MEMBACA DUA BAB PERTAMA “TEMAN BARU JUNG YUN”

 

 

 

 

            Halo teman-teman, perkenalkan namaku adalah Jung Yun. Kalian bisa memanggilku Yun. Tahun ini aku genap berusia 12 tahun. Aku lahir di Ilsan, Korea. Saat ini, aku sekolah di Sekolah Dasar Internasional Korea. Di sekolah ini, aku mempunyai banyak teman campuran dari berbagai bangsa di dunia. Di sini aku juga banyak belajar mengenal budaya dan bahasa bangsa lain. Sungguh menyenangkan bersekolah di SDI Korea ini.

Sekolahku terletak di kota Seoul. Menurut pelajaran sejarah yang aku terima di sekolah, Seoul itu juga dikenal sebagai ibukota Korea Selatan. Bahasa resmi kami adalah Korea. Sistem pemerintahan kami Republik Presidensiil. Mata uang yang kami gunakan adalah won Korea Selatan. Selain itu, negaraku memiliki empat musim: musim dingin, semi, panas, dan gugur. Tahukah kamu? Dalam peta dunia, Korea dibagi menjadi 2 bagian lho, yaitu Korea Utara dan Korea Selatan. Pembagian tersebut dilakukan pada akhir Perang Dunia II. Begitu penjelasan dari guruku. Tapi, aku tidak terlalu tertarik dengan pelajaran sejarah, maka kita cukupkan saja, ya, penjelasan tentang negaraku. Sekarang, akan aku ceritakan kisah yang lebih menarik tentang diriku.        Yuk, simak kisahku ini teman-teman!

Hari ini, pagi-pagi sekali aku sudah datang ke sekolah. Bukan karena ada kegiatan sekolah, tetapi aku hanya ingin berangkat lebih awal dari biasanya. Saat memasuki gerbang, halaman sekolah yang biasanya ramai masih sangat sepi sekali. Sekolahku sangat luas dan besar, gedungnya saja bertingkat dua, memiliki halaman yang dibagi menjadi lapangan sepak bola, lapangan basket, dan juga taman. Kelasku ada di lantai bawah, jadi aku tidak perlu naik turun tangga.

Oya, kalian juga perlu tahu, kami diwajibkan berganti sepatu yang khusus digunakan saat di dalam ruangan sebelum memasuki gedung sekolah. Sepatu-sepatu itu tersimpan di dalam rak dekat pintu masuk, setiap rak sudah ada nama kami masing-masing. Jadi, tidak perlu takut akan tertukar oleh milik orang lain. Aku melangkah santai masuk ke dalam kelasku yang juga masih sepi. Belum ada satu pun teman-temanku yang datang, aku hanya melihat penjaga sekolah dan satpam di pos jaga tadi. Sambil menunggu teman-teman, aku membuka buku pelajaranku. Aku membaca ulang materi yang belum sepenuhnya aku pahami. Siapa tahu, nanti tiba-tiba ada ujian dadakan.

Yun-ah[2] kamu hari ini datang pagi sekali. Jangan  jangan .…” selidik Yoen Jie yang baru masuk ke kelas dan mendapati diriku sudah duduk diam di bangku sambil membaca buku. Yeon Jie itu sahabat kentalku sejak lama. Dia cukup pandai dalam pelajaran olahraga, teman-teman yang lain pun mengakuinya. Selain itu, Yeon Jie juga termasuk anak yang baik hati dan ceria. Kalau tidak ada dia, kelas terasa sangat sepi.

“Jangan-jangan apa?” tanyaku curiga.

“Belum buat PR, ya?”

“Ye, sudah selesai dong. Kamu pikir, aku kamu yang cuma bisa nyontek saja.” ejekku yang tentu saja hanya bercanda.

Yoen Jie tidak menanggapi ledekanku, dia tersenyum lebar sambil duduk di sebelahku. Setiap meja dan bangku di sekolahku saling terpisah satu sama lain. Biasanya untuk meja di sebelahnya, diberi jarak rata-rata 1 meter permeja.

“Hari ini aku tidak akan menyontek PRmu, tapi .…” Yoen Jie memandangku dengan tatapan memelas, matanya berkaca-kaca.

“Tapi?” aku sedikit khawatir kalau dia sudah seperti itu, pasti dia akan meminta sesuatu yang tidak akan bisa aku penuhi.

“Ajari aku nomor ini.” Yoen Jie mengambil buku matematika miliknya dan membuka halaman yang terdapat soal yang tidak dimengertinya.

Hah? Mataku sampai melotot karena terkejut, aku tidak tahu bahwa temanku ini mempunyai keinginan untuk belajar matematika. Padahal biasanya Yoen Jie hanya langsung meminjam buku PR ku dan menyalinnya. Ada apa dengan dirinya hari ini? Aku jadi bertanya-tanya.

“Heh, kenapa malah bengong. Mau tidak mengajariku?”

“Eh, iya.”

Aku pun mulai mengajari Yoen Jie. Tidak aku sangka ternyata Yoen Jie cepat menangkap pelajaran yang aku berikan. Kalau dia secerdas ini, lantas mengapa selama ini dia enggan belajar dan lebih memilih bermain, ya? Em, entahlah. Ah … tapi, aku hampir lupa kalau dia sangat cerdas dalam bidang sains, bisa dikatakan dia adalah saingan nomor satuku di kelas ini. Kami berdua selalu berlomba-lomba untuk bisa mengalahkan satu sama lain. Tapi kalau dalam pelajaran olahraga, aku cukup mengalah saja kepadanya. Aku sangat lemah dalam pelajaran tersebut.

Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Bel tidak terasa sudah berbunyi, menandakan jam pelajaran pertama sudah akan dimulai. O iya … aku lupa bilang, kami masuk sekolah sekitar pukul 08.00 pagi waktu Seoul. Semua aktivitas di Korea dimulai pada pukul sembilan, walaupun ada juga yang beraktivitas lebih pagi lagi.

Anyonggaseo[3].” sapa wali kelasku, dia adalah guru bahasa Korea. Namanya Park Hei Yun songsaengnim[4].

Anyonggaseo.[5]” balas kami kompak.

“Sebelum kita memulai pelajaran hari ini., bapak mau memperkenalkan teman baru kalian.”

“Teman baru?” seluruh kelas kasak-kusuk, tidak menyangka akan kedatangan murid baru. Semua begitu nampak antusias menunggu.

“Zaim, masuklah.” Songsaengnim sedikit terpeleset lidahnya saat memperkenalkan nama anak baru itu.

Zaim masuk dengan wajah ceria. Senyumnya menebarkan kehangatan. Baru kali ini aku melihat ada seseorang yang begitu tenang menghadapi orang-orang yang belum dikenalnya. Semua tampak terpesona. Dia mulai memperkenalkan dirinya.

Assalamu’alaikum. Anyonggaseo, manaseo bangawayo. Jeoneun Zaim Agam Handoko immida[6]. Saya pindahan dari Jakarta, Indonesia.”

Dia memperkenalkan diri dengan sangat aneh. Salam apa yang diucapkannya tadi? Selain itu, senyumnya masih terus terpasang di wajahnya. Apa bibirnya tidak capek tersenyum terus seperti itu? Anak yang aneh.

“Dia mengucapkan apa tadi?” tanya Yoen Jie kepadaku. Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala.

“Zaim, kamu bisa duduk di bangku kosong yang ada di belakang.”

Ne, algesseumnida songsaengnim[7].”

Masih dengan senyum menyungging di wajah, dia berjalan ke tempat duduknya. Teman-teman masih saja memperhatikannya, sama seperti aku. Akhirnya songsaengnim menyuruh kami kembali fokus untuk belajar. Kami pun kembali menerima bimbingan dari songsaengnim dan melupakan sejenak kehadiran Zaim.

***

Gosip tentang Zaim menyebar cepat. Baru setengah hari dia berada di hakgyo,[8] tetapi sudah mengudang rasa penasaran banyak orang. Mungkin yang paling mencolok adalah karena dia ramah dan sangat murah senyum. Banyak teman-teman di kelas yang mulai mendekatinya untuk berkenalan.

“Sepertinya dia benar-benar tidak akan menemukan banyak teman di sekolah ini. Lihat saja wajahnya, senyumnya seperti dipaksakan begitu. Terlihat palsu.” aku mengangkat pundak mendengar pertanyaan Yeon Jie. “Tapi, bahasa Koreanya bagus juga. Apa mungkin dia sudah belajar dari kecil?” mata Yeon Jie mendelik padaku, tidak suka dengan jawaban diamku.

“Memangnya aku harus tahu setiap persoalan? Aku kan bukan ketua kelas. Kalau mau tanya, sana tanya sama Junsu.” aku sedikit menaikkan volume suaraku. Itu agar Yeon Jie paham bahwa aku bukanlah manusia super yang tahu segalanya.

“Yah, tanya Junsu-ah sama saja bertanya dengan tembok.” Yeon Jie kesal sendiri. Pada akhirnya dia menyerah mencari tahu tentang Zaim.

Sebenarnya tanpa Yeon Jie ketahui, aku diam-diam memperhatikan gerak-gerik anak baru itu. Entah mengapa, aku merasa kesal melihat keramahan yang terlalu berlebihan ditunjukkan olehnya. Mau tidak mau, aku setuju dengan pendapat Yeon Jie. Aku pun merasa dia  pura-pura saja melakukannya. Ditambah aku mulai tidak suka ketika teman-teman mulai akrab dengannya.

Sillyehamida, chingu[9]. ucap Zaim sambil melambaikan tangan penuh keramahan.

            Aku tersentak kaget mendapati anak baru itu mendekatiku. Rasanya jantungku hampir copot dibuatnya. Sesaat aku tidak bisa mengatakan apapun, hanya terbengong-bengong bingung melihatnya.

Gwaenchanni[10]?” Zaim menyentuh lenganku meminta kepastian.

Ne ne. Gwaenchanna. [11]” jawabku terbata. Masih belum bisa merespons keadaan. Dia malah tersenyum lebar begitu aku katakan aku baik-baik saja.

“Maukah kamu menemaniku?” suaranya terdengar halus bersahabat. Tatapan matanya menunjukkan kelembutan. Baru kali ini aku menemukan seseorang yang sangat friendly. Padahal kami baru saja bertemu.

Oediga[12]?”

“Melihat-melihat sekolah. Kamu jadi pemanduku untuk hari ini.” anak baru itu memutuskan begitu saja tanpa meminta persetujuanku. Aku sedikit tidak suka dengan sikapnya.

“Ah, maaf. Aku belum memperkenalkan diri. Aku Zaim, semoga kita bisa menjadi teman dekat.” ucapnya sambil menyunggingkan senyum yang menampilkan deretan gigi putih rapinya. Aku terpaku, namun akhirnya bisa bersuara juga.

“Aaa, aku Jung Yun, panggil saja Yun.”

Yun-ah, senang berkenalan denganmu.” Dengan penuh semangat dia meraih tanganku untuk berjabat. Genggaman tangannya sungguh kuat, aku sampai kewalahan, “Apa kita bisa mulai menjelajah sekolah sekarang juga?”

Karena begitu fokus dengan Zaim, aku sampai melupakan suasana kelas yang tadinya ramai tiba-tiba senyap lantaran Zaim menghampiriku tadi. Sepertinya, mereka ingin tahu apa yang sedang kami bicarakan. Bahkan, Yeon Jie sampai membuat alat dengar dengan buku latihannya. Ketika aku meliriknya, dia memberi isyarat kebingungan. Kutanggapi dengan cuek isyarat Yeon Jie.

“Kok bengong? Apa kamu sibuk sehingga tidak bisa menemaniku? Kalau memang tidak bisa, aku bisa mencari teman yang lain. Aku tidak ingin menyusahkanmu.” katanya dengan suara yang terdengar tidak enak.

Bagaimana mungkin semenjak tadi dia terus menentukan dan memutuskan sekehendak hatinya. Tidakkah dia memikirkan perasaan orang yang sudah dimintainya tolong? Aku menatapnya dengan ketus. Eh, kok dia malah memasang wajah tanpa bersalah begitu? Membuat sebal saja! Zaim masih berdiri sambil menatapku dengan pandangan penuh harap. Aku jadi tak tega melihat wajah memelasnya. Akhirnya aku mengangguk, menyetujui permintaannya.

“Aku bisa mengantarmu.”

“Asyikkk!!! Gamsahamnida[13].” sebuah kalimat sederhana itu mampu memberinya kebahagiaan yang luar biasa. Benar-benar anak yang aneh. Dengan agak terpaksa, aku pun menemaninya berkeliling sekolah.

***

Setelah membantu anak baru berkeliling sekolah, akhirnya aku bisa bebas melakukan aktivitasku sendiri. Entah mengapa aku yang dimintai tolong untuk membantunya berkeliling kelas? Padahal banyak teman-teman sekelas yang mengajaknya berkenalan tadi. Apa mereka tidak mau diajak berkeliling oleh Zaim? Tapi, mengapa? Mereka tadi kelihatan sangat akrab dengan Zaim. Bahkan terlihat sudah berteman.

“Yun, tadi mengapa kamu terima ajakan anak baru itu berkeliling?” tanya Yoen Jie mengejutkanku.

“Yeon Jie! Berhentilah mengagetkanku. Jantungku ini hanya satu tahu.”

“Ah, maaf, maaf.”

“Jadi, apa masalahnya kalau aku mengajaknya berkeliling?” tanyaku tak paham dengan perkataan Yeon Jie.

“Apa kamu tidak tahu, Yun?” tiba-tiba Junsu menyambar dari arah belakangku.

“Tahu apa?”

“Dia anak aneh.”

“Aneh bagaimana?” tanyaku tidak bersemangat. Meskipun tidak diberi tahu, kesan pertamaku pada Zaim memang sudah tidak baik.

“Wajahnya terus tersenyum. Padahal tidak ada yang lucu.”

“Mungkin dia cuma ingin bersikap ramah.”

“Selain itu, tadi saat anak-anak mengajaknya berkenalan, dia menolak cokelat pemberian Mori. Padahal Mori hanya ingin lebih akrab dengannya.”

“Yang lebih parah ….” kali ini Yeon Jie yang bercerita. “Saat anak-anak mengajaknya untuk makan siang bersama di taman sekolah, dia juga menolak. Katanya, ada yang harus dilakukannya.”

“Dia sombong sekali kan? Padahal baru jadi anak baru, tapi sudah sombong dan belagu.” Junsu menambahkan ketidaksukaannya.

“Mungkin maksudnya bukan begitu.”

“Kok kamu malah membela dia sih?” Yeon Jie jadi marah padaku.

“Tadi saat dia menolak permintaan kalian, apa dia bersuara kasar?” tanyaku penasaran.

“Mmm.” Junsu tidak bisa menjawab.

“Tidak juga sih.” Yeon Jie bersuara agak pelan.

“Nah, kalau begitu sudah tidak ada masalah kan?”

Aku meninggalkan kedua temanku yang masih diam mematung. Sejujurnya, aku hanya tidak ingin melanjutkan obrolan tentang Zaim di belakangnya. Terlebih lagi, aku belum tahu bagaimana sosoknya yang sebenarnya. Kalau sampai aku ikut memperoloknya, bisa-bisa aku menjadi anak yang tidak baik.

***

 

 

 

[1] Satu (angka asli korea dan hanya sampai angka 99)

[2] Tambahan kata ah dibelakang nama menunjukkan panggilan akrab bagi seorang teman

[3] Selamat pagi

[4] Guru

[5] Selamat pagi, Pak

[6] Selamat pagi, senang bertemu, saya Zaim

[7] Baiklah Pak guru

[8] Sekolah

[9] Permisi, teman

[10] Kamu tidak apa-apa?

[11] Ya ya aku tidak apa-apa

[12] Ke mana?

[13] Terima kasih


Senangnya karena hari ini aku tidak perlu belajar di kelas. Sebab, ini weekend time! Jadi aku bebas melakukan kegiatan lain. Hari ini rencananya aku dan keluarga akan piknik ke Yeoyido park. Taman itu sangat luas dan indah. Taman ini berada di tengah-tengah sungai Han. Uniknya, taman itu membentuk pulau kecil. Taman ini sangat ramai kalau hari liburan.

“Yun, cepatlah sedikit.” teriak eomma[1] dari luar kamar.

“Iya, iya. Yun sudah siap.” aku mengambil tas selempangku, kemudian bergegas keluar kamar.

Saat di luar, aku sudah mendapati appa[2], eomma, dan adikku menunggu dengan tidak sabaran. Aku hanya terkekeh, salah tingkah.

Tak ingin menyia-yiakan waktu yang tersisa, kami pun lekas berangkat ke Yeoeui. Yeoeui adalah nama pulau kecil yang akan kami datangi nanti. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk segera ke sana. Banyak tempat menyenangkan yang bisa kami datangi soalnya.

***

Sesampainya di daerah Yeoeui, kami langsung menuju Yeouido Park. Hal pertama yang aku lakukan setelah berada di Yeouido Park adalah mengelilingi taman yang luas itu dengan sepeda sewaan. Ada bermacam-macam bentuk sepeda yang disewakan. Ada sepeda single, double, dan sepeda untuk keluarga yang bisa dikayuh oleh 3 orang sekaligus.

Oppa[3], mengayuh sepedanya jangan cepat-cepat. Aku tidak bisa mengikuti gerakanmu.” keluh Dumel, adikku yang baru berusia 8 tahun. Memang semenjak dari rumah, dia sudah sensitif dengan diriku. Gara-garanya sih sepele, aku cuma tidak mau meminjamkan topi ungu koleksiku kepadanya.

“Baiklah.” kuturuti juga kehendaknya. Biar sedikit reda ngambeknya.

Cuaca hari ini cerah. Matahari tidak terlalu terik seperti biasa. Sehingga terasa nyaman kalau untuk bersepeda santai dengan seluruh keluarga. Pada hari libur seperti ini, Yeouido Park sangat ramai dikunjungi. Sebab di taman ini kita tidak hanya bisa bersepeda ria, tetapi juga bisa menikmati keindahan Sungai Han dengan menggunakan perahu taksi atau perahu umum. Perahu-perahu itu memiliki berbagai jurusan lho, ada juga yang mengelilingi Pulau Yeo Eui. Ketika di dalam perahu, kita bisa bersantai di atas kapal sambil menikmati hembusan angin yang sejuk serta pemandangan gedung-gedung di Seoul. Sangat asyik deh pokoknya. Aku dan keluargaku sering naik perahu itu, makanya aku bisa mengatakan dengan sangat yakin.

Selain naik perahu, terdapat juga beberapa rumah makan yang menyediakan berbagai macam makanan khas Korea. Yang terkenal adalah restoran kapal dekat dermaga perahu, makanan di situ sangat enak.  Setelah puas bersepeda, aku dan keluargaku memutuskan untuk makan di salah satu restoran yang ada di taman. Memang kalau keringatan bawaannya lapar, ingin makan sesuatu.

“Yun-ah.”

Aku menoleh pada sumber suara yang memanggilku. Kupikir aku bertemu dengan Yeon Jie di sini. Ternyata aku salah. Yang memanggil bukan Yeon Jie, tetapi teman baruku di kelas yang menurutku aneh.

“Eh, kamu.” aku sedikit enggan menyapa balik.

Aku perhatikan penampilannya, agak beda dengan di sekolah. Dia terlihat lebih sederhana dan ceria. Dua orang dewasa yang salah satunya pria memiliki janggut lebat dan sangat mirip dengannya berdiri di belakangnya. Satunya lagi mengenakan pakaian aneh yang menutupi seluruh tubuhnya, bahkan rambutnya. Apa itu orangtuanya? Ah, benar-benar keluarga yang aneh.

“Tidak aku sangka, kita bisa bertemu secara kebetulan di sini.”

“Mmm.” aku tidak bersemangat menyambut sapaanya.

“Aku senang bisa bertemu Yun di tempat ini. Dengan begitu, aku bisa meminta Yun untuk menjadi pemanduku lagi. Tapi, kali ini bersama keluargaku.”

Huh! Lagi-lagi dengan seenaknya saja dia memerintahku. Kita baru saja berkenalan beberapa waktu lalu, tapi sikapnya sudah begitu sok akrab. Aku pergi ke taman ini bukan untuk memandu seseorang, tetapi untuk bersenang-senang bersama keluargaku. Ketika aku ragu memberikan jawaban, tiba-tiba aku dikejutkan dengan sikap keluarga Zaim yang langsung akrab dengan keluargaku. Mereka ytampak sudah bertahun-tahun berkenalan.

“Yun, mengapa kamu tidak bilang kalau punya teman bernama Zaim?” tanya appa antusias. Aku masih belum mengerti apa yang appa maksud.

“Zaim?”

“Iya, Zaim. Zaim yang ini.” tunjuk appa pada temanku. Otakku masih dalam proses pemahaman yang belum sempurna.

“Kami baru bertemu kemarin. Memangnya ada apa dengan Zaim? Appa kenal dengan dia?” tanyaku penuh rasa penasaran.

“Tentu saja kenal. Appa Zaim adalah teman appa selama di Indonesia.”

“Teman?” aku masih belum ingin memercayainya. Bagaimana mungkin appa bisa berteman dengan keluarga Zaim?

“Selama appa dinas di Indonesia, keluarga Zaimlah yang sudah banyak membantu appa.appa menjawab, seolah mendengar bisikan hatiku. “Nah, karena mereka berada di Korea saat ini, maka kamu wajib juga membantu Zaim.

“Hah! Kenapa harus aku?” aku tidak terima dengan keputusan appa kali ini. Mukaku kulipat-lipat manyun. Aku ngambek.

Appa tidak memedulikanku. Malah mengobrol dengan keluarga Zaim.  

“Mari kita mengobrol di restoran. Biarkan saja mereka berdua berjalan-jalan di sekitar sungai. Kita para orangtua, punya pembicaraan yang berbeda dengan mereka.”

“Hahaha. Anda bisa saja.”  appa Zaim nampak ramah dan baik, sama seperti anaknya. Kedua orangtua kami akhirnya meninggalkan kami berdua. Orangtuaku sendiri hanya membawa serta adikku ke restoran. Aku seperti anak hilang yang ditinggal orangtuanya.

“Orangtuamu baik hati, ya. Sama seperti kamu.” senyum malaikatnya menyungging lagi, membuat hatiku merasa bersalah tentang pikiran-pikiran burukku padanya tadi. Hatiku jadi sedikit luluh akan kata-katanya.

“Kamu mau jalan-jalan ke mana?”

“Ah, benar. Tolong tunjukkan tempat-tempat yang menarik yang ada di sini.” dia mulai antusias.

“Sebelumnya bolehkah aku bertanya?”

“Ya, tentu saja boleh. Tanyalah apapun kepadaku, aku akan menjawabnya dengan senang hati.” sikap cerianya membuat aku terhibur. Entah mengapa aku merasa mulai nyaman ketika berada di dekatnya.

“Kamu pintar bahasa Korea. Belajar dari mana?” sebenarnya, ini pertanyaan yang tidak penting. Tapi karena penasaran dan ingin menjawab keingintahuan Yeon Jie, akhirnya aku bertanya juga.

“Ibuku orang Korea. Jadi, bahasa Korea termasuk bahasa sehari-hariku di rumah, selain bahasa Indonesia.”

“Hmm … begitu. Pantas saja bahasa Koreamu bagus.”

“Wah, terima kasih banyak.” senyumnya melebar. Membuat risih.

“Mengapa kamu terus saja tersenyum seperti itu?” tanyaku ingin tahu, sambil menunjuk wajahnya.

“Oh, apa aneh?” aku mengangguk cepat. Aku pikir pertanyaanku akan menyinggung perasaannya, tetapi aku salah besar. Zaim malah tertawa lebar dan mengangguk paham. “Jadi, senyumku ini aneh menurutmu?” dia tersenyum. “Maaf, aku tidak tahu kalau senyumku malah mengganggumu.”

Aku terpaku, diam. Tidak bisa berkomentar.

“Tenanglah, aku tidak marah kok.” sikapnya lunak.

Lagi-lagi dia masih tersenyum.. Begitu jauh sifat kami, sangat bertolak belakang. Kalau aku yang berada di posisinya, tentu aku akan sangat sakit hati. Tapi, mengapa dia masih berbesar hati menerima ketika aku menganggapnya aneh?

“Orang lain sudah menganggapnya aneh. Mengapa masih saja kamu lakukan?”

“Maksudmu, senyumku ini?”

“Iya tentu saja. Apalagi.”

Dia lagi-lagi tersenyum, kali ini lebih lebar. Wajahnya malah terlihat begitu bahagia. Dia tidak mempunyai penyakit jiwa kan? Tapi aku lihat keluarganya normal-normal saja. Hanya pakaian mereka saja yang menurutku kurang normal.

“Kata ayahku, senyum itu ibadah, Yun. Bagian dari sunnah yang diajarkan oleh nabiku.” jawabnya tenang. Matanya berbinar-binar cerah ketika menjelaskan.

“Maksudmu bagaimana? Aku tidak paham mengapa kamu mengatakan senyum itu bagian dari ibadahmu?”

“Ah maaf, biar aku jelaskan. Nabiku Muhammad SAW mengatakan, “Senyummu dihadapan saudaramu bernilai sedekah bagimu.[4] Jadi jika kita tersenyum, selain bernilai ibadah yang mana akan mendapatkan pahala, juga akan mendapatkan banyak teman kawan.”

“Bagaimana bisa dikatakan sedekah? Kita kan hanya tersenyum saja.”

“Begini saja Yun, menurutmu, lebih nyaman melihat orang lain tersenyum atau cemberut?” Zaim malah balik bertanya padaku. Mau tidak mau, aku berpikir juga untuk memilih jawabannya.

“Ya tentu saja, lebih senang melihat orang tersenyum.”

“Ya benar, bayangkan saja bila wajah kita cemberut terus. Apa orang-orang akan berani menyapa dan mendekati kita?”

Hmm… Zaim ada benarnya juga. Tidak salah juga penjelasannya. Tapi, mengapa aku masih merasa kurang nyaman ketika melihat Zaim terlalu berlebihan mengumbar senyumnya? Apa mungkin karena aku belum terbiasa?

“Senyum itu membuat bahagia kawan. Bukan hanya bagi yang tersenyum, tetapi juga untuk yang melihatnya. Selain itu, senyum itu sehat lho. Mengapa tidak kamu coba saja.” Tiba-tiba Zaim menjawab.

“Ah tidak, terima kasih.” Senyum-senyum tanpa alasan seperti dirinya, bisa membuatku seperti orang gila. Lebih baik tidak aku lakukan.

“Mengapa tidak? Dengan tersenyum, kita bisa membuat orang lain nyaman dan bisa ikut tersenyum ketika berada di dekat kita…”

Aku jelas belum merasakan nyaman berada di dekatmu. Bisikku.

“Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan memaksamu, mungkin lain kali kamu bisa mencobanya.”

“Yah, mungkin.” Jawabku tak bersemangat. “jadi ingin melihat tempat menarik di sini?”

“Tentu saja jadi.” Sikapnya langsung berubah drastis. Sikap gembiranya terlalu berlebihan, aku lagi-lagi heran dengannya, apa dia tidak punya ekspresi lain ketika menggambarkan perasaannya. “Kita akan ke mana? Aku sudah tidak sabar ingin melihat tempatnya. Ayo cepat, Yun!” dia begitu antusias, seakan semua yang dilakukannya begitu menyenangkan.

“Kita sewa sepeda saja biar tidak capek jalan.”

“Sewa sepeda? Asyik. Ayo cepat, di mana sewanya?”

“Di sana.” tunjukku.

“Lekas kita ke sana.” dia sudah berlari duluan ke persewaan sepeda. Aku hanya bisa menggeleng sambil tersenyum lucu. Kami akhirnya pergi ke bicycle depository untuk menyewa sepeda. Zaim memang anak yang unik, terlepas dari sikap anehnya. Dan aku rasa, kami berdua bisa menjadi teman baik setelah dari sini.

***

 

[1] Mama

[2] Ayah

[3] Kakak laki-laki (bila perempuan yang memanggil)

[4] HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *