Persahabatan Sejati Berbuah Prestasi

15578827_1205177782903897_9168948628845374511_nDrama, musik, dan fashion Korea sempat mengguncang Indonesia. Masyarakat seakan terhipnotis, sehingga muncul sebutan ‘demam korea’. Tentu dari sekian banyak budaya asing itu ada yang cocok dan ada yang tidak dengan kepribadian negara kita.

“Sahabat Baru Jung Yun” adalah novel anak, mencoba menawarkan metode pembentukan karakter melalui bacaan yang lebih segar dan mencerahkan. Novel ini menceritakan Jung Yun, siswa Sekolah Dasar Internasional Korea. Kelas Jung Yun kedatangan siswa baru bernama Zaim, pindahan dari Indonesia. Papa Zaim asal Indonesia dan mamanya asal Korea. Keluarga Zaim pindah ke Korea karena papanya sedang dinas di sana. Jung Yun terkejut menyaksikan orangtuanya akrab dengan orangtua Zaim. Ternyata mereka telah saling mengenal saat pertemuan di Indonesia.

Kehadiran Zaim di kelas cukup mengejutkan. Pasalnya, ia ramah dan murah senyum. Semakin hari Zaim disebutnya aneh karena perilakunya sangat berbeda dari masyarakat Korea. Sampai-sampai ia diintimidasi, dibenci, dan difitnah oleh teman-teman Jung Yun. Zaim menjadi bulan-bulanan mereka. Hanya Jung Yun saja yang masih percaya kepada Zaim.

Jung Yun membatin, “Aku meninggalkan kedua temanku yang masih diam mematung. Sejujurnya, aku hanya tidak ingin melanjutkan obrolan tentang Zaim di belakangnya. Terlebih lagi, aku belum tahu bagaimana sosoknya yang sebenannya. Kalau sampai aku ikut memperoloknya, bisa-bisa aku menjadi anak yang tidak baik” (hal 19).

Jika anak-anak jenjang sekolah dasar membaca dan memahami cerita dan amanat pada novel ini, secara otomatis karakternya akan terbentuk semakin kuat. Karakter ini dapat diperoleh dari aktualisasi para tokohnya. Misalnya pada Jung Yun, “Sudah kebiasaanku untuk melakukan tugas rumah sendiri. Kalau tak paham, baru aku akan meminta bantuan kedua orangtuaku atau teman-teman. Tapi kalau harus mencontek, aku merasa sudah menyia-nyiakan otakku. Lantas, apa gunanya sekolah kalau aku hanya bisa menjiplak jawaban temanku yang lain?” (hal 53).

Pendidikan karakter lainnya dapat kita baca pada bagian lomba sains. “Kerja keras dan pantang menyerah membuat kami sadar bahwa semua pasti akan menghasilkan keberhasilan bila kita punya niat kuat untuk melakukannya. Setidaknya, segala usaha di perlombaan itu memberikan kami sebuah pengalaman seru yang tentunya akan sulit untuk dilupakan” (hal 102).

Begitu juga karakter pendidik di Korea. Contohnya yang diajarkan guru olahraga mereka dalam pelatihan. “Dan biasanya Lee Songsaengnim akan membiarkan kami berdua menyelesaikan lari kami tanpa batas waktu yang ditentukan. Bagi Lee Songsaengnim, dia bukan ingin melihat seberapa cepat lari kami, melainkan usaha keras kami untuk terus berusaha maju pantang menyerah adalah hasil yang ingin dia ajarkan kepada murid-muridnya, selain sikap sportif tentunya” (hal 44).

Pengakuan Jung Yun terhadap Zaim adalah hasil pembentukan karakter itu. “Zaim memang cerdas, dia banyak mengetahui segala hal tentang kebudayaan negaranya, sampai membuat aku terkagum-kagum ketika dia menceritakannya. Banyak hal unik yang ada di Indonesia membuatku ingin menginjakkan kaki ke tanah kelahirannya itu” (hal 40).

“Tidak pernah aku melihat dia lupa mengucapkan doa, entah itu di mana, dalam keadaan apa, dan di waktu apa pun juga. Baginya, sebuah doa merupakan sebuah keharusan yang harus selalu dia amalkan, karena doa juga merupakan salah satu ibadah yang tidak bisa dia tinggalkan. Bisakah suatu saat kelak, aku seperti dirinya?” (hal 131).

Gaya cerita dan ide dalam novel ini mengalir. Konflik hingga peleraian logis. Novel ini penting dibaca untuk anak sekolah dasar, terutama jenjang kelas 4 – 6. Unik, ada usur kebersamaan, kerja sama, dan toleransi. Pembaca juga akan bertambah wawasan tentang Negara Korea dan istilah-istilah dalam bahasa Korea. Penanaman akhlak mulia akhirnya memang memberi pencerahan bagi sifat-sifat tidak terpuji. Mempertegas: “Kebenaran layak menang, kebatilan akan sirna.” (*)

Judul Buku        : Teman Baru Jung Yun

Penulis                : Ungu Lianza

Penerbit              : Lintang (lini Indiva Media Kreasi)

Cetakan              : I, Oktober 2016

Tebal                   : 136 halaman

ISBN                   : 978-602-6334-06-0

Peresensi             : Teguh Wibowo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *