KISAH INSPIRATIF DI PONDOK PESANTREN

Oleh M Ivan Aulia Rokhman 

Kisah para santri dapat menjadi suntikan inspirasi, dapat pula membangun motivasi untuk mengajak pada kebaikan. Buku ini membinkai berbagai kisah menarik seputar pesantren yang dapat dijadikan pelajaran. Tentang adaptasi, perpisahan, identitas, dan ekspektasi.

Buku ini juga merupakan satu jendela untuk melihat cerita-cerita di balik layar kehidupan santri, menyuguhkan hidangan berbahan hikmah, pesan, cinta, rasa, dan cerita. Tulisan ini menyerupai seorang gadis yang menghasilkan momentum selama ia menuntut ilmu di pondok pesantren. Mulai dari bangun subuh hingga tidur lagi. Semua ini disajikan melalui kisah penuh inspiratif. Tulisan menjadi wadah semangat dalam menegakkan Islam Rahmatal lil alamin.

Kisah ini dibuka dengan memasuki fase baru menjadi santriwati di sana. Selama berlakukan aturan di pondok tetap dijalankan dan disesuaikan dengan kedisplinan dan kecerdasan berilmu sesuai landasan akhlak dan menerapkan fiqih. Begitu masuk ke pesantren ada beberapa cobaan yang perlu dihadapi sebagai bentuk resiko yang membanting tulang untuk mengukuhkan ilmu yang bermanfaat.

Ini baru hari-hari pertamaku melewati salah satu fase kehidupan. Masih ada banyak fase-fase lain yang lebih berat dan menantang, lebih banyak perjuangannya dan mungkin air mata yang harus dipertaruhkan, yang harus dipertahankan. Tetaplah pada niat awal langkahmu.

Setiap orang akan merasakan fasenya masing-masing berat yang mereka rasakan pun pasti berbeda dengan kita karena kemampuan tiap orang juga jelas berbeda. Jangan pernah memandang masalah seseorang dengan kacamata pribadi, karena ringan bagi kita belum tentu ringan bagi mereka (hal 21-22).

Dalam menempuh pendidikan, santri tempo dulu telah benar-benar merasakan perjuangan. Mulai dari jauhnya jarak yang ditempuh untuk pergi ke pesantren dengan transportasi seadanya, buku-buku yang harus dicari dengan pengorbanan, mandi dan mencuci dengan sarana yang minim hingga suasana dan lingkungan pesantren yang masih begitu sederhana. Disitulah kemandirian tumbuh-tumbuh dan menyatu dalam diri sendiri pondok pesantren  tempo dulu. Nilai kekeluargaan yang tinggi juga benar-benar dirasakan, mengingat jauhnya mereka dengan keluarga dalam keterbatasan komunikasi (hal 34).

Di masa sekarang di lingkungan pondok dilarang memainkan handphone atau menggunakan teknologi di dalam pesantren. Ia harus belajar mandiri dalam melakukan kegiatan di pesantren. Setelah pulang sekolah ada kegiatan yang bisa mengisi waktu pesantren dengan mengkaji kitab-kitab, menyetor hafalan surat, doa, kalimat bahasa arab, dan lebih mengerikan di bagian hadist. Itulah keseharian di pesantren begitu menumpuk jika dibandingkan dengan sekolah umum yang menempuh waktu sampai lima belas jam. Bisa jadi pembelajaran bagi anda.

Bahasa dalam tulisan ini santai dan ringan. Sehingga dapat dipahami serta dihayati secara kompenten. Sebagaimana Allah Swt dalam berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 269

“Allah menganugerahkan hikhmah kepada siapa yang kehendaki-Nya, dan barang siapa dianugerahi hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya oran-orang yang berakal-lah yang dapat mengambil pelajaran”

Kamu dapat memahami orang lain yang berbeda pendapat bahkan sikap denganmu. Dapat menghargai mereka meski berat. Kamu akan lebih dewasa dalam menghadapi dan menyeelsaikan masalah. Memahami bagaimana rasanya memotivasi diri sendiri saat sedang meraasa buruk di pesantren (hal 79).

Cobalah untuk menyemangati diri sendiri agar kita dapat termotivasi untuk lebih maju. Mengurangi waktu tidur dan menggantinya dengan hal yang lebih bermanfaat misalnya mengembangkan minat-bakatmu selagi bisa. Memang, terkadang tidur menjadi menyenangnkan disaat tertentu. Sungguh menyenangkan (hal 138). Ambil hikmahnya.


INFO BUKU


 

Judul Buku : Catatan Harian Anak Pesantren

Penulis : Aisyah Badres

Cetakan  : I, November 2017

Tebal :192 Halaman

ISBN : 978-602-6334-37-4

 

Kisah para santri dapat menjadi suntikan inspirasi, dapat pula membangun motivasi untuk mengajak pada kebaikan. Buku ini membingkai berbagai kisah menarik seputar pesantren yang dapat dijadikan pelajaran.

Tentang adaptasi, perpisahan, identitas, dan ekspektasi. Buku ini juga merupakan satu jendela untuk melihat cerita-cerita di balik layar kehidupan santri, menyuguhkan hidangan berbahan hikmah, pesan, motivasi, inspirasi, cinta, rasa, dan cerita.


PERESENSI


M Ivan Aulia Rokhman, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Dr Soetomo Surabaya. Lahir di Jember, 21 April 1996. Lelaki berkebutuhan khusus ini meraih anugerah “Resensi / Kritik Karya Terpuji” pada Pena Awards FLP Sedunia. Saat ini menjabat di Devisi Kaderisasi FLP Surabaya dan Anggota UKKI Unitomo.

M Ivan dapat dikontak melalui akun Facebook  M Ivan Aulia Rokhman, atau email rokhmansyahdika@gmail.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *