QUOTES PILIHAN “LA TAHZAN FOR KONTRAKTOR”

 

Salah satu tolok ukur kebahagiaan seorang mukmin adalah memiliki tetangga yang baik

Bahwa dengan tinggal terpisah dari orang tua/mertua, kita belajar menata rumah tangga sendiru. Belajar untuk saling menyelami perasaan dan memahami karakter pasangan. Memulai segalanya dari bawah dengan perjuangan berpeluh peluh dalam mmbangun pondasi rumah tangga sesuai visi misi yang telah dipetakan bersama

Ibarat manusia, bangunan fisik rumah adalah tubuh dan suasana rumah yang dihidupkan adalah ruh. Apabila salah satunya hilang maka ibarat cacat fisik atau cacat mental, sehingga menjadi rumah yang tak baik untuk ditinggali.

Tak mengapa masih sebentuk rumah kontrakan asalkan setiap penghuninya senantiasa berupaya untuk mewujudkan keberkahan dan kebahagiaan di dalamnya. Itulah baiti jannatiy.

Makhluk hidup yang ada di dunia ini semua hanya mengontrak. Sebagus dan seindah apapun rumah kita saat ini, tak ubahnya rumah kontrakan yang suatu hari nanti harus ditinggal oleh penghuninya karena masa kontraknya sudah habis (dr. Syafiq Riza Basalama)

Kalau tak ingat bahwa hidup hanyalah persinggahan untuk mencari bekal, mungkin manusia akan membabi buta dalam mencari sebentuk karunia.

Bumi Allah terhampar luas jadi tidak perlu risau meski masih ngontrak. Sabar dan syukur sebab masih diberi perlindungan panas dan hujan.

Rumah abadi dengan kebahagiaan sempurna adalah di surga. Bukan di dunia.

Tapi bagi sepasang pengantin baru yg memiliki semboyan ‘dunia milik kita, yg lain ngontrak’ , suka duka dijalani saja.

 


 

Judul: La Tahzan for Kontraktor: Narasi Inspiratif Suami Istri di Kontrakan

Spek: bookpaper, 14 x 20 cm, 176 halaman

Harga : 42K

 

Pasutri yang masih berjuang, harus rela menabung selama bertahun-tahun untuk memiliki hunian. Banyak dari mereka yang memilih rumah kontrakan sebagai starting point dalam membangun rumah tangga. Akan tetapi, menjadi ‘kontraktor’ tak selalu mudah. Ternyata mereka memiliki banyak cerita yang beragam.

Buku ini berisikan kisah pahit manisnya kehidupan saat ngontrak. Bagaimana mereka berdamai dengan keadaan, bertahan dalam kesederhanaan selama hitungan tahun, dan bersabar saat dipandang sebelah mata. Ada keharuan, kesedihan, juga kelucuan saat meniti panjangnya hari-hari pernikahan di rumah kontrakan. Ada sebuah ujian dan titik balik yang mendewasakan. Mereka menyadari bahwa segalanya berproses termasuk saat mengupayakan sebuah rumah di dunia.

Bersama “La Tahzan for Kontraktor”, mereka yang masih bersiap dan pasangan muda yang baru menikah dapat memperoleh gambaran tentang lika-liku rumah tangga dalam mempersiapkan kemandirian “papan”. Bagi mereka yang telah bertahun mengarungi bahtera rumah tangga, “La Tahzan for Kontraktor” menyediakan nostalgia yang akan menghadirkan kembali romantisme perjuangan di masa awal menikah. Makan sepiring berdua, pahit sepah berpindah-pindah kontrakan, dan menghadapi lingkungan baru. Semua diramu dengan apik oleh kombi ibu muda Arinda Shafa dan Wahyu Widyaningrum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *