NAJIB KAILANI, PIONER SASTRA ISLAMI

 

Nama Najib Kailani mungkin tidak setenar sastrawan barat seperti Victor Hugo, Charles Dickens, ataupun John Steinbeck. Namun tidak diragukan lagi karya-karya Kailani menjadi bagian penting dalam khasanah sastra modern dari dunia Arab.

Setyoni MP melalui tulisannya yang dipublikasikan di suaramuhammadiyah.com menyebut Kailani sebagai Pelopor Dakwah bil Novel. Sementara Wahid Nogroho melalui ulasan blognya, menyebut Kailani sebagai Sastrawan Haraki, atau sastrawan pergerakan Islam. Sebutan yang terdengar bombastis dan membangkitkan rasa ingin tahu. Sebenarnya, siapa dan seperti apa Najib Kailani?

Najib al-Kailani lahir 10 Juni 1931 di Syarsyabah, Provinsi al-Gharbiyah, Mesir. Dia berasal dari keluarga petani miskin dan merupakan sulung dari sembilan saudara (sumber lain menyebutkan tiga saudara. Kailani kecil hidup di tengah krisis ekonomi dan tekanan penjajah Inggris yang menyebabkan penderitaan bagi kaum petani.

Kendati hidup di tengah krisis, Kailani dapat mengenyam pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi. Pada tahun 1951, dia melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran Universitas Fuad—sekarang Universitas Kairo. Akan tetapi, sebelum sempat menyelesaikan studinya, tahun 1955 Kailani ditangkap pemerintah dan dijebloskan ke penjara karena keterlibatannya dengan organisasi Ikhwanul Muslimin.

Setelah keluar, ia menyelesaikan kuliahnya, namun kembali ditahan di tahun 1960. Selanjutnya, dia keluar masuk jeruji besi. Tahun 1967, ia mencari suaka ke Kuwait dan bekerja sebagai dokter. Kemudian pindah ke Dubai hingga ia pindah ke Uni Emirat Arab dan ditunjuk menjadi direktur kementrian kesehatan.

Selain aktif di bidang kesehatan sebagai seorang dokter, Kailani adalah sosok penulis produktif. Ia menulis novel, cerpen, puisi, naskah drama, esay, dan lain-lain. Kerasnya penyiksaan yang dialami Kailani selama di penjara, memberikan ilham dan pengaruh besar terhadap karya-karyanya.

Topik-topik sosial menjadi ciri khas karya-karyanya, seperti Ath Thariq Ath Thawil, Al Ardhu Al Anbiya, Hikayah Jadu Allah, Hamamatu Salam, Dam Lathir Shohiyun, Aladzina Yahtariqun, Ra’su Syaithan, Al Dhil Al Aswad, Al Thariq Ath Thawil, Thola’i Fajr, Azda Jakarta, Qatil Hamzah, Layali Turkistan, Nida Al Khalid, Ala Abwabi Khaibar, Amaliqah Asy Syamal, Fi Al Dhalam, Lail Al Khothoya, Mawakib Al Ahrar, Nur Allah, Al Yaum Al Maw’ud, dan masih banyak yang lainnya.

Yang menarik, kendati belum pernah menginjakkan kaki di Indonesia, Kailanni juga pernah menulis novel berlatar kolapsnya Pemerintahan Orde Lama. Novel itu berjudul “Azda Jakarta”  atau “Gadis Jakarta”—dalam edisi terjemahan Indonesia. Novel ini juga menceritakan tentang penjuangan bangsa yang menghalau paham komunis.

Di Indonesia sendiri, sebelum booming sastra islami seperti Ayat-ayat Cinta, Negeri 5 Menara, ataupun Ketika Cinta Bertasbih, novel-novel karrya Najib Kailani telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sebutlah judul-judul seperti Bayang-bayang Hitam, Rihlah Ilallah, dll.


Sumber:

gambar: http://alighufron80.blogspot.co.id/2013/08/najib-kailani-pegiat-sastra-islami.html

http://www.suaramuhammadiyah.id/2016/02/17/najib-kailani-pelopor-dakwah-bil-novel/ diakses 07-12-2017 pukul 9:38 WIB

https://www.academia.edu/17143960/GADIS_JAKARTA_NAJIB_KAILANI

http://www.wahidnugroho.com/2012/08/najib-al-kailani-sang-sastrawan-haraki_25.html

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *