PERAN MUSLIMAH DALAM JIHAD KEMERDEKAAN

Oleh: Teguh Wibowo

Jika diurai ke masa lampau, muslimah di negeri ini sudah menancapkan tonggak sejarahnya. Lewat pemikiran dan turut berjihad melawan penjajah. Mereka tak gentar berperang. Pemikiran dan karakternya perlu kita teladani. Sebenarnya ada banyak pejuang muslimah, bukan hanya yang selama ini kita kenal dari buku pelajaran sejarah di sekolah.

Jauh sebelum masa Kartini dan juga sebelum Kerajaan Islam Demak berdiri, seorang tokoh muslimah sudah menoreh sejarah dengan namanya. Dialah Nyai Ageng Pinatih/Nyai Gede Pinatih, peran strategisnya dalam bidang perdagangan. Juga ada Ratu Kalinyamat atau R.A. Retno Kencono, putri dari Sultan Trenggono. Di masanya ini seorang muslimah amat dihargai dan melahirkan karya-karya besar bagi bangsanya.

Dari akademi Blang Perak lahir tokoh-tokoh seperti Laksamana Keumalahayati dan Laksamana Muda Cut Merah Inseun yang diberi kepercayaan oleh Sultan Al-Mukammil (1589-1604) untuk memimpin armada laut khusus perempuan. Armada ini masyhur dengan nama Armada Inong Balee, karena separuh dari personalnya adalah para janda syuhada Perang Teluk Haru melawan Portugis (hal 27).

Kartini mengkritik keras diskriminasi rasial. Termasuk kekerasan pada penduduk pribumi, seperti yang disuarakan dengan lantang dalam surat-suratnya. Kesempatan untuk maju bagi putra-putri pribumi dihambat oleh pemerintah kolonial. Pembatasan pendidikan bagi perempuan yang seolah merupakan tradisi Jawa, sebenarnya adalah rekayasa penjajah untuk menghalangi lahirnya anak-anak negeri yang berkualitas.

Atas kehendak Allah Swt., R.A. Kartini berjumpa dengan Kiai Sholeh Darat yang mengajarkan arti dan makna dari ayat-ayat dalam Alquran. Kehausan Kartini mengenai pemahaman terhadap agamanya pun terpenuhi. Sejak saat itu Kartini menata pemikiran dan dirinya sebagaimana pemahamannya sebagai seorang muslimah. Hingga akhirnya beliau menikah, dan meninggal empat hari setelah melahirkan putranya pada 17 September 1904 (hal 122).

 

Gerakan Feminisme dan Pengaruhnya

Istilah feminisme dicetuskan oleh seorang filsuf Perancis, Charles Fourier tahun 1837. Kemudian berkembang di Perancis dan Belanda tahun 1872, di Ingris Raya tahun 1890-an, dan di AS tahun 1910. Awalnya, feminisme adalah sebuah reaksi yang mucul di masyarakat Barat pada akhir abad ke-19 sebagai antitesis dari kondisi perempuan di sana yang mengalami tekanan (opresi) dan diskriminasi.

Tahun 1968, Martha Lear menulis di New York Times mengenai gerakan feminis. Dia mengenalkan istilah firs wave dan second wave untuk menggambarkan tahapan gerakan feminisme. Gelombang pertama ini dibentuk oleh perlawanan terhadap tindak diskriminatif dan konflik kelas. Masa ini lazim dikenal sebagai munculnya feminis liberal dan feminis marxis-sosialis (hal 116).

Gelombang kedua, awal tahun 1960 hingga akhir 1980. Dikenal sebagai masa emas feminis liberal dan feminis radikal. Ide-ide utamanya adalah kesetaraan—keadilan gender dalam keluarga dan tempat kerja, seksualitas, hak reproduksi—termasuk legalisasi aborsi—hak politik berupa tuntutan persamaan jumlah posisi atau jabatan politik/publik bagi perempuan (hal 123).

Buku ini menyajikan data dan fakta, studi empiris didukung referensi pustaka yang autentik. Hanya saja, bahasa yang terlalu tinggi (ilmiah), lebih pas dibaca kalangan akademisi. Rahayu Amatullah dengan segala upaya meluruskan sejarah kelam dan mengajak kita untuk peka. Penulis ini peduli dan mengapresiasi para pejuang muslimah, dan menasihatkan kepada generasi zaman now. Sebagaimana Kartini yang ingin bangsanya terbebas dari belenggu penjajahan, keluar dari kemelut, “habis gelap terbitlah terang”.

Membaca buku ini, berarti kita telah memperbarui pengetahuan sejarah kita. Memfilter segala budaya, paham, pemikiran, dan gerakan yang tidak sesuai dengan ideologi dan identitas kita. Bahwa, cita-cita dan nilai-nilai luhur yang ditanamkan oleh para pejuang dan pendiri bangsa ini patut dijaga dan dihargai. Bahwa, Negara Kesatuan Republik Indonesia ini berjaya berkat rahmat Allah Swt. (*)


INFO BUKU


Judul         : Kartini dan Muslimah dalam Rahim Sejarah

Penulis       : Rahayu Amatullah

Cetakan     : I, April 2017

Tebal         : 144 halaman

ISBN          : 978-602-6334-29-9

 

Kartini adalah jendela masa yang luar biasa penting—yang Allah SWT anugerahkan agar kita dapat melongok ke masa lalu dengan lebih cermat: siapa sesungguhnya para pembentuk bangsa ini? Dengan menelusuri kehidupan Kartini kita dapat melihat dengan lebih utuh, bagaimana muslimah pendahulu Kartini memberikan sumbangsih besar terhadap konstruksi sejarah bangsa. Sebutlah Ratu Kalinyamat, Nyai Ageng Pinatih, Laksamana Keumalayati, Cut Nyak Dien, mereka mengangkat senjata, menolak untuk menyerah, menolak tunduk pada penjajah. Muslimah-muslimah ini bukan saja menjadi inspirasi, namun juga memberi potret terang tentang ghirah Islam yang menjadi ruh perjuangan.

Kartini adalah jendela masa. Ialah yang menghubungkan kita dengan fakta-fakta menggetarkan sekaligus vital yang selama ini terdistorsi.

 


PERESENSI


Teguh Wibowo, peminat literasi, bergiat di Forum Lingkar Pena (FLP) Surabaya. Menulis resensi, puisi, dan prosa, serta beberapa artikel, esai, dan opini. Meraih anugerah PENA JATIM AWARD 2017 kategori “Penulis Puisi Terpuji”. Buku puisinya yang sudah terbit Resolusi Semilyar Cahaya (Stepa Pustaka: 2017), dan yang segera terbit Mahabbah Suci.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *