NOVEL FAVORIT S GEGGE MAPPANGEWA

 

 

Awal tahun 2018  Gegge Mappangewa merilis Sabda Luka, novel bernuansa coming of age, bercerita soal kehidupan saudara kembar yang harus hidup terpisah lantaran perceraian orang tua.

Selain produktif menghasilkan karya, Daeng Gegge juga aktif mengader penulis-penulis muda melalui organisasi kepenulisan yang diikutinya, Forum Lingkar Pena. Penulis yang juga berprofesi sebagai pendidik di sebuah Sekolah Islam Terpadu di Makassar. Bukan hanya melaui forum-forum pelatihan menulis, Daeng Gegge juga membudayakan kebiasaan membaca bagi siswa-siswanya. Beliau kerap merekomendasi bacaan untuk para siswanya.

Lantas, buku apa saja yang menjadi bacaan favorit Daeng Gegge? Here’s the list!


Bulan Nararya (Sinta Yudisia)


Aku bangkit, terkesiap. Otakku memerintahkan banyak hal tumpang tindih. Lari keluar, berteriak. Atau lari ke dalam, mengunci pintu. Atau lari masuk, menyambar telepon. Tidak. Anehnya, intuisiku berkata sebaliknya. Tubuhku berbalik, meski melayang dan tremor, dengan pasti menuju tas. Merokoh sisi samping kanan, hanya ada pulpen dan pensil. Merogoh sisi kiri, ada tas plastik kecil, bekas tempat belanjaan yang kusimpan demi eco living. Segera kuambil tas plasting kecil, membukanya, menuju ke arah pintu. Halusinasiku menemukan jawaban. * * * Novel ini berkisah tentang Nararya, seorang psikolog yang menjadi terapis di mental health center. Menerapi para pasien skizophrenia. Uniknya, meski dia berhadapan dengan manusia-manusia tak normal, Nararya yang kehidupan rumah tangganya berantakan, justru menemukan kebahagiaan.

Sinta Yudisia adalah novelis yang perlu diragukan lagi. Kisah-kisa yang diangkat dalam novel maupun gaya penulisannya selalu ‘meneriakkan’ kualitas, seolah nama Sinta Yudisia adalah sebuha brand yang telah mejadi jaminan mutu. Pembaca telah jatuh hati pada novel-novel sejarah yang ia tulis, dan melalui Bulan Nararya, Novelis yang telah beberapa kali menyabet IBF Award ini memukau pembaca dengan sebuah tema psikologi.

Menerbitkan Bulan Nararya pada September 2014. Sebelum terbit, Bulan Nararya sendiri telah memenangi sebuah kompetisi bergengsi yang diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 2013.

 


Tetralogi Laskar Pelangi (Andrea Hirata)


Inilah mahakarya yang ditulis oleh Andrea Hirata. Sepertinya semua penyuka fiksi tahu tetralogi ini. Karya ini adalah karya terpopuler di pertengahan tahun 2000-an. Bercerita tentang kehidupan Ikal, remaja Belitung bersama teman-temannya. Novel ini diterbitkan pertama kali di tahun 2005, dan dengan cepat meledak, serta menarik sineas untuk membawa cerita Laskar Pelangi  ke layar perak. Film Laskar Pelangi mengikuti kesuksesan novelnya, dan mampu menyedot perhatian masyarakat.

Latar pendidikan dan unsur lokalitas yang kuat menjadi daya tarik novel ini. Dan selanjutnya, novel ini juga dianggap menaikkan minat baca di berbagai kalangan, juga meningkatkan animo masyarakat terhadap seluk beluk kehidupan Pulau Belitung.

 


Akik dan Penghimpun Senja (Afifah Afra)


Sekelompok peneliti muda menelisik lurung-lurung gulita gua yang masih menyimpan seribu rahasia dengan harapan seluas samudra. Namun, elan yang membara harus berbenturan dengan amarah sang penghimpun akik. Nyawa pun menjadi taruhan. Tak ada yang bisa menahan, bahkan juga cinta sejati sang pengumpul senja.
Debur ombak pantai selatan, pantai yang penuh kenangan, pun menjadi saksi atas laranya harapan yang berbentur dengan kenyataan. Tetapi, semua toh akhirnya melarut dalam jingganya senja. Buktinya, dia mampu mengumpulkan empat ribu delapan ratus dua puluh tiga senja dalam hidupnya.

Satu lagi novel yang berbicara perihal petualangan. Berdasarkan survei, novel ini adalah bacaan yang akan membuatmu ketagihan. Tidak cukup dibaca sekali bukan karena membuat kepalamu mengernyit sakit lantaran bahasan yang berat, melainkan… ceritanya yang menarik dan pesan positifnya yang kuat. Dan tampaknya, Daeng Gegge adalah salah satunya.

Afifah Afra dikenal sebagai penulis yang menyukai eksperimen kata, dan demikian juga tampak dalam Akik dan Penghimpun Senja.  Novel ini di-craft dengan cantik. Muatan tentang lingkungan hidup, nilai keislaman, diramu dengan brilian. Fabolous!

 


The Alchemist (Paulo Coelho)


Novel karya Paulo Coelho ini bercerita tentang bocah laki-laki dari Andalusia bernama Santiago. Perjalanan seorang gembala dalam mencari harta karun yang konon terkubur di bawah piramida Mesir di Giza. Diterbitkan pertama kali tahun 1988 di Brazil. Melalui penceritaan simbolik, Coelho mendorong pembacanya untuk mengejar mimpi mereka.

 


Altitude 3637 (Azzura Dayana)


It’s autumn, uhm?
Path is past
This lost area between us

Mengejar jejak sebuah email, telah membawa Faras menjelajah satu tempat ke tempat lain. Dari Borobudur hingga Tanjung Bira. Hanya untuk mencegah luapan dendam sebuah hati yang merasa memiliki sepuluh alasan untuk membunuh ayahnya.
Namun, dengan sepuluh alasan pulalah Raja Ikhsan, sang pendaki tangguh, akhirnya berhasil menguarkan dendam itu di puncak Mahameru. Dan, di altitude 3676, ketinggian 3676 meter di atas permukaan laut, Raja Ikhsan tak sekadar menjumpai sebuah ketundukan, tetapi juga beningnya sebuah cinta dan keikhlasan.

Karya ini memenangkan beberapa penghargaan, salah satunya adalah Islamic Book Fair Awards sebagai fiksi Dewasa Terbaik. Karya ini mendapat tanggapan yang hangat dari pembaca. Selain itu novel ini juga medapatkan banyak review positif. Tak sedikit dari pembaca yang terinspirasi dan termotivasi untuk turut berpetualang ke gunung Bromo.

Meski bertema petualangan outdoor alias daki mendaki gunung, novel ini jauh kata rip-off novel yang sebelumnya telah sukses di pasaran. Sebab Azzura Dayana mampu menghadirkan novel ini menjadi sebuah legacy. Cerita yang indah dan dituturkan dengan menawan.

 


Ayah (Andrea Hirata)


Sejak sukses dengan series Laskar Pelangi, hingga Andrea Hirata makin eksis dengan meneliskan judul-judul lain yang juga mendapat sambutan manis dari pembaca dalam negeri. Sala satunya adalah novel Ayah. Novel yang terbit tahun 2015 ini kecintaan seorang pria pada putranya.

Dalam novel Ayah, agaknya Andrea Hirata tidak dibegitu ‘dihantui’ oleh formulasi tema ‘glorious’ Laskar Pelangi. Dan ini adalah kabar baik, mengingat setelah booming Laskar Pelangi karya dengan tema serupa membanjiri toko buku.

 


Itu tadi novel-novel favorit Daeng Gegge. Jika kamu suka dengan novel yang berlatar budaya dan keluarga, Sabda Luka adalah novel yang harus masuk keranjang belanjamu.

Belum tahu sola Sabda Luka? Here’s the trailer….

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *