MEI HWA, MENGAJAK PEMBACA MELINTAS DARI ZAMAN KE ZAMAN

Sumber Gambar: Pixabay

 

Oleh: Awe

Mei Hwa … Dan Sang Pelintas Zaman adalah novel sejarah dengan sentuhan khas Afifah Afra. Novel ini menyajikan ‘kebrutalan’ zaman penjajahan sampai zaman Orba. Tak seperti novel sejarah yang biasa Afifah Afra buat, melalui Mei Hwa, Afra mampu menciptakan sudut pandang baru. Yaitu menyajikan dua tokoh utama yang mempunyai nasib hampir serupa, namun berbeda zamannya.

Adalah Mei Hwa dan Sekar Ayu, pelakon utama novel ini. Keduanya terlahir dari keluarga bahagia, pada awalnya. Dengan kehidupan sempurna masing-masing. Mei Hwa, calon dokter spesialis, yang hidupnya mendadak kacau balau karena tragedi 1998.  Dan Sekar Ayu, si gadis ayu yang lepas dari usia 7 tahun tak lagi mengenyam kehidupan seindah parasnya. Kedua tokoh utama tersebut sama-sama menjadi korban pelecehan seksual. Bahkan dalam kasus Mei Hwa, ia hampir menjadi gila. Untuk Sekar Ayu, ia hidup di zaman penjajahan. Dan semakin tersayat-sayatlah hidupnya karena status tapol, di mana dia ‘terjebak’ masuk ke dalam gerakan terlarang: Gerwani.

Oleh takdir, dua sosok ayu beda generasi ini kemudian dipertemukan. Dengan nama Mbah Murong, Sekar Ayu berubah menjadi seorang tua renta yang dilukiskan Afifah Afra sebagai ‘sebatang kayu.’ Dipertemukan dengan Cempaka (nama lain Mei Hwa), hingga akhirnya menjadi sahabat. Selain menyajikan peristiwa keji zaman penjajahan dan reformasi, novel ini juga menyajikan romansa manis. Mei Hwa dan Firdaus, dua sejoli yang memendam cinta dalam diam, akhirnya melabuhkan perasaan masing-masing dengan akhir yang indah.

Secara garis besar, pembaca diajak untuk berkelana ke zaman penjajahan. Melihat transisi kehidupan dari Belanda berganti dengan Jepang, tentu saja yang tak mengubah penderitaan. Dari novel ini pembaca bisa tahu, bahwa penjajahan tak hanya dilakukan oleh bangsa lain. Ternyata ‘penjajahan’ juga bisa dilakukan oleh bangsa sendiri. Adalah keturunan Tionghoa banyak menjadi ‘tumbal’ reformasi. Ketika banyak orang mengaku ‘pribumi’ memangsa habis harta warga keturunan dan melakukan kekerasan, baik fisik, psikis, maupun seksual. Padahal jika memang mereka sudah tinggal lama di Indonesia, tak bisakah mereka dicap sebagai warga pribumi juga? Karena hanya warna kulit dan ukuran mata saja yang berbeda.

Novel ini mengajarkan pembaca bahwa penindasan, penjajahan, pun mengambil hak orang lain untuk bisa hidup tenang adalah sebuah pelanggaran berat. Dampak psikologis tak akan lekas hilang, bahkan mungkin tak mungkin hilang. Oleh karena itu, menjadi warga negara yang lebih mau memahami dan menyadari bahwa Indonesia adalah milik semua warga negara Indonesia adalah kewajiban. Indonesia tak hanya dimiliki oleh golongan tertentu. Untuk bisa dicap ‘warga negara Indonesia’ tak usah permasalahkan ras, golongan, suku, dan perbedaan lain.

Menilik masa kelam sejarah negeri ini harusnya mampu menjadikan bangsa ini menjadi lebih bijak. Indonesia tak akan ada tanpa masa lalu. Dan masa depan negara di tangan kita, yang kelak akan kita turunkan kepada anak cucu.

 


MEI HWA DAN SANG PELINTAS ZAMAN


Judul               : Mei Hwa … Dan Sang Pelintas Zaman

Penulis             : Afifah Afra

ISBN               : 978-602-1614-11-2

Harga              : Rp 55.000,-

 

“Dia korban perkosaan,” bisikan lelaki berjas putih itu menyakitiku.

Korban perkosaan. Aku mengerang. Meradang. Seakan ingin memapas sosok-sosok beringas yang semalam itu menghempaskan aku kepada jurang kenistaan.

“Kasihan dia,” ujar lelaki itu lagi, samar-samar kutangkap, meski gumpalan salju itu menghalangi seluruh organ tubuhku untuk bekerja normal seperti sediakala.

“Kenapa?” tanya seorang wanita, juga berpakaian serbaputih.

“Rumahnya dibakar. Tokonya dijarah. Ayahnya stress, masuk rumah sakit jiwa. Dan ibunya bunuh diri, tak kuat menahan kesedihan.”

……………

Huru-hara 1998 tak sekadar telah menimbulkan perubahan besar di negeri ini. Sebongkah luka yang dalam pun menyeruak di hati para pelakunya. Mei Hwa, gadis keturunan Tiong Hoa adalah salah satunya. Dalam ketertatihan, Mei Hwa berusaha menemukan kembali kehidupannya. Beruntung, pada keterpurukannya, dia bertemu dengan Sekar Ayu, perempuan pelintas zaman yang juga telah terbanting-banting sekian lamanya akibat silih bergantinya penguasa, mulai dari Hindia Belanda, Jepang, hingga peristiwa G30S PKI. Sekar Ayu yang telah makan asam garam kehidupan, mencoba menyemaikan semangat pada hati Mei Hwa nan rapuh.

Dalam rencah badai kehidupan, berbagai kisah indah terlantun: persahabatan, ketulusan, pengorbanan dan juga cinta. Lewat novelnya ini, Afifah Afra kembali mengobrak-abrik emosi pembaca lewat novel bergenre fiksi sejarah yang sarat konflik, diksi menawan dan pesan yang sangat kuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *