MENANGIS TANPA (BER)HENTI


Oleh: Aisyah Nurcholis


Paradigma tentang wanita dan menangis

Menangis?

Let’s be honest here. Apa yang pertama kali melintas dalam benak Anda jika mendengar kata ‘menangis’? Potret seorang bayi yang baru lahir? Anak kecil yang menangis karena terjatuh dari sepeda? Atau … seorang wanita menangis tersedu-sedu di sudut ruangan sembari menekuk kakinya?

Wanita. Stereotipe masyarakat dunia, termasuk Indonesia, masih menganggap wanita adalah makhluk yang lemah. Sikap welas asih wanita yang sekeras apa pun dia, masih tetap ada, membuat kaum lelaki masih banyak yang beranggapan bahwa wanita jauh lebih lemah dibanding lelaki.

Lalu, faktor apa yang sering jadi pemicu publik untuk berpendapat bahwa wanita itu lemah? Apakah karena kekuatan fisik? Nope. Sekarang ini, banyak bertebaran atlet maupun ahli beladiri bergender perempuan. Apakah karena tingkat intelektual? Tidak juga. Wanita zaman ini dapat dengan mudah mendapat hak pendidikan dalam berbagai cara, meski pun hal tersebut belum terjadi secara merata di seluruh dunia.

Sebuah kutipan dari blog Anthology of Love oleh Fasih Radiana, “Dan Aku Menitipkannya, Air Mata Jiwa,” menyebutkan,

Bagi wanita, air mata adalah kata-kata baginya. Tangis adalah cara terakhir mengungkapkan bahasa tanpa suara.[1]

Lemahnya wanita dilihat dari air matanya, kata mereka. Berbagai pemahaman dan pemikiran mengatakan bahwa wanita lebih menggunakan insting, hati, dan perasaan ketimbang logika. Menurut mereka pula, itu lah sebabnya wanita menangis. Paradigma tersebut tentu saja sudah terlanjur menyebar luas dan sangat sulit untuk diubah.

Padahal, menangis bukan berarti Anda seorang yang menye, cengeng, dan penuh drama. Menurut Alex Gendler yang dilansir dari Health Me Up, menangis punya 3 fungsi. Pertama, adalah fungsi basal, atau fungsi membersihkan dan melindungi mata dari debu dan kotoran. Kedua, fungsi refleks. Anda pasti pernah menangis tatkala memotong bawang, bukan? Nah, itu adalah reaksi kimia dari zat sulfoksida (zat aroma bawang) menjadi zat asam sulfenik sehingga membuat air mata guna membuang zat yang dapat membahayakan mata. Ketiga, fungsi reaksi emosional. Ada zat ACTH dan enkephalin, sebuah endorfin, dan pembunuh rasa sakit alami, yang dipercaya dapat menenangkan emosi seseorang.[2] Terlalu banyak kadar zat mangan (Mn) dapat menyebabkan hal-hal buruk seperti: kecemasan, kegelisahan, lekas marah, kelelahan, agresi, gangguan emosional, dan seluruh perasaan negatif lainnya. Menangis menurunkan kadar mangan seseorang. Air mata yang keluar ketika sedih mengandung konsentrasi protein 24% lebih tinggi dan dapat mengangkut molekul mangan yang beracun.[3]

Sebuah fakta dalam ilmu psikologi menyebutkan bahwa menangis membuktikan bahwa orang yang menangis justru memiliki mental yang sehat, yang berarti seorang individu mampu dan berani menghadapi emosi, rasa pahit, dan menunjukkan sisi rapuh.
“Semua perasaan ini perlu dirasakan,” tutur psikolog John Bradshaw melalui bukunya Home Coming. “Kita perlu terisak dan menangis, berkeringat dan gemetar.”[4]

Kesimpulannya, menangis itu perlu.

Penyalahgunaan tangisan

Namun, manusia terkadang menyalahgunakan tangisan.

‘Lho, kok bisa? Ngaco, ah. Tadi penulis bilang kalau menangis itu salah satunya disebabkan oleh reaksi alamiah manusia ketika mendapatkan kesenangan maupun duka. Bahkan, penulis sendiri menyebutkan bahwa menangis itu perlu. Piye, to? Jangan memutar balikkan fakta, dong.’

Begini lho, Bro, Sis.

Tatkala manusia menangis, kebanyakan dari mereka tak mau bangkit. Banyak orang yang menangis akibat problema kehidupan, simpati, maupun kebahagiaan. Itu amat wajar. Wanita maupun lelaki harus menangis. Nah, menangis bukan berarti berhenti. Kebanyakan orang, setelah menangis, dia langsung berhenti lalu berdiam diri.

‘Lho? Apa maksudnya? Lalu, menurut saya penulis, manusia harus terus-terusan menangis, begitu?’

Bukan.

Saya maksudkan kata ‘berhenti’ di sini dengan konteks lain. ‘Berhenti’ dapat mempunyai banyak makna. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau yang disingkat KBBI, kata berhenti berarti tidak bergerak––berjalan, bekerja, dan sebagainya––lagi, tidak meneruskan lagi, berakhir, selesai, tamat, dan melepas.

Beberapa dari definisi ‘berhenti’ itu akan saya garis bawahi: berakhir, selesai, tamat.

Ketika manusia, wanita maupun pria, dihadang masalah, pastilah salah satu reaksinya adalah menangis. Masalah dalam hidup jadi salah satu faktor keluarnya tangisan akibat emosi negatif. Entah itu marah, sedih, kecewa, dan lain-lain. Masalah itu sendiri timbul dalam berbagai dinamika kehidupan. Masalah muncul di awal, tengah, atau akhir sebuah perjalanan.

Masalah itu sendiri tak bisa dihindari. Betul, bukan? Masalah dan hidup adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Menurut Abdul Cholil, masalah adalah bagian kecil dari kehidupan. Setiap manusia pasti pernah memiliki dan menghadapi masalah baik yang berasal dari diri sendiri maupun yang bersumber dari orang lain. Masalah jadi bagian krusial dari kehidupan itu sendiri. Bagaikan Yin dan Yang. Bagaikan dua sisi koin. Menangis sering dikaitkan dengan rasa lelah. Yaitu, rasa lelah akan menghadapinya. Rasa frustrasi kala masalah menggunung hingga ke langit tanpa sempat diselesaikan satu per satu.

Ah, dua kalimat tadi adalah yang paling hiperbolis dari penulis.

Manusia diberikan kemampuan untuk menyelesaikan masalah, yaitu menggunakan akal. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mempunyai akal. Otak manusia adalah sesuatu yang ada dalam tengkorak kepala. Benda ini dikelilingi dengan tiga lapis selaput yang dijaring dengan rajutan urat saraf yang jumlahnya tidak terhitung, kemudian saraf tersebut dihubungkan ke seluruh indera dan bagian tubuh manusia. Sebagian saintis telah sampai pada kesimpulan, bahwa informasi yang dapat disimpan oleh otak manusia mencapai tidak kurang dari 90 juta informasi. Inilah keunikan otak manusia yang tidak dimiliki oleh otak hewan.

Dengan demikian, adalah kesalahan besar ketika akal disimpulkan sebagai organ fisik yang berada di dalam otak, kepala ataupun dada, dengan argumen, bahwa hati ada di dada. Karena fakta membuktikan, hewan juga mempunyai hati yang ada di dada, namun hewan tetap tidak mempunyai akal. Karena itu, akal sesungguhnya merupakan kekuatan untuk menghasilkan keputusan (kesimpulan) tentang sesuatu.[5]

Lalu, how in the world manusia sering kali menganggap masalah adalah suatu enigma yang sulit dipecahkan? Mengapa tak jarang kita tersesat, tak tahu arah, dan buta akan bagaimana menyelesaikan masalah hingga kita menangis?

Menangislah, lalu usap air matamu

Let me tell you the truth here

Tak ada masalah yang tidak dapat selesai. Percayalah. Hanya saja, setiap penyelesaian dan keputusan, akan ada risikonya. Risiko tersebut yang akan membuat manusia berkata,“Masalah ini tak ada penyelesaiannya, lalu saya terpaksa melakukan ini.”

Karena Anda tak suka, maka Anda terpaksa.

Karena keterpaksaan itu pula, maka you just determined that the problem is unsolved. Anda langsung ‘tutup kasus’ begitu Anda menemukan ‘satu-satunya jalan keluar walau Anda terpaksa’.

Sampai di situ, sebenarnya Anda telah menemukan solusinya. Namun, mungkin hati dan pikiran Anda tiada selaras dengan solusi tersebut. Sehingga, ujung-ujungnya, ya Anda menangis.

Yah, kalau memang perlu, Anda boleh menangis. Sangat diperbolehkan. Tapi, apa Anda lantas bisa kembali ke masa lalu, mengembalikan waktu? Apa Anda bisa mengubah masalah yang tadinya Anda buat?

Tentu Anda tahu jawabannya.

Menangislah, tapi jangan (ber)henti

Ada satu hal yang mungkin David Schwartz belum sampaikan pada kita. Ralat, bukan belum menyampaikan, tetapi belum ter-sampaikan. Mayoritas motivator seperti David Schwartz, Norman Vincent Peale, Stephen Covey, dan lain-lain pernah bicara tentang mindset. Apa itu mindset?

Sebelum itu, terlebih dahulu penulis ingin bercerita.

Ada seorang pemuda masuk ke sebuah kafe. Kebetulan, kafe tersebut sedang ramai pengunjung. Si pemuda segera menyambar mikrofon di panggung kecil kafe tersebut, setelah melihat panggung rupanya kosong.

Ia menceritakan sebuah lelucon. Seisi kafe terbahak-bahak. Lalu dia bercerita untuk kedua kalinya. Lalu ketiga kalinya. Hingga tiada lagi satu pun orang yang tertawa.
Pengunjung kafe mulai berbisik-bisik. Mereka menganggap pria ini tak pantas berada di atas panggung sebagai penghibur. Kemudian pria ini berkata,”Kalau kalian tak bisa tertawa pada lelucon yang sama, lantas mengapa kalian menangisi masalah yang sama?”

Pria itu meninggalkan kafe beserta seantero pengunjung yang menatapnya terkejut.

Do you get it?

Manusia memegang kendali atas seluruh tubuh, pikiran, dan emosinya, fyi[6]. Namun kadang manusia lah yang dikendalikan oleh ketiga hal tersebut, lantaran keberadaan tiga hal pula: amarah, nafsu, dan ego.

Karena tiga hal tersebut, manusia jadi enggan melepas sakit penderitaan yang harusnya dia lupakan. Begitu pula dengan saya. Hei, jangan kira saya tidak pernah menggenggam rasa sakit bak diikat dengan rantai berduri.

Nah, mengapa pula kita bisa tetap menggenggam rasa sakit itu layaknya membiarkan kerikil tetap berada dalam sepatu?

Mindset atau pola pikir pun turut andil dalam membentuk sikap, kebiasaan, dan perilaku Anda. Jika mindset Anda telah dipengaruhi dan terkontaminasi hal-hal negatif, yang sebagian besar berasal dari tiga hal di atas tadi, maka jangan ragu lagi untuk mengubah pola pikir Anda.

Zaman di mana teknologi telah menyebar dan memengaruhi gagasan, pendapat, dan pemikiran juga dapat memengaruhi bagaimana pola pikir Anda berkembang. Di samping pola asuh dan cara didik pada lingkungan keluarga Anda, lingkaran sosial lain seperti teman, kerabat, dan partner di sekolah maupun di lingkungan kerja juga dapat membentuk pola pikir Anda, yang mana menentukan pula siapa diri Anda.

Melepas dan meninggalkan orang-orang “beracun”

Psikolog terkemuka John Lock mengemukakan teori Tabularasa menurut aliran Empirisme, yaitu teori yang menyatakan bahwa pada dasarnya, anak-anak adalah selembar kertas putih. Sejatinya, manusia adalah anak-anak. Manusia lahir ke dunia dalam keadaan lugu atau innocent, dan polos. Berkebalikan dengan aliran Nativisme yang disuarakan oleh Schopenhauer, yang menurutnya anak-anak membawa bakat tersendiri sejak lahir[7].

Teori Tabularasa dapat dikaitkan dengan pengaruh buruk dan baik dari lingkungan sekitar. Penulis menekankan kata ‘buruk’ dan menempatkannya pada posisi pertama sebelum ‘baik’. Mengapa? Karena ternyata pengaruh ‘buruk’ dari orang-orang ‘beracun’ dapat menyebabkan Anda menangis, lalu berhanti.

These people are not literally poisonous. Mereka bahkan bisa jadi ‘obat’ lantaran kecantikan, penampilan, kemolekan tubuh, bahkan kecerdasan. Namun sayang, orang-orang ini menyerap habis energi Anda hingga Anda memutuskan untuk berhenti.
Seorang ibu yang baik harusnya membantu anaknya untuk berdiri ketika dia terjatuh dari sepeda, bukannya mengasihani dan menyalahkan jalan yang memang tidak mulus. Begitu juga dengan orang-orang beracun. Mereka tampaknya ingin menolong Anda, atau memberi saran pada Anda, tetapi justru malah mengikat kaki Anda dengan ketakutan akan masalah yang sedang Anda hadapi.

Mereka berbahaya. Sangat berbahaya. Anda dapat mengalami penurunan rasa percaya diri, memandang rendah diri sendiri, kodependensi, mental block, bahkan kemunduran moral.

Mereka mungkin orang-orang penting dalam hidup Anda, atau bahkan keluarga Anda sendiri. But, that’s how viruses are disguised. Mereka mengalir lewat pembuluh darah, bercampur dengan udara yang Anda hirup, lalu merusak Anda dari dalam. Hingga kemudian organ-organ Anda tidak lagi berfungsi. Lalu, Anda mati sebagai seonggok mayat menjijikan tanpa ada yang mau menghampiri.

Seram, bukan?

Menjaga kondisi mental dan jiwa Anda sama pentingnya dengan menjaga kondisi fisik Anda. Lakukanlah ibadah, perbaiki pola makan dan tidur Anda, serta hindari stres. Stres merupakan pemicu lain yang tak kalah berbahaya. Meski stres juga ada penyebabnya.

Maka, mulai sekarang, belajarlah melepaskan orang-orang beracun tersebut. Right, manusia memang tiada yang sempurna. Tepat, bila manusia melakukan kesalahan. Namun, manusia juga ada yang merugikan. Ya, merugikan Anda jika Anda terus menerus mempertahankan mereka dalam kehidupan Anda.

Tak mesti benar-benar mengeluarkan mereka dari hidup Anda. Cukup berhenti mendengarkan saran-saran mereka, kurangi bergaul dengan mereka, dan sebisa mungkin, carilah orang lain yang dapat Anda jadikan penyemangat dan pendukung dalam hidup Anda.

Menangislah, lalu bangkit kembali

Anda semua, dari segala golongan usia, wanita maupun pria, adalah seorang pemenang. Setiap orang pasti tahu bahwa dirinya hidup karena dia telah menang. Walau terkadang masalah buat kita merasa ‘ditendang’, dicabik-cabik, dan dijatuhkan.

Ah, lagi-lagi kalimat hiperbolis.

Menangislah, jika itu bisa membebaskan paru-paru Anda dari kabut masalah yang selama ini bikin Anda sesak. Menangislah, sampai tersedu-sedu. Menangislah, seakan matamu adalah sumber mata air yang mengalir deras. Menangis, menangis, menangis, hingga hatimu merasa lega. Jangan dengarkan mereka yang berkata ‘Jangan menangis’. Mereka hanya ingin menghiburmu. Anda jatuh, tapi Anda masih punya kaki. Anda masih punya tekad, semangat, dan kemampuan. Anda masih bisa bangkit. Jika Anda lelah, maka berhenti. Namun ingatlah untuk mulai lagi.

Anda menangis, tapi Anda harus tahu kapan saatnya harus bangkit. Biarlah hati Anda lembut, tetapi sekaligus menjadi hati yang kuat. Karena pedang kualitas terbaik dibuat dari bahan-bahan langka, dipanaskan dalam suhu tinggi, ditempa dengan amat keras, lalu diasah hingga tajam.

Karena bila Anda menangis, bukan berarti Anda lemah, buruk, atau memalukan. Hanya saja, Anda manusia yang masih memiliki hati dan perasaan.

[1] Anthologyoflove.tumblr.com

[2] CNNIndonesia.com

[3] Health.detik.com

[4] Merdeka.com

[5] Samih Athif az-Zain, Thariq al-Iman. hal. 19

[6] For your information –peny.

[7] Psikologi Pendidikan

 


AISYAH NURCHOLIS


Aisyah Nurcholish. Gadis kelahiran tahun 1999 ini berkomitmen untuk terus mendalami dunia tulis menulis. Aisyah menerbitkan beberapa cerpen dan novel yang kini masih ditulisnya pada salah satu wadah online. ‘Rumah baca’ yang terkenal dan sering digunakan oleh para penulis, baik pemula ataupun profesional ini bernama Wattpad.

Penulis bisa ditemukan di Wattpad dengan cara mengetikkan ID ‘@aisha11103’ Pada kolom pencarian Wattpad. Penulis masih pemula dan baru pertama kali menerbitkan buku. Karenanya, Penulis amat menghargai feedback dari pembaca. dia menerima segala kritik, saran, pertanyaan, dan lain-lain melalui emailnya aisyahnurcholish@gmail.com atau melalui pesan, atau pun komentar, di jejaring sosial seperti Instagram (@aisyahai11) dan AskFm (@FlyHigh110).


PROFIL BUKU


 

 

Judul: Aku Bukan Perempuan Cengeng

Penulis: Ifa Avinaty, Aisyah Nurcholis, dkk

Harga: Rp 45.000,-

 

Meski judul Aku Bukan Perempuan Cengeng terkesan melankolis, buku ini bukan tearjerker semata. Pernyataan anticengeng mengimplikasikan ketegaran dan kepercayaan dirt sebagai seorang perempuan. Air mata boleh jatuh, namun kejatuhannya harus berlandas pada ketegaran, bukan kelemahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *