MEMBACA PROLOG NOVEL “CINTA YANG MEMBAWAKU PULANG”

Cinta yang Membawaku Pulang disebut-sebut sebagai novel debut yang fenomenal. Sangat menawan mengingat novel ini adalah karya mayor perdana sang penulis. Mendulang kritik positif dari pembaca di Goodreads, dan mendapat pujian dari penulis veteran, salah satunya Afifah Afra.

Mari nikmati, bagian paling awal novel Cinta yang Membawaku Pulang.

 


Kabul, Afghanistan

 

Kuda-kuda itu terus berkejaran di bawah terik siang yang menyengat. Kaki-kakinya berderap kencang menggetarkan tanah lapangan. Debu-debu mengepul tebal membumbung ke udara. Puluhan Chapandaz, penunggang kuda yang sangat terlatih, dengan mengenakan pakaian tebal dan penutup kepala, berlomba saling menaklukkan tim lawan. Terlihat seorang Chapandaz mengendarai kuda coklat memacu binatangnya itu dengan kecepatan tinggi. Tangan kirinya menggenggam kuat bangkai kambing yang sudah dipotong bagian kepala dan betisnya dan membawanya berkeliling lapangan. Dia telah bertekad untuk memasukkan bangkai itu ke lingkaran nilai. Puluhan penunggang kuda lain dari tim lawan mengejar dengan kecepatan yang tidak kalah sengit, berusaha merebut bangkai kambing dan menggagalkan upaya si penunggang kuda coklat untuk mencetak nilai.

 

Sorak-sorai ratusan penonton di sekeliling lapangan menggemuruh. Dari loteng-loteng rumah yang berderet di sekeliling lapangan, para wanita bertepuk tangan rendah. Di atas loteng sebuah rumah tak berpenghuni yang bagian dindingnya penuh lubang peluru, kedua mata Shabana Ahmas nyaris tak berkedip menyaksikan si penunggang kuda coklat mulai kewalahan. Enam ekor kuda tim lawan mengapit di kanan kirinya. Tak segan-segan penunggangnya menyabetkan cambuk ke kuda coklat untuk mengintimidasi. Si penunggang kuda coklat berusaha mati-matian menjaga keseimbangan. Namun, serangan tim lawan datang secara beruntun. Tak segan-segan mereka menghujani kuda coklat dengan tendangan kaki yang dibalut sepatu bot. Kuda itu meringkik kesakitan. Dan ketika tak mampu lagi menahan keseimbangan tubuh, sepasang kaki depan binatang itu terkilir. Tubuhnya jatuh menggelosor di tanah. Dia meringkik keras. Penunggangnya terpelanting dan jatuh bergedebum di tanah. Tubuhnya terinjak-injak puluhan kaki kuda yang berderap dari belakang. Ratusan penonton menahan napas. Sebagian lain ada yang bersorak kegirangan.

 

Shabana Ahmas mendesah kecewa. Chapandaz jagoannya telah terjatuh. Kini, bangkai kambing yang ikut terlempar di tanah menjadi rebutan dua tim. Suasana semakin menegangkan. Dua tentara Amerika yang ikut berjejalan di antara ratusan penonton berdecak kagum.

 

 

Olahraga keras semacam ini tidak pernah mereka saksikan sebelumnya. Dua tim saling berebut bangkai kambing sambil mengendarai kuda yang berderap menggila. Bangkai kambing itu sebelumnya telah direndam air dingin selama 24 jam agar kuat. Untuk memberikan bobot ekstra, bagian tubuh bangkai juga dijejali pasir. Dua tim harus memperebutkan dan memasukkan bangkai itu ke gawang lawan yang berupa lingkaran nilai.

 

“Ini bagian dari kebanggaan kami, hai, orang Amerika,” ujar lelaki tua berjenggot putih yang berdiri berjajaran dengan dua tentara Amerika. Logat Inggrisnya terdengar kaku.

 

“Negara kalian hanya memiliki petinju. Tapi, kami mempunyai banyak Chapandaz profesional yang dilatih selama bertahun-tahun.”

 

Tentara itu diam tidak mempedulikan. Yang seorang hanya mengangguk dingin. Merasa tidak ditanggapi, lelaki tua itu mendengus dan masih mencoba mencari perhatian.

 

“Kuda yang digunakan dalam olahraga ini pun sangat terlatih yang harga jualnya bisa mencapai 15 ribu dollar.”

 

Kali ini, kepala dua tentara itu melengak ke arah Pak Tua. Mulut mereka nyaris ternganga.

 

Pak Tua merasa senang dan tertawa.

 

Ratusan penonton masih bersorak-sorai memberikan

 

semangat pada masing-masing tim jagoannya. Dengan semangat menggila, para Chapandaz saling berebut bangkai kambing sambil sesekali memukul atau menendang kuda-kuda tim lawan. Tepuk tangan penonton menggetarkan langit ketika seorang Chapandaz berkuda hitam berhasil meraih bangkai dari tengah-tengah kerumunan puluhan penunggang kuda lain. Dari atas loteng, Shabana Ahmas berharap semoga kuda hitam itu terkilir kakinya dan penunggangnya akan terjatuh. Dengan begitu, tim jagoannya tidak akan kebobolan. Namun, sebelum sempat gadis itu mengikuti kejadian berikutnya, sayup-sayup dia menangkap suara wanita memanggil-manggil namanya di tengah gemuruh sorak-sorai penonton. Suara itu berasal dari halaman bawah. Shabana melongok ke sana. Farrukhzad, wanita berumur 50 tahunan berpostur pendek gemuk melambaikan tangan sambil memanggil-manggil. Shabana menggelengkan kepala.

 

“Kemarilah sebentar, Bachem,” Farrukhzad berteriak.

 

Wajahnya memancarkan semangat.

 

“Tunggulah sampai Buzkashi berakhir, Khanum.”

 

Farrukhzad menggerutu. Dengan wajah kesal, tergopoh-gopoh dia menyusul Shabana. Napasnya terengah-engah. Tubuhnya yang berlemak selalu saja membuat dia cepat lelah setiap kali naik ke loteng.

 

“Kurang ajar sekali kau, Bachem. Sangat keterlaluan memaksa perempuan setengah umur sepertiku ini naik ke atas loteng.”

 

“Itu sangat bagus untuk membakar kadar lemak di tubuhmu, Khanum,” Shabana tertawa kecil.

 

Farrukhzad mendengus.

 

“Kau memang gadis kurang ajar.”

 

“Tapi, kau menyayangiku, bukan?”

 

“Sekarang tidak lagi!”

 

Shabana dan Farrukhzad sama-sama tertawa hingga memancing perhatian wanita-wanita di sekeliling mereka.

 

Sorak-sorai ratusan penonton di sekeliling lapangan semakin memburah. Puluhan kuda terus berderap seperti kesetanan. Debu-debu menyemburat semakin tebal. Shabana merasa kesal melihat penunggang kuda hitam semakin di atas angin. Chapandaz itu mengangkat tinggi-tinggi bangkai kambing di tangan kirinya dan disambut tepuk tangan penonton.

 

“Ayo pulanglah sebentar, Bachem,” Farrukhzad mulai tidak sabar.

 

“Ada apa, Khanum? Tidak biasanya kau mengusik keasyikanku seperti ini?”

 

“Sudahlah, tak perlu aku menjelaskan di sini. Kau akan

 

tahu sendiri di rumah nanti. Ada sebuah kejutan untukmu.”

 

“Hari ini aku tidak menginginkan kejutan apa pun, Khanum. Aku hanya ingin melihat Chapandaz itu terjatuh dari kudanya,” Shabana berucap sambil menudingkan telunjuknya ke arah penunggang kuda hitam di tengah lapangan.

 

“Kau harus turun, Bachem.”

 

“Tapi, Khanum, kita harus menunggu setahun lagi untuk bisa menyaksikan Buzkashi. Tolonglah, biarkan aku menyaksikan perayaan ini hingga usai. Perayaan ini selalu mengingatkanku pada suamiku. Dia seorang Chapandaz yang pemberani.”

 

“Kau yakin tidak mau turun?”

 

“Tunggulah beberapa saat lagi, Khanum. Setelah itu, kita turun bersama.”

 

Farrukhzad semakin kesal. Beberapa wanita di sekeliling mereka tersenyum-senyum menyaksikan perdebatan dua orang berbeda usia itu.

 

“Baiklah,” Farrukhzad mulai mengeluh. “Kau tunggu saja sampai kau ketahui siapa yang akan menjadi juara dalam olahraga sialan ini. Aku akan pulang dan mengatakan pada Yassir kalau kau lebih mementingkan Buzkashi daripada menemuinya.”

 

“Bukankah setiap saat aku bertemu dia di rumah?”

 

“Kau benar-benar kurang ajar, Bachem. Terserah sajalah jika kau tidak mau mendengar kejutan dari Yassir. Asal kau tahu saja, ini tentang tanah ayahmu di dekat Pasar Bush.”

 

Pandangan Shabana beralih dari lapangan ke wajah Farrukhzad. Sorot mata gadis itu berkilat.

 

“Apakah Agha berhasil menjual tanah itu, Khanum?” Farrukhzad tersenyum lebar.

“Aha!! Kau mulai tertarik, Bachem? Bukankah kuda-kuda berbau apak itu lebih menarik perhatianmu?” Farrukhzad bicara sambil pura-pura tidak peduli. Dia membalikkan tubuh meninggalkan Shabana. Shabana mengejar dan meraih tangan wanita itu. Menggelayut di lengannya.

 

“Kau jangan marah begitu, Khanum. Aku tadi, kan, cuma bercanda,” rajuknya

 

“Sejak kapan aku bisa bersungguh-sungguh marah kepadamu, Bachem?”

 

Shabana tersenyum. “Terima kasih, Khanum. Kau memang pengganti ibuku yang sejati.”

 

“Tapi, aku tidak pernah mengandung benih ayahmu.” Shabana tertawa.

 

Saat kedua kaki mereka mulai menjejak tangga, terdengar sorak-sorai penonton yang seakan mau meruntuhkan langit. Sorak-sorai itu diiringi tepuk tangan

 

yang tidak ada putus-putusnya. Shabana menghentikan langkah dan membalikkan tubuh. Namun, Farrukhzad cepat meraih tangan gadis itu dan menariknya.

 

“Apa tidak ada yang lebih penting dari Buzkashi, Bachem?”Farrukhzad merasa kesal.

 

“Tapi, Khanum.…”

 

“Sudahlah. Yassir sudah menunggu.”

 

Shabana mendesah. Dia tidak punya pilihan, kecuali harus mengikuti Farrukhzad. Saat mereka sudah sampai bawah dan keluar halaman, seorang tentara Amerika yang tengah berjaga-jaga di pinggir lapangan melirik memperhatikan Shabana. Bersiul-siul ringan sambil mengedip-ngedipkan sebelah matanya. Shabana tidak mengacuhkannya. Namun, Farrukhzad tidak bisa menahan diri. Tulang rahang perempuan itu mengeras. Dia menghentikan langkah dan menghampiri tentara itu.

 

“Dasar prajurit tidak tahu diri! Kurang ajar sekali. Berani-beraninya kau mengedip-ngedipkan mata pada perempuan tua sepertiku ini!”maki Farrukhzad kasar.

 

Shabana mendekap mulutnya dengan kedua telapak tangan, mati-matian berusaha menahan tawa. Sementara si tentara terkesiap, tidak menyangka akan dilabrak begitu rupa. Dia lekas menyingkir seraya menahan malu. Kalau saja tentara itu mengerti bahasa Pashtun, mungkin dia akanterpingkal mendengar makian perempuan bertubuh gemuk itu. Kejadian ini memancing perhatian beberapa penonton di pinggir lapangan yang umumnya kaum laki-laki. Kalau saja Taliban masih berkuasa, bisa dipastikan Farrukhzad tidak akan berani memaki-maki begitu rupa. Mengeluarkan suara keras di muka umum, diharamkan bagi perempuan. Dan aparat Taliban tak segan-segan memukul pelakunya.

 

“Sudahlah, Khanum,” Shabana berusaha meredakan emosi Farrukhzad. “Tak perlu marah-marah seperti ini. Malu sekali dilihat banyak orang.”

 

“Tapi, dia sudah keterlaluan, Bachem. Apa dia pikir aku ini gadis muda yang layak diberi kedipan mata begitu rupa?”

 

Shabana menutup mulutnya lebih erat.

 

“Kenapa kau tertawa? Kau suka ada tentara berbuat kurang ajar kepadaku, ya?”

 

Shabana semakin cekikikan.

 

“Ah, tidak, Khanum. Kau saja yang telah salah sangka. Aku rasa sebelah mata tentara itu hanya kemasukan debu sehingga dia refleks berkedip-kedip.”

 

Farrukhzad mendengus. Shabana bertambah geli. Farrukhzad tidak ingin berlama-lama di tempat ini. Lekas-lekas dia menggandeng Shabana pulang. Sampai di rumah, barulah kemarahan Farrukhzad mereda. Dia dan Shabana mendapati Yassir tengah duduk di ruang depan dengan wajah gembira. Shabana mendahului menyapa lelaki itu.

 

“Ada kabar apakah, Agha? Tapi ini agak mengecewakan. Sebab, kau telah mengganggu keasyikanku.”

 

Yassir tertawa. “Kau tidak akan menemukan suamimu di antara Chapandaz itu, Bachem.”

 

“Apa keliru jika aku ingin mengenang suamiku?”

 

“Sama sekali tidak, Bachem. Tapi sudah saatnya kau menatap masa depan. Meratapi masa lalu hanya akan membuat jiwamu lemah saja.”

 

Shabana tersenyum. “Semenjak kapan kau mendapatiku sebagai gadis lemah, Agha?”

 

Yassir tertawa. “Ya, ya, aku tahu. Aku tahu kau gadis kuat, seperti ibumu. Tapi, jika kau terus-terusan menengok masa lalumu, hal itu bisa merapuhkan semangatmu untuk membangun masa depan.”

 

Shabana tertawa kecil. “Itu hanya ketakutanmu saja, Agha. Dan justru ketakutan itu yang menunjukkan jiwamulah sebenarnya yang rapuh.”

 

Yassir tergelak.

 

Farrukhzad tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

 

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Agha. Benarkah kau telah berhasil menjual tanah warisan ayahku?” Shabana berbicara sambil meletakkan tubuhnya duduk di depan Yassir. Sofa di ruangan itu lebih mirip bangkai kursi. Hampir separo kainnya sobek memperlihatkan busa di dalamnya. Perang telah menjarah segala kemewahan yang sebelumnya dimiliki Yassir dan Farrukhzad di rumah ini.

 

“Ya, Bachem. Seorang pengusaha keturunan Pakistan melihat peluang bisnis di tanah itu dan berminat membelinya.”

 

Sesaat, Shabana tertegun. Namun, sebentar kemudian, dia terpingkal-pingkal.

 

Yassir dan Farrukhzad saling pandang keheranan.

 

“Kenapa kau tertawa, Bachem? Adakah sesuatu yang lucu?” kening Yassir berkerut.

 

“Aku rasa pengusaha keturunan Pakistan itu sakit jiwa, Agha.”

 

Yassir dan Farrukhzad terbengong dan saling pandang.

 

“Maksudmu?” Yassir terbengong.

 

“Peluang bisnis seperti apakah yang dia impikan di tanah Afghanistan yang terus dilanda kekerasan ini, Agha? Aku rasa dia hanya ingin membangun kuburnya di atas tanah itu.”

 

Yassir mulai mengerti, dan sekarang dia pun tertawa. “Tapi aku bicara sungguh-sungguh, Bachem. Orang keturunan Pakistan itu memang ingin membeli tanah ayahmu. Dia telah meminta jaminan perlindungan dari pemerintah untuk membangun pusat perbelanjaan di atas tanah itu. Dan tentu saja, pemerintah mendukung karena membangun pusat perbelanjaan merupakan bagian rencana mereka untuk membangun Afghanistan.”

 

Shabana tercenung dan wajahnya mulai serius sekarang.

 

“Jadi, dia benar-benar ingin membelinya?”

 

“Ya, Bachem,” suara Yassir serius berusaha meyakinkan Shabana. “Dan kau akan segera mewujudkan mimpi pergi ke Makkah untuk berhaji dan menemukan ayahmu. Kau akan berkumpul lagi dengan ayahmu, Bachem.”

 

Sepasang mata Shabana tak berkedip. Mulutnya nyaris ternganga. Sulit baginya mempercayai berita ini.

 

“Apakah ini sebuah mimpi, Agha?”

 

Yassir tertawa. “Aku pun merasa begitu, Bachem. Terkadang memang sulit mempercayai peristiwa yang menurut kemampuan kita musykil terjadi. Tapi yang kau dengar ini bukanlah mimpi. Kau benar-benar akan pergi ke Makkah, Bachem. Kau akan segera memperoleh ongkosnya. Kau akan melihat Kakbah. Ya, kau sungguh-sungguh akan melihat Kakbah, Bachem!”

 

Shabana tampak seperti orang yang mendadak melihat di langit ada tiga matahari. Beberapa detik kemudian, tatapan matanya menjadi kosong. Dia terlihat seperti orang linglung. Yassir dan Farrukhzad saling bersitatap keheranan.

 

Bachem?” Yassir menegur.

 

Shabana tetap mematung.

 

Farrukhzad menjadi bingung.

 

Bachem, kau baik-baik saja?!” Farrukhzad mengguncang-guncang bahu Shabana.

 

Perlahan-lahan, Shabana menoleh ke arah Farrukhzad.

 

Kali ini, dia mulai bicara meski dengan suara tersekat.

 

“Benarkah aku akan pergi ke Makkah, Khanum? Benarkah aku akan melihat Kakbah?”

 

Farrukhzad mengangguk penuh semangat. “Ya, Bachem! Yassir tidak sedang bercanda. Ini bukan mimpi. Kau benar-benar akan pergi ke Makkah.”

 

Tiba-tiba, Shabana merasa dirinya kesulitan bernapas. Paru-parunya seakan tersumbat. Gadis itu terlihat seperti kehabisan tenaga, dan seketika tubuhnya roboh ke lantai. Pingsan. Yassir dan Farrukhzad merasa tulang iga mereka seakan terbetot. Farrukhzad menubruk tubuh Shabana dan mengguncang-guncangnya panik.

 

BachemBachem! Kau kenapa, Bachem!” Farrukhzad tampak seperti orang kehilangan akal.

 

Shabana tidak bergerak sedikit pun. Kedua matanya terpejam.

 

“Yassir, lakukanlah sesuatu!” wajah Farrukhzad sepucat kain kafan.

 

“Apa yang harus aku lakukan?” “Apa saja yang bisa kamu lakukan!”

 

Yassir merasa gugup. Seumur hidup, dia belum pernah menjumpai orang pingsan. Yassir cepat pergi ke dapur. Saat kembali lagi, dia sudah menenteng seember air dan lekas mengguyurkannya ke tubuh Shabana.

 

“Apa yang kamu lakukan, Yassir!” Farrukhzad mendelik. “Aku hanya menuruti perintahmu.”

 

“Tapi aku tidak menyuruhmu mengguyur Shabana dengan seember air!”

 

“Tapi kau menyuruhku melakukan apa saja yang bisa aku lakukan, Farrukh!”

 

Farrukhzad mendengus. Kepanikan semakin tegas menggesut raut wajahnya.

 

Dia cepat keluar rumah untuk mencari bantuan. Saking gugupnya, hampir saja tubuh Farrukhzad membentur daun pintu. Di halaman rumah, seorang perempuan paro baya tengah melintas dari arah lapangan. Farrukhzad memanggilnya. Mengajaknya masuk ke dalam rumah dan memperlihatkan keadaan Shabana.

 

Perempuan paro baya itu mengerutkan kening sambil memperhatikan Shabana.

 

“Hei, kenapa gadis ini? Beberapa saat lalu, kulihat dia berada di lapangan menyaksikan Buzkashi. Kenapa sekarang sudah tidur terlelap dan basah kuyup di lantai begini rupa?”

 

“Dia tidak tidur, Khanum. Dia pingsan,” wajah Farrukhzad mengkelap.

 

“Hah! Untuk tujuan apa dia melakukan hal ini?” perempuan paro baya itu mendelik.

 

“Kami tidak membutuhkan pertanyaanmu, Khanum. Yang kami butuhkan adalah pertolonganmu. Sekarang, kau bisa membantunya siuman atau tidak?” Farrukhzad merutuk dalam hati.

 

Perempuan paro baya itu sesaat terlihat salah tingkah.

 

“Mm, baiklah. Aku akan berusaha membantu. Sekarang ayo angkat tubuh gadis ini ke atas kursi.”

 

Yassir dan Farrukhzad lekas menggotong tubuh Shabana dan membaringkannya di atas sofa.

 

“Ambilkan bantal untuk mengganjal kepalanya,” perempuan paro baya itu memerintah lagi.

 

Farrukhzad lekas masuk ke dalam. Lalu keluar lagi membawa bantal. Dia cepat mengangkat kepala Shabana dan meletakkan bantal itu di bawahnya.

 

“Sekarang, apa lagi yang harus kami lakukan, Khanum?” Farrukhzad memandang perempuan paro baya dengan tatapan penuh harap.

 

“Mm … ng … entahlah, aku juga tidak tahu apa yang harus kita lakukan selanjutnya,” perempuan paro baya itu malah gugup.

 

Farrukhzad melotot. Yassir menatap bengong.

 

Perempuan paro baya itu meringis salah tingkah.

 

“Aku juga belum pernah menolong orang pingsan,” katanya dengan nada merajuk.

 

Kulit-kulit pipi Farrukhzad menggembung. Tanpa menghiraukan perempuan paro baya itu, Farrukhzad bergegas lagi keluar rumah. Tapi, baru saja sampai pintu, tiba-tiba Yassir terlonjak kegirangan dan berteriak menghentikan langkah istrinya itu. Farrukhzad menoleh, lalu memaki.

 

“Ada apa, lelaki tua tolol?”

 

“Lihat, Farrukh, Shabana tidak apa-apa. Dia hanya pingsan sebentar. Sekarang, dia sudah siuman.”

Farrukhzad terkesiap dan menoleh ke tubuh Shabana yang basah kuyup tergeletak di sofa. Benar yang dikatakan Yassir, tubuh Shabana mulai bergerak-gerak meski terlihat lemah. Sesaat kemudian, perlahan-lahan kedua matanya pun terbuka. Yassir dan Farrukhzad kegirangan. Suami istri itu berebut menghampiri Shabana.

 

“Syukurlah kau baik-baik saja, Bachem,” napas Farrukhzad terengah-engah. Dia mengelus kening Shabana.

 

Shabana mengerang perlahan. Dengan gerakan ringkih, dia mengucek kedua matanya, lalu memandang layu ke arah Farrukhzad.

 

“Apakah aku sudah berada di Makkah, Khanum?”

 

 

 

 

Bagi Shabana Ahmas, berziarah ke Tanah Suci tak ubahnya merindukan matahari terbit di malam hari. Bagaimana tidak, perang yang tak pernah lelah menjarah Afghanistan, telah merapuhkan sendi-sendi ekonomi negeri itu. Untuk makan sehari-hari saja seringkali Shabana harus bekerja keras menjadi buruh panggilan pada keluarga kaya. Penghasilannya sangat jauh dari cukup dibandingkan harga kebutuhan yang terus menjulang. Atau jika nasib sedang mujur, kadang-kadang ada tentara Amerika yang membayarnya lebih untuk memasakkan kebab atau nasi bukhori.


Sulit bagi Shabana mempercayai dirinya akan pergi ke Tanah Suci dalam kondisi tidak memungkinkan seperti ini. Tapi, berita yang dia peroleh dari Yassir bukanlah mimpi di siang bolong. Dua tahun sudah Shabana memendam mimpi pergi ke Makkah, semenjak dia mendengar cerita dari Yassir sepulang pergi haji dua tahun lalu. Yassir bercerita dengan sungguh-sungguh kalau dia bertemu ayah Shabana di Makkah.

 

“Kau mengigau, Agha?” Shabana nyaris tak mem-percayainya ketika itu.

 

“Sungguh, Bachem. Awalnya aku pun tidak mengira kalau lelaki yang kulihat di depan Kakbah itu ayahmu. Tapi, setelah dekat dan kami sempat berbincang, kami pun bisa saling mengenal meski bertahun-tahun telah berpisah. Lelaki itu benar-benar ayahmu, Bachem.”

 

Kedua mata Shabana terbelalak. Ayah gadis itu, Massoud Kamal, dan adik perempuan kecil Shabana, Maryam Shekiba, menghilang semenjak pendudukan Uni Soviet, jauh ketika Shabana masih kecil. Rasanya bagai matahari mau runtuh saja ketika tiba-tiba Yassir mengaku bertemu ayahnya di Makkah. Lelaki itu bercerita kalau Massoud Kamal bermukim di Saudi dan bekerja sebagai sopir pribadi pada keluarga kaya. Massoud Kamal sangat senang mendengar Yassir bercerita tentang Shabana.

 

“Putrimu itu tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik, Kamal.”

 

“Seperti apakah rupa wajahnya, Yassir?” Massoud bersemangat.

 

“Dia mewarisi paras ibunya. Setiap kali gerimis mengguyur Kota Kabul, pelangi tidak berani menampakkan wujudnya melihat kecantikan Shabana.”

 

Shabana terpingkal mendengar Yassir mengulang ceritanya itu.

 

Yassir juga mengabarkan kalau selama di Makkah, dia juga beberapa kali mengunjungi keluarga Saghar Hamraaz. Sudah lebih dari 20 tahun, adik kandung ibu Shabana itu bermukim di Makkah. Suami Saghar, Zaher Hashemi, juga bekerja menjadi sopir pribadi pada sebuah keluarga kaya di Makkah. Dua putri mereka, Gulnaz Nahal dan Mahsa Fareiba pun telah tumbuh menjadi gadis-gadis dewasa. Selama lebih dari 20 tahun berpisah, baru sekali Saghar Hamraaz dan keluarganya pulang ke Afghanistan. Tepatnya enam tahun lalu ketika menghadiri pernikahan Shabana yang sebenarnya tidak layak disebut sebagai sebuah pesta.

 

“Kalau begitu, selama ini Baba dan keluarga bibiku sering bertemu karena mereka sama-sama tinggal di Makkah, Agha?” Shabana begitu antusias ketika itu. Biasanya orang Pashtun memanggil ayah mereka dengan sebutan Plaar. Namun karena Massoud Kamal berdarah campuran Farsi, Shabana pun terbiasa memanggilnya Baba.

 

Yassir menggeleng menanggapi Shabana.

 

“Kenapa? Aneh sekali?” kening gadis itu terlipat.

 

“Aku memiliki kesempatan berkumpul dengan ayahmu hanya lima hari saja. Selepas haji, dia pergi ke Riyadh untuk mengantar majikannya. Selang dua hari setelah ayahmu meninggalkan Makkah, baru aku bertemu keluarga bibimu. Aku bercerita kepada mereka tentang pertemuanku dengan Massoud Kamal. Bibimu terkejut. Dia baru mengetahui dariku kalau ayahmu ternyata bermukim di Saudi juga. Aku pun tidak pernah bertemu lagi dengan ayahmu setelah dia pergi ke Riyadh.”

 

Yassir masih bercerita. Massoud Kamal pernah mengutarakan niatnya untuk menjemput Shabana dan mengajaknya bermukim di Saudi. Shabana senang sekali mendengarnya. Namun, sampai setahun berlalu, sedikit pun tak ada tandatanda Massoud Kamal akan datang.

 

“Apakah Baba ingkar janji, Agha?” begitu suatu kali Shabana mengungkapkan kegelisahannya.

 

“Kurasa ayahmu bukanlah orang seperti itu, Bachem.”

 

“Tapi, kenapa tidak ada tandatanda dia akan menjemputku?”

 

Yassir menarik napas. Dia tidak tahu bagaimana harus menjawab Shabana. Hingga suatu kali, dia memiliki ide untuk menjual sepetak tanah Massoud Kamal di dekat Pasar Bush. Hasilnya nanti bisa buat ongkos Shabana pergi ke Makkah.

 

“Kau jangan ceroboh, Yassir,” Farrukhzad memprotesnya ketika itu. “Shabana hanyalah seorang perempuan. Apa akan kau biarkan dia seorang diri berangkat ke Makkah?”

 

“Tak perlu cemas, Farrukh. Shabana memiliki bibi di sana yang akan menjemputnya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

 

 

 

 

Suara sorak-sorai dan tepuk tangan dari lapangan sudah mereda. Derap kaki kuda Buzkashi tak terdengar lagi. Sepertinya, orang-orang sudah mulai bubar. Di dalam rumah, Yassir dan Farrukhzad membimbing tubuh Shabana yang masih lemah untuk duduk di sofa.

 

“Sekarang, kau boleh melanjutkan menyaksikan Buzkashi, Bachem. Aku tak akan mengganggumu lagi,” Farrukhzad tersenyum.

 

Shabana memelototkan mata.

 

Yassir dan Farrukhzad tertawa.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *