PETUALANGAN MENAKLUKKAN RASA TAKUT

 

Oleh: Teguh Wibowo

Pendidikan karakter penting diberikan kepada anak-anak sejak usia dini. Mereka sebaiknya terlebih dahulu dibekali ilmu agama, dikenalkan akidah dan akhlakul karimah. Dan dilatih membiasakan diri dengan sikap-sikap positif seperti jujur, mandiri, dan pemberani. Novel anak berjudul “Hantu Kubah Hijau” ini bisa dijadikan visualisasi dan stimulus bagi tumbuh kembang anak-anak. Terutama bagaimana memberi teladan tentang sikap berani.

Novel ini menceritakan petualangan Naya bersama kedua adiknya, Angga dan Tegar, saat berkunjung ke tempat tinggal kakek dan neneknya di Tegal, Jawa Tengah. Keluarga Naya tinggal di kota metropolitan Surabaya. Di Tegal, Naya dan kedua adiknya sangat terhibur. Mereka menghabiskan musim liburan dengan berkunjung ke berbagai tempat dan menjumpai sahabat.  Menikmati jajanan tradisional dan juga mencicipi makanan lezat buatan neneknya. Naya juga mengenal tempat-tempat bersejarah yang dikenal dengan sebutan Kiai Gentong, Masjid Kubah Hijau, dan Daerah Ki Gede Sebayu.

Naya bertemu kembali dengan Leli, Subki, dan Banu. Satu hal yang mencurigakan dan membuat Naya penasaran, yaitu teman-teman Naya ketakutan ketika Naya meminta mereka untuk menemani singgah ke Masjid Kubah Hijau. Desas-desusnya, masjid itu menjadi tempat berhantu. Kubah masjid tersebut ratusan tahun lalu merupakan hadiah dari Kerajaan Melayu.

Masjid Kubah Hijau tidak dipakai lagi karena sudah ada masjid yang baru, Baitul Izzah. Masjid Kubah Hijau jauh lebih kecil dan terbuat dari kayu sehingga banyak yang lapuk, serta letaknya yang menjorok masuk ke dalam lapangan membuat orang enggan mendatangi. Baitul Izzah nyaris di tepi jalan.

Masjid Kubah Hijau dulunya adalah tempat orang-orang belajar banyak ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama. Dulu masjid tersebut amat terkenal. Di masjid itu ada madrasah yang buka dari pagi hingga petang. Kini menjadi bangunan yang nyaris tak terurus. Ternyata masjid, pemakaman, rumah para guru dan pengurus; dibangun bersisian, berada di tanah sengketa. Pesoalan kepemilikan tanah wakaf telah menimbulkan masalah bagi ahli waris di area masjid tersebut.

Sementara itu, siapa gerangan yang sering menampakkan bayangan di menara Masjid Kubah Hijau semakin membuat Naya berambisi memergoki sosoknya. Naya tidak takut, ia sudah banyak diajari keberanian oleh papanya. Keyakinan dan tekad Naya membuahkan hasil. Ia menemukan Tika, si gadis seusianya yang terkena albino atau kelainan pigmen. Seluruh tubuh Tika berwarna pucat, jarang muncul pada siang hari karena kulit sangat sensitif.

Tika sering membersihkan menara karena ingin memeliharanya dari kehancuran. Sambil berharap masjid difungsikan kembali setelah persolan sengketa sudah selesai. Bayangan yang sering terlihat berkelebat di mata orang-orang, sebetulnya adalah bayangan Tika yang bergerak lincah ke sana ke mari dengan rambut panjangnya yang melambai-lambai (hal 96).

Begitu penting nilai sebuah keberanian. Banyak hikmah dan petuah yang bisa dipetik dari membaca novel ini. Ide cerita yang unik dan menarik. Bahasa disajikan secara asyik dan enak dibaca. Bertebaran nasihat-nasihat penggugah mental kerdil menjadi pemberani. Dari pecundang menjadi pemenang.

“Ketika kita bahagia atas karunia Allah, kita memang harus banyak bersyukur. Salah satunya dengan memperbanyak ibadah dan salat tepat waktu. Ditambah salat sunat kalau bisa” (hal 22). “Seseorang tak dapat dinilai hanya dari penampilannya. Seseorang juga harus belajar untuk mengendalikan rasa takutnya, jika rasa takutnya tak memiliki alasan yang kuat” (hal 96).

“Manusia makhluk tertinggi. Dengan akal, kecerdasan, kekuatan iman, dia mampu menaklukkan segalanya. Lihatlah, gorila dan beruang bisa ditundukkan, padahal mereka jauh berukuran lebih besar. Angkasa raya ditaklukkan padahal letaknya sangat tinggi melebihi kemampuan manusia melompat. Demikian pula setan. Seharusnya mereka yang takut kepada manusia dan bukan sebaliknya. Sebab manusia yang beriman dekat dengan Tuhan Yang Maha Memiliki Kekuatan” (hal 83).


INFO BUKU 


Judul                   : Hantu Kubah Hijau

Penulis                : Sinta Yudisia

Cetakan              : I, November 2017

Tebal                   : 120 halaman

ISBN                   : 978-602-6334-34-3

 

Naya yang tinggal di kota Metropolis Surabaya, berlibur di kota kecil Tegal bersama kedua adiknya, Angga dan Tegar. Naya bertemua lagi dengan Leli, Subki, dan Banu. Liburan pun menjadi sungguh mengasyikkan.
Naya dimanjakan jajanan tradisional dan makanan lezat oleh Nenek. Naya pun mengenal tempat-tempat bersejarah yang dikenal dengan sebutan Kiai Gentong, Masjid Kubah Hijau, dan Daerah Ki Gede Sebayu.
Namun, mengapa teman-teman Naya ketakutan ketika Naya meminta mereka menemani ke Masjid Kubah Hijau? Konon, Kubah masjid tersebut ratusan tahun lalu merupakan hadiah dari kerajaan Melayu. Apakah karena telah lapuk, tua, antik, dan tak berpenghuni maka Masjid Kubah Hijau tersebut dihuni hantu?

 


PERESENSI


 

Teguh Wibowo, bergiat di Forum Lingkar Pena (FLP) Surabaya. Menulis resensi, puisi, dan prosa, serta beberapa artikel, esai, dan opini. Tulisan-tulisannya tersiar di media lokal dan nasional, serta di puluhan buku antologi. Meraih anugerah PENA JATIM AWARD 2017 kategori “Penulis Puisi Terpuji”. Buku puisinya yang sudah terbit Resolusi Semilyar Cahaya (Stepa Pustaka: 2017), dan yang segera terbit Mahabbah Suci.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *