MENUMBUHKAN MANUSIA DENGAN METODE BERPIKIR POSITIF

 

Oleh : M Ivan Aulia Rokhman*

Sering kali manusia memiliki pekerjaan yang sangat produktif bagi kita. Salah satunya menekuni tulis-menulis. Kecintaan menulis bagi manusia tentu memiliki pekerjaan yang produktif, selain itu bisa menekuni di bidang mana yang anda tempui. Secara keseharian ia harus menerima tantangan sebagai diri sendiri dan melawan risiko yang membela kelelahan namun bermanfaat. Buku ini menunjukkan sportifitas diri menghadapi kesuksesan bagi anda. Sukses dunia tak hanya di dunia tetapi selebihnya di masa depan juga membangun kreatifitas dimiliki melalui kemampuan yang punya.

Di dalam buku ini terdapat kisah yang bertujuan untuk membangun jiwa kesuksesan di usia produktif tersebut senantiasa berharga bagi kita. Apalagi memasuki zaman milenial mengalami pemerosotan digital di tangan masyarakat modern. Metode manusia sebagai jiwa sukses melalui P3K (Produktif, Positif, Prestatif, dan Keren).
Isi buku ini dibuka dengan berpikir. Dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas 12 SMA sering muncul dengan berpikir kritis. Apa sih tentang berpikir? Berpikir adalah sebuah aktivitas mental, aktivitas kognitif yang berwujud mengolah atau memanipulasi informasi dari lingkungan dengan simbol-simbol atau materi-materi yang disimpan dalam ingatan khususnya. Maksudnya ingatan khusus itu begini. Ketika lahir, manusia tidak memiliki ingatan apa pun, bukan? Dia bahkan tak mengerti makna atau bahasa apa pun. Jadi dalam otak, dalam akal manusia akan tersimpan begitu banyak file tentang berbagai hal; pengetahuan, keyakinan, bahasa, prinsip, dan lain sebagainya. Setiap kali manusia menghadapi pengalaman baru, otaknya akan mengindentifikasi pengalaman itu, membuka file-file yang sudah ada untuk dicocokkan datanya, kemudian dimasukkan ke dalam file-file khusus yang sesuai (hal 13-15).

Jadi secara umum berpikir bisa meluas kemana-mana sampai mengemukakan pendapat. Berpikir kritis juga sebagai gagasan pokok dalam menuai hal apapun. Bahkan bisa meluaskan debat antara argumen-argumen yang dikeluarkan sebagai referensi pengetahuan. Selanjutnya hal yang menarik yaitu memberdayakan manusia menalarkan berpikir positif. Positive thinking tingkat ini ‘gara-gara’ terinspirasi oleh orang lain. Misalnya saja ketika seseorang merasa terpukau oleh prestasi orang lain, lantas dia menjadikan orang tersebut sebagai acuan tersebut menjadi selalu ber-postive thinking bahwa dengan dia biasa mencapai prestasi yang sama dan dia memang berhasil. Contohnya real-nya saat kamu menonton tayangan sepak bola dan melihat pemain favorit kamu bermain dengan gemilang. Lantas hal itu menjadikan semangat buatmu agar pemain sepak bola yang handal seperti si pemain itu.

Ada juga orang yang ber-positive thinking atau menjadi berpikir positif hanya gara-gara momen tertentu. Misalnya saja momen bulan ramadhan. Pada bulan Ramadhan biasanya orang akan menjadi lebih positif, karena sudah menganggap bulan suci Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Sehingga pada momen bulan Ramadhan ini, orang sering berpikir positif bahwa semua hal yang dilakukannya adalah baik dan mendapat pahala. Karena sudah berpikir positif, otomatis perilakunya pun juga menjadi positif. ini adalah positive thinking yang paling baik dan paling kuat, sebab tidak terpengaruh oleh momen, orang lain, masalah, atau hal-hal lainnya. Positive thinking pada tingkat ini sudah menjadi kebiasaan, sehingga tidak terikat oleh apa pun. Ada masalah atau tidak, senang ataupun susah, orang pada tingkatan positive thinking seperti ini akan terus dan selalu ber-positive thinking. Orang yang memiliki kepribadian semacam ini akan menjalani kehidupan dengan tenang, damai, dan bahagia. Dia akan selalu berpikiran jauh ke depan dengan tenang, penuh keyakinan, dan optimisme (Hal 80-84).

Jadi berpikir positif menjadi pembelajaran bahwa seorang manusia memahami sebuah hal apa pun. Menguatkan cara untuk mendepankan situasi bisa ditentukan dari sejak dini. Di dalamnya banyak kisah yang diambil oleh penulis tersebut sebagai referensi bagi para pembaca. Setidaknya diperlukan konsisten dalam bekerja demi sebuah menyakinkan terhadap kebutuhan anda. Jangan sekali-kali menyimpan perasaan negatif. Apabila menyiksa diri sendiri akan menghambat kesuksesan masa depan lalu berujung ke liang lahat. Raihlah hidup positif mulai dari sekarang.


Judul Buku : P3K (Produktif, Positif, Prestatif, Keren)
Penulis : Deasywati P.
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Cetakan : I, Desember 2015
Tebal : 152 Halaman
ISBN : 978-602-1614-75-4

 

Berpikir positif adalah selalu percaya dan yakin bahwa dirinya baik, orang lain juga baik. Tidak pernah menggunjingkan, mencela, dan berprasangka buruk terhadap orang lain maupun keadaan yang akan terjadi alias selalu optimis dalam semua kondisi.

Bisakah hal ini kita lakukan? Jawabnya, tentu saja bisa.

Henry Ford, pembuat mobil Ford pertama di dunia mengatakan, “Jika Anda yakin mampu melakukan sesuatu, atau Anda yakin tidak mampu melakukan sesuatu, maka Anda benar dalam dua keyakinan itu.”

Jadi mulailah berpikir positif dari sekarang. Dan yakinlah bahwa kita mampu selalu berpikir positif di masa mendatang. You can, if you think you can!

Berpikir positif erat kaitannya dengan keyakinan. Tapi apakah sebatas itu saja? Bagaimana sebenarnya pikiran positif itu? Apakah berpikir positif itu suatu hal yang mudah? Terlepas dari itu semua, kenapa kita harus berpikir positif?

Jawabnya ada di buku ini!

 


M Ivan Aulia Rokhman

 

M Ivan Aulia Rokhman, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Dr Soetomo Surabaya. Lahir di Jember, 21 April 1996. Lelaki berkebutuhan khusus ini meraih anugerah “Resensi / Kritik Karya Terpuji” pada Pena Awards FLP Sedunia. Saat ini menjabat di Devisi Kaderisasi FLP Surabaya dan Anggota UKKI Unitomo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *