Mereka Bilang, Perempuan Itu Cengeng

 

Can subaltern speak? Sebuah pertanyaan besar yang dilontarkan Gayatri Spivak lewat sebuah essay yang terkenal dalam kajian poskolonial. Spivak menggambarkan perempuan dalam konteks tertentu sebagai subyek tertindas yang tidak mampu menyuarakan dirinya sendiri.

Aw, terdengar nelangsa sekali bukan? Tapi bagaimana dalam alam realitas yang kalian tangkap, realitas dalam konteks kalian, seterkekang itu kah? Apa yang kalian rasakan? Nevertheless, kasus keterkekangan perempuan memang eksis. Ada dan nyata.

Keterkekangan itu salah satunya mewujud dalam stereotipe masyarakat yang masih menganggap perempuan sebagai makhluk lemah. Sikap welas asih perempuan yang sekeras apa pun dia, masih tetap memiliki titik kelembutan, membuat kaum lelaki masih banyak yang beranggapan bahwa perempuan jauh lebih lemah.

Lemahnya perempuan konon dilihat dari air matanya. Berbagai pemahaman dan pemikiran mengatakan bahwa perempuan cenderung menggunakan insting, hati, dan perasaan ketimbang logika. Menurut mereka pula, itulah sebabnya perempuan menangis. Paradigma tersebut tentu saja sudah terlanjur menyebar luas dan sangat sulit untuk diubah.

Lantas, jika sudah menangis, apakah serta merta perempuan menjadi lemah? Untuk menjawabnya, Penerbit Indiva meluncurkan sebuah buku berjudul Aku Bukan Perempuan Cengeng. Antologi yang diseleksi dari sayembara Jangan Jadi Cewek Cengeng ini menghadirkan tiga belas naskah pilihan. Judul ini juga akan menjadi buku pembuka dalam tema Girl Talk Series.

Aisyah Nurcholis memberi pembukaan dengan judul Menangis Tanpa (Ber)-Henti dan Irhayanti Harun menutup buku ini dengan kisah Ketegaran Muslimah. Kesemua memiliki satu tema besar, “Kami Menangis, tapi kami bukan perempuan cengeng.”

Aku bukan Perempuan Cengeng

 

Judul:  Aku Bukan Perempuan Cengeng

Penulis: Ifa Afianty, Aisyah Nurcholis, dkk.

ISBN: 978-602-6334-15-2

Halaman: 184

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *