Ketika Suami-Istri Saling Menyurati

17857482_1307724239315917_1681756611_n

‘Dear Husband’ adalah kumpulan surat bernada optimisme, romantisme, dan curahan hati—yang diekspresikan sedemikian memesona, termehek-mehek, dan memberi kejutan. Ditulis oleh para istri kepada para suaminya, dan ada pula surat yang ditulis para suami untuk para istrinya.

Rasulullah Saw. bersabda dalam sebuah hadits, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” Termasuk ciri kebaikan suami adalah suka membantu membereskan pekerjaan rumah tangga dan meringankan beban istrinya. Hendaknya para suami menyadari bahwa kodrat wanita diciptakan dengan penuh kekurangan, maka janganlah ia mengharapkan kesempurnaan darinya. Cintai istri Anda karena ia adalah amanah dan tanggung jawab Anda sebagai suami.

Membincang surat pribadi di era digital ini seperti barang langka. Hari Surat Menyurat Internasional pada tiap 9 Oktober pun tidak lantas direspon positif oleh setiap orang. Apalagi untuk urusan pribadi suami-istri. Kok repot-repot amat, seperti kurang kerjaan. Bukannya jika ada perlu tinggal bicara face to face. Atau lebih praktisnya menulis pesan via media sosial yang lebih pas dan akurat.

dear-husband

            Seperti yang pernah disampaikan oleh penyusun buku ini, Sinta Yudisia, seni merupakan salah satu cara terapi yang dapat melepaskan apa yang terpendam jauh di lubuk hati. Melukis, bermusik, membuat keramik, membuat boneka, menulis puisi (termasuk menulis surat), dan mengarang cerita naratif; adalah beberapa alternatif terapi yang dapat dipilih untuk membantu meringankan beban seseorang. Itulah sebabnya, barangkali beban pikiran dan batin seorang istri atau pun suami perlu ia goreskan dalam bentuk tulisan.

Misalnya, surat berjudul ‘Mas, Izinkan Dinda Nonton Bola’ oleh Laila ini sungguh unik. Bagaimana ia menyampaikan keberatan atas interogasi kekasihnya karena ia hobi nonton bola dan nge-fans para pemain ganteng. “Mas Zain, saya sudah menerima dan membaca surat yang Mas kirimkan. Isinya tidak membuat saya marah, seperti yang Mas takutkan. Tapi saya jadi bertanya, siapa sih yang memberi tahu Mas perihal hobi itu? Sampai-sampai Mas merasa perlu menasihati saya. Ya, baiklah, saya mengaku saja. Hobi saya memang nonton sepak bola. Maaf kalau waktu ta’aruf dulu saya tidak memberi tahu, sebab saya pikir itu tidak perlu. Cuma masalah sepele. Tapi kalau ternyata sekarang Mas menanyakannya, saya akan jelaskan” (hal 12).

            Surat dengan judul ‘Kado Pernikahan Sweet Seventeen’ ini sarat hikmah. “Umi jadi teringat kasur lipat Ayah yang lusuh dan tipis. Seorang direktur teknik, yang menghitung ratusan kilometer jalan, jembatan, dan gedung-gedung megah, alas tidurnya seperti itu? Tapi kata Ayah, alas tidur Ayah masih jauh lebih mewah dibandingkan alas tidur jerami Rasulullah, pemimpin dunia yang luar biasa” (hal 33).

“Ayah tidak pernah memanfaatkan jabatan meski peluang untuk itu terbuka lebar di hadapan Ayah. Sebuah istana yang indah dan megah sebetulnya sanggup Ayah raih andai Ayah mau. Tapi jangankan istana, bahkan hanya segenggam pasir sekalipun, Ayah tidak pernah mau membawa pulang” (hal 36).

            Dan, mari kita simak makna cinta versi goresan Syahid berjudul ‘Menikahimu adalah Keajaiban Cinta-Nya’. “Cinta yang sempurna, bukan berarti mencintai seseorang yang sempurna. Tetapi bagaimana mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna” (hal 48).

Buku ini spesial dihadiahkan buat yang terkasih, pasangan halal. Pesannya universal, sehingga bisa dijadikan pelajaran bukan saja untuk pelaku rumah tangga, tetapi juga bagi mereka yang tengah menuju ke arah sana. Sebelas surat dari sebelas istri dan lima surat dari empat suami. Di luar itu semua, membaca buku ini bisa dijadikan bahan untuk saling instrospeksi diri. Terlebih pasangan yang kurang perhatian dan menyepelekan tanggung jawabnya. (*)


Teguh Wibowo *) Divisi Karya FLP Surabaya.

Resensinya pernah dimuat di harian Kabar Madura, Koran Jakarta, Duta Masyarakat, Medan Bisnis, Tribun Jogja, Tribun Jateng, Tribun Timur, Malang Post, Koran Pantura, Radar Mojokerto, dan Radar Sampit.

Juara harapan 1 lomba menulis resensi “Seri Sayap Sakinah dan Mawaddah” oleh Penerbit Indiva Media Kreasi (2015). Juara 1 lomba menulis resensi buku terbitan FAM Publishing oleh FAM Indonesia (Agustus 2016).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *