim

Annyeong annyeong cinggu dul

Neil ddasi manna

Panggap seupnida

Annnyeong Annyeong Aaaannyeong….[8]

***

Setelah anak-anak pulang, aku kembali ke kelas untuk merapikan nampan-nampan berisi bahan belajar di rak yang tadi dimainkan anak-anak. Besok-besok tampaknya aku harus melatih mereka untuk menaruh nampan dengan rapi.

Teacher Fatima!” Hong Ui Young muncul di pintu dengan senyuman puas. “Chalhesso22.

“Ya.” Kataku sambil terus membereskan kelas.

Won Jang Nim mengajak kita makan. Kamu bisa rekomen restoran yang bagus di sini?”

Memang sudah jadi kebiasaan Won Jang Nim mengajak guru-guru makan di luar setelah sekolah mengadakan acara apa pun. Untuk menyemangati guru-guru, katanya.

“Aku kan juga baru di sini. Tanya Miss Indah atau Miss Elisa aja. Mereka penduduk asli Tangerang.” Kataku memang bersemangat.

“Benar juga, tunggu ya! Kupanggil Teacher Indah kemari.” Hong Ui Young bergegas keluar. Sebentar saja dia sudah kembali sambil menarik paksa tangan Miss Indah.

Teacher Indah, ayo sebutkan restoran paling bagus di Tangerang ini!” Hong Ui Young sedikit memerintah. Dia adalah satu-satunya guru yang enggan mengganti sebutan teacher menjadi miss.  Katanya, sebutan miss  tidak pantas untuk guru. Terserah dialah. Agaknya Hong Ui Young agak keras kepala untuk begitu saja menuruti keinginan orang lain.

“Banyak kok restoran yang bagus di sini.” Jawab Miss Indah sambil sedikit mengingat-ingat.

“Yang paling bagus? Kalau bisa paling mahal juga.” Tanya Hong Ui Young.

Aku hanya tertawa kecil. Hong Ui Young tampaknya ingin cari kesempatan mumpung ditraktir Won Jang Nim.

“Banyak yang bagus sih. Tapi kalau mau yang unik ke resto Nelayan aja. Bentuk Restorannya seperti kapal dan lokasinya di tepi danau.”

“Kedengarannya oke!” Hong Ui Young tersenyum senang. “Yuk, kamu bilang langsung sama Won Jang Nim.” Tangan Miss Indah ditariknya lagi keluar.

Teacher Fatima! Ayo turun!” teriaknya dari luar.

Hah, dasar guru heboh! Aku menyudahi beres-beresku dan segera turun. Ternyata Won Jang Nim dan guru lainnya sudah menununggu di halaman. Mereka bersiap naik ke mobil.

Miss Indah memberi petunjuk jalan menuju restoran Nelayan pada Pak Eko. Supir Won Jang Nim itu juga sepertinya tidak begitu hafal jalan. Dia sangat mengandalkan arahan Miss Indah.

Sampai di restoran, kami disambut dua orang pramusaji di pintu “kapal”. Arsitektur restoran yang seperti kapal pesiar membuat kami terkesima. Semua kagum, kecuali Lee Mi Yeon.

“Mengapa harus ke sini? Aku tidak suka makanan Indonesia.” Dia berbisik padaku sambil kami berjalan beriringan.

“Ini resto sea food, Mi Yeon. Kalau sea food kan sama saja di Indonesia dengan di Korea atau bahkan di Eropa.”

“Ya, memang. Tapi aku tetap lebih senang kalau tadinya kita ke restoran Korea.”

Kami memilih makan di “dek kapal”, di mana kami bisa menghirup aroma danau dan menikmati semilir angin sore. Aku duduk di antara Hong Ui Young dan Anna, sehingga bisa kudengar Hong Ui Young berbisik pada Anna agar memilih makanan paling mahal. Anna hanya terkikik. Sepertinya dia setuju dengan ide itu. Hong Ui Young benar-benar nakal.

Sambil makan, kami saling bercerita tentang kejadian di kelas bersama anak-anak tadi di hari perkenalan. Anna bilang dia sangat kesulitan berbahasa Inggris dengan dua anak toddler-nya. Anak-anaknya berbahasa Indonesia padanya dan memanggilnya dengan sebutan kakka. Spontan kami semua terbahak. Kakka adalah panggilan anak-anak Korea pada pengasuh mereka. Mereka memang agak kesulitan dengan sebutan kakak dan kata apa saja dengan huruf konsonan di akhir kata, sehingga hampir semua anak Korea memanggil pengasuh mereka dengan sebutan kakka. Artinya sama saja.

Lain lagi di kelas Miss Indah, ada anak lelaki yang gemar memukul dan berteriak. Katanya, kelasnya jadi heboh karena tangisan anak-anak yang dipukul si anak lelaki itu. Wadow, ngeri juga! Katanya orang tua jadi waswas sambil memegagi anak masing-masing karena takut jadi korban pukulan. Di kelas Pink semua adem ayem. Adem seperti gurunya, Lee Mi Yeon.

“Bagaimana di Kelas Blue?” tanya Won Jang Nim. “Oh ya, tadi Jun Do Won bilang pada saya kalau dia sangat menyukai Teacher Fatima…”

Chaesong heyo[9], keburu lupa. Ngomong-ngomong soal Jun Do Won, Won Jang Nim.” Hong Ui Young memotong pembicaraan Won Jang Nim. “Tadi dia sempat bikin suasana tidak enak di antara para orang tua.”

“Kenapa?” Won Jang Nim tampak penasaran.

“Waktu Lee Soh Rim datang bersama neneknya, Jun Do Won langsung nyeletuk bilang bahwa Lee Soh Rim tidak punya mama. Kontan saja wajah mama Jun Do Won jadi memerah malu….” blah blah blah. Dia menceritakan semuanya secara detail.

Omo, omo! Jun Do Won kayak ibu-ibu tukang gosip saja.” Won Jang Nim membulatkan matanya. “Memang … orang tua Lee Soh Rim sudah bercerai. Lee Soh Rim diasuh papanya. Abang Lee Soh Rim ikut mamanya di Amerika.”

Ooo… ternyata orang tua Lee Soh Rim sudah bercerai. Aku baru tahu. Kasihan sekali anak sekecil itu harus kehilangan kasih sayang mamanya. Pantas saja dia jadi tampak sangat pemalu. Dia tidak se-PD anak-anak lain. Semoga dengan berjalannya waktu, rasa percaya dirinya bisa meningkat. Ini adalah tugasku sebagai gurunya. Aku pasti membantunya.

Saat pikiranku masih pada Lee Soh Rim, tiba-tiba Lee Mi Yeon berteriak histeris sambil melompat naik ke kursi. Kami semua ikut kaget. Beberapa waitress yang berjaga di sekeliling kami juga ikut kaget seraya segera mendekat.

“Ada apa, Lee Mi Yeon Son Seng Nim?” tanya Won Jang Nim khawatir. Yang lain juga ikut bertanya yang sama. Anna malah ikutan kaget sampai-sampai sisa kerang bambu yang sedari tadi dinikmatinya tumpah ke meja.

“Musoun goyangieyo.” [10] Kata Lee Mi Yeon takut.

Kami semua melongok ke bawah meja dan melihat kucing rumah lucu berwarna hitam putih di depan kursi Lee Mi Yeon.

“Nomu mosowo.Towa juseyo!” [11] Tambahnya lagi. Wajahnya sampai pucat.

“Ya, Son Seng Nim! Anmuso!”[12] Won Jang Nim tampak agak kesal. “Mana ada guru TK yang takut kucing!”

***

Kejadian di resto Nelayan, saat Lee Mi Yeon melompat ketakutan karena kucing, menjadi bahan olok-olok kami padanya hingga saat sampai di mes guru.

“Sama kucing, mah, nggak usah takut. Yang perlu ditakuti ini nih, nyamuk.” Kata Anna sambil menggaruk lengannya kiri dan kanan.

Aku dan Hong Ui Young terbahak hingga suara kami membahana terpantul di tembok-tembok tangga. “Padahal aku berencana memelihara kucing di rumah.” Ledekku.

No! Tidak boleh!” Lee Mi Yeon bersorak.

Kami semakin terbahak hingga masuk ke kamar masing-masing.

Baru saja aku merebahkan diri di tempat tidurku yang empuk, Anna mengetuk pintu kamar dengan irama yang terburu-buru. Dia masuk tanpa menunggu izin dariku.

“Kak, punya bedak gatal nggak? Badan gua kok tiba-tiba gatal-gatal.” Katanya seraya menggaruk-garuk bukan hanya lengannya, tapi leher, kepala, dan badannya.

“Ada sih, tapi kutaruh di mana, ya? Aku jarang pake.” Aku beranjak turun dari tempat tidur dan mulai membongkar-bongkar rak pernak-pernikku.

“Aduh, Kak. Tenggorokan gua kok ikutan gatal!” Anna terbatuk-batuk. “Nafas gua sesak banget.” Dia terduduk di lantai puzzle-ku sambil memegangi lehernya. Dia tampak seperti tercekik.

“Kak, tolongin! Gua nggak bisa nafas….”

Kontan saja aku panik. “Anna! Kamu kenapa?!” aku memeganginya, benar-benar bingung mau berbuat apa. “Hong Ui Young Ssem! Lee Mi Yeon Ssem! Tolongin Anna! Kemari cepat!” aku berteriak-teriak karena Anna semakin kesulitan bernafas.

Lee Mi Yeon dan Hong Ui Young segera muncul di pintu kamarku dan bertanya-tanya ada apa.

“Jangan hanya bertanya. Lakukan sesuatu!” teriakku. “Anna kenapa nih! Tolongin!”

“Kubuatkan teh pahit, tunggu di sini!” Hong Ui Young segera berlari ke dapur. “Mungkin keracunan makanan.” Teriaknya dari dapur.

“Keracunan makanan? Emangnya tadi kamu makan racun?” tanya Lee Mi Yeon dengan lugunya.

“Kerang … kerang bambu.” Anna menjawab tidak kalah polosnya meski dengan susah payah. Dia terus terbatuk-batuk dan menggaruk-garuk.

Hong Ui Young kembali dengan segelas teh panas. Dia membantu Anna meminumnya. “Habiskan!” perintahnya. “Ya, mungkin keracunan kerang bambu. Aku juga dulu pernah keracunan lobster.”

Kami saling bertukar pandang, seolah berkata bahwa lobster tidak sama dengan kerang bambu.

“Maksudku, keduanya sama-sama makanan laut tinggi protein.” Hong Ui Young menjelaskan. “Dulu aku malah lebih parah, sampai masuk ICU.”

“Lagian kenapa harus makan kerang bambu segala sih!” Aku menyalahkan Anna. “Jangan suka nyoba makanan aneh-aneh lah!”

Anna tampak mulai bisa bernafas normal. “Hong Ui Young Ssem yang nyuruh gua pesan makanan paling mahal.”

Aku dan Lee Mi Yeon langsung melotot marah pada Hong Ui Young. Betapa tidak, kejadian yang menimpa Anna barusan benar-benar bikin panik. Aku sungguh merasa Anna akan mati kejang karena jantungan atau kesurupan.

Hong Ui Young menampakkan wajah menyesal, “Mian….”[13]

***

[1] Fatima Teacher sangat lucu ya?

[2] saya adalah Moon Hee Jin

[3] nama Bu Guru sangat aneh

[4] ibu/nyonya

[5] Ya ampun, Jun Do Won! (akhiran a disematkan di belakang nama sebagai tanda teguran)

 

 

[6] tidak apa-apa

[7] senang bertemu kalian

[8] Selamat tinggal guru. Selamat tinggal teman-teman. Besok kita bertemu lagi. Pertemuan yang menyenangkan. Selamat tinggal.

[9] kerja bagus

[10] Kucing yang menakutkan.

[11] takut banget nih. Tolong.

[12] Bu Guru, tidak perlu takut!

[13] Maaf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *