RENCANA PERJALANAN MENUJU KRAKATAU


This photo of Anak Krakatau Nature Reserve is courtesy of TripAdvisor

 

Oleh: Nafisa

Kota Menes. Begitu para pasukan semut menyebutnya. Kota yang selalu menjadi kebanggaan pasukan semut. Walaupun  dalam kenyataannya, kota kebanggaan Pasukan Semut itu bukan merupakan suatu kota, lebih mendekati kampung/desa yang terletak di kaki Gunung Pulosari. Pasukan semut, berisi 8 anak-anak SDN 1 Purwaraja, Menes. Dengan Doni, sebagai jenderal cilik di pasukan dengan anggota delapan anak SD itu. Perintah Doni –si jenderal cilik− bagai keputusan presiden yang harus diikuti oleh semua anggota. Walaupun sebenarnya tidak ada hukum tertulis mengenai hal itu. Pasukan semut selalu bersama-sama, saling mendukung. Begitu juga saat Doni, pemimpin mereka harus diamputasi akibat jatuh dari pohon seri dan terkena racun ular tanah, mereka selalu menjadi penyemangat Doni si es bon-bon. Seperti hukum alam, selalu ada hikmah dibalik setiap cobaan, hal itu juga berlaku untuk Doni. Dia seperti menemukan jiwanya yang lain disana, di UGD. Di sanalah dia bertemu dengan tiga orang anak, dengan semangat yang tinggi di tengah keterbatasan  fisik mereka. Ujer, Yayat, dan Herman, itulah nama anak-anak itu. Anak yang dengan keceriaannnya berhasil membuat Doni menjadi lebih bersemangat dan ceria. Walau pertemuan mereka singkat, tapi itu sangat membekas di batin mereka. Bagai sahabat lama yang sudah tidak bertemu sekian tahun.

Buku ini tentang mimpi. Tentang tiga belas anak dengan mimpi tinggi yang membelah angkasa. Tentang mereka, yang menganak emaskan kebersamaan di atas segalanya. Mereka, yang mengikat janji di depan sumur tua, untuk bertemu di kemudian hari, saat mereka berumur 40 tahun, di Gunung Krakatau, bersama anak-anak dan istri mereka.

Gol A Gong, dengan gaya penulisan khasnya, merangkum segala unsur kehidupan dalam satu buku. Buku ini benar-benar kental akan etnik Indonesia. Dengan banten sebagai latarnya, buku ini menjelaskan kehidupan masyarakat Banten dengan detail. Tentang berbagai destinasi wisatanya, seperti Gunung Krakatau dan Pantai Anyer. Tak lupa, budaya Indonesia pun ikut beliau selipkan di sana, seperti panjat pinang saat tujuh belas agustusan. Ide cerita ini pun unik, tidak seperti kebanyakan novel. Dengan mengangkat tema tentang kehidupan. Bahwa kehidupan itu tidak selamanya berjalan mulus. Pasti akan ada rintangan-rintangan di setiap jalannya. Namun, di setiap rintangan itu, pasti terkandung hikmah, untuk kehidupan kita selanjutnya.

Penulis, Gol A Gong menggunakan dua sudut pandang. Saat bab pertama, Pulang kampung, penulis menggunakan sudut pandang aku. Sedang pada bab kedua, yang menceritakan tentang kehidupan masa kecil para pasukan matahari, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga. Penggunaan dua sudut pandang ini, merupakan variasi tersendiri bagi buku ini. Dalam kata lain, membuat pembaca tidak merasa bosan.

Sayangnya, buku ini tidak disertai gambar-gambar yang akan memperjelas alur cerita. Di buku ini juga terdapat kesalahan penggunaan pilihan kata. Seperti saat Doni hendak menaiki pesawat terbang untuk menemui keluarga kecilnya di banten, ia mengatakan “Sampai jumpa, Gunung Krakatau”. Seharusnya, ia mengatakan “Aku akan datang, Gunung Krakatau”, atau kalimat sejenisnya. Karena tokoh Doni belum mengadakan perjalanan menuju Gunung Krakatau, baru merencanakan perjalanan. Selain itu, penggambaran tokoh juga kurang berkesan. Setiap tokoh dalam novel Pasukan Matahari hanya dipaparkan oleh sang penulis, yang berperan sebagai narator.

 


Judul: Pasukan Matahari

Penulis: Gol A Gong

Harga: Rp 69.000,-

 

Menjadi anak kampung dengan segala keterbatasan tak membuat 8 anak yang tergabung dalam Geng Pasukan Semut menjadi rendah diri juga tak punya mimpi. Kondisi dan lingkungan telah menempa mereka untuk tumbuh menjadi anak-anak yang memiliki mimpi menggapai langit.

Begitu juga 4 anak yang tergabung dalam Geng Empat Matahari. Meskipun tubuh ke-4 anak itu tak sempurna, namun mereka pun punya cita-cita menggapai langit. Meskipun mereka juga anak kampung dan fisik mereka cacat, mereka yakin suatu saat mimpi akan menjadi nyata.

Dan, anak Gunung Krakatau di Selat Sunda menjadi saksi. Saksi bagi Pasukan Semut dan Empat Matahari bersama mimpi-mimpi mereka yang melangit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *