RATU KALINYAMAT: RATU JEPARA YANG GIGIH MELAWAN PENJAJAH

Sekilas Kerajaan Islam Demak

Setelah Kerajaan Majapahit mulai meredup di akhir abad 15, sejatinya Nusantara tak kehilangan sinarnya. Kerajaan Aceh Darussalam yang mulai berdiri sekitar tahun 1496 dan resmi diproklamirkan tahun 1511, kian dikenal dunia sebagai pusat perdagangan di Asia Tenggara dan akhirnya sebagai pusat Ilmu dan Teknologi. Sekira dua dasawarsa sejak berdirinya, di kompleks Masjid Baiturrahman telah aktif sebuah Universitas (Jam’iyyah) yang terdiri dari 15 Fakultas. Sebuah Akademi Militer juga bediri di daerah Blang Perak. Dan industri pun berkembang, dengan beroperasinya beberapa pabrik pengolahan besi dan mesin-mesin mekanikal sesuai zamannya.

 

Dari Akademi Blang Perak lahirlah tokoh-tokoh seperti Laksamana Keumalahayati dan Laksamana Muda Cut Merah Inseun yang diberi kepercayaan oleh Sultan Al-Mukammil (1589 – 1604) untuk memimpin armada laut khusus perempuan. Armada ini masyhur dengan nama Armada Inong Balee, karena separuh dari personilnya adalah para janda syuhada Perang Teluk Haru melawan Portugis. Sebelum memimpin Armada tempur, Laksamana Keumalahayati adalah Komandan Protokoler Istana.

 

Namun sebelum Kerajaan Aceh Darussalam berjaya, di tanah Jawa sendiri, berdirilah Kerajaan Islam Demak pada tahun 1482. Pada mulanya Raden Fattah atas perintah gurunya ialah Sunan Ampel, membabat hutan mendirikan pesantren di daerah Glagah Wangi (wilayah Kab. Demak, Propinsi Jawa Tengah saat ini). Dinamai Glagah Wangi karena di daerah ini banyak tumbuh rumput (glalah) yang berbau harum (wangi). Daerah ini subur dan bercampur kawasan rawa-rawa, sehingga beras menjadi komoditi yang melimpah. Seiring waktu santri Raden Fattah terus bertambah hingga berjumlah hampir 2000 orang dan jumlah penduduk total mencapai kisaran 10.000 orang. Nama Glagah Wangi juga berganti menjadi Bintoro.

 

Dikisahkan di Babad tanah Jawi, suatu saat Bhre Kertabumi (Prabu Brawijaya V) berkenan mengenal Raden Fattah lebih dekat karena mendengar tentang perkembangan daerah Glagah Wangi. Beliaupun mengirim Adipati Terung untuk menjemput Raden Fattah ke ibukota Majapahit. Peristiwa ini tercatat terjadi tahun 1477. Setelah menyaksikan kepribadian Raden Fattah secara langsung, terlebih setelah mengetahui bahwa Raden Fattah adalah putera kandungnya, maka Prabu Brawijaya V pun menghadiahi tanah perdikan (bebas pajak) yang meliputi Ampeldenta, Madura, Gresik dan Tuban. Secara resmi Raden Fattah juga dilantik menjadi Adipati Anom Notoprojo Bintoro. Prabu Brawijaya V juga berpesan kepada Raden Fattah agar Bintoro diubah namanya menjadi Demak.

 

Pada tahun 1478, raja Kediri ialah Prabu Girindra Wardhana menyerang Majapahit. Prabu Brawijaya V dapat dikalahkan dan tidak diketahui keberadaannya. Saat mendengar penyerangan terhadap ayahnya, Raden Fattahpun memimpin pasukan ke Trowulan—ibukota Majapahit—dengan dibantu oleh para Wali. Ialah Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijogo, dan Pangeran Cirebon.

 

Saat jeda pertempuran—karena kedua belah pihak banyak jatuh korban—Raden Fattah melanjutkan pembangunan Masjid Agung Demak yang sempat tertunda. Keberadaan masjid ini dianggap amat penting sebagai pusat pengkaderan Santri yang sekaligus adalah Prajurit Kerajaan. Dan tak dinyana, datanglah kabar bahwa ayahanda Raden Fattah ternyata selamat dan bersembunyi di hutan lereng gunung Lawu. Prabu Brawijaya V mengirim pesan agar Sunan Kalijogo datang untuk membimbing beliau yang ingin bersyahadat. Akhirnya bersyahadatlah Brawijaya V dengan dituntun oleh Sunan Kalijogo dan berganti nama menjadi Darmo Kusumo, disaksikan oleh Raden Fattah, Sunan Giri, dan Empu Supa. Prabu Darmo Kusumo selanjutnya menyampaikan harapan agar Kerajaan Islam Demak menggantikan Kerajaan Majapahit yang pernah berjaya. Tak lama setelah itu, Prabu Darmo Kusumo wafat, dibunuh oleh Girindra Wardhana yang berhasil mengetahui tempat persembunyian beliau di lereng gunung Lawu tersebut.

 

Pertempuran pamungkas kemudian segera digelar oleh Raden Fattah pada tahun 1481. Panglima perang dari kerajaan Demak adalah Ja’far Shadiq (Sunan Kudus) yang membawahi 9.100 orang prajurit. Di antaranya ada 40 orang pasukan elit dari Aceh dan 7 orang dari Andalusia. Saat pasukan Demak berhasil mencapai Ibukota Majapahit, Trowulan telah kosong ditinggalkan oleh prajurit Majapahit yang ketakutan. Tak lama kemudian Girindra Wardhana menyerahkan diri, walaupun ada beberapa Patih Majapahit yang menolak dan melarikan diri. Karena menyatakan penyesalan dan kesediaan tunduk pada Kerajaan Demak, Raden Fattah memaafkan Girindra Wardhana yang telah membunuh Ayahanda beliau, bahkan diberinya kedudukan sebagai Kepala Daerah Majapahit di bawah Kerajaan Islam Demak.

 

Selanjutnya, setelah melalui persidangan Majelis Syuro Walisongo, pada tanggal 12 Rabi’ulawwal 860H atau 1482M, Sunan Giri selaku pimpinan Walisongo melantik Raden Fattah selaku Raja Pertama Kerajaan Islam Demak, yang gelar lengkapnya adalah Sultan Fattah Syekh Alam Akbar Panembahan Jimbun Abdurrahman Sayyidin Panatagama Sirullah Khalifatullah Amiril Mukminin Hajjudin Hamid Khan Abdul Fattah Suryo Alam.[1]

 

Kebesaran Demak masa Pati Unus dan Sultan Trenggono

 

Setelah Raden Fattah wafat, beliau digantikan oleh Pati Unus yang nama aslinya adalah Raden Abdul Qadir. Ada dua versi mengenai Pati Unus, yang pertama menyatakan bahwa beliau adalah putera Raden Fattah dan sumber ke dua menyatakan bahwa beliau adalah menantu Raden Fattah. Apapun itu, fokus kita adalah pada kebijakan Pati Unus yang menjadi salah satu inspirasi semangat berbangsa kita. Ialah perlawanan gagah berani beliau pada invasi penjajah.

 

Pati Unus menjadi Raja sekaligus Panglima Perang Kerajaan Demak, pada tahun 1518. Beliau langsung turun ke gelanggang memimpin pertempuran. Fokusnya adalah Portugis yang mulai mengganggu ketenteraman kawasan. Sebagaimana kita ketahui, bangsa-bangsa Barat berekspansi ke Selatan untuk mencari sumber rempah-rempah, dengan maksud menguasai daerah tersebut agar dapat mengeruk keuntungan sebesar-besarnya bagi mereka. Sebab rempah-rempah adalah komoditi dagang yang bernilai tinggi di pasaran Eropa. Sebelum menjadi Raja Kerajaan Demak, Pati Unus pada usia 17 tahun telah memimpin armada Demak untuk menyerang Portugis di Malaka. Ialah pada pertempuran tahun 1513 melawan pasukan Fernando Perez de Andrade. Walaupun akhirnya kekuatan Demak dipukul mundur oleh Portugis, namun setidaknya mereka cukup gentar dengan keberanian Pati Unus dan pasukannya yang melancarkan serangan ofensif. Beberapa catatan Portugis bahkan menyebutkan tentang kapal perang Demak yang besar dan kuat—lazim disebut Jung—dan berlapis baja.

 

Pada tahun 1511 Portugis menaklukkan Malaka. Mereka lalu mendirikan benteng dan menyusun kekuatan di sana dengan target menaklukkan kawasan Nusantara. Bahkan pada tahun 1521 dikabarkan Portugis mencapai kesepakatan dengan Raja Sunda dari Kerajaan Pajajaran dimana Portugis akan diberi ijin mendirikan benteng di Sunda Kelapa. Pati Unus menganggap perjanjian tersebut sebagai ancaman serius atas kedaulatan Nusantara. Beliau tidak ingin Portugis menyentuh bumi pertiwi. Hingga ancaman ini diresponnya dengan ekspedisi penyerangan ke dua ke Malaka pada tahun itu juga. Dan qadarullah menetapkan Pati Unus wafat dalam penyerangan ofensif yang penuh martabat dan gagah berani itu.

 

Melanjutkan kepemimpinan Kerajaan Demak berikutnya adalah Sultan Trenggono, adik Pati Unus. Dalam masa pemerintahan Sultan Trenggonolah Demak kian mengokohkan kekuatannya hingga pedalaman Jawa jauh ke arah Selatan, juga ke Barat dan Timur. Hal ini terjadi karena dakwah Islam semakin meluas dan mayoritas penduduk Jawa memeluk Islam yang menghargai kesetaraan harkat setiap insan.

 

Hingga saat beliau wafat pada tahun 1546, kekuasaan Kerajaan Demak merentang ke Barat hingga Banten dan Sunda Kelapa—dimana Portugis berhasil diusir dari Sunda Kelapa tahun 1527 oleh Fatahillah sebagai panglima Perang—dan ke Timur hingga mendekati Blambangan. Bisa dikatakan bahwa Sultan Trenggono membangun Kerajaan Islam Demak menjadi kekuatan tangguh Nusantara dengan daerah kekuasaan lebih dari dua pertiga pulau Jawa.

 

Masa Khidmat Ratu Kalinyamat

 

Nama aslinya adalah RA. Retno Kencono. Beliau putri dari Sultan Trenggono, Raja Demak ketiga. Keberadaan Ratu Kalinyamat dimuat dalam babad Tanah Jawi dan Babad Demak (karya Atmodarminto) yang dari sisi genealogis menetapkan beliau sebagai keturunan Raja Demak dan juga sebagai Ratu Jepara.[2]

 

Pada awalnya RA. Retno Kencono menjadi Adipati Jepara atas amanah dari ayahandanya, sejak tahun 1521. Setelah menikah dengan Pangeran Hadiri (disebut juga P. Hadirin) pada tahun 1536, beliau menyerahkan kepemimpinan pemerintahan kepada suaminya dan RA. Retno Kencono mendampingi sang suami dengan setia. Pemerintahan Pangeran Hadiri berlangsung dengan aman dan berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jepara. Terutama yang terus kita saksikan perkembangannya hingga saat ini adalah kerajinan ukir kayu yang bahkan meningkat menjadi industri berskala ekspor. RA. Retno Kencono dan suaminyalah yang mengenalkan kerajinan ini dengan mendatangkan guru dari Tiongkok. Dimana dalam suatu hikayat disebutkan bahwa Pangeran Hadiri—yang adalah putra Sultan Mukhayat Syah dari Aceh[3]–pernah merantau ke Tiongkok dan memiliki orang tua angkat di sana. Beliau kemudian mengundang Chi Hui Gwan[4]–nama orang tua angkatnya–ke Jepara. Chi Hui Gwan kemudian diangkat menjadi Patih dengan gelar Patih Sungging Badar Duwung karena keahliannya yang luar biasa dalam seni ukir. Industri galangan kapal juga mengemuka—dengan model kapal yang disebut Jung–mengingat daerah Jepara banyak memiliki hutan jati di pedalaman. Sehingga perdagangan juga semakin maju dan pelabuhan Jepara ramai oleh kapal-kapal dagang yang bersandar.

 

Disebabkan konflik dalam keluarga besar Kerajaan Demak, pada tahun 1549 Pangeran Hadiri terbunuh oleh utusan Arya Penangsang dalam perjalanan beliau dan istri sepulang menghadap Sunan Kudus. Sebelum itu, Sunan Prawoto—Raja Demak ke 4—juga dibunuh oleh suruhan Arya Penangsang. Kehilangan Kangmas kandung dan Suami membuat RA. Retno Kencono amat sedih, sehingga beliau menanggalkan atribut kerajaan dan berkontemplasi di bukit Donoroso. Namun disadarkan oleh tanggung jawab yang besar selaku pemimpin, kesedihan cepat beliau tinggalkan dan bangkitlah RA. Retno Kencono menjadi Ratu Kalinyamat menggantikan suaminya almarhum memimpin Jepara kembali pada tanggal 10 April 1549, dengan candra sengkala Trus Karya Tataning Bumi.

 

Banyak prestasi yang ditorehkan semasa kehidupan RA. Retno Kencono yang kemudian menjadi Ratu Kalinyamat. Capaian-capaian yang membuktikan bahwa pada masa Kerajaan Islam Demak—jauh sebelum RA. Kartini lahir–seorang muslimah amat dihargai dan dapat melahirkan karya-karya besar bagi bangsanya. Diantaranya ialah:

 

  1. Seorang Utusan Raja (Royal Envoy)

Musafir Portugis yang bernama Fernando Mendes Pinto tiba di Banten tahun 1544. Ia mencatat bahwa saat itu di Banten hadir seorang wanita terhormat bernama Nyai Pombaya sebagai utusan Raja Demak[5]. Oleh para ahli sejarah dinyatakan bahwa kuat dugaan Nyai Pombaya ini adalah RA. Retno Kencono yang dalam berbagai sumber disebut sebagai putri tertua Sultan Trenggono (Pombaya dari kata Pembayun, nama resmi untuk putri tertua). Dalam misinya ini Nyai Pombaya membawa perintah Raja Demak kepada Raja Sunda agar dalam waktu satu setengah bulan bantuan militer sudah sampai di Jepara untuk menyerang Pasuruan. Kita mengetahui bahwa ekspedisi Pasuruan adalah ekspedisi terakhir Sultan Trengono sebelum wafat pada tahun 1546.

 

  1. Pembangun ekonomi yang jeli

Selama konflik politik Kerajaan Demak—tahun 1546 hingga tahun 1549—perekonomian cukup tersendat. Ketika kembali memerintah Jepara Ratu Kalinyamat mengutamakan konsolidasi pembangunan ekonomi. Meskipun daerahnya kurang subur, namun di wilayah kekusaan Ratu Kalinyamat terdapat empat kota pelabuhan sebagai pintu gerbang perdagangan, yaitu Jepara, Juwana, Rembang, dan Lasem.

Beliau segera membangun kembali industri keunggulan Jepara ialah galangan kapal. Kapal-kapal yang dihasilkan baik kapal perang maupun kapal niaga dengan model jung dan berkapasitas 100 ton atau mampu memuat 400 prajurit.  Industri ini mampu menyerap banyak tenaga kerja sehingga otomatis cepat mengatasi pengangguran. Berbagai bahan yang dibutuhkan dalam industri kapal juga mayoritas diperoleh dari dalam negeri Jepara dan sekitarnya. Roda perekonomianpun mulai bergerak.

 

Di samping itu Ratu Kalinyamat bekerja keras membuat Jepara menjadi pelabuhan besar yang mampu disandari kapal-kapal dengan bobot 200 ton lebih. Dari Jepara kapal-kapal dagang berlayar ke Maluku dan sekitarnya membawa beras dan lain-lain, lalu dari Maluku didatangkanlah rempah-rempah yang kemudian dijual kembali ke daerah-daerah lainnya.

 

  1. Seorang Ratu Pengembang Industri Kecil

Jepara terkenal pada masanya sebagai industri galangan kapal, itu jelas. Namun bila kemudian juga berkembang industri ukir yang terus maju pesat hingga kini, maka peran Ratu kalinyamat sebagai perintisnya—bersama suami tercinta—tak boleh dilupakan. Beliaulah yang meminta Patih Sungging Badar Duwung mengajarkan pada penduduk Jepara keterampilan seni ukir ini. Hingga aneka benda tak luput dari sentuhan seni yang anggun khas Jepara ini. Motif-motifnyapun menunjukkan perpaduan antara motif Jawa dan Tiongkok yang Islami.

 

  1. Seorang Ratu yang Pendidik

Wafatnya Sunan Prawoto meninggalkan putra-putri yatim di antaranya ialah Pangeran Arya Pangiri, Rr. Mas Semangkin, dan Rr. Prihatin. Namun kesedihan mereka terobati karena besarnya kasih sayang yang mereka dapatkan dari Ratu Kalinyamat—sang Bibi—yang mengasuh dan mendidik mereka. Di samping itu, saat Kerajaan Islam Demak sudah tak ada lagi dan berganti menjadi Kesultanan Pajang, Ratu Kalinyamat juga mendidik Pangeran Arya Jepara—sepupu beliau—putra Sultan Hasanuddin (Sultan Banten pertama) dan Ratu Ayu Kirana adik Sultan Trenggono. Juga beliau mengasuh dan membesarkan adik bungsunya ialah Pangeran Timur Rangga Jumena yang kelak menjadi Bupati Madiun.

 

Perhatian pada pendidikan bagi generasi muda juga jelas beliau berikan dengan mendirikan Masjid Mantingan di dekat makam suamii tercinta, sepuluh tahun setelah kembali memerintah, ialah pada tahun 1559. Masjid ini beliau jadikan sebagai pusat pendidikan—pesantren—anak-anak dan pemuda yang terpelihara hingga kini. Keindahan dekorasi Masjid Mantingan juga menjadi bukti ketinggian citarasa seni para perajin ukir kala itu. Dan di seluruh tanah Jawa masjid ini adalah masjid tertua ke dua setelah Masjid Agung Demak.

 

  1. Panglima Perang yang Tangguh

Julukan yang diberikan oleh penulis Portugis Diego de Couto dalam bukunya “Da Asia” kepada Ratu Kalinyamat jelas menggambarkan kepribadian beliau, ialah de kranige Dame atau Wanita Pemberani. Apalagi yang menyebabkan munculnya julukan ini kalau bukan ketegasan beliau dan patriotismenya yang tinggi dalam melawan penjajah.

Serangan pertama tentara Jepara terhadap Portugis di Malaka dilakukan berdasarkan ajakan Raja Johor, yang pada tahun 1550 berkirim surat kepada Ratu Kalinyamat mengenai ancaman Portugis yang telah bercokol di Malaka. Ratu Kalinyamat berpandangan sama dengan pendahulunya—Pati Unus—bahwa keberadaan Portugis yang telah menjajah Malaka tak boleh dibiarkan karena dapat mengancam stabilitas kawasan bahkan kedaulatan negara. Maka Ratu Kalinyamatpun memberangkatkan 40 buah kapal perang yang berisi 4.000-5.000 prajurit bersenjata. Walaupun serangan ini tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka, namun membuat Jepara amat disegani.

Serangan kedua kembali dilancarkan Ratu Kalinyamat karena Portugis nyata-nyata mengganggu jalur perdagangan di Selat Malaka. Berkoalisi dengan armada Kerajaan Aceh Darussalam beliau memberangkatkan 300 buah kapal, 80 di antaranya merupakan kapal berukuran besar yang masing-masing berbobot 400 ton dengan awak kapal sebanyak 15.000 orang prajurit pilihan. Walaupun datang agak terlambat karena armada Sultan Ali Ri’ayat Syah telah mulai bertempur, namun armada Jepara menunjukkan ketangguhannya dengan melakukan blokade laut selama 3 bulan terhadap Portugis. Mereka terpaksa mundur karena kapal logistik dari Jepara direbut oleh Portugis.

Di samping itu, sebelum bertempur dengan Portugis di Selat Malaka, Ratu Kalinyamat juga membantu para pedagang Hitu di Maluku yang meminta perlindungan karena kerap diganggu oleh Portugis dan suku Hative.

Demikianlah beberapa catatan mengenai prestasi seorang anak negeri yang sepanjang hidupnya senantiasa berfikir besar untuk bangsa dan tanah airnya. Ratu Kalinyamat wafat sekitar tahun 1579, atau tiga ratus tahun sebelum Kartini lahir di Mayong, Jepara.

 

[1] Rachmad Abdullah, S.Si, M.Pd, Sultan Fattah: Raja Islam Pertama Penakluk Tanah Jawa (1482 – 1518 M) (Solo: Al Wafi Publishing, 2015), hlm. 92

[2] Chusnul Hayati, dkk, Ratu Kalinyamat Biografi Tokoh Wanita Abad XVI dari Jepara (Jepara: Pemerintah Kab. Jepara, Puslit Sosbud Lemlit Undip, Penerbit Jeda, 2007), hlm. 108 – 119

[3] Hadi Priyanto, Legenda Jepara (Jepara: Pustaka Jungpara, 2014), hlm. 23

[4] Ibid, hlm. 36.

[5] Chusnul Hayati dkk, op. cit, hlm. 120.

 


INFO BUKU


 

Judul: Kartini dan Muslimah dalam Rahim Sejarah Menyingkap Peran Muslimah dalam rentang Sejarah Kemerdekaan
Penulis: Rahayu Amatullah
Terbit: 2017
Harga: Rp. 45.000,-

 

Kartini adalah jendela masa yang luar biasa penting—yang Allah SWT anugerahkan agar kita dapat melongok ke masa lalu dengan lebih cermat: siapa sesungguhnya para pembentuk bangsa ini? Dengan menelusuri kehidupan Kartini kita dapat melihat dengan lebih utuh, bagaimana muslimah pendahulu Kartini memberikan sumbangsih besar terhadap konstruksi sejarah bangsa. Sebutlah Ratu Kalinyamat, Nyai Ageng Pinatih, Laksamana Keumalayati, Cut Nyak Dien, mereka mengangkat senjata, menolak untuk menyerah, menolak tunduk pada penjajah. Muslimah-muslimah ini bukan saja menjadi inspirasi, namun juga memberi potret terang tentang ghirah Islam yang menjadi ruh perjuangan.

Kartini adalah jendela masa. Ialah yang menghubungkan kita dengan fakta-fakta menggetarkan sekaligus vital yang selama ini terdistorsi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *